Bab 9.

1070 Words
Alvaro memutuskan untuk mengantarkan Cynara pulang. “Ketika alamat rumah kamu di maps mobil saya biar saya antar kamu pulang.” Kata Alvaro. “Tidak usah Tuan, nanti Tuan Al turunkan saya di halte depan saja.” Kata Cynara dengan wajah panik. “Tidak usah panik juga kali, saya juga bukannya ingin tahu rumah kamu tapi hanya ingin mengantarmu pulang.” Kata Alvaro. “Gak Tuan, gak perlu!” Kata Cynara. Alvaro hanya menghela nafas, dia melihat ke arah jam tangannya dan ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. “Lebih baik kamu ke rumah saya saja biar saya nanti panggilkan MUA buat rias kamu.” Kata Alvaro lalu melajukan mobilnya. “Gak usah Tuan, saya pulang dulu saja. Make up dikit saja mah saya bisa sendiri Tuan.” Kata Cynara. “Tanggung, outfit kamu sudah mahal masa kamu gak di rias sama sekali.” Kata Alvaro dengan cueknya. Cynara tidak akan bisa melawan, bisa-bisa bos gilanya ini mengancam akan memecatnya lagi. Untuk hari ini Cynara hanya akan menganggap dirinya sebagai Cinderella saja. Toh jarang-jarang Cynara tampil cantik di hadapan orang banyak. *** Benar saja Cynara di bawa ke rumah Alvaro yang pastinya rumahnya sangat besar dan megah. Dia benar-benar kagum dengan rumah Alvaro yang sudah seperti mansion mewah di film-film barat. “Saya gak tahu kalau di kota ini ada rumah sebesar ini.” Kata Cynara sambil keluar dari mobil Alvaro. Alvaro tidak menanggapi ucapan Cynara. Dia langsung memberikan kunci mobil pada bodyguard yang menjaga rumahnya dan menyuruhnya untuk memarkirkan mobilnya. “Ayo masuk.” Ajak Alvaro. Cynara hanya mengangguk patuh lalu langsung mengikuti Alvaro dari belakang. Cynara benar-benar kagum dengan rumah Alvaro yang mewah. Di tambah dengan banyaknya pelayan yang saat itu sedang bersih-bersih. “Selamat malam Tuan.” Kata seorang pelayan yang bernama Marni. Marni merupakan seorang perempuan paru baya berusia sekitar 55 tahun dan sudah menjadi pelayan di keluarga Alvaro semenjak Alvaro masih bayi. “Bi, tolong panggilkan MUA untuk merias Cynara. Saya mandi dulu.” Perinta Alvaro lalu langsung berlalu pergi tanpa memedulikan Cynara. “Loh aku di tinggal sendiri.” Kata Cynara dengan wajah bingung. “Selamat malam Nona, mari ikuti saya.” Kata Marni dengan ramah lalu mengajak Cynara untuk masuk ke dalam kamar tamu. Cynara sangat bingung karena dia tiba-tiba di ajak ke rumah Alvaro lalu sekarang dia berada di kamar tamu rumah Alvaro. Baru sehari menjadi sekretaris, Cynara sudah mendapatkan banyak hadiah lalu di ajak ke rumah bosnya pula. Apa artinya itu kalau tidak beruntung. “Jika Nona mau mandi terlebih dahulu saya akan siapkan perlengkapannya Nona.” Kata Marni. “Ribet gak sih Bik? Mana saya gak bawa daleman lagi.” Kata Cynara dengan polosnya. Mirna hanya tersenyum. “Saya akan siapkan jika Nona Cynara ingin mandi.” Kata Mirna sekali lagi. “Gak usah deh Bik, kayaknya saya mau pulang saja.” Kata Cynara yang hendak pergi namun ucapan yang Mirna lontarkan membuat Cynara terhenti. “Saya yakin Tuan Al akan sangat marah besar jika Nona tidak menuruti ucapan Tuan. Di tambah dengan saya yang sepertinya akan di pecat jika saya tidak melayani Nona Cynara dengan baik.” Jelas Mirna dengan sangat tenang. “Tadi bosnya sekarang pelayannya, kenapa sih ancamannya tuh gak jauh-jauh dari kata pecat?” Kata Cynara dengan kesal. “Baiklah kalau begitu saya mau mandi, tolong siapkan semuanya Bik.” Kata Cynara yang sudah merasa kesal dengan keadaannya saat ini. “Baik Nona.” Kata Mirna. Mirna lalu keluar dari kamar tamu yang di tempati oleh Cynara. Cynara hanya bisa menghela nafas berat lalu mencari kamar mandi di dalam kamar tersebut dan memutuskan untuk mandi saja tanpa memedulikan hal yang lain lagi. Setelah selesai mandi, Cynara sudah melihat beberapa orang di fiting room yang kebetulan ruangannya tersambung dengan kamar mandi. Cynara yang saat itu hanya memakai handuk kimono berjalan pelan. “Ini ada apa ya?” Tanya Cynara bingung. “Saya MUA yang di tugaskan Tuan Alvaro untuk merias Nona Cynara.” Kata seorang perempuan yang sudah memegang kuas make up. “Tapi saya mau ganti baju dulu.” Kata Cynara dengan canggung. “Silakan Nona, untuk perlengkapannya tinggal Nona pakai.” Kata Mirna lalu memberikan paperbag pada Cynara. Cynara hanya mengernyitkan keningnya dan melihat ke dalam paperbag yang berisi bra dan celana dalam. Cynara sangat kaget karena pelayan Alvaro tahu betul ukuran yang biasa di pakai Cynara. “Maaf atas kelancangan saya Nona, tadi saya melihat bra Nona Cynara yang tergeletak di kamar mandi dan menyuruh pelayan lain untuk membeli sesuai dengan ukuran Nona Cynara.” Kata Mirna yang paham dengan ekspresi wajah Cynara. Cynara hanya bisa diam dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai dress yang baru saja dia beli. Dia sudah tidak ada tenaga untuk bicara dan debat dengan siapa pun. Dia hanya ingin fokus pada pesta yang akan dia datangi dengan bosnya. Setelah memakai bajunya, Cynara langsung di rias oleh MUA yang sudah di sewa oleh Alvaro. Rambutnya pun di tata sedemikian rupa sehingga Cynara tampil lebih cantik dan lebih fresh dari biasanya. Bahkan Cynara sendiri kagum pada perubahan wajah dan rambutnya. “Kok cantik ya.” Tanya Cynara sambil tersenyum melihat wajahnya sendiri. “Nona Cynara memang sangat cantik bahkan saya hanya memoles sedikit wajah Nona, agar tidak terlalu pucat.” Ucap MUA yang sudah merias Cynara. Pipi Cynara bersemu merah, dia merasa senang saat mendengar pujian tersebut. Cynara langsung beranjak dan keluar dari kamar tamu untuk menemui Alvaro yang katanya sudah menunggu di luar. Cynara cukup gugup karena ini adalah pertama kalinya dia ikut pesta. Tidak tanggung-tanggung, pesta yang akan di hadiri oleh Cynara adalah di sebuah klub mewah. Memang sudah biasa bagi para pebisnis untuk melakukan pesta di Club. “Tuan Alvaro!” Panggil Cynara dengan suara pelan. Alvaro menoleh ke arah Cynara, dia sekali lagi tercengang melihat Cynara dengan balutan dress navynya di tambah dengan perhiasan, tas dan sepatu yang sangat mendukung penampilan Cynara. Alvaro langsung beranjak dan mendekat ke arah Cynara. “Aneh banget ya Tuan sampai Tuan Al ngelihatinnya kayak gitu?” Tanya Cynara yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Alvaro. “Kamu cantik.” Kata Alvaro dengan santainya. BLUSH! Pipi Cynara bersemu merah, dia tidak menyangka kalau Alvaro akan memujinya seperti itu. Cynara hanya bisa mengulum senyum sambil memegang pipinya yang terasa sedikit panas. “Ayo berangkat!” Kata Alvaro lalu berjalan lebih dulu. Cynara hanya tersenyum lalu mengikuti Alvaro dari belakang. Dia benar-benar merasa percaya diri setelah mendapatkan pujian dari Alvaro.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD