Bab 8.

1508 Words
“Mau bayar pakai apa Tuan?” Tanya sang kasir. “Ini.” Kata Alvaro lalu memberikan blackcard miliknya. Cynara lagi-lagi tercengang melihat betapa kayanya bos gilanya itu. “Semua jadi 150 juta ya Tuan.” Kata kasir. Cynara mengerjap-mengerjapkan matanya merasa tidak percaya dengan apa tang dia dengar. Dia benar-benar merasa menjadi wanita kaya karena sudah membeli dress seharga ratusan juta. Meskipun bos gilanya yang bayar tetap saja bukan dia yang akan memakainya. Setelah selesai membayar, Alvaro dan Cynara langsung keluar dari toko. Namun saat itu netra Alvaro tertuju pada toko perhiasan. Dia melihat Cynara yang hanya menggunakan anting sebagai perhiasan yang menempel di telinganya. “Kau punya perhiasan?” Tanya Alvaro. “Ini, cuma anting doang Tuan. Kenapa?” Tanya Cynara tanpa merasa risi sedikit pun. “Kalau begitu ikut saya.” Kata Alvaro lalu langsung pergi tanpa mengatakan apa pun lagi pada Cynara. “Minimal jelasin dulu kek mau ke mana.” Kata Cynara dengan wajah kesal. Namun wajah kesalnya, menjadi berubah ketika mengikuti Alvaro yang masuk ke dalam toko perhiasan. Cynara yang bingung hanya bisa mengikuti Alvaro dari belakang sambil memegang paper bag berisi dress yang baru saja Alvaro belikan untuknya. “Pilih yang kamu suka.” Kata Alvaro dengan entengnya. “Eh, maksudnya?” Tanya Cynara bingung. Siapa yang tidak bingung, Alvaro tiba-tiba bertanya pada Cynara dia memiliki perhiasan atau tidak dan sekarang dia langsung menyuruh Cynara untuk memilih perhiasan yang dia suka. Kenapa dengan bosnya ini. Alvaro hanya menghela nafas lalu melihat ke arah set perhiasan yang tampak sederhana namun terlihat elegan. “Yang itu saja.” Kata Alvaro sambil menunjuk ke arah kotak yang berisi set perhiasan. “Baik Tuan.” Dengan cepat pelayan itu langsung mengambil perhiasan tersebut dan memperlihatkannya pada Alvaro dan Cynara. Cynara hanya bisa menganga melihat set perhiasan yang sangat cantik. “Berapa ini Tuan.” Tanya Cynara dengan polosnya pada pelayang tersebut. “500..” “APA?” Pekik Cynara dengan cukup kencang sampai orang yang ada di sekitarnya melihat ke arahnya. “Juta kan Tuan bukan ribu?” Tanya Cynara lagi memastikan kalau perhiasan tersebut bernilai 500 juta. “Benar Nona.” Jawab pelayan dengan sangat enteng. “Tuan Al, keluar aja yuk. Lama-lama saya bisa jantungan kalau terus di sini. Lagian saya gak punya uang sebanyak itu buat beli perhiasan. Kalau Tuan Al mau beli saya tunggu di luar aja.” Kata Cynara yang hendak pergi namun langsung di tahan Alvaro. “Kamu suka perhiasan ini?” Tanya Alvaro sambil menoleh ke arah Cynara. “Siapa yang gak suka sih Tuan, cuma saya ini orang miskin jadi gak bisa beli itu perhiasan.” Kata Cynara dengan polosnya. “Sudahlah saya tunggu di luar saja Tuan.” Katanya yang langsung pergi meninggalkan Alvaro. “Bungkus yang ini.” Kata Alvaro dengan santainya. Cynara hanya berdiri di depan toko sambil membayangkan untuk siapa Alvaro membelikan perhiasan itu. Maklumlah Cynara itu terkena penyakit jomblo akut plus punya sikap gak jelas jadi dia gak pernah peka dengan sekitar. Setelah selesai membayar, Alvaro langsung keluar dari toko perhiasan tersebut dan memberikannya paper bag berisi perhiasan pada Cynara. Cynara yang bingung hanya mengernyitkan keningnya sambil melihat paper bag yang di berikan Alvaro. “Apa ini Tuan? Tuan Alvaro mau menyuruh saya buat bawain?” Tanya Cynara kembali dengan sikap polosnya. “Buat kamu.” Kata Alvaro. “Bentar!” Kata Cynara sambil menjauhkan sedikit dirinya dari Alvaro. Dia langsung mengorek-ngorek telinganya dan memastikan kalau pendengarannya masih bagus. Dia langsung kembali mendekat ke arah Alvaro dengan wajah bingung. “Buat saya?” Tanya Cynara mencoba meyakinkan dirinya kalau ucapan Alvaro bukanlah bohong. “Buat kamu.” Kata Alvaro sekali lagi kali ini dia hanya menjawab pertanyaan Cynara. “Tuan Al, ini 500 juta loh.” Kata Cynara, lidahnya merasa pahit saat mengucapkan nominal harga yang tidak sedikit. “Iya saya tahu, kan saya sudah bilang sama kamu. Saat kamu bekerja sesuai dengan ekspektasi saya dan kamu bekerja dengan sangat baik. Saya akan memberikan bonus melebihi gaji yang perusahaan berikan padamu. Dan anggap saja kalau ini bonus dari saya.” Jelas Alvaro. Alvaro si irit bicara mencoba untuk menjelaskan kalau dia menjadi royal seperti itu karena kinerja Cynara. Padahal jauh dalam hatinya, kalau dia hanya ingin membuat Cynara tampil cantik dan merasa bahagia. Entahlah Alvaro sendiri juga bingung dengan perasaannya sendiri. “Kamu gak mau?” Tanya Alvaro. “Bukan gak mau Tuan, tapi saya merasa belum pantas buat dapat bonus sebesar ini dari Tuan Al. Hari ini saya cuma mengerjakan beberapa pekerjaan loh Tuan, sudah gitu saya mecahin gelas Tuan juga. Sebaiknya Tuan Al kasih ke karyawan yang lain yang bekerja lebih keras dari saya.” Jelas Cynara. Cynara tidak ingin terlena dengan kebaikan bosnya itu. Semakin Alvaro baik padanya semakin takut juga Cynara pada perasaannya yang saat ini sudah merasa menjadi kesayangan bosnya. Cynara mengakui jika dirinya menyukai bos gilanya itu. Wanita mana pun yang melihat ketampanan Alvaro dan Cynara tidak ingin hal itu terjadi. Cukup menjadi pengagum saja itu sudah cukup baginya. Dia merasa kalau dirinya bahkan tidak pantas bersanding dengan Alvaro yang dunianya sangat berbeda dengan Cynara. “Tapi saya beli ini untuk kamu Cynara.” Kata Alvaro yang merasa bingung karena Cynara menolak pemberiannya. “Iya saya paham Tuan tapi..” “Kamu terima pemberian dari saya, atau kamu saya pecat?” Ancam Alvaro. Cynara tentu tidak ingin di pecat, namun dia juga tidak ingin menerima pemberian dari Alvaro. Alvaro memang mata duitan dan suka sekali dengan uang namun dia masih tahu diri dan tahu batasan. “Saya..” “Baiklah, berarti kamu mau saya pecat begitu?” Tanya Alvaro yang tidak sabaran dengan keputusan Cynara. “Bukan begitu Tuan.” “Ya sudah kalau begitu pemberian saya.” Kata Alvaro. “Kok jadi gini sih Tuan, saya bukan sugar baby Tuan Al loh.” Kata Cynara dengan polosnya. Ucapannya berhasil membuat Alvaro tertawa ringan. Dia baru kali ini mendapati gadis polos dan aneh seperti Cynara. Apalagi saat ini Cynara sedang berusaha untuk menolak pemberiannya. “Siapa juga yang mau punya sugar baby kaya kamu Cynara?” Tanya Alvaro lalu kembali menoel hidung mancung Cynara. Cynara merasa kesal karena setiap dia bertingkah bosnya pasti akan selalu menoel hidungnya. Tidak tahu saja Cynara kalau Alvaro sangat gemas padanya. “Jadi bagaimana? Mau atau kamu saya pecat?” Tanya Alvaro lagi. Cynara berpikir sesaat dan dia hanya bisa mencari jalan teraman yaitu menerima pemberian Alvaro. Dia tidak mungkin memilih untuk di pecat karena dia sendiri masih membutuhkan pekerjaan itu. “Dari tadi kek, apa susahnya coba terima kebaikan saya.” Kata Alvaro lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. “Ya kan orang bisa salah paham Tuan kalau di baikin terus.” Kata Cynara tanpa sadar sambil mengambil paper bag yang di berikan Alvaro. “Salah paham bagaimana?” Tanya Alvaro bingung. “Sudahlah Tuan Al itu gak akan paham, sudah kelamaan jomblo kayaknya makannya gak peka.” Gumam Cynara sambil berlalu pergi meninggalkan Alvaro sendiri dengan pikirannya yang masih bingung. Alvaro langsung menyusul Cynara dan berjalan di sampingnya. Sesekali Alvaro memperhatikan wajah Cynara yang tampak menginginkan tas dan sepatu yang kebetulan dia lewati. Dan tentunya sudah bukan apa yang akan di lakukan Alvaro. Yap, betul sekali! Alvaro masuk ke toko tas dan sepatu lalu langsung menarik Cynara untuk membeli apa yang dia inginkan. Meskipun terjadi perdebatan, akhirnya Cynara kalah dan Alvaro menjadi pemenangnya. Kini di tangan Cynara sudah ada 4 paper bag yang berisi tas, dress, sepatu dan perhiasan. “Gini kali ya rasanya jadi sugar baby.” Kata Cynara tanpa berpikir kalau laki-laki yang ada di sampingnya mendengar ucapannya. Alvaro dengan jahilnya langsung melingkarkan tangannya di pinggang Cynara dan berjalan dengan sangat dekat dengan Cynara. Cynara memekik sedikit dan dia bingung sesaat. Dia hanya bisa berjalan dengan tangan Alvaro yang melingkar di pinggangnya. “Kalau kamu mau jadi sugar baby saya minimal kamu harus saya cicipi dulu.” Bisik Alvaro tepat di telinga Cynara. Cynara langsung merinding dan langsung melepaskan rengkuhan Alvaro. Alvaro hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah Cynara yang ketakutan. “Apa sih Tuan, kenapa jadi m***m begini?” Kata Cynara sambil menyilangkan kedua tangannya yang penuh dengan kedua tangannya yang penuh dengan paper bag di depan dadanya. “Saya hanya bercanda, lagian kamu dari tadi ngomongin sugar baby terus.” Kata Alvaro yang hendak mendekat pada Cynara namun Cynara langsung mundur. “Sudah ih jangan dekat-dekat, bahaya nih kalau berduaan saja sama Taun Al. Bisa habis aku.” Katanya lalu langsung pergi meninggalkan Alvaro sendiri. Alvaro hanya tersenyum, baru kali ini dia merasakan hidupnya sangat berwarna. Hari itu adalah hari di mana Alvaro kembali merasa kalau dirinya kembali merasakan apa itu bahagia. Meskipun Cynara pergi lebih dulu namun pada akhirnya dia kembali lagi dan Alvaro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Makanya jangan sok tahu.” Kata Alvaro lalu menoel kembali hidung Cynara. Cynara hanya diam dia berniat ingin kabur dari bos gilanya itu. Tapi dia lupa kalu dia datang ke sini bersama bosnya yang secara otomatis dia harus kembali pada bosnya dan pulang bersama Alvaro. Cynara dan Alvaro akhirnya pulang. Alvaro memutuskan untuk mengantarkan Cynara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD