04 - Masalah baru

1133 Words
Almira segera menutup tubuh bagian atasnya dengan selimut. Tubuhnya perlahan mundur, berusaha menghindar saat lelaki di sampingnya mulai bergerak dalam tidurnya. Pergerakan Almira tertahan begitu ia merasakan cekalan pada pergelangan tangannya. Tubuhnya menegang tiba-tiba, ia menelan ludah kasar dengan degub jantung yang seakan berdetak menggila. “Mau ke mana?” Suaranya serak dan dalam. Almira sempat memaki dalam hati, tatkala ia justru berpikir suara deep milik si pria terdengar seksi. Tanpa menjawab, gadis itu berusaha keras melepaskan genggaman tangannya. Ia berusaha menarik kuat-kuat genggaman tangan itu meski yang terjadi setelahnya justru sebaliknya. Dengan cepat, tubuh Almira terhempas. Belum sempat ia menarik napas, napas gadis itu kembali tertahan tatkala pria dengan mata tajam sudah berada di atas tubuhnya. Kulit putih, mata setajam elang, hidung mancung yang seakan bisa merobek kulit, rahang tegas juga sorot mata tajam terlihat begitu sempurna tersemat di wajah tampannya. Belum lagi rambut hitam legam yang terlihat berantakan, juga tubuh bagian atas yang terekspos polos tanpa pakaian. Membuat Almira bisa melihat dengan jelas otot-otot perut juga roti sobek milik pria itu yang membuatnya terlihat begitu seksi. Astaga, Almira harus membersihkan otaknya setelah ini! “Kau mau ke mana?” Seakan kembali tersadar, gadis itu menelan ludah gugup. Bola matanya melirik ke sana, ke mari, berusaha keras menghindari tatapan mata si pria yang terasa mengintimidasi. “Eung…” Hanya itu yang keluar sebagai jawaban. Almira tidak tahu mengapa otaknya tiba-tiba menjadi kaku. Label juara kelas yang selalu disandangnya saat di bangku sekolah jadi tidak ada gunanya sekarang. Terdengar hela napas lega begitu si pria menyingkir dari atas tubuh si gadis. Pria itu berguling ke sisi yang lain, menyambar sebuah kaos putih pendek dan memakainya dengan santai. “Bersihkan tubuhmu, setelah itu kita bicara,” katanya lagi. Tanpa harus menunggu dua kali, Almira segera membungkus rapat tubuhnya layaknya lontong, dan bergerak perlahan menuju kamar mandi yang ada di samping ruangan. “Akhhh!!” Jeritan itu terdengar keras bersamaan dengan tubuh Almira yang serasa melayang. Bukan, ia bukannya terbang. Melainkan ia sedang digendong ala bridal style oleh si pria. “Cepet mandi, saya nggak punya banyak waktu,” katanya sambil meletakkan Almira pada kloset duduk. Pintu tertutup. Lagi dan lagi Almira menghela napas lega. Ia beranjak ke arah cermin, terlihat bekas ungu kehitaman di sekitar area leher. Gadis itu mendesis, memukuli kepalanya sendiri sambil meratapi kebodohannya sekaligus coba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. “Bodoh, banget! Almira bodoh, apa yang terjadi semalam? Kenapa bisa kejadian kayak gini, sih? Ayo dong, inget apa yang terjadi semalam!” Gadis itu terus menggumam, namun mau sebagaimana dirinya coba mengingat, otaknya seakan enggan untuk bekerja sama dengannya. Sekitar lima belas menit kemudian, Almira keluar dari kamar mandi dengan bathrobe juga sebuah handuk yang melilit kepalanya. Mula-mula gadis itu melongokkan kepalanya pada celah pintu, memastikan keadaan aman. Sepi, pada akhirnya Almira mulai melangkah. Namun baru saja ia menghela napas lega, gadis itu kembali dikejutkan dengan kehadiran si pria di belakangnya. “Sudah ku bilang untuk jangan membuang waktu,” katanya tajam. Almira hanya bisa terdiam. Matanya mengikuti ke mana arah si pria bergerak. Ia duduk di sebuah sofa berwarna cream dan menoleh ke arah si gadis. “Apa yang kau tunggu, duduk,” titahnya. Meski dengan perasaan gugup juga pertanyaan yang berkecamuk. Almira coba menurut. Baru saja ia mendaratkan pantatnya di sofa empuk itu, ia dikejutkan dengan