Apa? Menjadi kekasih pura-pura? Sudah gila apa?!
Almira langsung saja menolak permintaan Hans mentah-mentah. Bayangkan saja, keduanya baru saja bertemu dan sudah terjadi insiden yang…. Ugh, Almira benar-benar tidak berharap hal itu sungguhan terjadi.
Lalu sekarang, dengan seenaknya pria itu memintanya untuk menjadi kekasih pura-puranya? Apa dia waras?
“Tunggu. Aku nggak tahu siapa kamu, dan apa tujuan kamu sebenarnya, pun dengan apa yang sudah terjadi sama kita sebelumnya. Tapi yang harus kamu tahu, permintaan kamu tadi beneran nggak masuk akal dan aku nggak mau!” tolak Almira tegas.
Hanya terdengar hela napas panjang dari Hans. Ia menatap Almira dengan lamat, namun hal tersebut tampaknya tidak berimbas apapun.
“Kenapa liat-liat? Mau ngancem aku? Yang ada kamu yang aku laporin atas tindakan pelecehan,” seru Almira lagi.
Namun sepertinya tubuhnya berkhianat. Tanpa disadari gadis itu beringsut mundur, meski ia berusaha berucap dengan intonasi segarang mungkin namun pergerakan tubuhnya jelas menunjukkan bahwa ia sedang dalam mode waspada.
“Terserah, saya punya bukti kalau kamu sendiri yang tidur dan tiba-tiba melepaskan satu persatu baju kamu. Dan saya bukan orang bodoh yang mau tidur di bawah atau sofa cuma demi perempuan yang nggak saya kenal.”
Mata Almira sontak membola. Apa katanya tadi? Dia yang melepaskan sendiri pakaiannya saat tidur? Yang benar saja!!
“Nggak usah ngomong…”
Belum sempat Almira menyelesaikan ucapannya, Hans lebih dulu mengangkat ponsel, menunjukkan sebuah video dimana Almira tengah mengipasi dirinya sendiri dalam tidur sambil terus bergumam kata panas.
“Semalam AC di kamar rusak, dan kamar lainnya sudah penuh. Jadi terpaksa kita tetap tidur di sana dengan hawa panas kota Jakarta,” sahut Hans kemudian.
Sial! Batin Almira kesal.
Ia merutuk dalam hati, mendumal sebal soal bagaimana kebiasaannya mengigau dan melepas pakaian jika merasa kepanasan.
“Masih mau melaporkan saya?” Tanya Hans dengan ekspresi mengejek.
Almira mendengus. Ia menolehkan wajah ke arah lain, berusaha menghindari tatapan si lelaki karena merasa malu.
“Saya juga tahu kalau kamu baru saja kecopetan, dan pastinya butuh pekerjaan. Kamu ngigo terlalu banyak,” katanya lagi.
Ingin rasanya Almira menghilang dari sana. Gadis itu menunduk, tidak sanggup lagi untuk sekadar mengangkat wajah. Malu sekali rasanya.
“Saya bisa kasih kamu pekerjaan asalkan kamu mau menuruti permintaan saya buat jadi kekasih pura-pura saya. Nggak lama, cuma satu bulan. Cuma sampai pacar saya pulang dari luar negeri.”
Lagi-lagi Almira dikejutkan dengan perkataan pria di hadapannya. Dia sudah memiliki tunangan tapi juga memiliki seorang pacar? Dan sekarang ia menggunakan dirinya untuk membatalkan pertunangan itu demi pacarnya? Dasar gila!
“Gimana? Kamu mau? Tenang aja, saya bakalan bayar kamu juga. Gaji yang bakalan kamu Terima dobel, karena kamu juga akan saya pekerjakan sebagai asisten pribadi saya,” lanjut Hans.
“Jadi, kamu mau aku jadi pacar pura-pura sekaligus asisten?”
“Ya.”
Menimang. Memang jika dipikir menggunakan nalar logika, hal ini tidaklah sejalan dengan pemikiran manusia normal. Apalagi posisi Almira ada untuk menggagalkan pertunangan Hans hanya demi kekasih gelap pria itu, yang mana artinya ia akan menjadi orang ketiga di sana.
Dan seperti yang sudah diketahui, eksistensi status orang ketiga dalam hubungan percintaan bukanlah sesuatu yang terdengar bagus, namun justru sebaliknya.
Tapi di sisi lain juga, Almira memang membutuhkan pekerjaan. Seluruh benda yang ia bawa dari Surabaya sudsh habis dirampok supir taksi sialan itu. Bahkan ia tidak punya ponsel atau uang sepeser pun hanya untuk mengabari sang ibu di rumah.
“Nggak perlu kelamaan berpikir. Tawaran ini nggak bakalan terjadi dua kali.”
“Tapi kenapa harus aku? Maksudnya, aku yakin kamu bukan orang sembarangan. Kamu bisa nyewa perempuan buat pura-pura jadi pacar kamu, lagipula memangnya jaman sekarang masih jaman perjodohan begitu?”
“Ya, nyatanya perjodohan itu masih ada. Dan alasan kenapa harus kamu, jawabannya adalah karena kamu kriteria yang cocok. Kamu sendirian di Jakarta, baru saja kehilangan harta benda karena perampokan. Kamu tidak punya pilihan lain selain menerima semua ini,” Jelas Hans yang memicu amarah Almira.
“Jadi kamu memanfaatkan keadaan ku cuma demi kepentingan kamu sendiri?”
“Ya, bisa dibilang begitu meski tidak sepenuhnya. Saya hanya memanfaatkan apa yang datang kepada saya.”
Dasar sinting! Sungut gadis itu kesal.
“Jadi…. Kamu mau?”
***
Dan di sinilah mereka pada akhirnya. Pada akhirnya Almira menerima tawaran Hans untuk menjadi kekasih pura-pura pria itu.
Keduanya tiba di sebuah apartemen mewah yang terletak di tengah kota, sudah sejak tadi Almira hanya berjalan mengekor di belakang Hans layaknya anak ayam.
“Mulai sekarang kamu bisa tinggal di sini. Mulai besok pagi kamu bisa mulai bekerja menjadi asisten pribadi saya, datanglah pukul tujuh pagi dan jangan sampai terlambat. Saya paling tidak suka orang yang tidak bisa menghargai waktu,” katanya tegas.
Almira mengangguk saja. Keduanya kemudian berjalan ke satu ruangan dengan pintu kayu berwarna putih.
Di dalam sana terdapat sebuah ranjang berukuran queen, juga sebuah lemari kayu berwarna serupa. Meja rias yang berada di dekat pintu masuk juga sebuah kamar mandi dalam.
“Ini kamarmu. Perlu diingat, kamu tidak boleh masuk ke kamar sebelah apapun alasannya, karena itu adalah ruangan saya,” ucap Hans.
“Ya, aku mengerti.”
Tanpa mengatakan apapun, pria itu memilih beranjak. Almira hanya bisa mengembuskan napas kasar dan mulai melihat-lihat isi dalam ruangan.
Almira membuka pintu lemari, ia berdecak kagum begitu melihat isi di dalamnya yang sudah terbilang cukup lengkap dengan berbagai model pakaian juga kebutuhan wanita.
“Ck, rupanya dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang,” gumam Almira lirih.
Setelah puas berkeliling, Almira memutuskan untuk keluar dari kamar dan berniat untuk ke area dapur. Omong-omong saat ini sudah pukul sebelas siang, dan cacing-cacing dalam perut gadis itu sudah berdemo minta untuk diisi.
Langkah kaki gadis itu memelan begitu ia melihat sosok tinggi dengan punggung tegap tengah berkutat dengan peralatan dapur. Jika dibandingkan dengan Hans, sosok tersebut terlihat sedikit lebih pendek.
Yah, meskipun keduanya terlihat sama-sama terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Almira yang hanya memiliki tinggi badan 155cm.
“Oh, astaga!”
Keduanya sama-sama terkejut begitu pria dengan kemeja berwarna biru dengan lengan digulung hingga siku itu berbalik.
“Siapa kau, di mana Hans?” tanya Almira spontan.
Pria itu tiba-tiba tersenyum, membuat matanya ikut tersenyum dan Almira akui jika dirinya terlihat begitu manis, menggemaskan seperti puppy.
“Oh, pasti dia belum memberitahumu. Namaku Bams, aku juga tinggal di sini. Lebih tepatnya, aku yang sebelumnya menempati kamar yang sekarang jadi milikmu,” katanya masih dengan senyum merekah di bibir.
Oh, benar juga. Jika dilihat lagi, antara Bams dan Hans memang memiliki wajah yang terlalu mirip, hanya saja aura keduanya benar-benar berbeda.
Bams terlihat jauh lebih bersahabat daripada Hans.