07 - Masa lalu Keluarga

1240 Words
Wanita dengan bibir berhias lipstik merah menyala itu mengerutkan bibir ke samping. Tangannya bersedekah di d**a dengan pandangan meremehkan ke arah Almira yang hanya bisa terdiam. Jujur saja ia terkejut bukanain mendengar hinaan secara langsung yang dilontarkan padanya, apalagi Hans juga tidak melakukan pembelaan apapun untuknya. “Mau dilihat dari mana pun juga, gadis yang kamu bawa itu benar-benar tidak sebanding dengan putriku, Hans,” katanya lagi. Wanita dengan kalung mutiara juga sanggul di kepala itu benar-benar melihat ke arah Almira yang hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah jijik, seolah gadis itu adalah seonggok sampah yang seharusnya tidak Hans bawa ke dalam rumah. “Bibi mengatakan jika Almira tidak sebanding dengan Puteri bibi. Ya, itu memang benar adanya.” Suara Hans terdengar tenang, namun apa yang diucapkannya justru terdengar seperti mendukung opini dari ibu sang mantan tunangan. “Itu karena kedudukan Almira jauh lebih tinggi dari Puteri bibi atau bahkan bibi sendiri. Kenapa? Seperti yang sudah sama-sama kita lihat dan dengar, bibi bisa dengan mudah mencela seseorang bahkan sebelum bibi benar-benar tahu siapa dan bagaimana watak orang tersebut. Bukankah tindakan itu bukan tindakan yang sopan? Seseorang jauh lebih tinggi kedudukannya saat ia bisa menghargai orang lain terlepas dari siapa dan apa status mereka. “Tapi ku rasa bibi tidak melakukannya. Karena bibi hanya memandang seseorang melalui hartanya saja, aku juga tahu jika alasan bibi yang sebenarnya begitu ngotot dengan perjodohan ini hanya karena bibi ingin menyelamatkan perusahaan suami bibi yang berada diambang kebangkrutan akibat suami bibi yang terus saja kalah dalam permainan judi.” Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar penuturan lantang Hans. Tidak terkecuali dengan wanita berbibir merah itu. Meski ia terlihat kesal juga marah terhadap Hans, namun wanita tersebut sama sekali tidak bisa membantah perkataan si pria. Yang ada ia justru kesal sendiri begitu sang suami menggeretnya pergi dari sana secara paksa. “Apa yang kamu katakan tadi benar, Hans? Mereka menyetujui perjodohan ini hanya demi menyelamatkan perusahaan mereka sendiri?” tanya sang ibu kemudian. Hans mengangguk kecil, ia melirik sekilas ke arah Almira yang masih betah dengan posisinya. “Ayo,” ajaknya. Tangan pria itu tertaut, menggengam tangan Almira hangat dan membawa gadis itu ke lantai dua, ke arah kamar miliknya. “Sekalipun perjodohan ini batal, bukan berarti kamu bisa bebas menentukan pilihan kamu sendiri, Hans. Apalagi pilihanmu benar-benar buruk, setidaknya belajarlah dari masa lalu dan carilah gadis yang sepadan dengan keluarga kita.” Perkataan sang nenek membuat langkah Hans terhenti. Tanpa sadar pria itu meremat tangan Almira yang ada dalam genggamannya erat-erat, membuat si gadis mengaduh kesakitan. “Hans, sakit,” lirihnya sambil coba melepaskan tangan. Namun seolah tuli, Hans sama sekali tidak mendengarkan perkataan Almira. Pria itu justru kembali melanjutkan langkah mereka dengan wajah mengeras karena kesal. Dalam kamar, Hans membanting pintu kuat-kuat hingga menyebabkan bunyi berdebum keras. Almira sedikit terlonjak karenanya. Pria itu segera merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia meraup wajahnya sendiri yang tampak lelah dengan dua tangan, sementara Almira hanya duduk di sofa tidak jauh dari sana sembari mengusap-usap jemarinya sendiri yang terlihat memerah akibat rematan tangan Hans. “Maaf,” bisik pria itu lirih. Ia mengulurkan sebotol air dingin yang berasal dari kulkas kecil yang ada di pojok, membungkus botol tersebut dengan sapu tangan dan meminta Almira untuk mengompres tangan Almira dengan itu. “Kompres dengan ini, itu akan meredakan kemerahan. Maafkan saya, tadi saya benar-benar kelepasan,” katanya lagi. Almira diam dan menerima botol tersebut. Jujur saja dalam hatinya tergelitik untuk bertanya soal hubungan apa sebenarnya yang sedang dijalani Hans. “Oma tidak pernah menyukai hubungan saya dengan kekasih saya,” buka Hans lirih. Terdengar embusan napas si gadis, ia meletakkan botol tersebut dan menatap Hans lurus-lurus. “Kenapa?” tanya Almira penasaran. Hans