PROLOG
Jantungku berdetak cepat. Napasku tercekat seolah ada yang mencekik kuat leher ini. Aku takut. Tapi, aku tak bisa lari. Kakiku gemetar hingga tubuhku ambruk seketika. Air mata yang entah sejak kapan membasahi pipiku, semakin deras mengalir. Kubekap mulutku. Menahan sesenggukan akibat menangis. Dadaku mulai sesak, hingga tak kuas kutahan lagi.
"AARGH!"
Aku histeris. Pandanganku mengabur tapi aku tak kehilangan sadarku. Sangat jelas kulihat, ada sebuah genangan merah berbau anyir di sana. Tepat di bawah meja belajar, tetes demi tets cairan merah kental anyir itu membentuk aliran kecil.
Kuikuti darimana cairan kental merah itu berasal, dan ... dadaku mulai kembali bergemuruh.
"Ti—tidak mungkin."
Kakiku terseret maju. Berat rasanya. Hatiku sakit. Melihat sosok yang sangat kusayangi menelungkup di atas meja belajar. Tangannya menggelantung dan ... penuh darah.
Kuangkat tubuhnya yang kurus tak berdaya. Kusandarkan dia di kursi belajar dan kulihat wajahnya yang pucat membiru. Baru kusadari, darah yang menggenang di lantai, telah membeku. Artinya ... aku terlambat.
Lututku melemas. Namun, kutahan tubuhku agar tetap berdiri. Aku menunduk menjatuhkan air mata. Mengantar kepergian kakakku—Rahelma—untuk selamanya.
▪️▪️▪️
Beberapa hari lalu. . .
Kulihat Kak Rahel tersenyum sendu padaku. Akhirnya kulihat lagi senyuman itu setelah dia bersikap aneh. Mengurung diri di kamar dan tak selera makan. Aku tak tahu apa sebabnya. Begitupun kefua orang tuaku. Kak Rahel, memang tipe orang yang suka menyendiri bahkan merahasiakan semua keluh kesahnya seorang diri. Sangat tertutup dari semua orang. Termasuk aku.
"Kalau kakak pergi, jagain buku diary ini, ya." Tiba-tiba Kak Rahel memberiku sebuah buku. Buku diary. Aku lihat kamarnya terlalu berantakan dari biasanya. Kupikir, Kak Rahel benar-benar sedang kacau beberapa hari terakhir. Mungkin ... putus dengan pacarnya? Ah, tapi aku tak tahu, Kak Rahel memiliki kekasih atau tidak.
"Kakak mau pergi ke mana?" tanyaku sembari menerima buku diary itu. Buku itu terkunci. Aku tak tahu di mana Kak Rahel menaruh kuncinya.
"Kuncinya ada di sana. Kamu boleh baca, asal setelah kakak pergi, ya. Jangan kasih tau siapapun. Termasuk mama sama papa."
Aku mengangguk polos. Aku benar-benar tak tahu apa alasan Kak Rahel memberikan buku diarynya padaku. Kulirik tempat kunci buku diary ini berada dan kupikir, aku takkan pernah biaa membukanya. Karena aku ... tak mau kakakku pergi.
▪️▪️▪️
Tapi sekarang ...
Kak Rahel telah tiada. Pusara dengan racikan bunga mawar dan Kamboja berbau wangi menyengat hingga ke hidung. Kedua orang tuaku menangis pilu. Setelah mereka sampai di rumah semalam, hanya pemandangan memilukan yang mereka saksikan. Melihat Kak Rahel telah pucat tak bernyawa di mana aku hanya bisa menangis tanpa bisa apa-apa.
Kepulanganku dari rumah terakhir Kak Rahel, membawaku memasuki kamar yang masih berantakan itu. Bercak merah darah yang dibersihkan asal membuat hatiku kembali teriris.
Kenapa kakakku berakhir mengenaskan?
Siapa yang tega membuatnya seperti ini?
Semua teman yang datang, mereka menangis. Tapi ... aku yakin, mereka tak menangis dari hati. Karena aku tau, kakakku—dengan paras cantik dan kepandaiannya—membuat semua temannya merasa iri. Sudah jelas kulihat, mereka bahagia kakakku pergi dengan cepat.
Tak ada yang bisa kupercaya lagi.
Selain diriku sendiri, dan kedua orang tuaku.
Karena aku yakin, kakakku pergi karena salah satu atau bahkan karena mereka—teman-teman palsunya.
Begitulah yang kupikir. Sekarang, kuraih sebuah kunci dan membuka diary peninggalan sang kakak.
Sungguh berat rasanya, karena keinginanku tak terkabul. Tapi, aku merasa, aku akan mendapat jawaban dari buku diary ini.
Satu menit
Dua menit
Beberapa menit kemudian, air mataku megucur deras. Bahkan aku yang duduk di lantai, langsung memeluk lutut menahan pedih yang kutahan sedari tadi.
Sebab, buku diary ini ... menjelaskan betapa menderitanya kakakku dan betapa bejattnya mereka.
▪️▪️▪️