Keesokan harinya, Cynara bersiap-siap untuk pergi ke kantornya. Dia berpamitan kepada Mamanya yang masih terbaring koma.
Saat ini Cynara mendapatkan kebijakan dari rumah sakit kalau dia bisa tinggal di rumah sakit. Cynara mendapatkan kebijakan dari rumah sakit kalau dia bisa tinggal di rumah sakit kalau dia bisa tinggal di rumah sakit. Cynara bisa saja mengontrak rumah, hanya saja Cynara tidak ingin jauh-jauh dari Mamanya yang saat ini sangat membutuhkan Cynara di sampingnya.
Saat Cynara keluar dari ruangan Mamanya, Cynara tidak sengaja berpapasan dengan Samudra dokter yang sudah merawat Anggun.
"Hai, Ci!" Sapa Samudra sambil berjalan ke arah Cynara.
Cynara hanya tersenyum lalu mengangguk dengan sopan.
"Pagi Dokter Sam." Kata Cynara dengan ramah.
"Kau mau berangkat kerja ya?"
"Iya, Dok. Saya titip Mama daya dulu ya Dok." Kata Cynara.
"Tenang saja, Mamamu aman di sini." Kata Samudra lalu tersenyum.
"Baiklah, saya percaya pada Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu." Kata Cynara lalu membungkuk kemudian pergi dari hadapan Samudra.
Samudra langsung menghela nafas saat Cynara pergi dari hadapannya. Dia tiba-tiba memasang raut wajah yang sangat sulit untuk di artikan. Dia kemudian langsung masuk ke dalam ruangan tempat Anggun di rawat. Dia menatap Anggun yang masih terbaring lemah dengan tatapan sedih dan ada rasa bersalah yang tiba-tiba menjalar di hatinya.
***
Sementara itu, Cynara pergi ke kantor menggunakan bus Way yang kebetulan melewati kantornya. Dia benar-benar beruntung karena rumah sakit mengizinkannya untuk tinggal di sana dan dalam hal transportasi pun Cynara tidak ke sulitan. Dia bahkan bisa menghemat uang tempat tinggal dan uang transport.
Saat Cynara sampai di lobby kantor, tampaknya Alvaro baru saja sampai di kantor. Dia berjalan tanpa menoleh ke arah Alvaro. Cynara langsung tersenyum dan berlari ke arah Alvaro. Namun sayangnya sepatu yang dia gunakan heelsnya patah sehingga dis langsung jatuh sambil memekik dengan cukup kencang.
"Aaaaakkkhh!" Teriak Cynara sambil jatuh.
Alvaro yang mendengar teriakan Cynara langsung menoleh dan sangat kaget saat melihat Cynara yang saat itu terjatuh. Dia dengan sigap langsung berlari ke arah Cynara dan berjongkok di hadapan Cynara dengan wajah cemas.
"Kau kenapa? Kenapa bisa jatuh? Kau baik-baik saja kan?" Tanya Alvaro sambil memegang lengan Cynara lalu memeriksa badan Cynara dengan wajah khawatir.
Cynara sangat kaget karena Alvaro datang dengan wajah khawatirnya. Sementara itu Rafael baru saja datang dan kebetulan datang bersama dengan Abian yang saat itu hendak membicarakan bisnisnya bersama dengan Alvaro.
"Itu si Alvaro ngapain? Tumben dia mau nolong orang." Kata Abian bingung.
"Kita lihat aja keanehan dia, sejak Cynara datang dia sudah agak aneh." Kata Rafael lalu melipat kedua tangannya di d**a.
Kembali pada Cynara yang akhirnya meringis kesakitan karena pergelangan kakinya yang terkilir.
"Maaf Tuan, tadi saya hendak menyusul Tuan Alvaro tapi heels saya patah jadinya jatuh deh." Kata Cynara sambil melihat kondisi pergelangan kaki Cynara yang tampak membiru.
Alvaro langsung merogoh ponselnya lalu menelepon Rafael. Rafael yang sebenarnya sudah melihat kejadian itu langsung mengangkat panggilan dari temannya itu.
"Rafael panggilkan Dokter atau tukang urut yang bisa mengobati pergelangan kaki yang terkilir. Bawa dia ke ruanganku." Perintah Alvaro, dia lalu menutup panggilannya. Sedangkan Rafael hanya bisa menghela nafas lalu segera menelepon seorang dokter atau pun tukang urut untuk mengobati pergelangan kaki Cynara.
"Eh gila gak tuh si Alvaro. Dia beneran perhatian sama sekretariatnya?" Tanya Abian lagi seakan-akan tidak percaya kalau hal yang saat ini sedang dia lihat adalah benar-benar Alvaro.
Rafael tidak menanggapi ucapan Abian dan hanya fokus menelepon seseorang yang bisa mengobati Cynara.
Sementara itu, Alvaro kembali fokus pada Cynara dan menyentuh pergelangan kaki Cynara.
"Auw!" Pekik Cynara yang meringis kesakitan.
"Sakit?"
Pakai ditanya lagi, tentu saja Cynara sangat kesakitan. Alvaro memang tidak pernah peka.
"Bisa jalan sendiri?" Tanya Alvaro lagi.
Cynara hanya tersenyum lalu mengangguk. Dia hanya tidak ingin menyusahkan bosnya itu. Dia langsung mencoba untuk berdiri namun sepertinya kedua kakinya benar-benar terluka sampai akhirnya Cynara tidak bisa berdiri sendiri.
"Kalau tidak bisa katakan tidak bisa. Tidak perlu sok kuat begitu." Kata Alvaro dengan dingin.
Dia hanya khawatir dengan keadaan Cynara, namun sebenarnya Cynara mencoba untuk menghindar dari Alvaro yang sepertinya sangat perhatian padanya. Cynara hanya tidak ingin membuat orang lain salah paham, apalagi semua orang saat ini sedang memperhatikan Cynara dan Alvaro.
Tapi Alvaro tidak pernah peduli dengan apa pun. Dia dengan santainya langsung menggendong Cynara ala bridal style. Cynara yang takut jatuh, terpaksa mengalungkan tangannya di leher Alvaro dengan wajahnya yang tampak kaget dengan sikap perhatian yang mendadak dari Alvaro.
"Kita pergi ke ruangan saya." Kata Alvaro dengan dinginnya lalu berjalan masuk ke kantornya.
Abian hanya bisa melongo dengan mulutnya yang terbuka. Bagaimana tidak kaget? Selama berteman dengan Alvaro, Abian tidak pernah melihat Alvaro sangat perhatian seperti itu pada seorang gadis. Alvaro bahkan tidak pernah peduli dengan sekitarnya.
Namun kali ini sikap Alvaro benar-benar berbeda. Dia sangat perhatian pada Cynara bahkan rela menggendong Cynara menuju ruangannya. Dia bahkan menyuruh Rafael untuk memanggilkan seseorang yang bisa mengobati Cynara.
"Raf, itu benar-benar si Al kan?" Tanya Abian lagi yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Ya begitulah, gue aja kemarin heran kenapa dia bisa kaya gitu." Jawab Rafael yang sudah berhasil menghubungi tukang urut.
"Wow! Gila sih, gue gak percaya si Alvaro bakal jatuh cinta sama gadis itu. Tapi ya gue akui dia emang cantik sih." Kata Abian.
"Bukan cantik lagi, emang cantik banget tuh si Cynara." Kata Rafael dengan santai.
"Dih, jangan-jangan lo suka juga ya sama Cynara?" Tanya Abian dengan tatapan curiga.
"Lah, ngaco lo! Gak mungkinlah gue suka sama dia. Dia cantik sih tapi bukan tipe gue." Kata Rafael dengan santai.
"Jangan bilang kalau lo suka sama adek gue ya?" Tanya Abian mencoba untuk menginterogasi Rafael.
"Ya emang kenapa kalau gue suka sama adek lo? Toh dia juga jomblo kan?" Kata Rafael dengan santai lalu masuk ke dalam kantor meninggalkan Abian yang saat itu sangat kesal dengan sikap Rafael.
Abian langsung menyusul Rafael dan ngomel-ngomel masalah adiknya. Sedangkan Rafael hanya membiarkan Abian berbicara dengan sepuasnya dan tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Abian.
***
Kembali pada Cynara yang saat ini sudah ada di ruangan pribadi Alvaro. Dia berasa di sebuah kamar yang berasa di dalam ruangan milik Alvaro. Cynara bahkan baru tahu kalau Alvaro memiliki kamar di ruangannya.
Alvaro mendudukkan Cynara di kasurnya, dia bahkan membukakan sepatu heels milik Cynara yang masih dia pakai.
"Tunggu di sini ya, sebentar lagi tukang urutnya datang kok." Kata Alvaro lalu duduk di samping Cynara.
"Sebenarnya gak usah repot-repot Tuan, kayaknya nanti juga sembuh deh." Kata Cynara yang saat itu hendak berdiri namun langsung kembali meringis kesakitan karena luka di kakinya memang cukup parah.
"Sudah di bilang gak usah ngeyel deh." Kata Alvaro.
Cynara hanya diam lalu tersenyum canggung ke arah Alvaro. Tidak lama seseorang datang dan dia adalah Rafael dengan seorang tukang urut.
"Ini tukang urutnya sudah dateng." Kata Rafael dengan santai.
"Jadi ngerepotin kan." Gumam Cynara dengan pelan.
"Gak usah bilang begitu, kamu gak ngerepotin sama sekali." Kata Alvaro.
Rafael hanya mendelik dengan mata malas.
"Aku keluar dulu ya, mau urus jadwal meeting." Kata Rafael lalu keluar dari kamar tersebut.
Cynara yang sedari tadi meluruskan kakinya di kasur, kini duduk menyamping di samping kasur dengan Alvaro yang ada di sampingnya. Sementara itu tukang urut yang akan mengobati kaki Cynara, duduk di bawah kasur.
"Tahan sebentar ya." Kata tukang urut saat mengoles minyak di pergelangan kaki Cynara.
Cynara langsung menutup mata dan tanpa sadar mengalihkan wajahnya ke samping tepat di hadapan Alvaro. Alvaro yang melihat Cynara yang ketakutan langsung membawa Cynara ke pelukannya.
"GaK apa-apa, tahan sakitnya sebentar." Kata Alvaro lalu mengelus punggung mengobati kaki Cynara, dia dengan erat langsung memeluk Alvaro. Alvaro terus mencoba untuk menenangkan Cynara.
Setelah selesai, Cynara melepaskan pelukannya. Alvaro sangat kaget saat melihat Cynara menangis karena menahan sakit.
"Sepertinya kaki Nona ini bari bisa berjalan normal lagi setelah 3 hari istirahat Tuan." Kata tukang urut setelah selesai mengobati kaki Cynara.
"3 hari?" Kata Cynara dengan wajah kaget.
"Ya sudah Tuan, terima kasih. Untuk bayarannya nanti sekretaris saya yang akan urus." Kata Alvaro dengan datarnya.
Tukang urut tersebut langsung keluar dari ruangan Alvaro dan hanya menyisakan Alvaro dan Cynara yang masih duduk berdampingan. Bahkan jarak mereka sangat dekat, namun keduanya sama sekali tidak sadar.
"Pak, kalau saya gak bisa jalan selama 3 hari. Gimana saya mau kerja, masa baru sehari kerja sudah izin sih." Kata Cynara merasa bersalah karena sudah ceroboh dan tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa masih ada Rafael yang bisa membantu pekerjaan kamu. Sekarang kamu fokus saja pada pemulihan kaki kamu. Dan lain kali hati-hati ya." Kata Rafael dengan sangat lembut.
Jika saja ketiga temannya mendengar ucapan Alvaro saat ini, sudah pasti mereka akan langsung tercengang bahkan merasa tidak percaya karena manusia ice seperti Alvaro bisa seperhatian itu terlebih pada seorang gadis yang baru saja sehari bertemu.
"Tapi Tuan saya gak enak sama Mas Rafael. Dia pasti merasa kalau saya di sini cuma buat repot saja." Kata Cynara masih merasa bersalah.
"Tidak perlu pikir omongan orang lain. Yang paling penting sekarang adalah pemulihan kaki kamu. Saya tidak ingin kamu ngerasa sakit saat kerja. Saya gak mau kamu paksain buat jalan juga." Kata Alvaro dengan lembut.
Cynara hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia tidak tahu kenapa bosnya ini sangat perhatian padanya. Cynara dengan hati-hati melihat ke arah Alvaro.
"Tuan Al suka ya sama saya?" Tanyanya dengan tatapan sayu.