Bams dan Almira saling memperkenalkan diri masing-masing. Dan seperti yang sudah ia duga, pria di hadapannya ini adalah saudara Hans. Lebih tepatnya saudara kembar pria itu.
Meski wajah keduanya tidak identik, namun hanya dengan melihat sekilas saja orang-orang sudah bisa tahu jika keduanya adalah saudara.
“Jadi, kamu orangnya? Yang dijadikan pacar pura-pura sama Hans?” tanya Bams begitu kembali dari dapur dengan semangkuk berondong jagung.
“Ya. Dan maaf sudah menempati kamarmu,” sahut Almira tidak enak hati.
Pria itu terkekeh, ia menyeruput cola kaleng dan berbicara.
“Tidak masalah, lagipula aku sudah mendapatkan kamar Hans. Itu lebih daripada cukup. Tapi ada satu hal yang harus kau ingat, karena mulai sekarang kita berbagi rumah, kau juga harus mau mengerjakan pekerjaan rumah. Bagaimana?”
Pada awalnya Almira berpikir Bams akan keberatan dengan kehadirannya, apalagi mengingat gadis itu kini menempati kamar miliknya. Namun sambutan yang diberikan pria itu berbeda dari bayangan, yang membuat Almira menganggukkan kepala dengan ringan.
“Tentu saja.”
“Selamat datang di rumah, ku harap kau bisa betah,” ujar Bams ceria yang membuat Almira juta turut menyunggingkan senyum cerah.
“Oh, iya. Omong-omong aku boleh pinjam ponselmu sebentar? Seluruh barang milikku habis dirampok kemarin, dan aku harus menghubungi ibuku di rumah.”
Tanpa ragu Bams mengangguk. Ia merogoh saku dan memberikan ponselnya pada Almira, sebelum mempermisikan diri. Berusaha untuk tidak mengganggu
Almira memilih untuk menelepon di dalam kamar. Gadis itu berjalan mondar-mandir begitu nada sambung terdengar.
“Kenapa nggak diangkat?” gumam gadis itu.
Ia mencobanya lagi, bahkan hingga percobaan yang ketiga kali, namun hasilnya masih sama.
“Astaga, aku lupa. Ibu nggak bakalan mengangkat telepon dari nomor nggak dikenal,” gumamnya lagi sambil menepuk dahi.
Kemudian dengan cekatan, jemarinya menari di atas keyboard. Mengetik pesan bahwasanya yang menelpon tadi adalah dirinya.
Benar saja, kurang dari lima menit setelah pesan terkirim sang ibu menelepon balik. Dengan cepat Almira mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, bu?”
“Sayang! Kamu gimana kabarnya, semua baik-baik aja, ‘kan? Ibu khawatir kamu nggak bisa dihubungi, pun nggak kasih kabar apapun.”
Almira sedikit tersenyum kecil, merasa terharu masih ada orang yang begitu mengkhawatirkan dirinya.
“Mira baik, bu. Cuma….”
Ucapan gadis itu menggantung, ia sedikit ragu untuk mengatakan kejadian yang sebenarnya.
“Kenapa, sayang?”
“Anu… sebenarnya… Mira habis kecopetan. Nggak, lebih tepatnya kerampokan, semua barang Mira habis nggak bersisa, itulah sebabnya Mira nggak bisa langsung hubungi ibu kemarin,” jelas gadis itu pada akhirnya.
“Astaghfirullahalazim. Terus gimana sekarang, kamu baik-baik aja, nggak luka? Kamu di mana, biar ibu jemput sekarang juga.”
Almira menggaruk tengkuk, sudah menduga jika sang ibu akan sangat khawatir setelah mendengar apa yang terjadi padanya.
“Nggak apa-apa, bu. Mira baik-baik aja, lagian sekarang Mira udah dapet kerjaan.”
“Kerjaan? Di mana? Sama siapa? ibu kenal?”
Terdengar kekehan kecil dari sela bibir si gadis. Hal tersebut mengundang kerutan halus di dahi sang ibu pada ujung telepon.
“Kok kamu ketawa? Jangan bilang kamu ngerjain ibu?”
“Nggak, bu. Yakali. Mira cuma ngerasa seneng aja, dibalik semua yang terjadi sama Mira, ternyata masih ada orang yang sayang sama Mira,” gadis itu mengusap-usap meja rias di depannya.
Matanya mulai memerah, mengembun dengan napas yang terasa mulai berat.
“Kamu bicara apa sih, semua ibu juga bakalan khawatir sama anaknya, sayang. Apalagi setelah apa yang kamu alami, nggak mungkin ibu nggak khawatir. Kamu nggak perlu mikir macem-macem, sekarang kamu kasih tahu ibu lokasi keberadaan mu. Pulang ya, ibu jemput.”
Suara sang ibu melembut, membuat bulir-bulir air mata yang sudah menumpuk di kelopak tumpah hanya dengan sekali kedip.
Cepat-cepat Almira mengusap ujung matanya, menarik napas panjang sebelum berkata.
“Nggak usah, bu. Mira aman di sini. Buat sekarang, Mira belum bisa ngasih tahu di mana Mira, yang jelas sekarang Mira ada di tempat aman dan nyaman. Nanti kalau udah saatnya dan Mira juga udah sembuh, Mira bakalan pulang dan menceritakan semuanya sama ibu, ya?”
Meski terdengar nada tidak setuju, namun pada akhirnya sang ibu setuju. Bagaimanapun kenyamanan dan keselamatan puterinya adalah hal utama.
“Yaudah, teleponnya udah dulu, ya bu. Nggak enak sama yang punya ponsel, Mira pinjem soalnya.”
“Iya, kamu jangan lupa jaga kesehatan. Segera hubungi ibu kalau terjadi sesuatu.”
Panggilan terputus, Almira segera keluar kamar hendak menemui Bams dan mengembalikan ponsel milik pria itu. Namun baru saja dirinya membuka pintu, di hadapannya sudah ada Hans yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
“Ikut saya.”
***
Almira tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa. Yang jelas saat ini dirinya terjebak momen canggung bersama Hans di dalam mobil pria itu.
Mobil keluaran terbaru berwarna hitam metalik itu melaju membelah jalanan ibu kota. Almira tidak tahu tepatnya ia berada di sana, yang ia lihat hanya gedung-gedung bertingkat juga beberapa kendaraan mewah sebelum keduanya memasuki sebuah gerbang perumahan elite.
Mobil berhenti tepat di pelataran sebuah rumah bertingkat. Almira turun dengan ragu, ia memandang sekeliling, beberapa rumah mewah berjejer di sana, pun dengan mobil-mobil mahal keluaran terbaru dan beberapa kendaraan mahal lainnya.
“Ngapain di situ? Ikut saya,” suara Hans menginterupsi lamunan Almira.
Gadis itu dengan segera berlari kecil menghampiri sang pria masuk ke dalam sebuah rumah mewah lantai dua bergaya modern.
Almira tidak henti-hentinya dibuat berdecak kagum dengan kemegahan rumah yang baru saja ia masuki. Memang, Almira bukan berasal dari keluarga yang kekurangan, tapi ia juga bukan berasal dari keluarga kaya raya seperti Hans dan juga Bams.
Langkah kaki keduanya memelan begitu memasuki ruang tengah. Di sana, di sofa berwarna cream duduk lima orang dewasa yang masing-masing dari mereka memberikan ekspresi berbeda.
Oh, sepertinya Almira agak familiar dengan seorang gadis muda dengan pakaian berwarna biru muda itu.
“Dari mana saja kamu?”
Seorang wanita paruh baya bertanya ketus. Kacamata yang menghias wajahnya menimbulkan kesan ningrat yang membuat siapa saja akan merasa segan menatap matanya lama-lama.
“Hans mengabulkan permintaan kalian. Perkenalkan, ini Almira. Dia kekasih Hans.”
Sontak, Almira menolehkan kepala dengan mata melotot tajam. Apa-apaan itu, saat diperjalanan tadi Hans tidak mengatakan apapun soal ini.
Tidak ada yang bisa dikatakan Almira. Boro-boro menjelaskan siapa sebenarnya dirinya, nyalinya sudah lebih dulu ciut melihat bagaimana anggota keluarga Hans menatap dirinya saat ini.
Ia merasa seperti seorang serangga kecil menjijikan yang harus segera disingkirkan dari sana.
“Hans, apa kau serius dengan perkataan mu kemarin?” seorang wanita dengan penampilan anggun bertanya.
Almira melirik sekilas ke arah pria jangkung yang berdiri di sampingnya. Penasaran dengan jawaban yang akan ia lontarkan.
Tapi apa yang bisa ia harapkan dari manusia sedatar Hans? Pria itu hanya menjawab satu kata “ya.” dengan ekspresi datarnya.
Suasana sempat hening sejenak, namun Almira benar-benar merasakan aura intimidasi yang begitu kuat di sana.
“Ooh, jadi ini gadis kampungan yang berhasil membuat pertunangan anakku gagal? Kukira Hans akan mencari seorang gadis yang sepadan, ternyata yang dia dapat hanya seorang gadis rendahan yang levelnya berada jauh di bawah kami.”