sebuah map kuning yang dilemparkan ke atas meja. “Bacalah.” Ragu-ragu tangan Almira terulur. Ia membaca tiap kata di sana dengan dahi berkerut dan berujung dengan sebuah pekikan keras. “Berhentilah berteriak, kamu bisa bikin saya tuli!” sungut si pria marah. “Enggak, tunggu. Biar ku perjelas. Siapa kamu, kenapa aku ada di sini dan apa-apaan ini?” tanya Almira sambil mengangkat map dalam tangannya. Si pria menghela napas. Dua tangannya ia silangkan di depan d**a dengan sebelah kaki menumpang di kaki lainnya. Tatapannya tajam menatap ke arah Almira yang masih kebingungan di hadapannya. “Bisa tolong jawab pertanyaan ku? Siapa kamu dan kenapa….” Perkataan Almira terhenti begitu satu ingatan terlintas dalam kepalanya. Matanya melotot, tangannya menunjuk tepat ke arah si lelaki yang masih memasang ekspresi serupa. “Kamu…, Kamu orang yang ada di lift, kan?” Almira ingat, pria di hadapannya ini adalah pria yang sama dengan pria yang sempat Ia beri minuman saat mereka tanpa sengaja bertemu di lift kemarin. Si pria mendengus. Ia merotasikan bola matanya malas dan mengubah posisi duduk. “Denger. Saya nggak mengenal siapa kamu, tapi saya punya satu penawaran kerja sama buatmu,” katanya tiba-tiba. “Nggak, tunggu dulu. Kita bahas siapa kamu dan kenapa aku bisa ada di sini dulu, oke,” kata Almira menyela. Mengalah, pada akhirnya pria itu mengangguk. Ia berhedeham sebelum memperkenalkan diri. “Saya Hans. Semalam saya nggak sengaja hampir nabrak kamu, tapi itu juga bukan sepenuhnya salah saya. Kamu sendiri yang tiba-tiba lari di jalanan.” “Terus, apa maksudnya dengan ini?” Almira menunjuk ke arah ranjang juga map. Bermaksud meminta penjelasan masuk akal dengan apa yang dialaminya. “Itu…” Hans menggaruk tengkuk. Ia sempat menghindari pandangan mata Almira yang terkesan menuntut. “Katakan, jelaskan semuanya.” “Sebelumnya saya minta maaf. Semalam kamu tidak sadarkan diri, saya berniat bawa kamu ke rumah sakit tapi sepertinya nggak keburu karena hari sudah malam. Jadi terpaksa saya bawa kamu ke sini,” katanya. “Lalu…. Kenapa….” Almira sulit melanjutkan kata-kata selanjutnya. Astaga, Tuhan. Bahkan hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Almira merasa malu bukan main. “Untuk itu, saya juga minta maaf. Kemarin tunangan saya tanpa sengaja memergoki saya saat sedang chek in, dan dia mengira kamu selingkuhan saya yang bikin pertunangan kami batal.” Almira melongo. Matanya membulat seakan ingin lepas dari tempatnya begitu mendengar penjelasan Hans yang terdengar tidak masuk akal baginya. “Tunggu, tunggu. Jadi maksud kamu, setelah insiden kamu hampir nabrak aku, kamu bawa aku ke hotel ini dan tunangan kamu mengira kalo aku adalah selingkuhan kamu?” ulang Almira. “Mantan lebih tepatnya,” koreksi Hans. “Terserahlah. Begitu?” Tanpa beban Hans mengangguk. Berbeda dengan ekspresi tenang si pria, Almira justru mendesah frustasi. Ia menutup wajahnya sendiri dan menyerang keras. BRAK!! Hans sedikit terlonjak begitu Almira menggebrak meja. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Hans seakan ingin melahap pria itu hidup-hidup. “Kamu,” Almira menunjuk tepat di depan hidung Hans. “Kamu tahu apa yang sudah kamu lakuin itu salah! Seharusnya kamu bawa aku ke rumah sakit atau paling nggak, jangan gunakan orang yang nggak kamu kenal buat menutupi masalah pribadi kamu sendiri!!” seru Almira marah. Hans sendiri hanya merespon dengan hela napas. Dengan enteng ia menggeser telunjuk Almira dari depan wajahnya dan berkata. “Ya, saya tahu. Karena itu saya mau bertanggung jawab dengan menawarkan pekerjaan sebagai kekasih pura-pura saya. Nggak lama, cuma satu bulan.” Apa? Menjadi kekasih pura-pura? Sudah gila apa?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD