Bab 3.

1226 Words
Cynara sedang berada di ruangan Rafael dan sedang mengerjakan pekerjaannya. Saat bekerja Cynara memang sangat fokus dan selalu serius dalam mengerjakan pekerjaannya. “Cynara!” Panggil Rafael. Cynara yang agak sedikit jauh dari Rafael langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Rafael. “Ada apa Pak?” Tanya Cynara dengan sopan. “Gak usah Pak Pak gitu panggilnya. Panggil Kak Rafa aja. Lagian kita kan rekan kerja, aku juga bukan atasanmu.” Kata Rafael dengan santai. “Oke deh, ada apa Kak?” Tanya Cynara. “Menurutmu ini cocoknya umur berapa ya?” Tanya Rafael yang mencoba meminta saran dari Cynara. Cynara melihat CV miliknya dan tidak melihat data yang sedang di tunjukkan oleh Rafael. “Itu sudah tertulis Kak, umur 24 tahun.” Jawab Cynara dengan polosnya. Rafael sontak bingung bersamaan dengan keningnya yang berkerut. Rafael baru sadar kalau data yang sedang dia pegang berdampingan dengan CV milik Cynara. “Astaga! Bukan itu maksudku. Aku bertanya sama kamu tentang model yang cocoknya umur berapa, terus target pasarnya juga.” Kata Rafael lalu di akhiri dengan helaan nafas. “Oh begitu ya, Kak Rafa sih gak lengkap kalau tanya.” Kata Cynara tanpa rasa bersalah. Rafael hanya bisa menghela nafas berat untuk kedua kalinya. Dia akhirnya mencoba bersabar dan mendiskusikan kembali dengan Cynara. Namun saat itu juga Rafael sangat kagum dengan Cynara yang sangat handal dan cepat tanggap jika di minta sebuah ide. Setelah selesai berdiskusi Cynara di minta oleh Rafael untuk mencoba menyalurkan idenya dan menyuruhnya untuk meminta pendapat dari Alvaro. Dengan semangat Cynara langsung mengerjakan apa yang Rafael minta lalu langsung melaporkannya pada Alvaro. Saat Cynara hendak masuk ke dalam ruangan Alvaro, dia mendapati Alvaro sedang duduk sambil menelepon. Setelah melihat kedatangan Cynara, Alvaro langsung mengakhiri panggilannya dan menyimpan ponselnya. “Ada apa?” Tanya Alvaro. “Hai Tuan!” Sapa Cynara dengan santai sambil berjalan ke arah meja Alvaro. “Tidak perlu sok akrab, katakan saja ada apa?” Tanya Alvaro dengan datar. “Ais, jangan galak-galak gitu lah Tuan, nanti gantengnya hilang loh.” Kata Cynara lalu berdiri di depan meja Alvaro. Alvaro hanya bisa menghela nafas berat saat mendengar omongan Cynara. Namun dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri kalau dia sangat suka saat Cynara memuji wajah tampannya. “Cepat katakan ada apa? Dan apa tujuanmu datang ke ruanganku?” Tanya Alvaro lagi. “Ini lo Tuan..” Cynara langsung menjelaskan maksud dari kedatangannya ke ruangan Alvaro. Cynara juga melengkapi penjelasannya dengan proposal yang sudah dia buat sendiri dan langsung dia serahkan pada Alvaro. Alvaro dengan wajah datarnya hanya bisa fokus mendengarkan tapi jauh dalam hatinya, dia kembali kagum dengan Cynara yang sangat cerdas dan kreatif. “Bagaimana Tuan, keren kan ide saya?” Tanya Cynara dengan rasa percaya menaik turunkan kedua alisnya. “Bagus, saya akan pakai ide kamu itu pada project yang sedang saya garap saat ini.” Kata Alvaro dengan datar. “Bagus, tapi kenapa reaksi Tuan Al gitu sih? Seharunya itu kayak gini Tuan, idemu sangat bagus Cynara.” Kata Cynara protes pada Alvaro. Alvaro lagi-lagi menghela nafas berat, hari ini adalah hari pertama dia berinteraksi dengan Cynara, tapi kepalanya sudah terasa sangat amat pusing di buatnya. Dia akui kalau Cynara memang sanggat pintar namun sikapnya membuat Alvaro cukup lelah. “Sekarang pergilah! Saya sedang sibuk.” Kata Alvaro lalu kembali fokus pada komputernya. “Oke Tuan Al yang ganteng!” Kata Cynara dengan penuh semangat di tambah dengan posisi tangannya yang dalam posisi memberi hormat pada Alvaro. Alvaro tidak menanggapi Cynara sama sekali. Dia yakin, jika dia bicara lagi dia akan semakin pusing menghadapi Cynara. Dan Cynara keluar dari ruangan