Cynara datang ke perusahaan Alvaro dengan langkah semangat dan ekspresi wajah yang ceria.
“Pak Rafael!” Teriak Cynara lalu berlari ke arah Rafael yang hendak masuk ke dalam lift.
“Kau baru datang?” Tanya Rafael dengan santai.
“Iya Pak, tapi saya bingung harus ke mana.” Kata Cynara sambil terkekeh pelan.
“Hari ini agendanya sih aku akan mengajari kamu dan memberi tahu hal-hal apa saja yang harus kamu lakukan. Tapi aku yakin kau akan bisa melakukannya.” Kata Rafael lalu tersenyum.
TING!
Suara pintu lift pun berbunyi, akhirnya Rafael dan Cynara sama-sama naik ke lantai 15 di mana ruangan Rafael dan Alvaro berada.
Setelah sampai di lantai 15 Rafael dan Cynara berjalan berdampingan menyusuri lorong kantor. Banyak yang heran karena melihat Cynara yang sudah cukup terlihat akrab dengan Rafael. Padahal hari ini adalah hari pertama dia bekerja di perusahaan Alvaro.
“Tuan Rafael sudah di ruangannya ya?” Tanya Cynara penasaran.
Rafael hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Karena dia gila kerja.” Gumamnya kemudian.
“Bagus dong Pak, makanya dia banyak uang kan?” Kata Cynara dengan entengnya.
Rafael melihat Cynara sekilas. Rafael rasa ada yang sedikit istimewa dari Cynara yaitu kemampuan adaptasi Cynara yang luar biasa.
“Kamu hati-hati kalau ngomong sama Alvaro ya.” Kata Rafael dengan hati-hati.
“Loh kenapa?”
“Dia galak, tegas dan main pecat aja kalau ada karyawan yang melakukan kesalahan. Jadi kamu langsung tanya aku aja kalau ada yang gak tahu.” Kata Rafael dengan wajah khawatir.
“Tenang aja kali Pak. Aku sudah ahli kok nanganin Bos gila kaya Tuan Al.” Kata Cynara dengan percaya diri.
Rafael berdoa dalam hati semoga saja Cynara akan betah bekerja dengan Alvaro sehingga beban pekerjaannya bisa sedikit terbantu. Rafael membuka pintu dan Cynara mengikuti dari belakang. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju meja kerja Alvaro.
“Selamat pagi Tuan Al!” Sapa Cynara dengan ceria sambil melambaikan tangan pada Alvaro.
Rafael cukup kaget dengan tingkah Cynara namun karena menurutnya baru kali ini ada orang yang seenteng dan senyaman itu. Apalagi Cynara tampak bersemangat saat akan bertemu dengan Alvaro. Padahal karyawan yang lain akan selalu menundukkan kepala atau bahkan tidak ingin bertemu yang terlihat dingin dan galak.
“Kau benar-benar sangat unik Cin.” Gumam Rafael namun masih terdengar oleh Cynara.
Namun tanggapan Cynara hanya tersenyum. Mereka berdua lalu berdiri di hadapan meja Alvaro.
“Cynara, ini ada beberapa pekerjaan yang harus kamu kerjakan saat ini. Tapi setelah selesai mengurus kontraknya ya.” Kata Alvaro dengan datar.
“Siap Tuan!” Kata Cynara dengan penuh semangat.
Rafael kembali terkekeh pelan melihat tingkah Cynara yang seakan-akan siap untuk bekerja dengan sangat giat.
“Astaga, Cynara! Ini hari pertama kerja loh santai saja.” Kata Rafael sambil terkekeh pelan.
“Seharusnya lo contoh dia Raf, dia aja semangat banget buat bekerja. Gak kaya yang lain tiap kerja pasti loyo.” Sungut Alvaro menimpali tanggapan Rafael tentang betapa semangatnya Cynara.
“Salah ngomong nih gue.” Gumam Rafael.
“Eh, tapi Tuan boleh saya tanya dulu gak?” Tanya Cynara memotong perselisihan yang hampir terjadi di antara Alvaro dan Rafael.
“Tanya apa?” Alvaro malah kembali bertanya pada Cynara.
“Nanti saya punya meja sendiri kan Tuan? Soalnya di tempat kerja saya yang lama ruangannya kecil dan mejanya di gabung padahal perusahaan elit loh Tuan.” Keluh Cynara.
“Jadi kamu keluar dari perusahaan karena ruangan sempit dan meja bergabung dengan yang lain?” Tanya Alvaro bingung.
“Gak juga sih Tuan, karena ada hal lain yang mengharuskan saya buat pindah ke ibukota tapi saya keluar juga bukan karena meja loh Tuan. Jujur saja, gajinya di sana juga kecil Tuan.” Jawab Cynara dengan polosnya.
Rafael sontak tertawa kembali mendengar omongan Cynara. Dia tidak menyangka Cynara akan menjawab pertanyaan Alvaro sejujur itu. Cynara memang perempuan ajaib.
“Ya sudah, nanti saya akan suruh Office Boy buat siapkan meja buat kamu. Tapi untuk masalah ruangan sepertinya kamu satu ruangan sama Rafael dulu.” Kata Alvaro.
Mata Cynara langsung berbinar dan sontak melompat-lompat kegirangan sambil berteriak.
“Yeee!” Seru Cynara.
Rafael dengan cepat langsung menahan tangan Cynara agar berhenti bersikap seenaknya di depan Alvaro.
“Maaf Tuan kelepasan.” Kata Cynara lalu terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Baiklah, sementara ini dia akan satu ruangan denganku. Tapi bulan depan aku harap dia punya ruangannya sendiri.” Kata Rafael masih dengan tangannya yang memegang tangan Cynara.
“Kenapa harus pindah?” Tanya Cynara.
“Aku butuh privasi Cin, memangnya kau mau satu ruangan berdua dengakku terus? Nanti kalau aku khilaf gimana?” Kata Rafael sambil menaik turunkan kedua alisnya.
“Dih, gak boleh kayak gitu di kantor Pak, pamali tahu.” Kata Cynara dengan mode ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya.
“Kalian bisa debat di luar kalau mau. Untuk urusan ruangan, mungkin minggu depan kamu sudah bisa menempatinya Cynara.” Kata Alvaro entah kenapa matanya malah terfokus pada tangan Rafael yang masih memegang tangan Cynara. Hatinya juga cukup bergemuruh seakan tidak suka.
“Nah, gitu dong! Itu baru Bos yang baik.” Kata Rafael.
Rafael langsung membawa Cynara untuk keluar dari ruangan Alvaro dengan beberapa dokumen yang susah mereka bawa.
“Sampai ketemu lagi Tuan Al yang ganteng!” Kata Cynara sambil melambaikan tangan pada Alvaro.
Raka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Cynara yang sudah menganggapnya sebagai rekan kerja dan bukan atasannya. Rafael pun langsung menarik tangan Cynara untuk cepat-cepat keluar dari ruangan Alvaro.
Alvaro sendiri pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menyukai cara kerja Cynara yang sangat rapi dan sesuai dengan keinginan Alvaro. Di tambah dengan pesona Cynara yang entah bagaimana mampu menyihir Alvaro meskipun Alvaro mencoba untuk menepis perasaan tersebut.
“Sepertinya butuh kesabaran tinggi untuk menghadapi gadis itu.” Gumam Alvaro sambil memijat pelipisnya yang terasa pening.
Namun dering ponsel miliknya membuatnya kembali fokus. Dia langsung mengangkat panggilan tersebut yang berasal dari sang Papa, Razkan Davendra pimpinan dari perusahaan Daverda yang saat ini sedang di kelola oleh Alvaro.
“Iya Pa.”
“Tadi Papa lihat kamu berangkat pagi-pagi sekali. Apa ada masalah di kantor?” Tanya Razkan dengan suara khas pria paruh baya yang penuh wibawa dan sangat lembut.
“Tidak juga, aku hanya ingin kasih kerajaan sama sekretaris baru Al.” Kata Alvaro dengan dingin.
“Kamu sudah ada sekretaris yang cocok sama kamu?” Tanya Razkan lagi.
“Iya Pa.”
“Ya sudah kalau begitu Papa tutup dulu.”
Panggilan pun berakhir, begitulah hubungan Alvaro dengan Papanya. Dia hanya mengobrol seputar pekerjaan dan bahkan sangat dingin pada Papanya. Razkan pun sangat cuek terhadap anaknya. Dia menyerahkan seluruh perusahaannya pada anaknya karena dia percaya kalau Alvaro pandai dalam mengelola perusahaan. Selain itu, ada hal lain yang membuat Razkan menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaannya pada Alvaro.