Setelah memastikan Alvaro sudah pergi, Cynara langsung berjalan menuju arah rumah sakit besar yaitu RS. Mitra Keluarga.
Cynara datang dengan di sambut senyuman hangat dari para karyawan rumah sakit.
"Baru pulang kantor Ci?" Tanya salah seorang karyawan.
"Iya, Mbak. Biasalah lembur." Kata Cynara lalu berhenti sejenak di meja resepsionis.
"Wow, cantik banget kamu Ci!" Kata salah satu dokter yang sangat dekat dengan Cynara.
"Hehe.. iya Dok, habis lembur." Kata Cynara pada Dokter cantik yang sudah berteman lama dengan Cynara. Dia adalah Erlina seorang dokter berusia 32 tahun.
"Aku kira kau habis kencan dengan seseorang." Kata Erlina sambil menyenggol sedikit lengan Cynara bermaksud untuk menggodanya.
"Haha.. bukan seperti itu Dok, kebetulan aku lembur di luar jadi ya penampilanku begini." Kata Cynara sambil melihat penampilannya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu ada pasien yang sedang menungguku." Kata Cynara lalu langsung pergi meninggalkan Cynara karena dia harus mengurus pasien yang lain.
Cynara hanya mengangguk lalu dia juga langsung pergi ke sebuah ruang inap di mana ibunya berada.
***
Di sebuah ruang inap seorang wanita paruh baya sedang terbaring lemah di bangkar rumah sakit dengan peralatan-perlatan yang terpasang di seluruh badan pasien tersebut. Cynara perlahan masuk ke ruangan tersebut dan duduk di kursi samping bangkar tersebut.
Cynara tersenyum manis sambil memegang tangan wanita paruh baya itu.
"Mama, maaf ya Cynara baru pulang. Tadi Cynara habis lembur dulu." Kata Cynara.
Tidak ada sahutan dari wanita paruh baya yang baru saja Cynara panggil dengan sebutan Mama.
Flashback On.
"Mama!" Teriak Cynara.
Anggun, seorang wanita paruh baya dengan senyuman manis di bibirnya sedang duduk di sebuah halte.
Cynara yang saat itu baru saja pulang dari kampusnya langsung berlari menemui ibunya.
Cynara saat itu masih berumur 20 tahun dan baru saja menyelesaikan tugas akhirnya. Jika orang lain menyelesaikan studi S1 nya selama 4 tahun, berbeda dengan Cynara yang hanya menyelesaikan dalam waktu 2 tahun. Kecerdasan yang di miliki Cynara membuatnya menjadi cepat lulus bahkan dia sudah bekerja si sebuah perusahaan besar di Bandung sebagai asisten sekretaris.
"Tidak perlu berlari seperti itu nanti kamu jatuh." Kata Anggun saat Cynara sudah ada di depannya.
Cynara hanya terkekeh pelan dan langsung bergelayut manja di lengan Mamanya.
"Ma, aku lapar." Kata Cynara dengan sangat manja.
"Mama sudah masak di rumah kok, ayo kita pulang." Ajak Anggun.
Cynara dan Anghun langsung memanggil taksi dan pulang ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah Cynara melihat Papanya yang sedang duduk sambil membaca koran. Cynara dengan semangat langsung berlari ke arah Papanya dan langsung dari belakang.
"Papa!" Kata Cynara lalu langsung mengecup pipi Papanya.
Brama, seorang pria paruh baya yang saat itu sedang membaca koran langsung tersentak saat Cynara tiba-tiba datang dan langsung memeluknya. Memang begitulah Cynara yang sangat manja sekali kepada kedua orang tuanya.
"Papa aku di pindahan ke perusahaan cabang Bali." Kata Cynara dengan antusias.
"Benarkah? Bukankah itu yang kamu inginkan?" Tanya Brama.
Cynara langsung ikut duduk di samping Brama sambil memeluk lengan Brama dengan manja.
"Iya Pa, aku juga kaget karena tadi pas aku ambil surat kelulusanku di kampus aku mendapatkan pesan kalau aku di pindahkan ke cabang perusahaan Bali." Kata Cynara.
"Kamu memang anak Papa yang paling hebat sayang." Kata Brama lalu mengecup puncak kepala Cynara.
Cynara langsung menoleh ke arah Papanya yang terlihat sangat pucat.
"Papa lagi sakit?" Tanya Cynara dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah khawatir.
"Tidak, Papa hanya kelelahan sayang." Jawab Brama.
"Lagian Papa kerja bolak-balik Jakarta-Bandung, bagaimana Papa tidak lelah?" Kata Cynara yang kesal dengan Papanya yang begitu semangat jika bekerja.
"Perusahaan Papa sedang maju saat ini sayang, di tambah Papa juga sedang bekerja sama dengan sahabat Papa." Kata Brama dengan sangat lembut.
"Tapi kan jadinya Papa capek karena terus bolak-balik." Kata Cynara yang masih khawatir.
"Tidak apa-apa sayang, lusa Papa mau ke Jakarta lagi tapi rencananya Papa mau ajak kalian sambil jalan-jalan. Mau tidak?" Tanya Brama mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Papa! Kok lusa sih, kan Cynara masuk kerja." Kata Cynara dengan kesal.
"Kan bisa ambil cuti sayang." Kata Brama.
"Gak bisa Pa, lusa ada event yang Cynara pegang." Kata Cynara.
"Ya sudah kalau begitu Papa ajak Mama saja." Kata Brama.
"Kan Papa suka gitu, kebiasaan banget ninggalin anaknya sendirian." Kata Cynara dengan bibirnya yang sudah manyun.
"Gak usah gitu deh bibirnya." Timpal Anggun lalu mencubit pelan pipi Cynara.
Cynara semakin kesal karena Mamanya malah mengejeknya.
"Mama ih.." Pekik Cynara.
"Jadi gimana, mau ikut tidak?" Tanya Brama lagi.
Cynara berpikir sejenak, dia hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Aku mau ikut, tapi gak bisa. Nanti kalau eventnya sudah selesai aku nyusul ke Jakarta deh." Kata Cynara dengan nada pasrah.
"Ya sudah, lagian kayaknya Papa agak lama di Jakarta. Jadi kamu masih bisa nyusul." Kata Brama lalu mengelus puncak kepala Cynara.
Cynara hanya mengangguk lalu kembali tersenyum. Ketiganya lanjut mengobrol dan membahas hal random yang membuat keluarga tersebut terasa sangat hangat.
***
Dua hari kemudian, Cynara benar-benar di tinggal sendirian di rumah. Dia berangkat bekerja seperti biasa dan seperti jadwal yang sudah di tetapkan oleh perusahaan tempat Cynara bekerja yang saat itu sedang mengadakan event khusus.
Cynara bekerja hingga malam hari sampai-sampai dia lupa mengabari Papa dan Mamanya yang mungkin sudah sampai di Jakarta. Tapi saat Cynara membuka ponselnya, dia sangat kaget karena banyak sekali panggilan dari ponsel Mamanya. Cynara dengan khawatir langsung menghubungi ponsel Anggun.
"Halo, Mama." Kata Cynara saat panggilannya sudah tersambung.
"Apa benar ini dengan Nona Cynara Nafisa?" Tanya seorang perempuan yang pastinya itu bukanlah Anggun.
"Bukannya ini ponsel Mama saya? Lalu saya bicara dengan siapa ini?" Tanya Cynara yang semakin khawatir.
"Saya resepsionis RS. Mitra Keluarga ingin mengabarkan kalau orang tua Nona Cynara mengalami kecelakaan beruntun dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit."
DEG!
Cynara hampir saja terkena serangan jantung mendengar ucapan petugas rumah sakit tersebut. Tangannya langsung gemetaran dan tanpa sadar air matanya sudah mengalir.
"Bagaimana keadaan Papa dan Mama saya?" Tanya Cynara dengan gugup.
"Keduanya mengalami luka yang cukup parah sehingga saat ini sedang dalam keadaan kritis. Kami harap Nona Cynara langsung datang ke rumah sakit Mitra Keluarga di Jakarta." Kata petugas rumah sakit.
"Saya akan segera ke sana." Kata Cynara lalu langsung mematikan ponselnya.
Saat itu juga Cynara langsung memesan tiket kereta untuk pergi ke Jakarta. Beruntung sekali Cynara masih mendapatkan tiket padahal hari sudah malam.
***