Cynara sudah kembali di ruangan Rafael dan langsung duduk di kursinya. Dia mencoba untuk menetralkan pikirannya. Lalu Rafael dengan hebohnya langsung menghampiri meja Cynara dengan wajah penasaran.
“Cin, tadi kamu ngapain sama Alvaro di pantry?” Tanya Rafael dengan wajah penasaran.
“Oh itu, tadi sehabis makan aku cegukan kak. Terus aku lupa bawa minum jadinya aku pergi ke dapurnya Tuan Alvaro buat minta minum. Tapi pas mau ambil gelas tanganku licin terus gelasnya jatuh deh.” Jelas Cynara dengan wajah yang jelas menunjukkan kalau dia masih merasa bersalah pada Alvaro.
“Kirain ada apa.” Kata Rafael dengan wajah kecewa karena tidak mendapatkan gosip sesuai keinginannya.
“Kak Rafa, kira-kira aku bakal di pecat gak ya sama Tuan Al?” Tanya Cynara dengan wajah ketakutan.
“Tergantung moodnya Alvaro sih.” Kata Rafael mencoba menakuti Cynara.
“Kak Rafa ih, yang serius dong.” Kata Cynara mencoba meminta pendapat dari Rafael.
“Emang habis gelasnya pecah dia bagaimana ke kamu?” Tanya Rafael.
“Tadi sih karena tangan aku kena pecahan kaca, terus Tuan Al yang beresin pecahan gelasnya. Tuan al juga yang obatin luka di jari aku.” Kara Cynara.
Rafael sejenak diam dan hanya mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia bingung dan merasa tidak percaya. Selama dia bersahabat dengan Alvaro tidak pernah dia melihat Alvaro membantu orang lain dengan secara suka rela. Apalagi menolong membersihkan pecahan gelas.
“Kenapa kak? Kok sepertinya kak Rafael yang bingung gitu?” Tanya Cynara bingung.
“Kamu yakin tadi Alvaro yang bantuin kamu bukan hantu kan?” Tanya Rafael mencoba memperjelas penjelasan Cynara.
“Iya tadi Tuan Al, kak Rafa ini kenapa sih? Jangan bikin aku takut deh.” Kata Cynara.
“Aku gak tahu dia bakal pecat kamu atau tidak. Tapi yang pasti aku gak ikut campur urusan kamu sama dia. Kayaknya tadi dia kesambet deh. Mudah-mudahan aja dia cepat lupa sama masalah kamu tadi.” Jelas Rafael lalu duduk di kursinya dengan wajah yang terlihat masih memikirkan sikap manis yang tiba-tiba di tunjuk oleh Alvaro.
Cynara hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia benar-benar tidak bisa mencari pekerjaan lain lagi karena dia sendiri sedang terdesak oleh uang. Cynara harus berjuang menghidupi dirinya sendiri serta ibunya yang saat ini sedang berjuang melawan sakitnya di rumah sakit.
Tapi meskipun begitu Cynara selalu semangat menghadapi apa pun masalah yang ada di hidupnya. Dia akan mempertahankan pekerjaannya saat ini. Meskipun dia harus mengorbankan dirinya sendiri. Dia rela melakukan apa pun hanya demi keselamatan ibunya.
***
“Cin, ayo!” Ajak Rafael sambil membawa beberapa berkas.
“Ayo ke mana kak?” Tanya Cynara dengan wajah bingung.
“Ke ruang meetinglah Cin, kan tadi yang buat materi untuk hari ini.” Kata Rafael.
“Oh iya, aku lupa.” Kata Cynara lalu langsung merapikan beberapa berkas yang di butuh kan untuk meeting.
Sementara itu, Rafael hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Cynara yang seharusnya membantu dirinya agar tidak lupa dengan jadwal malah Cynara sendiri yang lupa.
Setelah selesai merapikan berkasnya, Cynara dan Rafael langsung pergi ke ruang meeting.
Di ruang meeting sudah ada beberapa karyawan dari divisi lain serta klien dari perusahaan lain. Cynara yang baru mengikuti meeting di perusahaan itu cukup gugup karena banyak sekali karyawan yang melihat ke arahnya.
“Kak, emang kalau meeting begini suka tegang gitu ya?” Bisik Cynara yang sudah duduk di samping Rafael.
“Sudah biasa kaya gini setiap meeting. Kadang Alvaro itu suka ngasih pertanyaan yang cukup sulit buat di jawab. Jadinya ya mereka kelihatan tegang dan takut sama Alvaro.” Jelas Rafael.
“Padahal Tuan Alvaro ganteng loh, kenapa mereka malah takut coba?” Tanya Cynara lagi.
“Hush! Kamu itu nanti Alvaro malah baper kalau kamu puji-puji kayak gitu.” Kata Rafael.
“Emang gak boleh bikin Tuan Alvaro baper ya?” Tanya Cynara dengan wajah polosnya.
Belum juga Rafael menjawab sosok pria dingin dan tampan yang saat itu sedang di bicarakan Cynara pun langsung masuk ke dalam ruang meeting. Siapa lagi kalau bukan Rafael.
“Pantes aja sih tegang orang yang datang beruang kutub.” Batin Cynara sambil membungkuk saat Alvaro mendekat ke arahnya.
“Presentasikan Cynara!” Titah Alvaro dengan entengnya lalu dia kembali ke kursi paling ujung di meja meeting tersebut.
Cynara langsung kaget bukan main, dia tidak menyangka kalau di hari pertama dia kerja dia akan di suruh untuk persentase di depan karyawan dan klien yang jelas-jelas lebih berpengalaman dari dia.
Rafael yang biasanya mempersentasikan pun ikut kaget dengan ucapan Alvaro. Pasalnya Cynara adalah karyawan baru yang masih harus adaptasi dengan atmosfer di kantor barunya.
“Ini Bos kalau bisa aku pukul juga lama-lama. Tadi aja manis banget eh sekarang mau ngerjain aku rupanya. Mau cari celah nih ceritanya?” Batin Cynara dengan wajah kesal.
“Kenapa hanya diam saja Cynara? Ayo presentasikan!” Kata Alvaro tidak sabaran.
Sebenarnya Rafael sangat ingin membantu Cynara. Hanya saja dia tidak akan pernah bisa melawan kuasa seorang Alvaro Davendra.
“Bos gila!” Umpat Cynara dalam hati.
Cynara hanya bisa menghela nafas pasrah. Untung saja bahan materi yang akan di presentasikan adalah hasil kerja Cynara sendiri. Dia langsung berjalan ke tempat dia akan presentasi.
Semua orang menatap kagum pada Cynara. Badan yang mungil tapi ideal, rambut yang di kucir kuda serta wajah cantiknya yang di dukung oleh kulitnya yang putih dan mulus.
“Baik, saya mulai presentasinya ya.” Kata Cynara dengan tenang.
Sebenarnya Alvaro cukup takut karena dia belum pernah melihat Cynara berbicara di depan orang banyak. Maklum saja karena ini adalah hari pertama Cynara bekerja di kantornya. Alvaro benar-benar mengambil langkah berani dengan menyuruh Cynara untuk presentasi. Apalagi saat ini ada beberapa klien penting yang menentukan project perusahaannya.
Tapi saat itu juga rasa khawatir Alvaro langsung hilang dan tergantikan dengan rasa kagum pada Cynara. Cynara berbicara dengan sangat santai dan terlihat sangat percaya diri. Rafael pun sampai kaget serta kagum di buatnya melihat Cynara yang tampak luwes sekali saat memaparkan Project tersebut.
Setelah beberapa menit presentasi, Cynara langsung mengakhiri presentasinya. Dia kembali duduk di samping Rafael sambil menghela nafas lega.
“Kau hebat sekali Cin.” Bisik Rafael pada Cynara sambil menunjukkan kedua jempolnya.
Cynara hanya tersenyum menanggapi pujian yang di lontarkan Rafael. Sementara itu, meeting terus berlanjut sampai pada akhirnya klien perusahaan Alvaro sangat merasa puas dengan project yang akan di kerjakan.
Setelah meeting selesai Cynara dan Rafael berjalan di belakang Alvaro. Cynara masih kesal karena Alvaro menyuruhnya presentasi secara mendadak.
Saat menunggu lift, Alvaro yang berdiri di depan Cynara dan Rafael langsung berbalik dan menggeser badannya untuk berhadapan langsung dengan Cynara.
“Cynara, apa hari ini kau ada rencana untuk pergi?” Tanya Alvaro dengan wajah dinginnya.
Rafael yang mendengar Alvaro bertanya pada Cynara pun langsung mengerjapkan matanya karena bingung. Sejak kapan Alvaro selalu meminta pendapat orang lain?
“Ada yang gak beres nih sama bos gue.” Batin Rafael.