▪️1▪️Muka Rata

1725 Words
Ulyana Angeline atau Ulya, seorang gadis berponi pagar yang ceria. Dia selalu menampilkan sebuah senyuman yang entah berapa kilo gula yang terkandung. Saking manisnya, bikin diabetes! Dia itu siswi SMA Pancasila yang cukup populer. Gimana tidak populer? Pintar ... iya! Cantik ... iya! Ceria ... banget! Tapi, dia itu orangnya moody, kalau diganggu sedikit saja, dia akan mengomel panjang kali lebar dikali lagi sama tinggi. Memang, sih, tidak semua orang itu selalu sempurna, pasti ada lecetnya. ‘BRUKK!’ “Oops!” Ulya tersungkur ke lantai dan buku yang dia bawa semuanya berserakan kemana-mana. “Dasar! Jalan gak liat-liat. Matanya merem kali ya!” gerutunya dalam hati. “Heh! Bantuin dong! Jangan melototin gitu doang! Tuh liat, buku gue berserakan kemana-mana. Jalan, tuh, pakai mata! Kalau misal tadi gue jatuh nyungsep ke selokan gimana? Lo mau tanggung jawab? Dasar cowok muka ngeselin! Muka rata!” Ulya mengomel sendiri tapi orang yang ia omeli justru pergi seenaknya. “WOI!” ‘PUK!’ “Well, Ulya si ngeselin datang! Dan itu salah lo sendiri, muka rata!” “Rasain, tuh! Emang enak kena lemparan buku?” Ulya menjulurkan lidahnya mengejek setelah melemparkan kamus biologi ke kepala cowok yang menabraknya tadi. Tanpa merasa bersalah, Ulya mengambil dan menata bukunya dengan cepat, lalu buru-buru kabur daripada mati konyol dibunuh sama cowok tadi. “HAHAHA! Emang enak kena kamus biologi yang tebelnya amit-amit?” Ulya tertawa terbahak-bahak seperti sedang kesetanan. Membuat para siswa yang melihatnya bergidik ngeri. “Heh, Cewek Rese!” Langkah si Ulya terhenti. Dia langsung membalikkan badan tanpa tau siapa pemilik suara berat itu. ‘PUUK!’ “Aawh!” “Uwow! Pasti enak, tuh,” ucapnya datar. Terlalu datar. Bahkan terdengar seperti anak kecil yang lagi belajar ngeja, meskipun datar, tiga kata itu cukup membuat Ulya tambah geregetan. Apalagi ngeliat beberapa pasang mata yang melihat kejadian barusan pada nahan ketawa. Kan bikin si Ulya tambah bete. ‘BRAK!’ Semua buku yang ada di tangannya sekarang jatuh semua ke lantai. Bukan gegara di tabrak orang lagi. Tapi emang Ulya sengaja menjatuhkan setumpuk buku itu. Dia mendekati si Cowok Muka Rata itu dengan santai. Setelah mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Ulya mendongak menatap tajam mata cowok muka rata itu. “Apa?” Ulya tidak menjawab. Dia terus menatap cowok muka rata itu dengan tajam. Tapi dengan senyuman menghiasi bibir mungilnya juga. “Cih! Dasar cowok muka rata!” Si cowok muka rata itu pun tidak mau kalah. Dia menatap mata bulat Ulya tanpa expresi apapun. “Ini cowok kehabisan stok ekspresi kali ya? Dari tadi gak ada ekspresinya.” “Hei, kalian berdua! Ngapain pacaran di sekolah?!” Bu Sani yang tidak sengaja lewat pun memergoki aksi saling tatap itu. “Dan kamu, Ulya! Mana buku yang saya minta?!” nada bicaranya Bu Sani semakin meninggi dan akhirnya Ulya pun memunguti buku-buku itu lagi untuk kedua kalinya. “Maaf ya, Bu Sani,” bukannya merasa bersalah, Ulya malah melengos pergi setelah memberi setumpuk buku pada Bu Sani, Guru Biologi yang paling ngeselin itu. Suka banget kalau disuruh bikin Ulya kerepotan. “HAAHHH! MALU BANGET GUE! AWAS AJA SI COWOK RESE ITU! GUE BIKIN NGEMIS MINTA MAAF SAMA GUE NANTINYA! ARRGGH! DIA NGESELIN BANGET JADI ORANG!” makinya dalam hati. ▪️▪️▪️ “Eh, Ya!” Ulya menghentikan kayuhan sepedanya. Dia menatap datar sosok yang menatapnya penuh selidik itu. “Apa?” “Jangan sok centil gitu deh. Jijay tau gak liatnya!” Ulya mengerutkan keningnya heran. “Maksud lo apa sih, Shi?” “IYA! Dia itu Sishi, cewek paling ngeselin sejagad raya. Kalau ngeliat dia itu ... rasanya pengen gue tendang sampai nyangkut di cincinya Planet Saturnus! Errr!” “Itu tadi siang! Lo pasti sengaja kan nabrak si Elvo pujaan hati gue? Jangan harap lo bisa centilin dia ya! Awas lo!” setelah mengancam Ulya, dia pergi bersama gerombolan teman-temannya. “Idiiihhh, gue takut ih!” Ulya tertawa geli mendengar ancaman Sishi itu. “Dasar cewek gila”. “Elvo? Oh jadi nama si muka rata itu Elvo ya? HAHA! Alah bodo amat. Pokoknya dia itu orang paling ngeselin sepanjang masa!” Ulya kembali mengayuh sepedanya lagi. Rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah, jadi berangkat naik sepeda pun tak akan menguras tenaganya. Beberapa menit pun berlalu dan Ulya sudah sampai di rumahnya. “Mama ... Aku pulang!” teriaknya dengan semangat. Kalau tidak semangat bukan Ulya namanya. “Sana ganti baju, terus ikut mama ya.” “Ehh? Ke mana, Ma? Baru aja Ulya pulang, masak iya Ulya harus pergi lagi? Capek, Ma,” rengeknya. Mamanya hanya terkekeh pelan. “Ya sudah, kamu makan nanti malam aja. Mama gak masak.” “WHAT? Waduh! Oke deh, Ma, tunggu bentar ... Ulya ganti bajunya bisa kayak power rangers kok!” teriaknya selagi berlari menuju kamar. Mamanya terkekeh pelan melihat anak semata wayangnya yang sangat mudah diancam itu. ▪️▪️▪️ Ulya berjalan gontai mengikuti mamanya yang sibuk memilih baju. Berulang kali dia merengek mengajak mamanya untuk mencari makan, tapi mamanya selalu bilang, “Bentar ya, Ulya.” “Ih mama nih! Bentar mulu daritadi. Keburu cacingan nih!” Gerutunya kesal. “Nah, Ya, bagus gak baju yang ini?” mamanya menyodorkan sebuah baju berlengan panjang berwarna hijau tosca. Ada motif bunga di bawah kiri depan baju itu. Ulya menatapnya dengan malas. “Bagus kok, Ma.” “Ih kamu ini, dari tadi udah 10 baju, kamu bilang bagus semua. Mama kan jadi bingung” “Lah emang bagus semua kok, Ma ... ” rengeknya lagi. “Ma, makan yuk ... Ulya lapar nih, dari pulang sekolah sampai jam segini belum makan.” Mamanya tak menanggapi, dia masih sibuk memilih baju yang akan ia beli. “Aish! Dasar mama, kalau udah belanja lupa sama daratan!” Karena Ulya tidak sabar nunggu mamanya yang lagi sibuk pilih baju itu, akhirnya dia melarikan diri mencari sesuatu yang bisa memanjakan perutnya. “s**l! Gue di tipu lagi sama si mama ih ... ngeselin banget deh,” gerutunya dengan bibir mengerucut. Sedari tadi perutnya yang keroncongan membuat mood-nya semakin buruk. Apalagi kalau mengingat kejadian tadi siang yang membuat kepalanya nyut-nyutan. “Hadeh! s**l banget gue hari ini!” ‘BRUK’ Lagi-lagi dia menabrak seseorang. “Apa gue dilahirin buat nabrak orang sih?!” “Eeeh, maaf, Mas. Say–“ “Say apa? Sayang?” Ulya hanya melongo melihat siapa yang ia tabrak. Mulutnya terbuka dan bisa kapan saja lalat masuk ke situ. “Minta maaf sekarang!” “A-apa lo bilang? M-maaf? EH! Lo aja tadi gak minta maaf? Terus ngapain sekarang gue minta maaf sama lo?! Cih! Ogah amat!” Ulya menyilangkan kedua tangannya di d**a sambil terus mengoceh. Tanpa ia tau kalau dia menjadi sudut pandang banyak orang. “Hello, Ulya. Lo di mall! Lo gak di rumah! Sadar woii!” Setelah sadar kalau sekarang dia ada di mall. Tempat umum yang banyak penggosip berterbaran. Dia pun tak menghiraukan si muka rata yang tadi siang membuatnya kesal. “s**l! Gue kebablasan, kan! Gegara dia tuh! Udah malu berapa kali coba? Dia tuh ... hih ... bikin darah gue meletup-letup tau gak! Ngeselin tau gak! Masa iya dia bilang minta maaf sekarang ... cih! Apa-apaan? Dia aja kagak minta maaf sama gue. Lah gue ngapain minta maaf sama dia? Emangnya dia siapa coba? Raja? Pangeran? Iyuuhh! Mana ada raja kayak gitu kejamnya. Dasar muka rata!” “Dasar cerewet.” EH? “Elo? Ngapain lo ngikutin gue?” Si Ulya bener-bener geram sama si muka rata yang sekarang berjalan di belakangnya. Dan sedari tadi, ocehannya didengerin sama si muka rata. Malunya kayak apa coba? “Gue mau elo minta maaf sama gue soal tadi.” “Oh My God! Hoi, lo tuh siapa? Hah? Tadi siang nabrak gue, ngelempar gue pakai buku kamus biologi yang tebelnya amit-amit. Idih, terus sekarang lo mau gue minta maaf sama lo? OGAH!” Sebelum Ulya kembali melarikan diri, si muka rata itu berhasil menahan lengannya dengan erat dan membuat Ulya berhadapan dengannya. “Eh, denger ya, cewek bawel. Pertama, gue nabrak lo? Elo tuh yang nabrak gue! Orang gue diam aja di situ, elo tiba-tiba datang bawa buku segambreng terus nabrak gue.” Ulya mengerutkan keningnya sembari mengingat. “Kedua, kaki gue sakit kejatuhan buku-buku lo itu,” setelah dia mengingatnya, buku yang dia bawa memang benar mengenai kaki si muka rata ini. Ulya mulai menahan tawanya. “Ketiga, gue ngelemparin lo kamus? Elo duluan kan yang ngelempar? Gue balikin dong. Eh malah kena muka lo, itu salah lo sendiri gak bisa nangkep. Dan yang terakhir, elo lagi-lagi nabrak gue, dan bikin es krim lo jadi berlumuran ke baju gue. Lihat nih!” “Eh? Gue yang gak sadar, atau emang gue yang gak peka?” Baju hitam pekat itu memang sekarang dipenuhi sama lumuran es krim vanila. “G-gue gak sadar tuh. Bersihin dulu sono!” Si muka rata itu justru menggenggam tangannya dan menariknya ke toilet. “Eh! Mau ngapain nih?!”. “Diam.” Tapi si Ulya terus mengelak diajak oleh si muka rata memasuki toilet pria. “Gue masih suci woi! Jangan lakuin ini sama anak polos kayak gue, please!” rengek Ulya semakin menjadi-jadi. “Apa, sih? Gue mau lo ngebersihin baju gue! Gue mau lo tunggu sini. Kalau gue keluar dan lo gak ada. Gue bakal cari elo ke pelosok manapun!” Melihat si muka rata akan masuk ke toilet, dengan cepat Ulya menahannya. “Tunggu, gini aja deh. Lo tunggu sini. Gue janji gue bakal balik. Kalau gak percaya, nih ... dompet gue, gue tinggal deh. Gue mau cari sesuatu,” Ulya meninggalkan dompet setelah mengambil beberapa lembar uang. Si muka rata hanya mengerutkan kening dan percaya begitu saja. Beberapa saat setelah Ulya kembali, dia membawa sebuah kemeja yang sepertinya baru saja ia beli. “Nih, lo pakai yang ini. Kemeja hitam lo itu, kasih ke gue. Gue cuciin di rumah. Masa iya gue nyuciin baju lo di sini? Serasa gue pembokat lo tau!” Si muka rata hanya menurut mengangguk. Dia pun masuk ke toilet seperti arahan dari Ulya. “HUH! Merepotkan banget sih si muka rata!” Mungkin menggerutu di dalam hati sudah menjdi hobi semenjak ia bertemu dengan makhluk muka rata itu. “Mimpi apa coba semalem? Ketemu makhluk yang kayak gitu.” ▪️▪️▪️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD