“Nih!” setelah mengembalikan kemeja milik si muka rata. Ulya berpaling begitu saja.
“Eh, cewek bawel,” lagi-lagi si muka rata membuat Ulya geregetan. “Mana permintaan maafnya?”
“Sialann nih makhluk!” kesalnya dalam hati.
Sontak Ulya langsung balik badan menatap si muka rata yang memandangnya datar. Menambah kekesalan di hati Ulya.
Ulya menghela nafas panjang. “Sabar deh ya, ngadepin orang yang gak kebagian ekspresi dari asalnya,” kali ini, Ulya berusaha untuk tersenyum. Dengan catatan, senyuman itu terpaksa.
“Maaf ya, muka rata!” wajahnya memang tersenyum. Tapi ada penekanan diakhir kata.
“Sama-sama.” Jawaban yang benar-benar menjengkelkan.
“NGESELIN BANGET!!”
Sebelum Ulya pergi dari hadapan si muka rata itu, tangannya tertahan lagi oleh tangan kekar milik si muka rata.
“Heh, lepasin tangan gue. Ngapain lagi sih? Gue kan udah minta maaf. Gue juga udah tanggung jawab sama kemeja lo itu, kan? Terus ngapain lo masih nahan-nahan tangan gue sih? Serasa gue tuh kayak tahanan lo deh,”
“Nama?” Ulya mengerutkan dahinya heran. “Nih anak tanya gue apa gimana sih?”
“Nama lo siapa, cewek bawel?”
“Jiaahh!! Mau tau lo? Kan di name tag gue ada. Nih!” tanpa menjawab, Ulya memperlihatkan name tag yang ada di jas seragamnya.
“Oh.”
“JUST IT? Gila! Si muka rata ini ngeselin banget sih!! Ya Tuhan, ampunilah dosanya!!”
“Kenalin, gue murid baru. Elvodesta Raffi.”
Ulya tersenyum kecut. “Gue nggak tanya!”
▪️▪️▪️
Murid baru?
“Kalau dia murid baru, kenapa si Sishi kayak udah akrab gitu sama si muka rata?” monolognya seorang diri.
Suasana kelas yang tadinya kayak suasana pasar mingguan, sekarang jadi tenang ketika seorang guru yang terkenal garang memasuki ruang bertuliskan XI IPA 1-1 itu –Kelas Ulya.
Guru itu tak datang seorang diri. Dia bersama dua orang siswi yang memakai seragam sekolah yang berbeda.
“Murid baru? Lagi?”
“Perhatian! Kalian kedatangan teman baru, mohon perhatiannya!” semua siswa mulai mengunci bibir mereka masing-masing. “Silakan perkenalan satu-persatu,” dua siswi itu hanya mengangguk.
Seorang siswi berkacamata maju satu langkah lalu tersenyum kepada seisi kelas. Dia benar-benar terlihat cantik dengan senyumannya.
“Hai, kenalin ... gue Dhirankha Sora Khazanya. Bisa panggil gue, Dhira. Gue pindahan dari SMA Sakti. Semoga kita bisa berteman dengan baik,” setelah siswi yang bernama Dhira itu mundur, salah seorang siswi lainnya maju.
Dia memakai topi yang bertuliskan XOXO. Rambutnya di kuncir kuda dan style-nya benar-benar keren.
“Style-nya oke juga!” gumam Ulya dalam hati ketika melihat sosok murid baru itu.
“Hall—“
“Tunggu, buka topimu dulu,” perintah Pak Jordan –guru killer itu.
“Ja-jangan, Pak. Ini topi kesayangan saya,” rengek siswi bertopi itu.
“Hoi, anak baru! Turutin aja kata Pak Jordan, daripada topi buluk lo itu jadi angus!” celetuk salah satu siswa yang membuat seisi kelas tertawa terbahak-bahak, kecuali Ulya.
“Cih! Apa lo bilang? Topi buluk? Sini lo!! gue angusin muka pasaran lo itu!”
“DIAM!” satu kata yang berhasil membuat seisi kelas hening seketika. “Lepas topi itu, atau saya akan—“
“Oke, Pak!” siswi itu langsung melepasnya dan tersenyum menggelikan. “Hallo, Guys! Gue Ferliza Adni Athkeyta, tapi cukup panggil gue Adni. Gue se-SMA sama si kacamata ini. dan juga sekelasnya. Alasan gue pindah ke sini, karena gue ik—“
“Woi! Kita gak tanya alasan lo pindah kali,” sahut Sishi jutek. Membuat si siswi yang lagi memperkenalkan diri itu tekanan darahnya naik drastis.
“Dasar kambing lo! Ganggu orang lagi perkenalan aja! Cih!”
“Sudah Adni, Dhira, sekarang kalian duduk di bangku yang sudah di siapkan dan ikut pelajaran selanjutnya dengan tenang. Saya permisi dulu,” Pak Jordan menengahi pertikaian yang terjadi antara kedua murid bandel itu dan menyuruh kedua murid baru itu untuk duduk tenang selama pelajaran berlangsung. Kedua murid baru itu mengangguk mengerti dan Pak Jordan pun meninggalkan kelas.
Keduanya saling melihat ke arah bangku kosong yang sudah disediakan. Dua bangku itu berada di barisan terakhir, sederet dengan bangku milik Ulya. Mereka berdua pun duduk di bangku yang sudah disediakan itu dan mengeluarkan buku kosong tanpa melihat ke Ulya yang terus menatap mereka.
“Idih, mereka songong amat ya?”
“Ehem! Lo ngapain ngeliatin gue terus? Entar naksir loh ... ”
“What? Gue masih normal kali!” Ulya nyinyir dalam hati mendengar kalimat itu.
“Ceilah, gue masih normal kali! Masa iya gue naksir sama cewek setengah matang kayak lo? Jomblo-jomblo gini, gue itu masih cewek total. Luar dalem cewek. Emangnya elo?”
Dhira tertawa mendengar Adni dan Ulya berdebat. “Udah deh, kalian itu ngapain sih? Lo juga, Ad. Murid baru itu jangan rese!”
“Dhira!! Lo apa-apaan sih? Malah ngebelain dia pula!” bibirnya mengerucut dan langsung memakai topi kesayangannya itu lagi.
“Gue gak ngebelain dia kok. Gue cuma gak mau konsentrasi gue buyar gegara kalian debat terus,” Dhira menjitak kepala Adni pelan. Sedangkan Adni malah semakin mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.
“Kalian sahabatan ya?” Dhira tersenyum dan mengangguk. “Ooh. Pantesan aja. Akrab banget kayak gitu. Haha!” Ulya kembali fokus ngerjain tugas Fisika yang diberikan satu jam pelajaran lalu.
“Eh, nama lo siapa?” Ulya celingukan ke belakang dan sampingnya. Bingung akan siapa yang diajak Dhira berkenalan. “Gue tanya elo, poni kuda”.
“Gue? Poni kuda?”
“Apa-apaan? Kenapa sekarang sebutan gue jadi sekarung gini? Poni kuda lah, cewek bawel lah, idihh. Mereka murid baru emang pada ngeselin!”
“Kenalin, gue Ulyana Angeline. But, you can call me ... Ulya”
▪️▪️▪️
“Ulya!” lagi-lagi kayuhan sepedanya harus terhenti karena ada suara yang memanggilnya. Dia pun menoleh ke asal suara dengan muka super datar.
“Nanti sore bisa kumpul gak?” salah seorang murid memakai almamater OSIS berjalan mendekatinya.
“Eh, Alno? Emm, ngapain? Emang OSIS ada acara ya?” entah kenapa Ulya menjadi gugup ketika Alno mendekatinya.
Alno tersenyum sekilas. “Lo kayak gak tau aja kesibukan OSIS. Kita ada meeting, buat bahas hari ulang tahun sekolah tiga minggu lagi. Kita harus persiapan mulai sekarang,”.
“GILA!!! Jangan senyum ke gue, please! Bisa-bisa entar gue mati gegara diabetes!!”
“Ya??”
“He? Oke! Gue dateng. Jam berapa?” Alno kembali tersenyum dengan manisnya. Membuat siapa aja yang jualan es pasti esnya kemanisan kalau ketemu Alno lagi senyum.
“Sip! Kita tunggu jam 3 sore ya,” Ulya mengangguk sembari tersenyum. Dia kembali mengayuh sepedanya. Kali ini dengan wajah cerah yang membuat siapa aja pakai kacamata karena silau.
“Huwaa! Seneng banget diajak meeting sama si ketua OSIS yang super kece ngalahin bang Song Joong Ki itu!”
“Ulya!!” kayuhannya ia hentikan kembali dan melihat ke arah dua sosok murid yang satu tersenyum kepadanya dan yang satu lainnya hanya melengos.
“Hoi? Murid baru ternyata.”
“Entar sore mau ikut kita gak?” tawar Adni ketus.
“Adni! Jangan ketus gitu dong ngajaknya.”