Alvaro dengan penuh semangat. *** Saat jam makan siang, Cynara makan sendiri di ruangan Rafael. Cynara membawa bekalnya sendiri. “Kau tidak makan siang di luar?” Tanya Rafael yang hendak pergi ke luar. “Gak Kak, aku bawa bekal dari rumah.” Jawab Cynara sambil membuka kotak makannya. “Makan di luar aja yuk, aku yang traktir.” Kata Rafael. “Besok aja Kak, sayang bekal yang aku bawa.” Kata Cynara sambil menatap sedih makanannya. “Aku mau traktirnya hari ini loh, kalau besok belum tentu aku mau traktir. Aku orangnya suka pelit.” Kata Rafael. “Ya sudah kak gak apa-apa, gak usah di traktir juga gak apa-apa. Tapi ingat kak, gak boleh jadi orang pelit. Nanti kuburannya sempit loh.” Kata Cynara. “Ais, orang aku cuma bercanda kok, malah di doain kayak gitu. Ya sudah deh aku keluar dulu ya, kalau Al panggil, kamu aja yang datang ke ruangannya ya.” Kata Rafael lalu pergi dari ruangannya untuk makan siang. Cynara kembali fokus pada makan siang yang sudah siap akan dia santap hari ini. Tapi saat dia akan menyuapkan makanannya, telepon yang di meja Rafael berbunyi. Cynara hanya bisa menghela nafas pasrah lalu langsung menutup kotak makan siangnya. Dan langsung masuk ke dalam ruangan Alvaro. “Halo Tuan Al yang ganteng, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Cynara lalu berjalan ke arah meja Alvaro. “Astaga! Kenapa kamu yang datang sih, di mana Rafael?” Tanya Alvaro. “Kak Rafa lagi keluar untuk makan siang. Lagian Tuan Al cari kak Rafa waktu makan siang, ya sudah pasti dia gak ada di ruangannya.” Kata Cynara dengan sedikit kesal. Kak? Tiba-tiba saja ucapan Cynara saat memanggil Rafael dengan sebutan ‘Kak’ itu membuat Alvaro sedikit terganggu. Dia diam sejenak sebelum akhirnya dia sadar dengan dirinya yang susah merasa sangat aneh. Semenjak kedatangan Cynara di perusahaannya, netra dan perhatiannya tidak pernah bisa dia lepaskan dari Cynara. Namun sayangnya Alvaro tidak peka dengan perasaannya sendiri dan memiliki untuk bungkam. “Lagian ya Tuan Al, gila kerja itu boleh banget tapi tetap aja kita tuh harus istirahat, makan siang, terus..” “Sudah.. sudah saya pusing dengar omonganmu.” Kata Alvaro mencoba menyanggah omongan Cynara. “Ya sudah, emang Tuan Al ada perlu apa sama Kak Rafa?” Tanya Cynara. “Saya ada meeting hari ini, jadi saya mau dia buat materi untuk meeting hari ini.” Jelas Alvaro. “Oh kalau sih saya juga bisa Tuan, gampang mah itu.” Kata Cynara kembali dengan wajah sombongnya. Alvaro cukup muak dengan sikap percaya diri Cynara namun dia sendiri mengakui jika Cynara memang sanggat pandai dalam bekerja. “Oke, oke kalau begitu kamu saja yang buat.” Kata Alvaro tiba-tiba. “Lah gak bisa gitu dong Tuan, saya mau makan siang ini. Sebagai informasi aja ya Tuan, saya itu punya masalah lambung jadi saya gak boleh telat makan.” Jelas Cynara dengan santai. Alvaro hanya bisa menutup matanya sambil memijat pelipisnya yang sedikit sakit saat mendengar alasan Cynara. “Jadi kamu mau bantu saya atau tidak?” Tanya Alvaro dengan wajah malas. “Kalau Tuan Al mengizinkan saya buat kerja sambil makan sih saya bakal kerjakan.” Kata Cynara dengan santai. Baru kali ini, seorang Alvaro Davendra menanyakan pendapat karyawannya saat dia akan menyuruh karyawannya untuk bekerja. Biasanya dia akan langsung menyuruh karyawannya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut tanpa ada penolakan sedikit pun. Tapi kali ini berbeda, entah kenapa Alvaro seakan-akan bersikap lembut pada Cynara. Mungkin efek karena sikap Cynara yang memang membuatnya sedikit pening. Jadi dia tidak mau ambil pusing apalagi sampai emosi. “Terserah kamu saja, yang penting pekerjaan kamu beres.” Kata Alvaro yang sudah lelah menghadapi sikap Cynara. “Baik Tuan Al yang ganteng.” Kata Cynara lalu keluar dari ruangan Alvaro.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD