Keputusan Almira untuk pergi sudah bulat. Pagi-pagi buta ia sudah siap dengan dua buah koper besar yang telah ia siapkan semalam.
Ia menghela napas sekali lagi, mematut diri dalam cermin, tersenyum miris mendapati kantong mata hitam menggantung di bawah mata.
Embusan napas itu terdengar lebih keras, seiring dengan suara ketukan pelan yang berasal dari pintu.
“Semuanya sudah siap?” tanya sang ibu lirih.
Almira mengangguk, ia menyeret kopernya menuju lantai bawah dengan sepelan mungkin, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun dan membangunkan Alina juga Alvian.
Di depan pintu gerbang, sudah ada sebuah taksi yang menunggu. Almira menoleh dengan senyum tipis ke arah sang ibu yang sejak tadi hanya diam.
“Bu, Mira nggak papa,” kata gadis itu lirih.
Digenggamnya tangan sang ibu erat, senyum lebar coba ia perlihatkan guna meyakinkan wanita baya itu jika memang dirinya benar-benar baik-baik saja.
“Ibu ikut kamu aja, ya?” sang ibu berkata lirih.
Jujur saja, dalam benaknya begitu berat untuk melepas kepergian sang Puteri bungsu. Terlebih setelah apa yang terjadi, namun di sisi lain sang ibu juga paham alasan yang membuat Almira harus pergi.
“Nggak, Bu. Kak Alina butuh ibu. Mira bisa jaga diri, kok. Dan Mira janji nggak bakalan ngelakuin hal aneh-aneh. Mira cuma butuh waktu buat sendiri, buat nenangin diri dan menerima keadaan dengan lebih ikhlas lagi. Mira janji kalau semuanya sudah pulih, perasaan Mira sudah baik-baik saja, Mira bakalan langsung pulang dan nemenin ibu di sini,” katanya.
Air mata tidak lagi bisa dibendung, dua wanita beda generasi itu saling berpelukan dengan air mata yang sama-sama berderai di pagi itu.
“Yasudah, kalau itu keputusan kamu. Tapi satu pesan ibu, jangan sampai salah jalan. Sekalutnya kamu, kamu masih punya Tuhan dan Ibu yang akan selalu siap dan ada buat kamu,” kata wanita baya itu setelah pelukan keduanya terlepas.
“Iya, Mira janji. Kalau gitu, Mira pergi dulu. Ibu jaga diri baik-baik, Mira bakalan sering hubungin ibu, tenang aja.”
Tidak lama kemudian Almira menaiki taksi yang akan membawanya menuju tempat tujuan.
Karena jadwal penerbangan yang dijadwalkan sore nanti, Almira memutuskan untuk mengistirahatkan diri sejenak pada hotel terdekat.
Perjalanan dari rumah menuju tujuan memakan waktu lebih kurang dua puluh menit. Dengan santai Almira menarik koper miliknya memasuki area resepsionis.
Setelah mengurus segala sesuatu, Almira menaiki lift dan menekan angka lima. Dan tepat sebelum pintu lift benar-benar tertutup, sebuah sepatu hitam mengkilat tampak terjulur mengganjal pintu.
Seorang lelaki dengan tampilan rapih klimis menghela napas lega. Ia membungkukkan tubuhnya dengan hela napas pendek-pendek.
“Syukurlah,” gumamnya lirih.
Melihat si lelaki yang nampak begitu letih, Almira berinisiatif menyodorkan sebotol minuman tapi di depan lelaki tersebut.
Ia yang sebelumnya membungkuk sontak mendongak, menoleh ke arah Almira yang masih terdiam di posisinya.
“Minumlah, nggak ada racunnya, kok. Kamu kelihatan capek,” katanya.
Tidak ada reaksi, lelaki di hadapannya masih saja diam membuat Almira berdecak dan lantas meraih sebelah tangan si lelaki kemudian meletakkan botol minuman tersebut di tangannya.
Tidak lama Almira tiba di lantai tujuan, tanpa mengatakan apapun gadis itu mulai melangkah keluar dengan menyeret kopernya.
Meninggalkan lelaki itu di dalam lift seorang diri.
***
Pukul lima sore saat Almira tiba di bandara Kota Jakarta.
Almira menyeret kopernya dengan malas. Perjalanannya dari Kota Surabaya menuju Kota Jakarta lebih kurang memakan waktu 1 jam 30 menit, dan selama itu pula Almira dipusingkan dengan di mana ia harus menginap malam ini.
Rencananya untuk pergi adalah hasil pemikiran spontan hanya demi menghindar dari sang kakak juga sang mantan kekasih.
Almira tidak memiliki teman ataupun yang ada di Jakarta.
“Terserahlah, yang penting sekarang kita cari hotel aja dulu,” gumamnya lirih.
Kaki Almira melangkah pelan, sudah sejak tadi ia berusaha untuk memesan taksi online, hanya saja pesanannya selalu dibatalkan driver.
“Kenapa sih orang-orang? Gamau duit kah?” gerutunya.
Ia duduk di pinggiran jalan, masih berusaha untuk memesan taksi online hingga tidak sadar saat seorang pria berjalan mendekatinya.
“Permisi, neng. Lagi nyari taksi, ya?” tanyanya.
Almira mendongak, matanya memicing curiga ke arah seorang lelaki dengan kemeja flanel juga celanan hitam itu. Ia tersenyum ke arah Almira, terlihat seperti orang baik-baik.
“Iya, mas. Kenapa, ya?”
“Anu, kebetulan saya juga driver taksi. Kalau nggak keberatan biar saya antar aja, saya belum dapet orderan dari pagi,” katanya dengan wajah memelas.
Sebenarnya ada sedikit keraguan dalam diri Almira, namun di sisi lain Ia juga merasa tidak tega dengan penampilan pria baya di depannya. Dan lagi, Ia juga memang butuh jasa taksi, mengingat orderan miliknya belum juga mendapatkan driver.
“Boleh, deh. Tapi bapak tahu hotel dekat sini?”
“Tahu. Gampang itu, neng. Ayo, biar saya bawakan kopernya.”
Dan pada akhirnya keduanya berjalan menuju sebuah mobil hitam keluaran lama. Almira sempat menghentikan langkahnya, perasaannya mendadak jadi tidak yakin.
“Kenapa, neng? Tenang aja, aman sama saya, mah. Saya bukan orang jahat,” kata si lelaki seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Almira.
Dengan terpaksa gadis itu menurut naik. Dan mobil tersebut mulai berjalan perlahan menembus malam kota Jakarta.
Di dalam taksi hanya ada keheningan, Almira sibuk dengan ponselnya sampai-sampai gadis itu tidak menyadari jika mobil yang dikendarainya mulai berjalan ke arah jalanan gelap dan sepi.
“Loh, kok ke sini pak?” tanyanya.
Si lelaki yang duduk di bangku kemudi tidak lantas menjawab. Ia justru turun dari mobil dan membuka pintu penumpang dengan paksa.
“Serahin barang-barang lo, atau lo mati di sini,” katanya.
Dari dalam sela celana, Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat yang Ia acungkan ke arah leher Almira.
Gadis itu tidak bisa berkutik, bahkan hanya untuk sekadar berteriak dirinya tidak sanggup. Namun Ia juga tidak bisa melepaskan semua barang miliknya begitu saja.
“Cepet serahin semuanya!!” Gertak lelaki itu lagi.
“Akhhh!!”
Almira berteriak tatkala rambutnya dijambak begitu Ia berusaha kabur. Ia kembali dimasukkan ke dalam mobil, dihimpit oleh tubuh besar si lelaki.
“Jangan coba-coba kabur, atau lo beneran gue bunuh sekarang juga. Sekarang, serahij semua barang-barang lo, kalo lo masih pengen idup!”
Tidak bisa berkutik, pada akhirnya Almira menyerahkan semua barang miliknya, termasuk ponsel juga gelang dan cincin emas yang dipakainya.
Setelah semua barang miliknya diberikan, Almira ditinggalkan begitu saja di jalanan sepi tersebut. Membuat gadia itu kebingungan bukan main.
Ia berjalan pelan menyusuri jalanan sepi. Sesekali menoleh ke segala arah berharap bisa bertemu seseorang yang bisa membantunya.
Namun bukannya mendapat bantuan, Ia malah justru hampir menjadi korban pemerkosaan oleh beberapa preman yang ada di sebuah gang yang tidak sengaja Almira lewati.
Gadis itu berlari, Ia terus berlari hingga tanpa sadar dirinya sudah ada di tengah-tengah jalan raya dengan sebuah mobil yang tengah melaju kencang ke arahnya.
***
Kedua mata itu terbuka perlahan. Almira mengerjap, menghela napas panjang dan terduduk dengan mata setengah terpejam karena rasa kantuk yang masih begitu hebat menyerang.
Seluruh tubuhnya terasa remuk, sakit dan pegal di sana-sini akibat kejadian semalam.
Tunggu!!
Semalam dirinya menjadi korban perampokan dan hampir saja menjadi korban pemerkosaan. Juga Ia yang hampir ditabrak oleh sebuah mobil, tapi mengapa saat ini ia justru merasakan sebuah kasur empuk dan nyaman?
Dengan hati-hati Almira coba membuka mata. Pemandangan yang pertama kali Ia lihat adalah sebuah kaca besar yang langsung menghadap ke arah kota Jakarta.
Juga semilir hawa dingin yang berasal dari air conditoner yang menggantung tidak jauh dari ranjang yang ditempatinya.
Rasanya dingin seolah sampai menembus kulit.
Tunggu dulu, menembus kulit?
Pelan, begitu pelan. Almira menoleh ke arah sebelah kanan di mana seorang lelaki tengah tertidur pulas dengan keadaaan shirtless.
Ia lantas menoleh ke arah tubuhnya sendiri. Terhenyak begitu menyadari Ia tidak memakai apapun di bawah sana.
Dan di pagi yang damai itu, suara jeritan keras Almira jadi hal pertama yang begitu nyaring didengar.