MJM-02

1584 Words
"Semua ini gara-gara, lo, Ellen! Gue nggak mau lagi denger review novel yang lo baca, hiks... Kenapa gue ada di sini sih? Terus, gimana nasib keluarga gue, karena gue tiba-tiba ilang? Apa nyawa gue dicabut di toilet dan hidup di sini?" pekik Eleana meluapkan rasa kesal atas nasib buruk yang menimpanya. Setelah puas menangis, Eleana pun keluar. Ia terkejut melihat semua anak-anaknya terduduk dan sedang menatap ke arahnya. Sejenak, ia mengutuk penulis tidak waras itu yang telah menciptakan tokoh Eira, si jahat. Anak-anak Eira sangatlah tampan dan bersih. Meski, terdapat beberapa bekas luka di lengan dan kaki mereka. Walaupun Ellen menceritakan novel tersebut secara garis besar, tetapi Eleana dapat membayangkan siksaan dan hukuman yang tidak manusiawi. Anehnya, mengapa mereka masih ingin berada di dekatnya? Ah, ia terlupa. Jika kelima anak itu hanya memilikinya, sebagai mommy mereka. Erland—si ayah hanya akan kembali ke rumah untuk menghamili istrinya. Dan sekarang, Eleana-lah yang menjadi istri Erland. 'Eira, lo kuat banget sih, hamil dan melahirkan lima anak dan sekarang gue yang hamil anak keenam lo!' benak Eleana. "Kalian udah makan?" tanyanya membuat mereka semua terkejut. Masih dalam rasa keterkejutan, Edzard dan adik-adiknya berusaha menjawab pertanyaan dari wanita yang melahirkan mereka. "Su-sudah." Pandangan Eleana teralih pada Emmanuel yang tertidur di sofa. Semua kakak-kakaknya duduk di atas lantai. Entah kemana perginya, Bi Ela dan pengasuh Emmanuel. "Em... Bisa pindahin Nuel ke sana nggak?" ucap Eleana menunjuk brankar yang menjadi tempat tidurnya. "Mo-Mommy masih lemas," lanjutnya ketika tak ada pergerakan dari mereka. "E-Edzard?" Edzard terkesiap. Ia mendongak—menatap sang mommy yang untuk pertama kali memanggil namanya. "I-iya," jawabnya langsung membopong tubuh Emmanuel dan memindahkannya ke atas brankar. Eleana tersenyum. Ia dapat merasakan, jika mereka sangat mengharapkan kasih sayang Eira yang menjadi ibu mereka. Sekarang, ia akan mengambil alih semuanya. Menjadi ibu yang baik, demi terhindar dari rencana pembunuhan di kemudian hari. "Sini duduk di sebelah, Mommy." Eleana mendudukkan diri di bagian tengah sofa panjang, lalu melambaikan tangan pada dua anak laki-laki kembar. "Benaran?" tanya Elan menatap takut ke arahnya. "Iya, Sayang. Ayo sini, duduk sama Mommy!" seru Eleana merasa gemas sendiri. Senyum terbit di wajah mereka. Eidlan dan Elan langsung duduk di sebelah Eleana. Seolah keduanya terlupa akan sikap jahat yang dilakukan Eira selama ini. Berbeda dengan dua adiknya, Ezra masih diam ditempat. Anak laki-laki itu menatap tajam ke arahnya. Seperti mewanti-wanti jika hal buruk akan menimpa adik kembarnya. "Ezra? Ayo sini, duduk! Edzard juga sini!" Eleana tersenyum hangat dan melambaikan tangan ke arah anak pertama dan anak kedua Eira. "Mommy ingat nama kita? Dokter bilang, Mommy hilang ingatan." Eidlan menatap lekat manik mata Eleana. "Em... Tadi Bibi yang kasih tau," sahutnya yang diangguki oleh mereka. Untungnya, Eleana mengingat nama lima anak laki-laki yang dikenalkan oleh Bi Ela pada saat mengganti pakaian. Jika tidak, pasti dirinya akan kebingungan. Membedakan lima anak itu sangatlah mudah. Edzard adalah anak terbesar, lalu disusul oleh Ezra dan si kembar, kemudian Emmanuel yang gagal menjadi bungsu. "Ezra, sini duduk disebelah Elan," ujar Eleana ketika anak kedua Eira hendak duduk disebelah kakak sulungnya. Dengan malas, Ezra menuruti. Ia dan Edzard hanya terdiam mendengar celotehan si kembar dan sesekali mommy mereka menimpali. Rasanya sangat janggal, ketika wanita itu bersikap lembut. Tidak seperti biasanya, yang selalu bersikap layaknya seorang iblis. "Mommy, Mommy!" panggil Elan membuat Eleana menatap ke arahnya. Eleana mengangkat sebelah alisnya. "Iya, Sayang?" "Elan sayang Mommy!" ucap Elan tersenyum lebar. "Mommy juga sayang Elan, dan kalian semua!" Eleana menatap keempat anak Eira bergantian. Ia menarik sudut bibir melihat raut ceria di wajah si kembar. Elan memeluk erat tubuhnya. Perasaan takut sudah tidak lagi menyelimuti mereka. Raut wajah dan nada bicara sang mommy benar-benar berubah. Tidak ada lagi, mommy yang menyeramkan dan mengerikan. Senyuman di wajah si kembar semakin melebar saat mendapati kecupan singkat di kening mereka. Eleana yang tak mau pilih kasih pun, menarik kepala dua anaknya yang lain dan mengecup kening mereka juga. Ia terkekeh melihat Edzard yang tersenyum tipis, sangat tipis. Lagi-lagi, hanya Ezra yang menampilkan wajah datarnya. "Bi Ela kemana?" tanya Eleana sambil merapihkan rambut si kembar. Eidlan dan Elan semakin merapatkan tubuh pada sang mommy. Karena untuk pertama kalinya, mereka dapat merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu. "Pulang sama Mbak Ega untuk menyiapkan makan siang," jawab Eidlan. "Oh gitu." Eleana menggigit bibir bawahnya. Sungguh, ia merasa tak nyaman dengan sikap Ezra yang tak acuh padanya. Haruskah, ia memulai mendekatinya? Namun, yang berbahaya adalah Edzard. Anak itu yang akan merencanakan pembunuhan kepadanya. Lalu, mengapa ia merasa jika Ezra-lah yang berbahaya? "Ezra," panggilnya yang tidak mendapat respon apapun. "Ezra kenapa? Ezra benci ya, sama Mommy?" tanya Eleana menatap sendu ke arahnya. Ezra tidak menjawab. Eleana bisa dengan jelas melihat kemarahan yang kentara di wajahnya. Kemudian, anak laki-laki itu pergi meninggalkan mereka semua. Membuat Eleana merasa kebingungan. Ia tidak tahu permasalahan yang terjadi di keluarga ini. "Ezra!!" teriak Edzard berlari menyusul. "Kak Ezra memang seperti itu, Mom. Orangnya aneh!" celetuk Elan tiba-tiba. Eleana mengangguk. Ia mencubit gemas pipi si kembar yang kemerahan. Semua anak-anak Eira adalah bibit unggul. Eleana mengakui, jika tubuh yang ditempatinya memang sangat ideal dan seksi. Wajah Eira pun masih terlihat muda dan cantik tentunya. "Oh iya, kalian sudah sekolah, 'kan?" tanyanya yang menduga jika semua anaknya sudah bersekolah. "Iya Mommy. Eidlan sama Elan baru kelas satu. Kalo Bang Edzard kelas enam, terus Kak Ezra kelas lima, dan Nuel masih TK," jelas Eidlan menatap wajah cantik sang mommy. "Elan, Eidlan, Mommy mau minta maaf, ya. Mommy merasa jika Mommy memiliki banyak kesalahan terhadap kalian." Eleana akan memulai semuanya dari awal. Kabar yang didapatkan dari dokter yang mengatakannya hilang ingatan adalah awal dari segalanya. Dia tidak perlu susah payah mencari tahu tentang kehidupan Eira. Karena orang-orang akan mengetahuinya sebagai Eira yang amnesia. "Kami memaafkan Mommy. Tapi Mommy harus janji akan menyayangi kami semua." Elan menatap lekat wajah sang Mommy. Eleana mengulum senyum dan mengangguk. "Iya, Mommy janji." *** Di malam harinya, Eleana memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia tidak bisa membiarkan anak-anaknya terus berada di rumah sakit. Dalam perjalanan pulang, Emmanuel tak mau jauh darinya. Bermula dari menggendongnya hingga memangku tubuh mungil itu hingga tiba di rumah. Eleana mengesampingkan rasa lelahnya. Mungkin karena ia tengah berbadan dua, membuatnya cepat merasa kelelahan. "Nuel, turun dulu ya, Nak." Emmanuel menggelengkan kepalanya. Eleana hanya bisa menghela napas. Wanita itu turun dari dalam mobil sambil menggendong tubuh putra kelimanya. "Mom, sini gantian gendong Nuel-nya," tawar Edzard merasa tak tega. "Makasih ya, Bang." Eleana tersenyum dan mengangguk. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Edzard. Si kembar yang melihatnya, sedikit merasa iri. Lain halnya dengan Ezra yang langsung masuk ke dalam rumah. "Ya ampun, kenapa wajah anak kembar Mommy ini?" pekik Eleana menyadari wajah masam si kembar. "Sini-sini, Mommy cium!" lanjutnya seraya mencium pipi mereka. Tanpa sadar, Edzard menarik sudut bibirnya. Sejak dulu, pemandangan itu yang ia impikan. Tak apa, jika dirinya tidak diperhatikan lebih. Yang terpenting, adik-adiknya merasa bahagia. "Abang mau Mommy cium juga?" tanya Eleana membuat lamunannya membuyar. "Eh—" Belum juga ia menjawab, tetapi sang mommy lebih dulu menciumnya. "Ya udah yuk, kita masuk," ajak Eleana merangkul ketiga anaknya. "Mbak, tolong bawa Nuel ke kamar, ya!" titahnya pada pengasuh Emmanuel yang baru saja muncul. Sejenak, Eleana merasa takjub. Ada banyak pekerja yang bekerja di rumah mewah ini dan semuanya berada di halaman rumah, menyambut kedatangan mereka. "Baik, Nyonya," jawab Ega langsung mengambil alih Emmanuel dari gendongan kakaknya. "Tangannya pegel ya, Bang? Mau Mommy pijitin?" tawarnya berbisik. Eleana menyadari jika putra sulung Eira merasa pegal pada bagian tangannya. Karena bobot tubuh Emmanuel yang berat. Sayangnya, Edzard menolak tawarannya tersebut. Anak laki-laki itu memandang tak percaya pada wanita yang setiap hari memberi siksaan pada mereka. Perubahan Eira yang sebenarnya adalah Eleana terasa sangat mengejutkan. Para pekerja pun sama terkejutnya. Selama mereka semua bekerja, tak pernah sang nyonya menunjukkan sikap lembut atau perhatian pada anak-anaknya. Namun sekarang berbeda, mereka merasa jika nyonya rumah ini seperti terlahir kembali dalam kepribadian yang lain. Eleana diantar oleh Bi Ela ke kamar milik Eira. Ia menggelengkan kepala melihat besar kamar yang dua kali lipat dari kamar miliknya. Tanpa membuang waktu, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Baru satu hari di dunia ini, rasanya begitu melelahkan. Seketika, Eleana teringat akan janin yang ada di perutnya. "Len, kalo lo ada di sini, kayaknya lo bakal ngetawain gue," ucap Eleana yang merindukan sesosok Ellen. Sahabat satu-satunya yang ia miliki. "Gue hamil anaknya si Erland, Len. Gue, gue terdampar di sini dan menempati posisi Eira," lanjutnya tanpa sadar menitikkan air mata. Eleana meratapi nasibnya yang malang. Mendengar suara bantingan barang-barang yang berasal dari lantai bawah membuatnya terpaksa bangkit. Eleana berjalan menghampiri salah satu kamar yang berjejeran. Samar-samar, ia mendengar teriakan yang menyuruh si pelaku untuk diam. Rumah ini terlalu besar, hingga para pekerja tak mendengarnya. Lebih tepatnya, para pekerja berada di bagian lain rumah ini. "Ezra, berhenti!" teriak Edzard berusaha menghentikan aksi adiknya. "Ezraa!!" teriak Eleana setelah membuka pintu dan melihat suasana kamar putra kedua Eira yang begitu berantakan. Semua barang-barang sudah hancur tak berbentuk. Wanita itu hanya mengkhawatirkan kondisi Ezra. Sehingga, ia pun melangkah lebar mendekatinya dan tak memperhatikan pecahan kaca yang berserakan di lantai. Eleana meringis merasakan sakit pada telapak kakinya. Ia membeku melihat darah yang mengalir deras. Lalu ditatapnya wajah Ezra yang datar dan wajah Edzard yang khawatir. Eleana mengulum senyum. Mencoba meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, di detik berikutnya ia merasa sangat pening. Kejadian yang sekarang terjadi, seperti mengingatkannya pada kejadian yang lain. Pandangan Eleana mengabur dan telinganya berdenging. Ia mencoba mencari benda yang bisa digunakannya sebagai sanggahan, tetapi tak menemukan. Edzard memekik keras ketika Eleana jatuh tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD