"Iya. Model yang kecelakaan itu dari agensiku," kata Morgan sembari mengangguk santai, seolah situasi genting ini hanya perkara kecil baginya.
"Jadi apa maksud Bapak datang ke mari?" tanya Cecilia yang tak kehilangan fokus, sebab dia tahu pria itu tak akan pernah serius dalam hal apapun.
"Niatnya sih mau ngecek kondisi syuting, eh malah dapet tontonan gratis."
Darren berdecak keras saat mendengarnya. "Tontonan apaan?"
"Drama kalian berdua," jawab Morgan tanpa dosa. "Lumayan, ngilangin ngantuk."
Cecilia menghela napas panjang. Kepalanya terasa semakin berat, tapi dia memaksa pikirannya tetap berjalan. Dia tidak punya waktu untuk panik. Gadis itu segera menatap Danu.
"Pak Danu. Kalau kita batal syuting hari ini, kira kena penalti berapa?" tanya Cecilia yang mencoba tenang.
"Empat ratus juta, Mbak. Belum termasuk risiko klien minta ganti vendor," jawab Danu setelah menelan saliva dengan susah payah.
Cecilia memejamkan mata sejenak. Empat ratus juta bukan angka kecil. Giovani pasti murka saat mengetahuinya.
"Dan klien nggak akan peduli batalnya syuting karena alasan kecelakaan," gumam Cecilia lebih ke dirinya sendiri.
Darren dan Morgan tertegun saat melihat wajah Cecilia yang tertekan bercampur kelelahan.
Kedua pria itu lantas saling memandang, dan setelah sekian lama tatapan penuh permusuhan tidak nampak di antara sepasang sepupu itu.
Darren yang pertama kali memutus kontak mata itu, dia membuka suara di tengah keheningan yang pekat ini.
"Jadi ... opsi kita cuma dua. Pakai orang dalam atau cari model pengganti untuk syuting ini."
"Untuk itu aku kemari," sahut Morgan dengan nada serius, hilang sudah ekspresi jenaka yang sejak tadi pria itu tampilkan.
"Jadi apa kamu sudah menemukan model pengganti itu?" tanya Darren.
"Sayangnya aku baru mendapatkan kabar kalau semua model yang ada di agensiku sedang sibuk," jawab Morgan setelah menghela napas panjang.
"Bos agensi macam apa kamu? Masa modelmu sibuk semua." Namun yang namanya yang sering bertengkar, Darren tak tahan untuk menyindir Morgan.
"Tajam juga mulutmu, Bro. Apa Cecilia atau Khatleen yang mengajarkanmu?" ucap Morgan sembari tertawa kencang.
Darren hanya diam, berada bersama Morgan semakin membuat harinya buruk. Ditambah dengan masalah mencari model pengganti untuk syuting iklan makanan ringan ini.
Sementara Cecilia mengusap peluh yang keluar dari pelipisnya. Dia merasa bumi yang dia pijak berputar. Hembusan napas panjang berulang Cecilia lakukan, mencoba menahan rasa mual yang tiba-tiba menghantam dadanya.
"Saya permisi ke kamar mandi dulu," ucap Cecilia yang segera beranjak dari duduknya.
"Kamu yakin nggak apa-apa? Muka kamu pucat banget," tanya Morgan.
"Saya nggak apa-apa, jadi Bapak nggak usah khawatir," jawab Cecilia dengan nada datar.
"Kamu selalu galak meski sedang sakit," ucap Morgan dengan seringai nakalnya.
"Karena sikap Bapak sudah keterlaluan," sahut Cecilia yang berusaha menahan rasa mualnya.
Morgan langsung tertawa meski hanya sekejap, pria itu menatap serius Cecilia, hal yang memancing kewaspadaan gadis itu.
"Ya. Karena kamu selalu menolak ajakan kencanku, Cecil," ucap Morgan dengan nada datar.
"Saya tidak akan minta maaf untuk itu. Dan sampai kapanpun saya tidak akan menerima tawaran kencan dari Bapak."
Darren mengerutkan dahi saat melihat interaksi keduanya, dan entah mengapa sesuatu di dalam dirinya tak menyukai pemandangan itu.
Dia segera melangkah mendekati Morgan dan menepuk pundak sang sepupu. "Morgan. Jangan ganggu Cecil lagi, dia sudah bilang mau ke kamar mandi 'kan."
"Kamu kok berlebihan sekali sih? Aku 'kan cuman bercanda," ucap Morgan dengan berpura-pura kesal.
"Tapi apa yang kamu lakukan itu bukan bercanda. Aku belum lupa saat kamu meremehkan Cecilia kemarin," sahut Darren dengan nada dingin.
Cecilia melihat kesempatan itu untuk menghindar dari keduanya, dia segera berlari ke kamar mandi. Rasa mualnya kian terasa dengan perut yang bergejolak, tak sabar untuk mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Cecilia langsung membungkuk di depan wastafel. Tangannya mencengkeram pinggiran keramik dingin dengan napas terengah. Rasa mual itu akhirnya menang ketika Cecilia memuntahkan isi perut, dan tubuhnya gemetar hebat.
Air mata Cecilia ikut jatuh, entah karena perih di tenggorokan atau karena lelah yang sudah terlalu lama dia pendam sendiri.
Setelah beberapa saat, Cecilia menyalakan keran air, membasuh wajahnya berulang kali. Pantulan dirinya di cermin membuat gadis itu terdiam. Wajah pucat, mata sembab dan bibir kering. Yang jelas dia hampir tak mengenali dirinya sendiri.
“Aku harus kuat,” bisik Cecilia pelan, seolah meyakinkan bayangan yang ada di depannya.
Sementara di luar, Darren berdiri dengan rahang mengeras. Tatapannya mengikuti arah Cecilia menghilang tadi. Ada rasa kesal bercampur khawatir yang mengaduk dadanya.
"Kamu kelihatan tegang banget," ujar Morgan santai.
"Karena kamu terlalu banyak bicara," balas Darren tanpa menoleh.
Danu yang merasa kedua pria itu akan bertengkar, memilih untuk menyingkir sampai Cecilia kembali.
Morgan terdiam sejenak. Senyumnya memudar. "Aku tahu karena aku sengaja melakukannya."
"Kenapa?" tanya Darren dengan nada menuntut.
"Karena aku tidak rela jika jabatan CEO Sanjaya Group jatuh di tanganmu," jawab Morgan tanpa basa-basi.
"Kamu sadar nggak sih kalau kamu nggak punya hak di dalam Sanjaya Group," ucap Darren sembari melontarkan nada provokatif.
"Kamu masih berpikir garis keturunan langsung Sanjaya Group yang berhak mewarisi perusahaan ini? Pikiranmu kolot sekali, Darren," sindir Morgan.
"Bukannya dari dulu seperti itu peraturannya?" tanya Darren yang mengingatkan posisi Morgan.
Morgan menyeringai tipis. "Peraturan bisa diubah kalau orang yang memegang kendali juga berubah."
Darren akhirnya menoleh. Tatapan keduanya saling mengunci, sama-sama keras kepala, sama-sama enggan mengalah. "Kamu terlalu percaya diri."
"Aku hanya berpikir realistis," sahut Morgan santai, meski sorot matanya tak lagi main-main. "Dan aku yakin akan satu hal. Kamu itu punya banyak celah."
"Dan sudah menjadi tugas saya untuk menutupi celah Pak Darren."
Keduanya menoleh dan melihat Cecilia berdiri, raut wajah gadis itu sudah tidak sepucat tadi. Sementara Danu hanya dapat mengamati keadaan dari jarak jauh tanpa berani untuk mendekat.
"Cecilia. Kamu terlalu berpotensi untuk menutupi celah anak manja ini," ucap Morgan setelah sadar dari lamunannya.
"Saya hanya melakukan apa yang menjadi kewajiban saya. Hanya itu," ucap Cecilia dengan tatapan tajam.
"Apa Om Giovanni menjanjikan sesuatu padamu?" tanya Morgan tanpa basa-basi.
"Kenapa tidak Bapak tanyakan saja kepada Pak Giovanni." Tantang Cecilia.
Morgan lantas bertepuk tangan saat mendengar jawaban Cecilia yang penuh kepercayaan diri itu.
"Kasihan sekali kamu. Menjadi b***k orang, coba kalau kamu mau menikah denganku, sudah pasti aku akan menjadikan kamu ratu," ucap Morgan dengan nada meremehkan.
"Sementara Bapak juga mencari selir-selir di luar sana. Sungguh mengelikan," sahut Cecilia dengan sindiran yang lebih tajam, yang membuat ekspresi Morgan mengeras.