Bab 1.
“Dasar tidak becus! Cuma buat laporan kayak begini saja gak bisa. Saya tidak mentolerir sebuah kesalahan sedikit pun.” Teriak seorang pria berahang tegas dan berwajah tampan dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
Pria tampan itu adalah Alvaro Davendra CEO muda yang perfeksionis. Dia sering membuat karyawan dan Sekretarisnya merasa kesulitan dalam bekerja.
"Maafkan saya Tuan, saya akan merevisi sesuai dengan permintaan Anda." Kata Ara sang sekretaris Baru.
"Saya sudah bosan mendengar kalimat yang sama berulang kali. Pecat Dia Raf!” Teriak Alvaro.
Rafael sang asisten hanya bisa menghela nafas pasrah saat Bosnya menyuruh untuk memecat kembali sekretaris yang baru saja bekerja satu hari itu.
“Al, Jika kau terus seperti ini pekerjaan kita akan terbengkalai. Kita butuh Sekretaris untukmu.” Keluh Rafael.
“Terbengkalai bagaimana? Semua pekerjaanku selesai tepat waktu. Kau saja mungkin yang tidak bisa mengurus pekerjaanmu.” Kata Alvaro menyanggah ucapan Rafael.
“Tidak bisa bagaimana? Bahkan setiap hari aku harus lembur karena pekerjaan kita yang semakin hari semakin menumpuk karena permintaan pasar yang semakin tinggi, di tambah lagi dengan klien yang banyak sekali ingin bekerja sama dengan kita. Kalau seperti ini terus kapan aku bisa kencan dengan seorang wanita?” Kata Rafael dengan wajah kesal.
Alvaro dan Rafael kini sudah memasuki usia 30 tahun dan sudah saatnya bagi mereka untuk mencari seseorang yang bisa menemani sisa hari tua mereka. Tapi pria tampan tapi dingin itu sepertinya tidak terlalu peduli akan hal itu. Dia lebih memilih peduli pada perusahaannya di bandingankan dengan urusan percintaan yang menuprutnya sangat membuatnya pusing. Di tambah dengan beban yang Alvaro tanggung sebagai anak tunggal sekaligus calon pimpinan dari perusahaan keluarganya.
“Kalau kau sudah tidak ingin bekerja di sini silakan saja keluar dari perusahaanku.” Kata Alvaro dengan santai.
Mereka bersahabat cukup lama, dari mereka duduk di bangku SMA. Rafael memutuskan untuk ikut dengan Alvaro dan bekerja sebagai asistennya. Rafael sudah tahu konsekuensinya saat akan bekerja dengan Alvaro. Karena dari dulu Alvaro adalah seorang yang pekerja keras dan gila kerja.
“Huft! Dasar manusia kutub berhati batu.” Gumam Rafael yang langsung keluar dari ruangan Alvaro.
Rafael tidak peduli lagi dengan omongan Alvaro, karena yang dia pedulikan saat ini adalah bagaimana cara mendapatkan Sekretaris yang sempurna untuk dirinya. Dan dia akan nekat keluar dari perusahaan Alvaro.
***
Pagi ini Rafael kembali menghadap Alvaro yang sedari pagi sudah ada di meja kerjanya. Kali ini Rafael membawa seorang perempuan cantik dengan badan yang mungil dan ceria.
“Al, ini calon sekretaris yang akan kau wawancarai hari ini.” Kata Rafael.
Alvaro hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
“Selamat pagi Tuan!” Sapa wanita mungil nan cantik itu ke Alvaro dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
“Duduklah!” Perintah Alvaro pada wanita itu.
Wanita itu bingung karena Alvaro tiba-tiba menyuruh untuk duduk. Rafael yang peka langsung menunjuk kursi yang ada di hadapan meja kerja Alvaro. Wanita itu pun dengan cepat langsung duduk dengan tegap dan sangat percaya diri. Tidak lupa senyuman yang selalu mengembang di bibirnya.
“Namamu Cynara Nafisa?” Tanya Alvaro sambil membuka CV milik Cynara yang sudah dia kirimkan sebelumnya.
“Betul Tuan.” Jawab Cynara dengan semangat.
Alvaro seketika melihat ke arah Cynara, wajahnya cantik dan manis di tambah dengan senyumannya membuat Alvaro sedikit terganggu bahkan sudah masuk ke tahap salah tingkah. Ada apa dengannya, apa hatinya mencair hanya karena gadis bernama Cynara itu?
“Ekhem!” Alvaro menetralkan pikirannya sejenak.
“Tidak ada interview khusus hanya saja saya akan memberikanmu laporan bulanan untuk di revisi. Saya akan berikan waktu 30 menit. Kamu sanggupkan?” Tanya Alvaro dengan datar.
“Boleh saya lihat dulu laporannya Tuan?” Pinta Cynara dengan ramah.
Dengan gerakan cepat Alvaro memberikan laporan tersebut pada Cynara. Cynara dengan cermat dan teliti membaca laporan tersebut. Alvaro tentu saja hanya bisa menunggu sambil menatap Cynara yang sedang fokus dan hatinya kembali terusik. Namun dia langsung tersadar saat Cynara memandang Alvaro sambil menyerahkan kembali laporannya.
“Saya rasa waktu 30 menit lebih dari cukup.” Kata Cynara dengan sangat percaya diri.
“Baiklah, kerjakan di sini sekarang.” Kata Alvaro sambil menyerahkan laptop yang ada di mejanya.
Cynara langsung membuka laptop tersebut dan memulai merevisi laporan tersebut sesuai dengan data yang di belikan oleh Alvaro. Rafael yang sedari tadi hanya berdiri mematung di belakang Cynara. Dia cukup kagum dengan kemampuan Cynara dalam mengetik, dia cukup cepat dan terlihat sangat teliti dalam merevisi laporannya.
15 menit berlalu, Rafael kembali ke ruangannya. Baginya Alvaro saja sudah cukup untuk mengamati cara kerja Cynara karena dialah yang memang sangat membutuhkan sekretaris.
“Sudah selesai Tuan.” Kata Cynara sambil mengarahkan laptopnya pada Alvaro.
Alvaro tanpa basa-basi langsung memeriksa hasil revisi yang sudah di kerjakan Cynara.
Alvaro membulatkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Baru kali ini dia melihat laporan yang di ketik dengan sangat rapi. Biasanya Alvaro harus mengarahkannya terlebih dahulu. Tapi kali ini Cynara berhasil membuat Alvaro kagum.
“Kau di terima!” Kata Alvaro dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Baru kali ini dia merasa puas dengan hasil kerja seseorang sekalipun itu Rafael. Dia terkadang masih harus melakukan revisi.
“Serius Tuan? Gak bohong kan ini?” Tanya Cynara untuk memastikan kalau yang dia dengar itu adalah nyata.
Alvaro mengangguk dengan yakin.
“Besok kamu sudah mulai bekerja.” Kata Rafael yang tidak kalah antusias dengan Cynara.
Tidak tahu saja kalau Cynara memiliki kepribadian yang cukup unik. Terkadang sikap ceroboh dan absurdnya bisa membuat orang sekitarnya cukup kesulitan. Namun Alvaro tidak peduli dengan kepribadian Cynara. Saat ini dia sangat antusias dengan hasil kerja Cynara.
“Untuk masalah yang lain, Rafael yang akan menjelaskannya lebih detail termasuk surat kontraknya. Untuk masalah gaji nanti kita lihat dulu cara kerja kamu. Kalau sesuai keinginanku kamu bisa mendapatkan gaji 2 kali lipat dari gaji yang di tawarkan oleh perusahaan.” Kata Alvaro yang sudah kembali memasang wajah dinginnya.
“Terima kasih Tuan, yang penting saya dapat kerja deh.” Kata Cynara dengan wajah antusias.
Tanpa Alvaro sadari kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Saat ini dia sedang tersenyum dan itu adalah hal yang jarang sekali Alvaro lakukan pada orang lain bahkan pada keluarganya sekalipun.
Akhirnya Cynara pun pulang dan kembali keesokan harinya untuk memulai pekerjaannya. Dia benar-benar merasa bersyukur karena setelah kontraknya habis dengan perusahaan sebelumnya. Dia berhasil mendapatkan panggilan interview.
Bagaimana tidak, gadis 24 tahun itu sangat pandai dalam bekerja. Apalagi dia sudah bekerja selama 4 tahun sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan besar di kota Bandung. Namun hal yang besar menimpanya sehingga dia di haruskan untuk pindah ke ibukota dan memutuskan kontrak dengan perusahaan lamanya dan menetap di ibukota.