"Cecilia. Mana yang sakit?" tanya Giovanni yang membuat Cecilia menyadari kebodohannya.
"Maaf, Pak. Maag saya kumat dan terasa lebih sakit dari biasanya," ucap Cecilia yang berusaha menghentikan tangisannya.
"Kamu harus ke dokter sekarang. Saya akan meminta seseorang untuk menemani kamu," ucap Giovanni yang segera memanggil seorang kru wanita.
"Antarkan Cecilia ke dokter."
Kru wanita itu mengangguk dan segera memapah Cecilia keluar dari lokasi syuting.
Sementara Darren yang sedang dirias, hanya dapat melihat punggung Cecilia yang kian menjauh.
"Aku penasaran bagaimana reaksi Kathleen kalau dia tahu pacarnya memikirkan wanita lain," ucap Morgan yang membuat Darren menoleh.
"Memangnya kamu nggak khawatir lihat Cecilia sakit? Bukannya kamu tadi bilang mau menikah dengannya?" Darren segera mengalihkan perhatian Morgan, agar sang sepupu tidak membahas Kathleen.
"Dan kamu percaya kalau aku serius sama wanita itu? Kamu benar-benar naif sekali, Bro," ucap Morgan dengan nada mengejek.
"Jadi apa tujuan kamu meminta Cecilia menikah denganmu?" tanya Darren dengan mata menyipit.
"Tentu saja untuk menikmati tubuhnya," jawab Morgan sembari menggigit bibir bawahnya.
Darren membeku di tempat. Rahangnya mengeras, dan tanpa sadar tangannya mengepal.
"Apa?" suaranya rendah dan nyaris bergetar menahan emosi. "Jaga mulutmu, Morgan."
Morgan terkekeh, sama sekali tidak merasa bersalah. "Kenapa Kamu harus marah? Jangan bilang kamu mulai peduli sama wanita itu."
"Itu bukan urusanmu," sahut Darren dingin. "Dan apa pun niatmu ke Cecilia, lebih baik kamu simpan rapat-rapat. Dia bukan perempuan yang bisa kamu mainkan sesukamu."
Morgan menoleh, menatap Darren dengan sorot mata penuh minat. "Menarik," katanya pelan. "Sejak kapan kamu berperan jadi ksatria penyelamat? Jangan-jangan… kamu sendiri yang mulai menginginkan wanita itu."
Darren tidak menjawab, tapi diamnya justru jadi jawaban yang membuat Morgan tersenyum semakin lebar.
"Tenang saja," lanjut Morgan sambil berdiri dari kursinya. "Aku cuma suka melihat reaksi orang kalau aku sengaja menekan titik lemahnya. Dan Cecilia …" Morgan mengangkat bahu. "Dia punya banyak titik lemah."
"Kamu keterlaluan," desis Darren.
"Salah sendiri kenapa dia menolakku," balas Morgan yang melangkah menuju set syuting, meninggalkan Darren yang masih terpaku.
***
Sementara itu di dalam mobil kru yang melaju menuju rumah sakit, Cecilia menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
Perutnya masih terasa bergejolak meskipun dia sudah memuntahkan semua isi perutnya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah kepalanya yan dipenuhi kelelahan, tekanan dan kesendirian yang tak bisa dia ceritakan pada siapa pun.
"Mbak Cecil. Kita sudah hampir sampai," ucap kru wanita itu lembut.
Cecilia mengangguk pelan. "Terima kasih… maaf sudah merepotkan."
"Sama-sama, Mbak. Dari tadi Mbak Cecil kelihatan memaksakan diri."
Cecilia memejamkan mata karena pusing yang semakin mendera, namun bayangan Rebecca yang meminta uang terlintas jelas di dalam benaknya. Perut Cecilia semakin melilit, disertai rasa mual yang menyesakkan d**a.
"Astaga! Mbak Cecil, bertahanlah. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit!" pekik kru wanita itu saat melihat peluh bercucuran dari pelipis Cecilia.
Tak lama kemudian mata Cecilia menutup, pertanda jika tubuhnya sudah menyerah. Kru wanita itu semakin panik dan mempercepat laju mobilnya.
Akhirnya kru wanita itu dapat bernapas lega saat melihat bangunan rumah sakit yang didominasi warna hijau dan putih itu.
Kru wanita itu menghentikan mobil di depan IGD. Dengan tergesa-gesa, kru itu turun dan berteriak meminta bantuan. Beberapa perawat segera menghampiri mobil, mendorong brankar keluar begitu melihat kondisi Cecilia yang tak sadarkan diri.
Kru wanita itu kemudian menjelaskan kondisi Cecilia dengan suara gemetar.
Cecilia segera mendapatkan perawatan intensif, sementara kru itu mengurus administrasi dan mengabari Danu mengenai kondisi terakhir Cecilia.
Seorang dokter pria berusia pertengahan 20 tahun keluar dari IGD sesaat setelah kru itu kembali.
"Bisa bicara dengan keluarga pasien," ucap dokter pria.
Kru wanita tersebut tampak ragu. "Saya… bukan keluarga Mbak Cecillia. Kami hanya rekan kerja, Dok."
Dokter mengangguk singkat. "Mbak Cecilia mengalami gastritis akut, kemungkinan dipicu stres berat dan pola makan yang buruk. Kami sudah memberi obat melalui cairan infus, tapi selain itu Mbak Cecilia harus diopname agar kondisinya tidak lebih buruk."
Kru wanita itu hanya dapat meneguk saliva dengan susah payah, tak menyangka jika keadaan Cecilia bisa separah ini.
"Terima kasih, Dok," ucap kru wanita itu yang lalu masuk ke ruang IGD.
Kru itu menuju keranjang Cecilia yang masih terlelap, wajahnya sudah tidak sepucat tadi.
Tak lama kemudian Cecilia perlahan membuka mata. Pandangannya kabur, tenggorokannya terasa kering dan ada rasa dingin menjalar di punggung tangannya. Dia menoleh pelan dan mendapati selang infus terpasang.
"Mbak Cecil. Jangan memaksakan diri, kondisi Mbak masih sangat lemah." Kru wanita itu mencegah Cecilia yang akan bangun dari tidurnya.
"Tapi saya haus," ucap Cecilia dengan suara yang mulai serak.
"Mbak Cecil tunggu dulu di sini, biar saya belikan air." Kru itu bergegas keluar dari ruang IGD, meninggalkan Cecilia yang masih terbaring lemas.
Suara langkah kaki perawat dan alat-alat medis terdengar samar di telinga Cecilia. Kepalanya masih berat, tapi setidaknya rasa perih di perutnya sedikit mereda.
Ponsel Cecilia yang ada di dalam tas tak lama berdering, namun dia membiarkan saja karena tidak memiliki kemampuan untuk bergerak dari posisi tidurnya.
"Mbak Cecil. Hapenya bunyi terus," suara kru wanita itu menarik Cecilia dari lamunannya.
"Iya, saya tahu. Cuman saya nggak punya tenaga untuk bergerak," ucap Cecilia pelan.
"Mau saya ambilkan hapenya?" tanya ke wanita itu sembari mengulas senyum lebar.
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan Mbak," ucap Cecilia dengan suara pelan.
"Mbak nggak merepotkan, kok. Setidaknya mengurus Mbak Cecil yang sakit tidak serepot kalau saya berada di lokasi syuting." Cecilia hanya tertawa saat mendengar kejujuran dari kru wanita.
"Oh iya hampir lupa. Mari saya bantu Mbak Cecil bangun, bibir Mbak udah kering banget itu. Harus banyak minum."
Kru wanita itu membantu Cecilia setengah duduk, menyelipkan bantal tambahan di punggungnya agar lebih nyaman. Tenggorokan Cecilia terasa perih saat dia menelan beberapa teguk air, tapi rasa kering yang menyiksa perlahan berkurang.
"Pelan-pelan aja, Mbak,' ucap kru wanita itu lembut. "Dokter bilang Mbak Cecil jangan kebanyakan gerak dulu."
Cecilia mengangguk pelan. Tubuhnya masih lemah, tapi kepalanya sudah sedikit lebih jernih. Pandangan gadis itu kemudian jatuh ke ponselnya yang kini berada di genggaman kru wanita itu.
"Siapa yang nelpon Mbak?" tanya Cecilia.
"Mamanya Mbak Cecil," jawab kru itu yang membuat nafas Cecilia tercekat.
Dia menarik napas dalam, bersiap untuk menghadapi semburan amarah Rebecca.
"Bisa tolong angkatin?"
Kru wanita itu mengangguk dan menekan tombol hijau.
"Cecilia!” suara Rebecca yang melengking langsung terdengar, membuat Cecilia menjauhkan ponsel dari telinganya.
Sementara kru wanita itu memilih menyingkir, karena merasa itu adalah telepon privasi Cecilia.
"Kamu ke mana, sih? Mama tunggu transferannya dari tadi!"
Kelopak mata Cecilia terpejam, dadanya kembali terasa sesak karena tuntutan dari sang ibu.
"Mah… aku lagi di rumah sakit," jawab Cecilia pelan. "Aku sakit."
"Hah?! Rumah sakit?" Rebecca terdiam sejenak, lalu mendengus. "Jangan ngeles, Cecil. Mama butuh uang itu sekarang."
Cecilia menggigit bibirnya. Tangannya bergetar memegang selimut. "Aku belum bisa kirim sekarang, Mah. Aku masih lemas ...."
"Halah! Kalau lemas, kenapa suara kamu masih terdengar segar?" potong Rebecca tanpa empati.
Cecilia membuka mata, menatap langit-langit putih di atasnya.
"Iya. Nanti aku usahakan untuk kirim uangnya," jawab Cecilia lirih.
Panggilan pun terputus secara sepihak membuat ruangan IGD itu kembali sunyi, hanya tersisa bunyi alat medis. Cecilia menoleh ke samping, matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Seolah dia sudah terlalu lelah bahkan untuk menangis.