Pukul satu tiga puluh malam saat Almira membuka pintu kamarnya. Di depan pintu terdapat sebuah notes yang ditulis sang ibu di atas kertas kuning.
-Kalau kamu nanti keluar, ada makanan di dapur. Ibu masak nasi goreng kesukaan kamu, tolong makan meski sedikit, ibu khawatir.-
Tanpa adar mata Almira kembali mengembun. Ia tidak bermaksud untuk membuat sang ibu merasa khawatir, hanya saja perasaan sakit hati juga hancur lebih mendominasi untuk saat ini.
Pelan, Almira mulai melangkah ke arah dapur. Ia hanya berniat untuk mengambil segelas air putih, dan juga memanaskan nasi goreng buatan sang ibu lalu kembali ke kamar.
Namun sepertinya rencana Almira hanya akan berakhir sebatas rencana saja. Baru saja dirinya tiba di ambang pintu, atensinya lebih dulu tertarik pada sosok Alvian yang saat itu baru saja selesai menuang segelas air.
Pria itu juga terlihat sama terkejutnya. Tidak mau lama-lama berada di sana, Almira dengan segera beranjak. Namun langkahnya harus terhenti saat dengan cekatan Alvian menarik lengannya, membawanya ke taman belakang rumah.
Dengan tegas Almira menghentakkan tangan Alvian keras. Ekspresi benci juga kecewa tercetak jelas di wajahnya, mata sembab juga sedikit bengkak jadi pertanda seberapa kerasnya ia menangis.
“Al, maaf…,”
Alvian berusaha mendekat, namun seiring pria itu melangkah maju, Almira dengan gesit mundur ke belakang.
Ia menggeleng, tatapan benci itu masih bercampur dengan tatapan sayang juga cinta. Untuk sekarang Almira tidak ingin munafik, perasaanya pad Alvian masih belum sepenuhnya hilang.
Ia masih mencintai pria itu, meski di sisi lain perasaan kecewa, marah dan terkhianati yang dirinya rasakan juga begitu besar.
“Al…”
Alvian masih berusaha, tatapan pria itu memelas, memohon agar setidaknya Almira mau mendengarkannya meski hanya sekali.
“Hubungan kita udah berakhir. Kamu yang buat semuanya berakhir, nggak ada alasan apapun lagi. Nggak ada sesuatu hal yang harus kita bicarain lagi. Seperti apa yang kamu bilang tadi siang, kamu udah punya Kak Alina, pun dengan sesuatu yang harus kamu jaga. Kamu….”
Almira membungkam mulutnya sendiri, ia tidak lagi sanggup berkata-kata.
“Al, maafin aku. Aku…”
“Cukup. Kesempatan kamu buat jelasin semuanya udan nggak ada. Aku minta kamu buat jelasin semuanya tadi, tapi kamu lebih memilih pergi sama Kak Alina. Dan sekarang, kamu repot-repot bawa aku ke sini cuma buat bilang maaf? Basi!”
Langkah Almira cepat, ia tidak ingin berlama-lama terjebak bersama Alvian yang hanya bisa termenung di sana.
Bersamaan dengan air mata yang kembali mengalir deras, Almira melangkah kembali ke kamarnya. Ia bahkan tidak sadar jika sejak tadi ada sosok lain yang mengamati keduanya dari balik tembok dengan air mata.
Alina. Wanita dengan gaun tidur berwarna merah muda itu menutup mulutnya sendiri. Air mata mengalir dari pelupuk.
Melihat bagaimana hancurnya sang adik, membuatnya seperti tertampar kenyataan akan kesalahan yang ia buat. Apalagi melihat Alvian yang juga terlihat begitu terluka sekarang, membuatnya kian sadar atas kesalahan apa yang sudah diperbuatnya.
***
Pagi datang menjelang. Almira masih terpekur di atas ranjang dengan posisi meringkuk layaknya udang.
Semalaman gadis itu tidak tidur, matanya tidak bisa terpejam meski untuk waktu sebentar. Hanya ada air mata yang terus menetes hingga rasanya matanya hampir kering.
Penampilan Almira sudah tidak lagi berbentuk. Rambut acak-acakan dengan mata bengkak akibat menangis semalaman, bahkan ia mengabaikan rasa lapar serta haus yang sudah ia rasakan sejak semalam.
Perlahan terdengar lagi suara ketukan pintu, disusul kemudian suara sang ibu yang memanggil namanya lirih.
“Almira, sayang. Buka pintunya, nak. Makanlah meski sesuap, ibu khawatir.”
Suara sang ibu terdengar lirih dan sedikit parau. Hati Almira seakan kian remuk mendengarnya.
Dengan berat hati pada akhirnya gadis itu beranjak, ia membuka pintu yang sejak semalam terkunci rapat.
