Bab 4.

1080 Words
“Baik Tuan Al yang ganteng.” Kata Cynara lalu keluar dari ruangan Alvaro. Alvaro hanya bisa menghela nafas pasrah. “Kenapa dia selalu bilang ganteng mulu sih?” Gumamnya. Bagaimana tidak, Alvaro memiliki postur wajah yang nyaris sempurna. Untuk usianya yang sudah menginjak kepala 30, wajahnya masih sangat terlihat awet muda di tambah dengan proporsi wajahnya yang terbilang sangat sempurna. Wanita seabsurd Cynara pun tidak akan bisa berbohong kalau Alvaro memang sanggatlah tampan. Tidak lama, Cynara datang dengan kotak makan siangnya. Alvaro hanya bisa mengerjapkan matanya berkali-laki sambil melihat Cynara yang berjalan ke arah mejanya. “Kapan saya mengerjakannya Tuan?” Tanya Cynara dengan polosnya. “Tahun depan.” “Lah kelamaan dong Tuan.” Kata Cynara dengan wajah bingung. “Ya sekaranglah Cynara Nafisa!” kata Alvaro dengan wajah kesal. “Santai aja dong Tuan, awas wajah Tuan yang gantengnya nanti ilang loh.” Kata Cynara. Alvaro hanya bisa menepuk keningnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari pada semakin pusing, Alvaro langsung memberikan laptopnya dan Cynara langsung mengerjakan tugas yang di berikan oleh Alvaro sambil menikmati makan siangnya. Setelah selesai dengan pekerjaannya Cynara juga sudah selesai memakan makan siangnya. Tiba-tiba Cynara mengalami cegukan yang menurutnya sangat mengganggu. Dia mencari botol minum miliknya namun dia lupa membawanya dari ruangan Rafael. “Tuan Alvaro!” Panggil Cynara lalu kembali cegukan. Alvaro tidak bergeming sama sekali karena dia terlalu fokus pada pekerjaannya sehingga tidak menyadari suara pelan Cynara. Sementara itu, Cynara yang melihat ke arah pantry di ruangan Alvaro langsung berlari dan mencari air. Tapi sayangnya tangannya licin dan alhasil gelas yang hendak dia ambil langsung jatuh dan pecah. Cynara yang panik langsung merapikan gelas yang pecah, sementara itu Alvaro yang sedari tadi fokus bekerja langsung pergi ke dapur setelah mendengar suara berisik di dapurnya. “Kau sedang apa Cynara?” Tanya Alvaro dengan wajah bingung. Cynara langsung menoleh ke arah Alvaro tapi tangannya dengan gugup masih membersihkan pecahan gelasnya. “Maaf Tuan, tadi saya mau ambil gelas untuk minum tapi tangan saya licin dan aauu..” Pekiknya saat pecahan kaca yang sedang dia bersihkan mengenai jarinya. Alvaro yang panik langsung menghampiri Cynara dan mengambil tisu untuk menghentikan darah di jari Cynara. Dengan telaten Alvaro dengan obat yang ada di kotak P3K yang kebetulan saat itu ada di dekat Alvaro. Cynara hanya bisa mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia kaget bukan main dengan perlakuan manis Alvaro yang saat ini sedang membalut luka akibat pecahan gelas di jarinya. “Lain kali hati-hati.” Kata Alvaro sambil menyimpan kembali obat ke dalam kotak P3K. Cynara mengangguk perlahan dan dia belum sadar kalau cegukannya saat ini sudah sembuh. Setelah jarinya di obati oleh Alvaro, Cynara hanya bisa tertegun sambil melihat ke arah Alvaro yang saat itu sedang membereskan pecahan gelasnya. “Kenapa gelasnya bisa pecah?” Tanya Alvaro dengan santai. “Tadi saya mau minum Tuan, tapi karena lagi cegukan dan tangan saya juga basah jadinya tangan saya licin terus gelasnya jadi pecah deh.” Kata Cynara dengan wajah merasa bersalah. Alvaro hanya diam saat mendengar ucapan Cynara. Dia langsung beranjak dan membuang pecahan kacanya ke tempat sampah. “Maaf ya Tuan, gelasnya pecah gara-gara saya. Pasti gelasnya mahal kan Tuan? Nanti kalau sudah gajian, saya ganti deh. Soalnya sekarang saya gak punya uang.” Kata Cynara sambil mengikuti Alvaro dari belakang dengan wajahnya yang menunduk. Alvaro berjalan hendak keluar dari pantry namun dia langsung menghentikan langkahnya sehingga Cynara yang mengikuti Alvaro dari belakang sambil menunduk, langsung menabrak punggung bidang Alvaro. Alvaro berbalik dan di hadapannya langsung terpampang nyata wajah cantik Cynara yang saat itu sedang meringis kesakitan karena kepalanya mengenai punggung Alvaro. Dia langsung menengadah melihat ke arah Alvaro. Dengan jarak mereka yang berjarak satu langkah saja, Cynara bisa dengan jelas wajah tampan bos barunya itu. “Di lihat dari jauh aja sudah ganteng, ini di lihat dari dekat sudah kaya pangeran berkuda putih.” Batin Cynara. “Apa jari kamu sakit?” Tanya Alvaro masih dengan posisi yang sama namun wajahnya masih saja datar dan dingin. “Gak papa kok Tuan, ini murni karena kesalahan saya jadi Tuan Alvaro tidak perlu khawatir.” Kata Cynara kemudian menyunggingkan senyuman manisnya di depan Alvaro. Saat itu, mata Alvaro tanpa sengaja tertuju pada bibir mungil milik Cynara. Dia bisa membayangkan betapa manisnya bibir Cynara jika saja dia bisa melumat bibir gadis yang saat ini ada di hadapannya. Namun untungnya Alvaro masih sangat waras. Dia langsung tersadar dan menatap mata Cynara. Tapi lagi-lagi hatinya malah terenyuh melihat mata Cynara yang berbinar sangat indah. Wajah cantik Cynara membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan langsung jatuh ke dalam pesonanya. “Tuan Alvaro kenapa liatin saya kayak gitu? Muka saya ke gores pecahan kaca ya.” Tanya Cynara dengan khawatir. Alvaro menggeleng lalu mengusap pelan pipi Cynara menggunakan punggung jari telunjuknya. “Gak sampai ke gores kok, ini ada sisa pecahan kecil di wajah kamu. Sudah saya bersihkan.” Katanya masih dengan mode dinginnya. Percayalah saat itu Alvaro hanya berpura-pura mengatakan hal itu. Dia sangat gemas dan ingin sekali mencubit pipi Cynara yang tampak berkilau meskipun dia yakin kalau Cynara hanya mengoleskan sedikit make up ke wajahnya. Cynara dengan panik langsung mengibas-ngibaskan tangannya di wajahnya dan percaya saja dengan kemodusan bos barunya itu yang padahal hanya ingin menyentuh wajah cantik Cynara saja. “Al!” Panggil Rafael dari luar dapur lebih tepatnya di dalam ruangan kerja Alvaro. Alvaro dengan santai keluar dari dapur dan berjalan menuju meja kerjanya. Di ikuti oleh Cynara dari belakang. “Loh kalian berdua habis ngapain?” Tanya Rafael bingung. “Itu tad..” “Bukan urusanmu, katakan saja ada apa?” Sanggah Alvaro. “Itu.. aku baru ingat kalau jam 2 nanti kita ada meeting bareng klien dan divisi inti.” Kata Rafael dengan wajahnya yang sedikit panik. “Untuk masalah itu sudah di tangani sama Cynara. Dia sudah mengerjakan semuanya sambil makan siang di sini.” Kata Alvaro dengan santai yang susah duduk di kursi kebesarannya. “Benarkah? Aku bersyukur sekali, terima kasih ya Cin.” Kata Rafael dengan raut wajah yang sudah merasa lega. Cynara hanya tersenyum canggung, dia masih bingung dengan sikap Alvaro yang tiba-tiba baik padanya. Padahal sebelumnya sudah sangat jelas kalau Alvaro sangat tidak menyukai diri. Tapi nyatanya Alvaro cukup tertarik dengan Cynara sehingga dia sedikit demi sedikit mencoba membuka hatinya. “Kalau begitu saya permisi dulu Tuan.” Pamit Cynara lalu mengambil kotak makannya kemudian keluar dari ruangan Alvaro. Rafael yang masih penasaran dengan apa yang di lakukan Alvaro dan Cynara di pantry langsung ikut pamit untuk pergi dari ruangan Alvaro.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD