Sesampainya di Jakarta Cynara lalu langsung pergi ke rumah sakit tempat kedua orang tuanya di rawat. Cynara dengan wajah khawatirnya langsung berlari masuk rumah sakit dan menanyakan keberadaan orang tuanya.
Cynara langsung diarahkan ke ruang ICU. Dengan langkah terburu-buru Cynara langsung masuk ke ruangan tersebut dan sangat kaget saat melihat kedua orang tuanya yang sedang berbaring di bangkar rumah sakit dengan alat-alat yang menempel di badan kedua orang tuanya.
“Papa! Mama!” Lirih Cynara.
Cynara langsung duduk di samping bangkar Brama. Dia memegang tangan Papanya yang terasa dingin. Cynara langsung menangis sejadi-jadinya karena merasa sakit saat melihat kedua orang tuanya terbaring lemah.
“Papa! Bangun! Papa janji mau ajak Cynara jalan-jalan kan?” Lirih Cynara.
Namun kehendak Tuhan berbeda dengan keinginan Cynara. Monitor jantung Papanya tiba-tiba menunjukkan kalau jantung Brama berhenti berdetak.
Brama seakan sedang menunggu Cynara dan ingin pamit sebentar sebelum pergi untuk selamanya.
Cynara dengan panik langsung memanggil dokter. Dokter dengan cepat langsung datang dan memeriksa keadaan Brama. Cynara yang masih setia memegang tangan Papanya pun hanya bisa menangis melihat ayahnya sudah terbaring lemah tidak berdaya.
Dokter tidak melakukan apa pun, mereka sudah mengusahakan agar Papanya tetap hidup, namun takdir berkata lain
“Jumat, pukul 23.00 pasien atas nama Brama dinyatakan meninggal dunia.” Kata Dokter.
“Tidak! Tidak mungkin!” Teriak Cynara yang tidak terima dengan keputusan Dokter.
Cynara langsung di bawa oleh beberapa perawat karena dia mengamuk di ruang ICU. Dia masih tidak terima dengan kepergian Papanya yang sangat mendadak.
“Papa!” Teriak Cynara dengan histeris.
Para Perawat rumah sakit hanya bisa memberikan kekuatan untuk Cynara.
“Yang sabar Nona.” Kata salah satu perawat.
“Papaku belum meninggal, Papaku cuma tidur saja! Tidak mungkin Papa meninggalkan aku sendirian. Tidak mungkin!” Teriak Cynara sambil mengamuk dan berusaha untuk menghampiri Papanya, namun beberapa karyawan mencegahnya.
Namun apalah daya, yang sudah pergi tidak akan bisa kembali lagi. Cynara saat itu kehilangan sosok Papa yang sangat dia cintai. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya dan hanya menangis semalaman menangisi Papanya yang sudah pergi jauh.
***
Karena kebijakan dari rumah sakit Cynara di bantu oleh beberapa karyawan rumah sakit untuk mengurus pemakaman Papanya. Dengan mata sembab dan wajah yang lelah Cynara berusaha untuk tetap tegar agar Papanya bisa pergi dengan tenang.
Namun saat Papanya di kebumikan tangis Cynara kembali pecah. Semua karyawan rumah sakit sangat prihatin melihat Cynara. Pasalnya Cynara merupakan anak tunggal di tambah dengan Mamanya yang masih kritis di rumah sakit. Anggun bahkan tidak tahu kalau suaminya sudah pergi untuk selamanya.
“Yang tabah ya Nona.” Kata salah satu seorang karyawan yang ikut menemani Cynara.
Cynara tidak mendengar ucapan siapa pun, dia hanya menangis sendirian sambil mencium kuburan Papanya.
***
Setelah beberapa jam di pemakanan Cynara kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Mamanya. Dia sadar, kalau dia harus kuat untuk Mamanya.
Dia duduk termenung melihat Mamanya yang masih tidak bergerak. Anggun mengalami koma dan tidak akan sadar dalam waktu dekat. Cynara hanya bisa terduduk di samping bangkar rumah sakit sambil memegang tangan Mamanya.
“Aku harus bagaimana Mama? kalian tinggal aku sendirian, aku tidak tahu harus bagaimana. Papa sudah gak ada, Mama juga belum bangun.” Lirih Cynara dengan suara bergetar.
Pintu ruangan tempat Anggun di rawat di ketuk dan menculah seorang pria dengan setelan jas masuk ke dalam rumah sakit. Cynara hanya menoleh sekilas lalu kembali menunduk sambil menatap kosong ke arah tangan Anggun yang sedang dia genggam dengan erat.
“Selamat siang Nona Cynara!” Sapa laki-laki berusia 40 tahun.
Pria tersebut merupakan pengacara dari Brama yaitu Farhat.
“Maaf saya mengganggu waktunya Nona.” Kata Farhat sambil berjalan ke arah Cynara.
“Ada apa Pak Farhat datang ke sini?” Tanya Cynara yang memang sudah mengenal pengacara Papanya itu.
“Saya ingin membahas tentang kompensasi Tuan Brama dan Nyonya Anggun terkait kecelakaan yang menimpa beliau. Selain itu saya ingin membahas tentang perusahaan beliau yang ada di Jakarta.” Jelas Farhat.
Cynara hanya bisa menghela nafas, sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan hal seperti itu. Namun melihat kondisi Mamanya yang pastinya akan membutuhkan biaya yang sangat banyak untuk pengobatan. Akhirnya Cynara setuju untuk membahas masalah keuangan keluarganya.
Cynara bangkit dari duduknya lalu mengajak Farhat untuk duduk di sofa. Dan Farhat langsung mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya.
“Sebelumnya saya turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Brama, Nona. Sebenarnya saya tidak ingin membahas hal ini terlebih dahulu karena saya tahu Nona Cynara pasti masih berduka karena kepulangan Tuan Brama. Namun orang yang terlibat kecelakaan bersama Tuan Brama ingin segera menyelesaikan masalah ini.” Jelas Farhat.
“Tidak apa-apa Pak Farhat, silakan jelaskan satu persatu.” Kata Cynara dengan datar.
Cynara yang terbiasa ceria dan selalu bersemangat menjadi pemurung dan pendiam. Dia merasa sudah tidak memiliki harapan lagi untuk hidup.
“Baik Nona, pertama saya akan menjelaskan maslah kecelakaan Tuan Brama dan Nyonya Anggun. Mereka berdua mengalami kecelakaan beruntun bersama satu mobil yang ada di depan mobil Tuan Brama. Untuk pemilik mobil tersebut meminta kita untuk menyelesaikan secara kekeluargaan saja katanya. Mereka akan menanggung semua biaya pengobatan Nyonya Anggun serta biaya hidup Nona Cynara dan..”
“Saya tidak terlalu ingin tahu tentang hal itu. Lalu bagaimana tentang perusahaan Papa, bukannya Papa bilang dia bekerja sama dengan sahabatnya?” Tanya Cynara yang langsung memotong pembicaraan Farhat.
“Benar Nona, tapi sampai beliau meninggal saya tidak tahu dengan siapa Tuan Brama bekerja sama. Tapi untuk pengobatan Nyonya Anggun akan di tanggung oleh-“
“Tidak perlu, saya yang akan biayai pengobatan Mama saya. Kalau Pak Farhat ingin berhenti menjadi pengacara keluarga saya juga tidak masalah. Saat ini saya ingin fokus pada Mama dulu. Dan untuk keluarga yang sudah menyebabkan kecelakaan. Katakan saja pada mereka kalau mereka dan keluarga saya sudah tidak ada urusan lagi.” Jelas Cynara.
Farhat hanya menghela nafas pasrah, dia tidak bisa membantah keputusan Cynara. Dia hanya seorang pengacara sekaligus orang kepercayaan Brama. Meskipun Cynara mengenal betul kepribadian Farhat namun Cynara tidak ingin menyusahkan siapa pun. Dia akan tanggung sendiri masalah yang datang padanya.
“Tapi Nona, biaya pengobatan untuk Nyonya Anggun pastilah sangat besar.” Kata Farhat mencoba bernegosiasi kembali dengan Cynara.
“Tidak apa-apa, saat ini saya sudah bekerja dan saya akan pindahkan Mama saya ke Bandung dan rawat inap di sana saja.” Kata Cynara.
“Tapi Nona, pemindahan pasien seperti Nyonya Anggun akan sangat berbahaya bagi kesehatannya. Saya hanya takut nantinya Nyonya Anggun mengalami hal yang tidak kita inginkan.” Kata Farhat.
Cynara berpikir sejenak, memang benar apa yang di katakan oleh Farhat. Terlalu berisiko jika dia memindahkan Mamanya ke Bandung. Di tambah kemarin Cynara baru mendapatkan kabar bahwa dirinya akan di pindahkan ke Bali.
“Untuk saat ini, mungkin akan saya pikirkan lagi. Jika sudah ada keputusannya saya akan kabari Pak Farhat lagi.” Kata Cynara.
“Baiklah, Nona Cynara. Kalau begitu saya permisi dulu.” Kata Farhat lalu langsung pergi keluar dari ruangan tersebut.
Cynara hanya bisa menghela nafas, dia masih bingung apakah dia harus menerima semua kompensasi dari orang yang sudah menyebabkan kecelakaan kedua orang tuanya atau menanggung semuanya sendiri. Tapi melihat kondisinya saat ini, Cynara memang membutuhkan bantuan agar Mamanya bisa tetap hidup dan tetap di rawat di rumah sakit.
***
Pagi ini Cynara menghubungi Farhat pengacara Papanya untuk membahas kembali tentang Mamanya. Cynara sama sekali tidak peduli tentang bagaimana kecelakaan itu terjadi. Bukannya tidak ingin menuntut atau tidak ingin tahu tapi Cynara hanya ingin hidup tenang. Masih ada Mamanya yang harus meskipun saat ini sedang dalam keadaan koma.
“Bagaimana Nona Cynara? Apa Nona mau menerima kompensasi dari pihak yang sudah terlibat kecelakaan dengan orang tua Nona Cynara?” Tanya Farhat yang saat itu sedang duduk bersama Cynara di ruangan ICU tempat Mamanya di rawat.
“Saya akan membiarkan Mama menerima semua kompensasi itu. Selama Bunda bisa tetap di rawat dengan baik di rumah sakit ini saya akan menerimanya. Tapi semalam saya mendapatkan pesan dari perusahaan kalau saya harus di pindahkan ke Bali. Jadi mungkin saya ingin ada orang yang menjaga Mama saya di sini. Saya akan datang ke rumah sakit ini mungkin sekitar 2 minggu sekali.” Jelas Cynara setelah menimbang-nimbang semuanya dengan matang.
Bukan egois atau pun tidak sayang pada Mama, hanya saja Cynara juga tidak bisa terus memanfaatkan uang yang keluarganya miliki. Cynara juga sebenarnya sangat ingin membawa Mamanya untuk pindah ke rumah sakit lain tapi dia sadar kalau dia tidak bisa membiayai pengobatan Mamanya yang pasti akan sangat membutuhkan banyak biaya.
Saat ini jalan keluar yang di ambil oleh Cynara adalah membiarkan rumah sakit yang lebih paham dengan kondisi kesehatan Mamanya untuk merawat Mamanya. Sedangkan Cynara akan fokus untuk mencari uang dan mengembangkan potensinya agar bisa mencari kerja di Jakarta. Bisa saja Cynara melamar kerja, hanya saja tidak akan semudah itu Cynara mendapatkan pekerjaan di Jakarta.
“Untuk masalah perusahaan milik Papa saya, Pak Farhat katakan saja pada teman Papa saya untuk mengelola perusahaan tersebut. Saya memang anaknya dan mungkin berhak menerima tapi saya belum mampu untuk mengurus perusahaan tersebut dan saya juga tidak ingin perusahaan yang Ayah saya bangun tiba-tiba menurun karena saya yang memimpin. Jadi, biarkan saja sahabatnya yang mengelola karena dia juga berhak mendapatkan itu. Anggap saja itu sebagai bentuk tanggung jawab Papa saya.” Kata Cynara.
Farhat benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Cynara pastinya tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Dia ingin bangkit dan tidak terbayang-bayang kembali oleh Papanya yang baru saja meninggal. Bukan bermaksud untuk melupakan, namun dia masih harus tetap hidup untuk Mamanya yang membutuhkan semangat darinya.
Farhat akhirnya langsung pulang setelah selesai membahas semuanya. Cynara hanya bisa menghela nafas berat berharap semua keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang benar.
Flashback Off.
“Mama, Cynara gak akan tinggalin Mama lagi.” Gumam Cynara sambil tersenyum.