Hati sang ibu mencelos begitu melihat bagaimana penampilan putri bungsunya itu. Nyonya Rani dengan cepat meletakkan nampan berisi makanan di atas laci terdekat dan memeluk sang putri erat.
Tangis dua wanita beda generasi itu terdengar begitu memilukan, seolah saling bersahut-sahutan dengan ritme begitu menyedihkan.
Membuat Alina yang duduk di kursi meja makan lantai satu hanya bisa terdiam sambil mengaduk-aduk makanan di depannya.
Alvian yang menyadari hal itu sontak mengelus pelan tangan sang istri. Rupanya hal sederhana itu mampu membuat Alina terperanjat karenanya.
“Makan, jangan diaduk terus,” kata pria itu lirih.
Alina hanya bisa tersenyum lirih. Bagaimana ia bisa menyantap makanan dengan tenang, jika ia mendengar sang ibu dan sang adik tengah menangis keras karena ulahnya.
“Memang seharusnya dari awal aku nggak baper sama perlakuan kamu.”
Alvian menghentikan kunyahan pada mulutnya. Ia menatap sang isteri dengan pandangan sulit diartikan.
“Harusnya aku tetap menjaga batasan aku sebagai seorang kakak. Seharusnya aku nggak terbawa perasaan dan bikin semuanya jadi serumit sekarang.”
Suara Alina mulai serak, ia menyuap sesendok nasi dengan air mata yang mulai turun perlahan.
“Seharusnya aku lebih bisa mengendalikan perasaan dan hati aku sendiri, seharusnya…”
Perkataan Alina tertahan saat Alvian dengan sigap beranjak dan memeluknya erat. Tangis wanita itu pecah, perasaan bersalah menggerogoti hatinya sampai yang paling dalam.
Ia merasa bersalah pada sang adik. Ia merasa menjadi manusia paling jahat di dunia.
***
“Maafin Ibu, sayang. Ibu lalai, sampai ini semua bisa terjadi,” kata Nyonya Rani menyalahkan dirinya sendiri.
Wanita dengan kerutan yang nampak jelas di wajahnya itu memukul-mukul d**a sebelah kiri. Ia menangis dengan keras sambil terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
Dengan gesit Almira menahan tangan sang ibu. Dengan air mata yang masih mengalir deras di pipinya, gadis itu menggeleng, meminta sang ibu agar tidak menyalahkan dirinya lagi.
“Nggak, bu. Ini bukan salah ibu. Memang mungkin ini cara Tuhan buat ngasih tahu siapa sebenarnya itu mas Alvian, dan mungkin juga ini sebagai cara buat Tuhan buat ngasih tahu Almira, kalau mas Alvian bukan jodoh Mira.”
Gadis itu berkata lirih, ia berusaha menguatkan sang ibu dikala hatinya sendiri sudah hancur lebur tidak berbentuk.
“Tapi kalau ibu tahu lebih dulu soal hubungan mereka, ini semua nggak bakalan terjadi. Ibu salah, Almira.”
Gadis itu menggeleng. Ia menggengam tangan sang ibu erat dan berkata.
“Nggak. Ibu nggak salah. Mau sebagaimana pun ibu berusaha, kalau memang nyatanya Mas Al jodohnya Kak Alina, Ibu bisa apa? Mau gimanapun Ibu menghalangi, nyatanya mereka juga bakalan tetap bersatu. Bukankah sekarang lebih baik, mereka menikah sebelum Almira menikah dengan Mas Al. Coba bayangkan kalau hal ini terjadi setelah pernikahan Mira dan Mas Al benar-benar terjadi? Almira nggak bisa bayangin hal itu, Bu.”
Keduanya kembali menangis. Di depan sang Ibu, Almira mencoba terlihat kuat.
Ia hanya tidak ingin wanita yang sudah melahirkannya itu kian stress memikirkan nasibnya kini.
“Almira nggak papa, Bu. InsyaAllah, Almira ikhlas.”
Pelukan keduanya terlepas. Si gadis muda menunduk sejenak, ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Ditatapnya kedua mata sang ibu lekat.
“Almira ikhlas kalau Mas Al udah jadi milik Kak Alina. Tapi… ada satu permintaan dari Mira ke Ibu. Tolong Ibu rahasiakan ini dari siapapun.”
“Apa sayang?”
“Almira mau ke luar kota, besok. Almira pengen menata hidup seperti dulu lagi. Mira pengen sembuhin luka hati Mira sendiri. Rasanya Mira nggak bakal sanggup kalau terus di sini dan ngelihat interaksi Mas Al dan Kak Alina.”
Sang Ibu dengan cepat memeluk putri bungsunya itu. Wanita itu mengangguk, mengiayakan permintaan putrinya itu.
“Iya, Ibu izinin kamu pergi.”