menolehkan kepalanya, menatap Almira yang juga tengah menatapnya. Sontak saja hal itu membuat si gadis merasa gugup dan mengalihkan pandangan dengan segera. “Status sosial. Oma selalu merasa jika saya dan keturunannya harus menikah hanya dengan orang-orang yang ia anggap setara. Tidak jarang juga beliau dengan seenaknya melakukan perjodohan meski kami sudah menentang dengan keras.” “Tapi bukannya kau bilang bahwa pacarmu itu ada di luar negeri? Setahuku tinggal di luar negeri itu butuh biaya besar, bukan sembarangan orang bisa bertahan di negeri orang, apa kekasihmu itu berasal dari keluarga yang tidak mampu?” Almira tahu apa yang ditanyakan nya benar-benar di luar dugaan, tapi ia juga penasaran soal apa maksud dari kata setara yang diucapkan sang Oma. Bukankah biasanya hal itu mengenai harta dan kesetaraan sosial? Hans tertawa kecil mendengar pertanyaan Almira, lebih tepatnya tertawa mengejek. “Jika setara yang Oma maksud adalah soal harta, aku bisa saja memberinya separuh dari harta warisan yang diberikan Opa padanya, atau menyewa seseorang untuk mengaku sebagai orang tuanya dan berasal dari kelas atas. Tapi sayangnya apa yang dimaksud dengan setara lebih daripada itu.” “Semenjak kematian Opa, Oma menjadi begitu ketat dengan aturan keluarga. Beliau selalu menekankan pada tiap anggota untuk menjaga kemurnian darah keturunan keluarga kami dengan hanya menikahi mereka yang berasal dari keluarga bangsawan di masa lalu. Kau tahu kenapa? Karena dulu Opa menikahi Oma dengan terpaksa akibat perjodohan juga.” Hans menghela napas, ia lagi-lagi menatap langit-langit kamar, tersenyum kecil karena merasa lucu pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia secara tidak sadar menceritakan soal keluarganya pada orang luar seperti Almira? Padahal selama ini ia paling tidak suka jika ada seseorang yang mengungkit ataupun berusaha mencari tahu soal keluarganya. “Maksudnya? Apa hubungannya antara perjodohan Oma mu dengan aturan yang diberlakukan saat ini? Bukankah karena beliau pernah merasakan yang namanya perjodohan, hal itu bisa saja menjadi salah satu alasan untuk membebaskan keturunannya mencari tambatan hati?” tanya Almira tidak mengerti. “Jika hanya itu yang menjadi masalah, maka semuanya tidak akan serumit sekarang.” Hans terduduk, kepalanya menoleh ke arah kanan dan menatap Almira lurus-lurus, membuat gadis itu jadi sedikit kikuk juga salah tingkah. “Opa menikah dengan Oma karena terpaksa, keterpaksaan itu membuat Opa selalu bersikap dingin pada Oma. Pernikahan mereka berjalan hampir dua belas tahun saat tiba-tiba suatu malam Opa pulang bersama seorang bayi kecil perempuan dalam gendongannya,” Hans memulai cerita. Ia juga tidak tahu, tapi ia merasa jika Almira bisa menjaga rahasia keluarganya. “Bayi mungil itu mengigil karena hujan yang menerjang. Pada awalnya Oma menimang bayi tersebut dengan penuh kasih sayang, mengingat di usia pernikahan mereka belum juga diberi keturunan. Namun perasaan Oma hancur saat ia tahu bahwa sebenarnya bayi perempuan tersebut berasal dari seorang perempuan biasa yang menjadi kekasih gelap Opa, sekaligus orang yang selama ini Opa cintai.” “Lalu?” Almira terdengar antusias. “Meski Oma tidak setuju, pada akhirnya anak itu tetap diadopsi dan menjadi bagian dari keluarga. Selama masa hidupnya Oma harus merelakan dirinya merawat dan menyayangi buah hati dari wanita yang berhasil merebut seluruh perasaan Opa dan membuatnya bersikap begitu dingin pada Oma, bahkan setelah wanita itu tiada pun, Opa selalu terkenang dengan perasaannya sendiri.” “Oma masih terus berusaha berbakti, namun sikap Opa yang tidak kunjung berubah hingga akhir hayat membuat Oma seakan menyimpan dendam pribadi.” Hans terdiam, otaknya kembali mengingat cerita yang sang ibu paparkan padanya sewaktu ia beranjak remaja itu. “Jika tebakan ku tidak salah, hal itu membuat Oma mu tidak suka terhadap seseorang yang bukan keturunan keluarga bangsawan?” Pria itu mengangguk lagi, menghela napas pelan dan berkata. “Oma merasa dikhianati. Ia tidak ingin anak cucunya menikah dengan seseorang dengan keturunan biasa karena itu hanya akan mengingatkannya pada masa lalunya yang menyakitkan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD