Saat menunggu lift, Alvaro yang berdiri di depan Cynara dan Rafael langsung berbalik dan menggeser badannya untuk berhadapan langsung dengan Cynara.
“Cynara, apa hari ini kau ada rencana untuk pergi?” Tanya Alvaro dengan wajah dinginnya.
Rafael yang mendengar Alvaro bertanya pada Cynara pun langsung mengerjapkan matanya karena bingung. Sejak kapan Alvaro selalu meminta pendapat orang lain?
“Ada yang gak beres nih sama bos gue.” Batin Rafael.
Cynara juga mengerutkan keningnya karena bingung dengan sikap Alvaro yang menanyakan rencananya hari ini. Cynara yang masih kesal, tentu saja menjawabnya dengan singkat.
“Tidak ada.”
“Baguslah, soalnya nanti malam kita ada pesta yang akan mendatangkan beberapa klien dari beberapa negara. Saya ingin kau juga datang bersama saya dan Rafael.” Kata Alvaro dengan santai.
“Al, biarkan Cynara istirahat. Hari ini dia sudah bersusah payah untuk menjadi sekretaris yang handal dan berusaha untuk menyenangkan para klien. Jadi malam nanti biar aku dan kau saja yang hadir.” Kata Rafael.
“Bersikaplah seperti asisten yang baik Raf.” Kata Alvaro sambil menatap tajam ke arah Rafael.
Rafael hanya mendelik dengan malas, dia tahu kalau posisinya hanya sebagai seorang asisten. Namun terkadang Alvaro selalu bersikap seenaknya dan Rafael takut kalau-kalau orang yang ada di sekitar Alvaro malah pergi.
“Jadi bagaimana kau setuju kan Cynara?” Tanya Alvaro pada Cynara.
“Tidak perlu bertanya jika pada akhirnya aku harus datang.” Kata Cynara dengan malas.
TING!
Pintu lift pun terbuka, Rafael langsung meninggalkan Alvaro dan Cynara dan masuk lebih dulu ke dalam lift. Sesekali Alvaro memang harus di lawan, namun hanya itu yang bisa Rafael lakukan yaitu mendiamkan Alvaro sampai Alvaro benar-benar menyerah.
“Permisi Tuan.” Kata Cynara yang hendak ikut masuk lift namun Alvaro menahannya sampai akhirnya lift tertutup dan mereka di tinggalkan berdua di depan lift.
Cynara cukup bingung karena dia merasa sudah tidak memiliki urusan lagi dengan bis egoisnya itu.
“Ada apa Tuan?” Tanya Cynara.
Cynara yang dari awal selalu menampakkan senyumnya, kini hanya berekspresi datar di hadapan bosnya itu.
“Kau marah pada saya?” Tanya Alvaro yang masih memegang tangan Cynara.
“Untuk apa saya marah, itu hak Tuan Alvaro untuk menyuruh saya sebagai seorang karyawan untuk menuruti permintaan Tuan Alvaro. Benar bukan?” Kata Cynara.
“Kalau begitu kenapa sikapmu seperti ini? Saya tidak suka.” Kata Alvaro.
Cynara hanya mengerutkan keningnya, perdebatan mereka terpaksa berhenti karena karyawan lain yang akan menggunakan lift tiba-tiba berdatangan. Cynara dengan cepat melepaskan genggaman tangan Alvaro dari tangannya. Dia langsung memasang wajah cerianya dan berusaha untuk beradaptasi dengan karyawan yang lain.
Sementara itu, Alvaro hanya diam sambil memperhatikan Cynara yang dengan mudah merubah ekspresi wajahnya. Raka cukup penasaran dengan Cynara yang sangat mudah beradaptasi namun dia juga menjadi tahu kalau Cynara pandai membohongi perasaannya melalui ekspresi wajahnya.
***
Cynara akhirnya bisa lepas dari Alvaro dan langsung masuk kembali ke dalam ruangan milik Rafael. Dia melihat ke arah jam dinding dan baru menyadari kalau hari sudah sore.
“Sudah jam lima ternyata.” Gumam Cynara lalu duduk di kursinya.
“Kalau kau keberatan, nanti tidak usah ikut saja. Biar nanti aku yang mengatakan pada Alvaro.” Kata Rafael yang sedari tadi sudah berada di ruangannya.
“Tidak perlu kak, lagi pula saya hari ini tidak ada acara juga jadi ya hitung-hitung hiburan lah.” Kata Cynara yang sudah mulai membiasakan diri dan kembali ceria seperti semula.
“Aku memang tidak salah menerimamu menjadi sekretaris Alvaro.” Kata Rafael dengan senyum kagum.
Cynara hanya tersenyum lalu merapikan berkas-berkas yang berserakan di mejanya. Namun dia teringat kalau malam ini akan ada pesta dan pastinya Cynara di haruskan untuk memakai dress.
“Astaga! Bagaimana ini?” Seru Cynara sambil menepuk kepalanya sendiri.
“Ada apa?” Tanya Cynara bingung.
“Begini, nanti kita mau ke pesta dan otomatis pakai dress kan Kak Rafa. Tapi aku tidak punya.” Kata Cynara lalu menggigit bibir bawahnya karena panik.
Rafael hanya tersenyum melihat Cynara yang panik.
“Mau aku belikan dress? Anggap saja itu hadiah dariku karena hari ini kau sudah menjadi sekretaris yang baik untuk Alvaro.” Kata Alvaro.
“Beneran kak, tapi takut merepotkan loh.” Kata Cynara merasa tidak enak.
“Tidak perlu sungkan, penampilanmu juga kan penting buat bisnisnya Alvaro. Jadi aku sebagai sekretaris wajib untuk membantumu.” Kata Cynara.
“Biar aku yang belikan.”
Cynara dan Rafael langsung menoleh ke arah pintu ruangan Rafael. Alvaro ternyata sudah dari tadi berdiri di depan pintu dan mendengarkan percakapan Cynara dan Rafael. Dia dengan cueknya langsung masuk ke dalam ruangan Rafael dan menyela percakapan mereka.
“Tuan Alvaro!”
“Ayo ikut aku Cynara!” Perinta Alvaro lalu keluar dari ruangan Rafael.
Cynara hanya melongo dengan mulutnya yang menganga karena kaget dengan tingkah bosnya yang sangat membuatnya jengkel.
“Bos gila!” Kata Cynara dengan wajah kesal sambil menopang tangannya di pinggang.
Rafael sontak tertawa mendengar ucapan Cynara. Baru kali ini ada orang yang mencela Alvaro secara terang-terangan. Rafael yakin kalau Alvaro pasti mendengar teriakan Cynara yang cukup kencang.
Cynara tanpa lama-lama langsung mengambil tasnya dan menyusul Alvaro. Sementara Alvaro masih tertawa melihat Cynara yang tampak kesal pada Alvaro.
***
Cynara kebingungan karena dia kehilangan jejak Alvaro, sampai akhirnya dia mendapatkan pesan dari bosnya itu kalau dia harus menunggu di lobby kantor. Dan saat ini Cynara berada di lobby dengan wajah kesalnya.
Tidak lama sebuah mobil mewah datang dan berhenti tepat di depan Cynara. Alvaro membuka kaca mobil dan menoleh ke arah Cynara.
“Masuklah!” Perintah Alvaro.
Cynara dengan cepat langsung membuka pintu mobil namun dengan polosnya dia membuka pintu belakang.
“Kau mau ke mana?” Tanya Alvaro bingung.
“Mau masuk mobillah, kan Tuan Al yang suruh.” Kata Cynara.
“Duduk di depan! Kamu kira saya sopir kamu?” Kata Alvaro dengan kesal.
Cynara kembali menghela nafas pasrah lalu langsung masuk ke dalam mobil Alvaro dan duduk di samping Alvaro. Dengan cepat, Alvaro langsung melajukan mobilnya ke sebuah Mall mewah.
“Kau benar-benar tidak punya dress?” Tanya Alvaro sambil fokus dengan kemudinya.
“Hem.” Jawab Cynara singkat sambil memandang jendela mobil.
“Lihat saya kalau lagi jawab pertanyaan!” Seru Alvaro.
Cynara kembali menghela nafas sambil mencoba untuk menahan rasa kesalnya.
“Kenapa tidak punya?” Tanya Alvaro lagi.
“Tentu saja karena saya miskin.” Jawab Cynara dengan entengnya.
Raka cukup kaget dengan jawaban asal Cynara. Sekretaris barunya ini memang cukup unik. Dia sangat terbuka terhadap apa yang dia rasakan. Bahkan saat ini dia berani untuk mengacuhkan bosnya yang sudah jelas-jelas akan membelikan dress untuknya.
“Kau kan bekerja, kenapa uangnya tidak kau tabung?” Tanya Alvaro lagi seakan-akan penasaran dengan kehidupan Cynara.
“Saya punya tanggungan yang besar jadi saya tidak sempat untuk menabung apalagi untuk membeli dress yang hanya akan saya pakai pas ke pesta saja. Lebih baik uangnya untuk biaya makan sehari-hari.” Jelas Cynara.
Entah kenapa Cynara harus membahas itu dengan Bosnya. Tapi Cynara tidak berniat untuk mengungkapkan kesedihannya sama sekali. Dia benar-benar hanya menjawab ucapan Bosnya saja.
“Oh.”
Singkat saja dan hanya kata oh yang keluar dari mulut Alvaro. Cynara kembali menghela nafas sambil menatap lurus ke arah jalanan di depan.