MJM-03

1860 Words
Sepulang sekolah adalah hal yang ditakuti empat anak laki-laki itu. Setiap hari, Eira akan mengecek nilai yang didapati para putranya. Jika tidak mendapati nilai seratus atau sembilan puluh, mereka akan dihukum. Tidak boleh makan sebelum belajar penuh hingga sore hari. Lalu, Eira akan memantau langsung mereka semua. Membuat Edzard dan ketiga adiknya tak bisa meninggalkan meja belajar. Mereka terus memohon untuk mengisi perut, tetapi Eira sama sekali tak mengizinkan. Tak segan, wanita itu memukul anak-anaknya menggunakan tongkat. "Mommy, Elan laper..." rengeknya yang merasa sangat kelaparan. Mata Eira memerah. Ia menyeret putra keempatnya menuju ruangan yang biasa digunakan untuk menghukum anak-anaknya. Di ruangan itu, terdapat berbagai macam benda-benda yang pernah mendarat di setiap bagian tubuh keempat anak laki-lakinya. Eira tak pernah menyeret Emmanuel. Karena dia terus bersama pengasuhnya. Bisa dikatakan jika setiap hari Emmanuel selalu bersama Ega dan yang lain. Eira sama sekali tak mau bertemu atau bahkan menyentuhnya. Elan tersungkur di lantai. Tubuhnya sudah menggigil ketakutan. Edzard dan dua adiknya menyusul dengan cepat. Tepat saat sebuah tongkat diangkat ke udara, Edzard langsung berlari dan melindungi adik ketiganya. Ia memekik kesakitan ketika tongkat kayu mendarat di bagian punggungnya. "Arkh!!" pekik Edzard semakin mengeratkan pelukan. Elan sudah menangis histeris. Ia menatap wajah kakak sulungnya dengan tatapan sendu. Karena dirinya, Edzard mendapatkan pukulan yang menyakitkan. "Abaangg!!" teriak Ezra dan Eidlan bersamaan. Eira menggemakan tawa. Ia menatap mereka satu per satu dengan tajam. Tanpa berpikir panjang, dirinya menjatuhkan tongkat kayu dan menarik dua anaknya yang lain. Senyuman smirk muncul di wajah cantiknya. Eira terlihat sangat mengerikan. Tinggal menghitung detik, mereka semua akan merasakan pedihnya penyiksaan sang mommy. Eira semakin menjadi. Mereka semua berteriak keras. Merintih dan memohon pada wanita itu untuk mengakhiri siksaan hari ini. Namun, tak diindahkan oleh Eira yang menatap penuh dendam ke arah Ezra. Ezra yang ditatap tak segan membalas tatapannya. Ia tidak takut pada wanita berparas malaikat berhati iblis tersebut. "Kau!" pekik Eira mencengkeram dagu putra keduanya. "Aku sangat membenci wajahmu yang persis seperti b******n itu!! Aku, aku ingin kau mati! Kemari kau!" Ezra menepis kasar tangannya dan berlari menjauh. Eira menggila. Ia mengambil sebilah pisau dari dalam laci dan berjalan mendekatinya. Edzard dengan sepenuh kekuatan berusaha menghentikan langkah Eira, tetapi ia jatuh tersungkur akibat dorongan kuat darinya. "Kemari kau, anak sialan!" teriak Eira dengan napas memburu. Ezra tersenyum sinis."Kau mau membunuhku?! Dasar wanita iblis! Aku sangat menyesal lahir dari dalam rahimmu!!" "KAU—" Eira menunjuk wajahnya menggunakan pisau tersebut. Ezra menjatuhkan guci berharga milik Eira. Ia sengaja melakukannya karena sudah habis kesabaran menghadapi wanita itu. Mereka ingin pergi, tetapi ancaman-ancaman yang pernah dikatakan Eira membuat rencana tersebut terkubur dalam-dalam. "KURANG AJAR KAU!!!" amuknya yang kemudian menusuk perut Ezra menggunakan pisau. "Tidaaakkkk!!!!" teriak Eleana terbangun dari tidurnya. Napasnya tersengal-sengal dan keringat membanjiri pelipisnya. Kemudian, ia berlari keluar kamar. Menuruni undakan tangga dengan tergesa-gesa. Hanya Ezra tujuannya saat ini. Apa yang baru saja ia impikan terasa begitu nyata. Eleana menyangka jika mimpi tersebut adalah sebuah petunjuk untuk menguak misteri novel ini. Bagaimanapun juga, ia tidak tahu konflik-konflik yang terjadi di keluarga Eira. "Ezra! Ezra! Buka pintunya, Nak!!" Eleana terus menggedor-gedor pintu kamar berwarna hitam itu. Ia merasa sangat khawatir pada anak laki-laki yang selalu menampilkan wajah datarnya. "Ezra!" teriak Eleana putus asa. Di pagi ini Eleana telah membuat keributan hingga membuat para asisten rumah tangga yang tengah bekerja bergegas menghampiri. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, namun kekhawatiran jelas tercetak di wajahnya yang pucat. "Nyonya," panggil salah satu dari mereka. "Di mana Ezra?" tanya menatap sang asisten rumah tangga. Merasa tidak berani menatap wajah nyonya rumah ini, ia pun menundukkan kepalanya dalam-dalam. "A—Anu Nyonya, semua Aden sudah berangkat ke sekolah." "Sekolah? Sekarang, sekarang jam berapa, Bi?" Eleana mengedarkan pandangannya ke sekitar. Berusaha mencari jam dinding yang akan memberitahunya pukul berapa sekarang. Ia tercengang melihat jam yang menunjukkan pukul 05.30 WIB dan anak-anaknya sudah pergi ke sekolah? Eleana memejamkan matanya sesaat, lalu menoleh ke arah sang asisten rumah tangga. "Bi! Sekarang masih jam setengah enam! Kenapa anak-anak udah berangkat? Terus mereka udah sarapan?" Bi Ela tergopoh-gopoh mendekati sang nyonya. Wanita paruh baya itu baru selesai menyapu halaman rumah dan dikejutkan oleh teriakan Eleana yang menggema. "Nyonya! Nyonya yang tenang dulu. Para Aden sudah terbiasa berjalan kaki ke sekolah. Ada Ega yang menemani mereka." 'Eira! Lo keterlaluan banget sih! Kalo gue jadi anak lo, gue lebih milih pergi dari dunia ini daripada dapet siksaan terus dari lo!' benaknya mengutuk wanita berhati iblis itu. Kepala Eleana terasa pusing. Tangannya terulur memijit pelipisnya. Perlahan, ia merebahkan tubuhnya di sofa. Merasakan pijatan lain di kepalanya. Dari semua pekerja, hanya Bi Ela yang berani mendekatinya. Para pekerja lain terlihat begitu segan pada nyonya rumah ini. Mereka memilih untuk tidak terlibat langsung dengannya. Karena Eira sangat menakutkan. Wanita itu selalu menunjukkan wajah datar nan dingin. Bahkan, orang-orang disekitarnya, menyebut Eira sebagai manusia tanpa ekspresi. "Bi, mulai besok antar anak-anak pake mobil. Saya nggak mau mereka jalan kaki lagi," titah Eleana membuat Bi Ela tercengang. Beberapa pekerja yang mendengarnya, sontak langsung menghentikan pekerjaan dan melirik ke arah sang nyonya yang memejamkan mata. Bi Ela menganggukkan kepalanya. "Ba-baik Nyonya." "Terus, nanti jemput mereka pulang. Saya mau istirahat di kamar." Eleana melangkah menuju kamar. Meninggalkan Bi Ela yang mengembangkan senyum di wajahnya. *** Setibanya di kamar, Eleana disiksa oleh rasa mual dan pusing. Wanita itu terus muntah-muntah. Tubuhnya terasa sangat lemas. Dengan langkah tertatih, ia menuju kasur berukuran besar itu dan mendudukkan diri di pinggiran kasur. "Hiks... Kenapa gue harus ngerasain morning sickness sih?" gerutu Eleana yang tak bisa membendung air matanya. "Gue masih perawan... Gue belum pernah diapa-apain. Tapi kenapa gue hamil? Kenapa gue harus menempati tubuh ini? Eira setan! Pergi kemana lo!" keluhnya seraya mengusap jejak air mata yang mengalir di pipinya. Tangisan Eleana terhenti karena merasakan gejolak di perutnya. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan kembali memuntahkan cairan. Sungguh, ia merasa iba. Seharusnya di kondisi seperti ini ada sesosok suami yang memijit tengkuk lehernya, jika tidak membawakan air hangat untuknya. "Erland edan! Gue bakal bales dendam sama lo!!" ucap Eleana penuh dengan kesungguhan. Siang harinya, Eleana menikmati buah-buahan di ruang tengah. Menjadi orang sekaya Eira adalah anugerah Tuhan yang patut disyukurinya. Ia tak perlu lagi bersusah payah mencari pundi-pundi rupiah karena Erland selalu mengirimkan banyak uang untuk kehidupan mereka. Eleana mengetahuinya, karena Bi Ela menceritakan kehidupan keluarga ini. Termasuk kabar yang membuatnya tak sabar ingin membalas dendam. Bi Ela mengatakan jika Erland akan pulang ke rumah dalam waktu dekat dan Eleana tak sabar menantikannya. Ia mengingat segala jenis penyiksaan dari novel-novel yang dibacanya mengenai psikopat. "Tuan Erland terhormat, tunggu pembalasan dendam dari gue. Eira, lo tenang aja. Gue bakal buat hidup b******n itu tersiksa, hahaha!" Tawa Eleana menggema membuat mereka yang mendengar langsung bergidik. Mereka harap, sang nyonya tidak kembali jahat. "Mommy!" teriak anak laki-laki yang baru saja tiba di rumah. Eleana mengulum senyum dan merentangkan kedua tangannya—menyambut kedatangan Emmanuel yang disusul oleh Ega. "Nuel belajar apa saja di sekolah?" "Banyak, Mom. Tapi, Nuel laper." Emmanuel tersenyum lebar saat Eleana mendudukkan dirinya di atas pangkuan. Eleana terkekeh. "Ya sudah, Nuel ganti baju dulu ya? Terus makan. Mommy tunggu di sini." "Tidak mau. Ayo, Mommy ikut Nuel ganti baju!" serunya memasang wajah cemberut. "Oke." Eleana menyerah dan menuntunnya ke kamar. Saat ini, ia akan menikmati perannya sebagai ibu beranak lima. Tidak melainkan enam dengan calon buah hati yang tengah dikandungnya. Selesai berganti pakaian, keduanya melangkah menuju ruang makan. Eleana keheranan melihat pengasuh Emmanuel yang terlihat begitu gelisah. "Ega, ada apa?" Ega menggigit bibir bawahnya. Ia merasa takut untuk menyampaikan sesuatu hal yang menyangkut tuan muda kedua rumah ini. "A-anu, Nyonya, tadi saya dapat telepon dari sekolahnya Aden Ezra, katanya Aden Ezra berkelahi di sekolah, Nyonya." "Kenapa nggak bilang dari tadi, Ega!" bentak Eleana yang hilang kendali. Wanita itu mengkhawatirkan Ezra. Apalagi dengan mimpinya semalam. Emmanuel beringsut mundur. Ia ketakutan akan kemurkaannya. Kejadian-kejadian di masa lalu, membuatnya sangat trauma jika sang mommy berbicara dengan nada tinggi seperti itu. "Maafkan saya, Nyonya." Ega menundukkan kepala, merasa bersalah. "Nuel mau ikut Mommy ke sekolah Abang atau di rumah?" tanyanya sambil berjongkok, kemudian menggenggam erat tangan mungil tersebut. Eleana tersadar, jika putra kecilnya ketakutan. "Maafkan Mommy sudah buat Nuel takut. Mommy janji nggak akan marah-marah lagi. Tadi itu, Mommy refleks. Nuel mau, kan maafin Mommy?" Emmanuel mengangguk pelan. "Mommy siap-siap dulu ya, Sayang." Eleana berlari kecil menaiki undakan tangga menuju kamarnya. Emmanuel memandang kepergian sang Mommy. Ia mengerucutkan bibir karena tak jadi makan siang. Ega yang mengetahui jika tuan mudanya kelaparan, langsung menyiapkan makanan ke dalam kotak bekal. Tak lupa, gadis itu juga menyiapkan sebotol air. Melihat pengasuhnya yang begitu pengertian, membuat senyum Emmanuel mengembang. "Ega, kamu ikut saya ke sekolah," titah Eleana yang diangguki olehnya. "Ayo, Den!" serunya yang langsung menggandeng tangan Emmanuel dan menyusul Eleana yang berjalan lebih dulu. Wanita itu terlihat sangat tergesa-gesa. Emmanuel yang merasa lapar lebih memilih menghabiskan makanannya dengan disuapi. Eleana-lah yang melakukannya. Meskipun, ia mengkhawatirkan Ezra, dirinya tak bisa begitu saja mengabaikan Emmanuel. Selama perjalanan, Eleana terfokus menyuapi putranya. Tiba di sekolah, Eleana berdiri di samping gerbang. Ditemani oleh tangan kanan Erland yang ikut mencari tuan mudanya di dalam gerombolan anak-anak sekolah yang berbondong-bondong keluar. Edward ditugaskan oleh Erland untuk melaporkan segala hal yang dilakukan sang nyonya, tak pernah melihatnya cemas seperti itu. Apakah, Tuhan telah berbaik hati dengan melembutkan hati Nyonya Eira? Ia harap iya, karena semua pekerja merasa tak tega dengan anak-anak yang selalu mendapat siksaan. Suasana sekolah mulai sepi, tetapi anak-anaknya tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Eleana merasa lelah karena berdiri terlalu lama. Ia menoleh ke arah lelaki di sebelahnya. Sejenak, Eleana terhanyut mengamati wajah Edward yang kelewat tampan. Bagaimana bisa, orang setampan dirinya bekerja sebagai bawahan pria tak berperasaan seperti Erland? "Edward?" panggilnya menoleh ke arah Edward yang enggan menatapnya. "Iya, Nyonya?" Edward menundukkan kepala, tak berani bersitatap dengan istri tuannya. Eleana mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia menjadi salah tingkah karena pertanyaan yang akan dilontarkannya. "Apa kamu sudah memiliki kekasih?" "Tidak," jawab Edward sedikit terkejut atas pertanyaan wanita tersebut. Segurat senyuman terbit di wajah cantiknya. Eleana tak akan membuang kesempatan ini begitu saja. "Bolehkah aku meminjam lengan dan bahumu? Aku lelah, aku ingin bersandar." Edward kelabakan. Lelaki itu tak memiliki keberanian untuk bersentuhan dengan sang nyonya. Ia takut akan kemarahan Tuan Erland. "Ti-tidak, ma-maksudku, aku akan mencari kursi untuk Nyonya duduk." "Aku tidak ingin duduk di kursi, Edward." Eleana mengelus perutnya yang rata. Ia yakin, alasan yang digunakannya pasti membuat Edward tak bisa mengelak. "Ini, keinginan bayiku. Apa kau mau, bayiku ileran?" "Tidak, Nyonya!" serunya yang tak mau mengambil risiko jika hal itu benar-benar terjadi. Eleana mengangkat sebelah alis dengan senyum tertahan. "Jadi?" "Ba-baiklah," ucap Edward mengalah. Ia membiarkan istri tuannya melakukan hal yang diinginkannya. Di dalam hati, Eleana bersorak kegirangan. Seumur hidupnya, ia tak pernah dekat dengan lawan jenis. Dan sekarang, ia bisa memeluk lengan kekar seorang lelaki, bahkan menyandarkan kepala di bahunya. Berbeda dengan reaksi Eleana, Edward justru merasa ketakutan setengah mati. Lelaki itu terus mengedarkan pandangannya ke sekitar. Berusaha meyakinkan diri, bahwa tuannya tak akan muncul tiba-tiba. Sayangnya, apa yang diharapkan Edward tidak terjadi. Seseorang menarik lengan Eleana dengan kasar. Membuat wanita berbadan dua itu menabrak d**a bidangnya. Eleana jatuh ke dalam pelukan pria yang tak dikenalnya. "Eira, apa kau berselingkuh dengannya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD