Darren hanya terdiam mengamati perdebatan itu, sejujurnya dia menikmati saat Cecilia harus menghadapi Morgan yang menyebalkan. Rasanya menyenangkan karena sang sepupu seperti membalaskan dendamnya kepada gadis itu.
"Cecilia ... kamu pasti akan menyesal karena menolakku."
Nada suara Morgan berubah menjadi dingin, tapi Cecilia tetap tak terpengaruh. Gadis itu malah balik menatap tajam Morgan.
"Kalau menyesal, tidak mungkin saya berdiri dengan penuh percaya di depan Bapak," ucap Cecilia dengan nada datar.
"Cukup!"
Keduanya menoleh dan melihat Giovanni berdiri dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari mereka.
Cecilia langsung menunduk dan menjauh dari Morgan yang hanya terdiam di tempatnya berdiri.
Sementara Darren segera menghampiri sang ayah yang berjalan dengan bertumpu pada tongkat besi berkaki tiga.
Danu yang melihat wajah lelah Giovanni segera mengambil kursi lipat dan membantu sang bos besar untuk duduk.
"Ayah. Kenapa nggak bilang kalau mau kemari?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Kebetulan Ayah sedang berada di dekat sini saat mendengar kalau model iklan ini mengalami kecelakaan. Apa kalian sudah mendapatkan model penggantinya?" tanya Giovanni setelah mengembuskan napas panjang.
"Belum Yah," jawab Darren singkat.
"Jadi itu juga yang membuat Morgan dan Cecilia bertengkar?" tanya Giovanni yang kini menatap keponakannya.
Morgan menyunggingkan senyum tipis yang sulit ditebak. "Bertengkar sih tidak, Om. Lebih tepatnya kami hanya sedikit berbeda pendapat," jawabnya santai.
Giovanni menatap Morgan dan Cecilia lama, disertai tatapan tenang namun mengintimidasi. "Prinsip apa yang membuat kalian sampai bertengkar hebat seperti tadi?"
Cecilia menggigit bibir, tak mungkin mengadukan ucapan Morgan yang merendahkannya kepada Giovanni. Karena biar bagaimana pun Cecilia sadar jika dia adalah orang asing di mata Giovanni.
Darren mengerutkan dahi saat melihat ketidakberdayaan Cecilia, sikap yang jauh berbeda dengan gadis itu tunjukkan beberapa menit yang lalu. Seakan-seakan gadis itu memiliki dua kepribadian yang berbeda.
Sementara Morgan semakin menyunggingkan senyum mengejek kepada Cecilia.
"Cecilia. Apa yang membuatmu bertengkar dengan Morgan?" tanya Giovanni yang membuat Cecilia tersentak.
"Seperti yang dikatakan Pak Morgan, kami hanya berbeda pendapat. Syuting hari ini tidak bisa dibatalkan begitu saja karena klien pasti akan meminta ganti rugi beserta penaltinya."
Cecilia akhirnya menjelaskan sebagian dari perdebatan Darren dan Morgan tanpa mengatakan mengenai perilaku sang keponakan yang merendahkan dirinya.
Giovanni mendengar dengan cermat setiap kata yang diucapkan oleh Cecilia, seakan takut jika kehilangan inti cerita yang ingin disampaikan oleh sekretarisnya itu.
"Jadi tidak ada model kamu yang free hari ini, Morgan? Dan kamu... Darren, Cecilia berkata kalau wajah kamu cocok untuk iklan coklat ini, tapi kamu nggak mau jadi model pengganti?"
Giovanni mulai berbicara setelah mengerti akar permasalahannya. Melihat kedua pria muda yang ada di hadapannya mengangguk, membuat Giovanni segera berpikir untuk mengatasi masalah ini.
"Kalau Pak Darren tidak mau menjadi model pengganti, mungkin kita bisa meminta bantuan Pak Morgan," celetuk Cecilia yang membuat tatapan keempat pria itu tertuju padanya.
"Apa maksud kamu Cecilia?" tanya Morgan dengan sedikit menggeram.
"Bapak saja yang jadi model pengganti. Lagian model yang kecelakaan itu 'kan dari agensinya Bapak, jadi otomatis Bapak harus bertanggung jawab agar proses syuting ini berjalan lancar," jawab Cecilia yang membalas senyum mengejek Morgan.
"Bisa-bisanya kamu memintaku untuk melakukan pekerjaan rendahan seperti ini," ucap Morgan dengan berdesis.
"Atau Bapak punya opsi yang lain?" tanya Cecilia yang kini dapat membalas intimidasi Morgan.
Darren yang sejak tadi mengamati Cecilia menyadari jika gadis itu menggunakan Giovanni untuk menekan Morgan, sebuah tindakan yang menurutnya cerdik.
Senyuman puas terukir pada wajah Darren, sebelum dia menyadari jika terpesona dengan Cecilia.
'Darren. Kamu jangan bodoh sampai bisa kagum sama cewek itu. Lebih baik Khatleen ke mana-mana daripada Cecilia,' gerutu Darren di dalam hati.
Giovanni mengalihkan pandangannya dari Cecilia ke Morgan. Tatapannya kali ini jauh lebih dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak sekadar soal iklan.
"Pekerjaan rendahan?" ulang Giovanni pelan, namun nadanya membuat Morgan refleks menegakkan tubuh. "Kalau kamu berpikir seperti itu, maka bisnis agensimu tidak akan bertahan lama, Morgan."
Morgan terdiam saat mendapatkan teguran dari Giovanni. Senyum santainya menghilang, tergantikan raut tidak nyaman.
"Model yang kamu anggap melakukan pekerjaan rendahan itu adalah aset perusahaanmu. Aset yang bisa membesarkan atau malah menghancurkan agensimu. Jadi mulai sekarang perlakukan mereka dengan lebih manusiawi. Itu juga kalau kamu mau bertahan pada bisnis entertaiment."
Keheningan yang canggung pun tercipta. Beberapa kru yang sejak tadi berpura-pura sibuk kini saling bertukar pandang, jelas menahan napas saat melihat sang CEO sudah memberi wejangan kepada keponakannya.
Morgan menarik napas panjang, lalu tertawa kecil. Tawa yang sangat jelas terdengar dipaksakan. "Om memang selalu jago memengaruhi orang."
"Om tidak memengaruhi, tapi mengatakan yang sebenarnya," ucap Giovanni dengan nada penuh wibawa.
Morgan menghela napas panjang, kemudian menatap sekilas Darren.
"Bagaimana kalau aku dan Darren yang menjadi model pengganti itu?" tanya Morgan dengan nada santai.
"Jangan mengada-ada kamu. Morgan!" sambar Darren dengan nada suara meninggi.
Giovanni mengangkat tangan, memberi kode agar Darren diam sejenak. Pria itu lalu menatap Cecilia seakan meminta pendapat.
"Saya setuju dengan ide Pak Morgan, daripada syuting iklan harus dibatalkan," jawab Cecilia dengan senyum kepuasan.
"Kamu dengar itu, Bro. Ayo kita lakukan syuting ini bersama-sama," ucap Morgan dengan nada mengejek.
"Pak Morgan dan Pak Darren bisa siap-siap sekarang," ucap Danu yang baru berani bicara.
Cecilia otomatis mengembuskan napas lega karena syuting iklan ini akhirnya dapat dilakukan. Dia mendekat ke arah Giovanni yang menatap serius putra dan keponakannya yang terlihat berdebat kecil.
"Terima kasih karena Bapak datang ke mari dan memberikan solusi," ucap Cecilia yang membuat Giovanni mengalihkan pandangannya.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Cecil. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya. Setidaknya sampai Darren sudah mampu menggantikan saya."
Cecilia tertegun ketika mendengar ucapan Giovanni, perasaannya tiba-tiba menjadi tak enak, sebab Giovanni tak pernah berbicara dengan suara yang bergetar.
"Bapak masih sakit?" tanya Cecilia tanpa sadar.
Namun bukannya menjawab pertanyaan itu, Giovanni malah tertawa kecil, seakan pertanyaan Cecilia terdengar lucu.
"Seharusnya saya bertanya itu sama kamu. Wajahmu kelihatan pucat sekali. Apa kamu yakin nggak apa-apa? Kalau nggak kuat kamu bisa pulang cepat, biarkan Danu yang membantu mengawasi syuting iklan ini."
Tanpa sadar mata Cecilia memanas, dia menarik napas dalam berusaha menahan air mata yang siap tumpah.
Salahkan Cecilia jika berharap orang tuanya sedikit memperhatikannya. Bukan hanya menganggapnya sebagai mesin pencetak uang saja?
"Cecilia ...."
Panggilan dengan nada lembut itu akhirnya mendobrak pertahanan Cecilia, air mata gadis itu tumpah ruah saat mengingat tuntutan Rebecca yang meminta uang padanya.
Giovanni yang belum pernah melihat Cecilia kehilangan kendali, tentu panik melihat saat melihat sekertarisnya menangis.
Begitu juga Darren yang tertegun saat melihat gadis yang biasanya terlihat jutek itu terlihat rapuh.