Ulya hanya mendengus pelan mendengar tawaran ketus dari Adni.
“Nih murid baru bener-bener bikin gue pengen nonjok tau gak!” Pikirnya geram.
“Entar sore kita mau ngerayain ulang tahun gue. Udah seminggu yang lalu sih, tapi dirayainnya baru sekarang. Nah, berhubung lo satu-satunya temen yang kita punya selama dua hari ini, kita mau ngajak lo ikutan party. Gimana, Ya?” Ulya terlihat berfikir.
“Gak enak juga kalau nolak, kan Dhira udah baik banget sama gue. Lah tapi ... ”
“Udah deh, ikut aja. Gue gak bakal bikin lo kesel lagi deh,” sahut Adni masih dengan nada ketus. “Tapi bikin lo ngamuk sekalian,” gumamnya tapi masih bisa terdengar di telinga Ulya.
“Gue gak janji ya, Dhir. Di mana? Jam berapa?” tanya Ulya mencoba mengabaikan si cewek setengah matang itu.
“Oke, dekat sini kok tempatnya, di Wonderfull Cafe. Jam 4 ya,” setelah mendapat info tentang Birthday Party-nya Dhira, Ulya pamit pulang untuk persiapan meeting OSIS.
▪️▪️▪️
Suasana rapat tergolong nyaman. Tak ada pertikaian ataupun debat yang gak wajar. Mereka melakukan rapat dengan tenang dan mengedepankan kepentingan bersama. Acara yan sedang mereka bahas itu mengenai High School Party atau bisa disebut juga HS Party.
“Oke, jadi kesimpulannya, acara HS Party akan dilaksanakan tanggal 28 Oktober bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Daftar acaranya, tolong Sie Kegiatan yang membuatnya ya,” setelah disepakati bersama. Akhirnya Pak Jerry sebagai pembina OSIS keluar dan menyerahkan sisanya kepada Ketua OSIS.
“Udah paham semua, kan? Ulya, jangan lupa buat daftar acaranya ya. Gue percayain sama lo. Jangan ada kesalahan, gue yakin lo ngedengerin semuanya tadi,” Ulya tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Alno.
“Alno!!! Kenapa gak gue aja? Ih! Alno ngeselin deh, kan gue juga Sie Kegiatan!” rengek Sishi seperti anak kecil.
“Ah berisik lo, Shi! Dasar mak rempong!” Sishi hanya melengos mendengar ucapan ketus dari Alno.
“Iihh! Alno jahat deh, jangan gitu sama ‘Sishi sayang si unyuku selalu’ dong ... iya kan, Shi? Sini, sayang!” sahut salah satu anggota OSIS nyeletuk lalu berlari ngejar Sishi yang sudah menghilang dari tempat duduknya.
“Iyuuh!! Pergi sana cowok jadi-jadian!! Gue risih tau!”
“Kumat deh tuh. HAHA!” Ulya tertawa bahagia melihat pasangan jadi-jadian itu.
Setelah rapat ditutup, Ulya melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam sudah nongkrong di angka lima. “Mampus! Gue telat!!”
Untungnya tempat di mana party Dhira dilaksanain deket sama SMA. Jadi cuma menyita waktu 10 menitan untuk sampai di sana pakai sepeda. Buat ngasih tau Dhira kalau dia sedikit telat, Ulya mengeluarkan hpnya sambil mengayuh sepedanya.
Konsentrasi yang terbagi dua itu akhirnya ...
‘BRAKK!!’
Ulya terjatuh dan terpental dari sepedanya. Bagian depan sepedanya penyok dan bannya lepas. “Sepeda gue!”
Sosok yang ada di dalam mobil yang nabrak Ulya akhirnya keluar. Dia berjalan dengan santai dan melihat keadaan mobilnya.
“RESE BANGET!!”
“WOI!! Sepeda gue rusak nih! Lo! Harus ganti rugi!!” sosok itu melihat ke arahnya. “Ya Tuhan! Kenapa gue ketemu lagi sama si muka rata sih? Ngeselin banget tau gak! Huft ... ”
“Lo luka?” tanyanya dengan nada seperti biasa.
“Super datar banget! Bikin tambah kesel!” kesal Ulya dalam hati. “Engga!”
“Oh, ya udah,” mendapat jawaban dari Ulya, dia berputar badan dan melangkah meninggalkannya.
“Astaga! Woi, murid baru!” Ulya berusaha bangun. Tapi kakinya terasa sakit. “Awh!!” akhirnya dia jatuh lagi sebelum berhasil ngejar di muka rata itu. Pekikan kesakitan Ulya membuat si muka rata itu terhenti dan berbalik.
“Huft, ngerepotin aja lo,” dia pun langsung memapah Ulya untuk masuk ke mobilnya.
“Lah, terus sepeda gue gimana?” si muka rata itu tak menjawab. “Lo mau bawa gue ke mana? Lo mau nyulik gue ya? Gue laporin lo ke polisi!! TOLONG!! SAYA DICULIK SAMA MUKA RATA!!!”
“Berisik lo. Rumah lo mana? Masalah sepeda, gue bakal ganti rugi kok. Meskipun bukan kesalahan gue sepenuhnya.”
“Eeh tunggu! Gue gak mau pulang. Gue harus ke party-nya Dhira.”
“Party-nya Dhira?” Ulya mengangguk sambil meniup luka yang ada di siku kanannya. “Uuh, sakit banget. Padahal cuma luka kecil” gersahnya melihat luka yang masih mengeluarkan darah itu.
‘PLUK!’
Si muka rata itu menjitak kepalanya. “Gue anter lo pulang sekarang! Gak usah sok kuat deh, Poni Kuda! Obatin dulu tuh luka lo, entar gue bilangin ke Dhira kalau lo gak bisa dateng gegara jatuh ke selokan.”
“Ck! Pinter amat lo bohongnya! Udah, gue pokoknya mau dateng ke party-nya Dhira! Titik!” si Muka rata itu hanya mendengus pelan melihat keras kepalanya si Ulya.
▪️▪️▪️
Ulya turun dari mobil sambil dipapah oleh si muka rata –Elvo. Sebenarnya Ulya sudah menolak untuk dipapah oleh manusia yang menurutnya super duper menyebalkan itu. Tapi mau bagaimana lagi, kakinya benar-benar terasa SAKIT! Kedua lututnya pun masih mengeluarkan darah meskipun sudah sempat diobati oleh Elvo dengan menggunakan obat merah.
“Baru kali ini gue kecelakaan, dan ternyata sakitnya minta ampun. Huwee!” dalam hati ia merintih. Meskipun di luarnya dia tampak tenang.
“Ulya?? Loh? Elvo?? Loh? Kalian? Loh?”
“Jangan lah-loh-lah-loh mulu dong, Dhir. Bantuin nih temen lo. Kakinya sakit gegara tadi kejebur selokan,”
‘PLUK!’
“Well, gue ke sini atau gak ke sini, dia sama aja bilang kayak gitu. Dasar tukang tipu-tipu!”
“Tipu-tipu lo, gue tadi ditabrak sama dia. Sepeda gue hancur lebur jadi angus gegara dia ... huwaa!!!” Dhira dan Adni hanya memandang Elvo dan Ulya heran.
“Itu kan salah lo sendiri, bawel!”
“Udah gue bilang kan, nama gue Ulya! Bukan bawel!”
“Lah elo sendiri manggil gue si muka rata. Nama gue Elvo! Bukan muka rata!”
“Ngeselin banget sih lo!”
“Apa lo? Mau gue patahin sekalian tuh kaki??”
“APA LO BILANG???”
“STOPPP!!!” perdebatan absurd itupun terhenti. “Kalian tuh childish banget sih. Kita ada di tempat umum. Tuh liat, orang-orang pada liatin kita!!” Dhira pun berhasil membuat Ulya dan Elvo bungkam.
“Heh, El, pindah tempat. Lo jangan deket sama si Ulya. Bisa-bisa kafe ini kebakaran gegara kalian bertengkar mulu!” si Adni berusaha menengahi. Niatnya mau membantu si Dhira.
“Jangan! Gue aja yang tukeran tempat duduk sama si Elvo, lo sama si Ulya kan sama aja gak cocok. Cekcok mulu bisanya,” tapi niat baiknya itu dibatalin sama si Dhira.
Setelah cekcok antara Ulya dan Elvo terhenti, suasana jadi sepi.
“Dhir, lo kok kenal sama si Elvo? Katanya cuma gue yang lo kenal di SMA?” Dhira tersenyum mendengar pertanyaan dari Ulya.
“Kan Elvo juga murid baru. Emangnya lo gak tau dia dulunya SMA mana?” Ulya hanya menggeleng mendengar respon dari Adni.
“Dia temen se-SMP plus se-SMA gue dulu,” jawab Dhira sambil memesan empat makanan dan empat minuman untuk mereka.
Tiga murid baru ... dari SMA yang sama? Kenapa mereka serentak pindah ke SMA Pancasila?
▪️▪️▪️