Bab 11.

1159 Words
“Aduh! Maaf ya Ci, sampai lupa aku.” Kata Laura sambil merangkul Cynara. Cynara hanya tersenyum lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Club. Banyak sekali orang yang mencuri-curi pandang padanya. Bagaimana tidak, Cynara sangat cantik sekali dengan balutan gaun navy di tambah dengan rambutnya yang panjang dan di buat bergelombang menambah kecantikan dan keanggunan dari Cynara. “Ke dance floor yuk!” Ajak Riska. “Boleh, kamu mau ikut gak Ci?” Tanya Laura. “Gak deh, saya di sini saja.” Kata Cynara yang masih bersikap sopan di depan Laura. “Elah, biasa aja kali Ci. Aku yakin kamu lebih muda dari kita semua. Jadi santai saja lah gak usah formal banget.” Kata Laura. Cynara hanya tersenyum karena bingung harus menjawab seperti apa. “Ya sudah kalau gak mau kita tinggal dulu ya. Kamu kalau gak kuat minum alkohol, itu ada cola minum aja.” Kata Laura sambil menunjuk botol bertuliskan Cola. Cynara hanya mengangguk sambil tersenyum. Ketiga gadis sosialita itu langsung pergi ke dance floor dan menari bersama pengunjung pesta yang lain. Cynara yang merasa sedikit haus langsung meminum Cola yang tadi di tunjukkan oleh Laura. “Hai!” Sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba duduk di samping Cynara. Cynara cukup kaget dan bahkan menggeser badannya sedikit karena laki-laki tersebut duduk terlalu dekat dengannya. “Sendirian aja?” Tanya laki-laki tersebut. “Saya..” “Dia datang sama gue, pergi lo!” Kata seorang laki-laki yang ternyata adalah Alvaro. Cynara hanya bisa mengerjapkan matanya berkali-kali karena merasa tidak percaya kalau Alvaro akan datang. Laki-laki yang berniat ingin menggoda Cynara pun langsung pergi dan gantian Alvaro yang duduk di samping Cynara. “Dasar cowok gatel!” Rutuk Alvaro dengan wajah kesal. “Kok Tuan Alvaro kesel sih, kan saya yang di gangguin.” Kata Cynara bingung. Alvaro hanya tertegun mendengar omongan Cynara. Benar juga, kenapa dia harus marah ketika ada yang menggoda Cynara? Punya hak apa dia melarang-larang orang yang ingin berkenalan dengan wanita cantik seperti Cynara. “Kau kan datang sama saya, jadi saya merasa punya tanggung jawab untuk melindungi kamu dari buaya yang sudah siap menerkammu.” Kata Alvaro dengan datar. Namun percayalah, kaki dan tangannya sedikit gemetar karena gugup. Penampilan Cynara malam ini benar-benar membuatnya mabuk kepayang padahal Alvaro tidak minum alkohol sama sekali. Cynara sudah mencuci otak pintarnya dan membuatnya kehilangan fokus. Padahal hari ini Alvaro berniat ingin berkenalan dengan beberapa tamu VVIP yang datang ke Club tersebut. Tapi melihat Cynara yang cantik, dia menjadi takut kalau-kalau nanti kliennya meminta hal yang aneh-aneh. “Kau diam saja di sini sama saya, biar Rafael yang bekerja.” Kata Alvaro. “Loh kok begitu Tuan? Kasihanlah Tuan Mas Rafa.” Kata Cynara. “Tidak apa-apa, anggap saja hari ini hanya pesta biasa.” Kata Alvaro lalu mendekatkan duduknya ke dekat Cynara saat dia mendapati banyak sepasang mata yang memperhatikan Cynara. “Tuan Alvaro kenapa sih kok dekat banget duduknya?” Tanya Cynara yang sedikit risi. “Diam dulu, banyak orang yang lihat kamu. Saya tidak suka.” Bisik Alvaro tepat di telinga Cynara. Cynara sedikit merinding mendengar omongan Alvaro. Tanpa sengaja mata mereka bertemu dan tatapan mereka benar-benar sangat dalam. DOR! Suara petasan yang di ledakkan di dalam Club pun menyadarkan mereka sampai akhirnya saling melepaskan pandangan mereka. “Tolong tentang jantung! Jangan sampai Tuan Al tahu kalau gue hampir jantungan, jangan sampai.” Batin Cynara sambil memegang dadanya. “Ini yang di samping gue bidadari apa sekretaris gue sih.” Batin Alvaro. Cynara menggeser badannya agar sedikit menjauh dari Alvaro. Dia merasa tidak nyaman jika harus berdekatan dengan bos galaknya itu. “Tuan Al sampai kapan kita di sini?” Tanya Cynara memecah keheningan di antara mereka berdua. “Mungkin sampai jam 10.” Kata Alvaro lalu melihat jam tangannya. “Kalau jam setengah sepuluh saya izin pulang boleh gak Tuan? Karena saya harus jaga ibu saya.” Kata Cynara. “Loh emangnya ibumu sedang sakit?” Tanya Alvaro. “Iya Tuan, sudah lama sih sakitnya.” Kata Cynara lalu tersenyum. “Kenapa kamu gak bilang sama saya?” Kata Alvaro lalu beranjak dari duduknya. “Ayo kita pulang saja, kamu harus jaga ibumu.” Kata Alvaro lalu menarik tangan Cynara. “Kita gak jadi kerja?” Tanya Cynara dengan wajah bingung. “Biarkan Rafael aja yang kerja.” Kata Alvaro yang masih menarik tangan Cynara dan mengajaknya keluar dari Club. Bahkan Alvaro tidak memberitahu Rafael atau pun teman-temannya yang lain dan langsung bergegas pulang. Di perjalanan, Cynara hanya diam karena baru saja dia sampai di club Alvaro sudah mengajaknya untuk pulang padahal niat dia datang ke club adalah untuk bekerja. “Tuan, kita balik lagi aja yuk ke club. Kasihan kak Rafa nanti kalau nyariin kita gimana?” Kata Cynara yang sudah pergi tanpa memberitahu Rafael. “Sudah, tidak apa-apa. Dia pasti tahu kalau saya dan kamu sudah pulang.” Kata Raka yang hanya fokus pada kemudiannya. Cynara kembali diam karena dirinya sendiri tidak mungkin untuk melawan kehendak dari bosnya itu. “Jadi ibumu sakit apa?” Tanya Alvaro sambil sesekali melihat ke arah Cynara. “Sakit biasalah Tuan.” Kata Cynara sambil tersenyum canggung. “Biasa gimana? Sakit itu bukan hal yang biasa loh.” Kata Alvaro dengan wajah penasaran. “Ya sakit pokoknya Tuan.” Kata Cynara. “Tapi ibumu baik-baik saja kan? Maksud saya tidak sampai parah kan?” Tanya Alvaro, dia yang awalnya penasaran malah mendadak menjadi khawatir. “Ibu saya baik-baik saja kok Tuan, Tuan tidak perlu khawatir.” Kata Cynara sambil tersenyum. Alvaro hanya mengangguk-angguk paham meskipun banyak sekali pertanyaan yang ingin Alvaro tanyakan. Tapi dia menghargai privasi Cynara yang tidak ingin mengungkapkan tentang penyakit ibunya. “Tuan, saya turun di depan halte rumah sakit Mitra keluarga saja.” Kata Cynara sambil menunjuk sebuah halte. “Kok turun di halte? Memangnya rumah kamu dekat dari situ?” Tanya Alvaro bingung. “Iya gak apa-apa Tuan, gang rumah saya sempit jadi gak bisa untuk mobil masuk.” Kata Cynara berbohong. Bohong? Tentu saja, karena Cynara tidak ingin Alvaro tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Cynara. Cynara tidak ingin ada orang lain yang berbelas kasihan karena melihat kehidupan asli Cynara. “Ya sudah.” Kata Alvaro. Alvaro mencoba untuk tidak terlalu agresif untuk meminta semua informasi tentang Cynara. Menurutnya masih banyak waktu baginya untuk bisa mengenal Cynara lebih jauh lagi. Lagi pula untuk apa juga Alvaro ingin mengetahui hal itu. Sementara dia sendiri awalnya hanya menganggap Cynara hanya sekretarisnya saja. Entahlah, Alvaro pun bahkan tidak mengerti dengan perasaannya yang tiba-tiba berubah saat Cynara hadir di hidungnya. Padahal baru sehari Cynara menjadi sekretarisnya, Alvaro sudah di buat penasaran dengan latar belakang Cynara tang terkesan tertutup. Sesuai permintaan Cynara, dia menurunkannya di depan halte. “Terima kasih banyak Tuan.” Kata Cynara lalu keluar dari mobil Alvaro. Alvaro hanya mengangguk lalu langsung tancap gas untuk pergi. Dia tidak ingin Cynara merasa tidak nyaman karena terlalu kepo dengan kehidupan pribadi Cynara yang padahal Alvaro sangat ingin tahu latar belakang dari Cynara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD