Eleana membuka matanya perlahan. Ia mengangkat satu tangan untuk menutupi matanya yang terasa silau karena sinar matahari pagi yang masuk melalui celah-celah jendela. Sejenak, Eleana merasa bingung. Bagaimana bisa, dirinya berada di rumah sakit dan luka di kepalanya? Eleana mengingat jelas, jika dirinya berada di toilet restoran. Kalaupun ia tak sadarkan diri, seharusnya Ellen membawanya pulang. Bukan ke rumah sakit, lalu apa yang membuat kepalanya terluka hingga di perban seperti ini?
Suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian Eleana. Gadis itu mengerutkan kening melihat wanita paruh baya yang berlari menghampirinya. Terlihat, raut khawatir di wajah wanita tersebut. Namun, tak mungkin jika mengkhawatirkan dirinya bukan? Eleana saja merasa jika mereka tak saling kenal.
"Nyonya! Nyonya sudah sadar?" tanyanya menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk mata.
Kening Eleana mengerut. "Nyonya?"
"Bibi panggilkan dokter dulu ya, Nya." Wanita yang memanggil dirinya sendiri sebagai 'bibi' melangkahkan kakinya keluar. Meninggalkan Eleana yang semakin dilanda kebingungan.
"Bibi? Perasaan gue nggak punya Bibi kek dia deh. Terus kenapa dia manggil gue Nyonya? Biasanya juga gue dipanggil Nona Eleana," seloroh Eleana kembali mengingat-ingat wajah para bibi yang dimilikinya.
Wanita itu kembali bersamaan dengan sang dokter dan lima anak laki-laki, serta seorang gadis yang diduganya adalah pengasuh. Eleana menelisik wajah mereka satu per satu. Membuat lima anak tersebut ketakutan. Kentara sekali dari tubuh mereka yang mulai gemetaran.
"Mommy!" teriak anak laki-laki berusia sekitar lima tahun itu.
Eleana menatap tajam anak laki-laki yang berada di dalam gendongan gadis yang menjadi pelindung bagi mereka. Keempat anak laki-laki bersembunyi di balik tubuh gadis tersebut.
"Mommy?" gumamnya seraya menatap ke segala arah. Ia mengira, jika ada orang lain di sini hingga anak manis tersebut berteriak memanggil mommy.
"Maafkan Den Nuel, Nyonya. Mereka semua memaksa masuk ingin melihat keadaan Nyonya Eira," ujar wanita yang sudah lama mengabdi kepadanya.
"Tunggu, siapa yang kamu panggil Eira? Dan, Nuel? Siapa dia?" tanya Eleana kebingungan.
"Nyonya, mohon tenang. Saya akan memeriksa kondisi Nyonya terlebih dahulu," ucap dokter berusaha menenangkan.
Mata Eleana tak lepas dari mereka. Apalagi, Emmanuel yang terus berusaha turun dari gendongan pengasuhnya. Anak laki-laki itu seperti tak merasa jika ada bahaya yang mengintainya. Tidak seperti keempat kakaknya yang memilih menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Takut akan kemarahan sang mommy yang bisa meledak kapan saja.
"Mommy! Mommy!" teriak Emmanuel berhasil meloloskan diri dan berlari mendekati Eleana yang baru saja selesai diperiksa oleh dokter.
Satu langkah lagi Emmanuel akan sampai, tetapi bibi Ela menghentikannya. Wanita itu mencegah apa yang akan terjadi pada tuan mudanya jika menganggu sang nyonya.
"Nuel mau Mommy! Lepaskan Nuel, Bibi!!" teriaknya membuat kepala Eleana berdenyut. Sejak dulu, gadis itu tak menyukai kebisingan yang dibuat oleh anak-anak.
"Biarkan saja." Mata Eleana terpejam sesaat, kemudian menatap anak laki-laki yang sangat menggemaskan dengan pipi kemerahannya.
Semua orang saling memandang. Bibi Ela yang masih dalam keterkejutannya pun melepas Emmanuel. Anak laki-laki itu berdiri tepat di samping kanan brankar yang ditiduri oleh Eleana. Diam-diam, keempat anak laki-laki yang lain memperhatikannya. Seperti mewanti-wanti hal yang akan menimpa adik bungsu mereka.
"Mommy tidak apa-apa?" tanyanya takut-takut.
"Mommy? Aku Mommy kamu?" Bukannya menjawab, Eleana malah berbalik bertanya. Mendapat anggukan kepala darinya, membuat tubuh Eleana menegang. Ia mengulurkan tangannya, membelai setiap bagian wajah Emmanuel. Eleana harap, ini adalah mimpi. Dan bocah menggemaskan itu hanya halusinasinya saja.
"Iya, Mommy 'kan, Mommy-nya Nuel, Bang Edzard, Kak Eidlan, Kak Elan, dan Kak Ezra." Emmanuel menghitung jarinya seraya menyebutkan nama keempat kakak laki-lakinya.
Tunggu, Edzard? Eleana merasa tak asing dengan nama tersebut. Sejenak berpikir, ia pun mendapati jawabannya. Edzard adalah salah satu tokoh dari novel yang direview oleh Ellen. Sekarang ia mengingatnya. Jika Eira juga adalah tokoh novel tersebut, lebih tepatnya tokoh utama wanita. Tidak, tidak mungkin ia berada di dunia novel!
"Pergi! Kalian semua pergi dari sini!!" usir Eleana dengan napas memburu.
Edzard, anak laki-laki yang beranjak remaja itu langsung menggendong adik bungsunya. Kemudian, mereka semua keluar ruangan.
"Kapan tuan Erland akan tiba?" tanya dokter menatap mereka satu per satu.
Bi Ela menundukkan kepala. "Tuan Erland sedang sibuk, Dokter."
"Dokter bisa mengatakan kondisi mommy pada kami," desak Edzard menatap tajam pria berjas putih itu.
"Baiklah. Sepertinya, Nyonya Eira hilang ingatan. Luka di kepalanya cukup parah, hingga—" Ucapan dokter terpotong oleh kedatangan suster yang terlihat tergesa-gesa.
Edzard dan adik-adiknya duduk di kursi tunggu. Mereka menatap lurus ke depan. Menerawang kejadian yang sama sekali tak diharapkan. Hingga menyebabkan sang mommy kehilangan ingatan.
"Bang, mommy benaran hilang ingatan?" tanya Eidlan yang memiliki kembaran bernama Elan.
"Berarti, mommy tidak akan siksa kami lagi 'kan, Bang?" tanya Elan memastikan.
"Semoga aja," sahut Edzard tak acuh.
"Kalau ingatan mommy kembali bagaimana? Apa mommy akan siksa dan hukum kami lagi?" Ezra menatap kakak dan dua adiknya bergantian.
Mendengar suara orang muntah dari dalam ruangan membuat Bi Ela bergegas masuk, disusul oleh yang lainnya. Mereka tak berani mendekati Eleana yang tengah membersihkan mulutnya dengan punggung tangan. Gadis itu terlihat begitu pucat.
"Bibi bersihkan dulu ya, Nya," ucapnya segera membersihkan muntahan Eleana di lantai.
"Jangan ke sini!" pekik Eleana ketika Emmanuel hendak berlari ke arahnya.
Eleana menggigit bibir bawahnya. Ia telah membuat mereka semua ketakutan. Terlebih Emmanuel. Bocah itu langsung berkaca-kaca. "Jangan nangis, ya, ganteng! Nuel manis liat 'kan kalo di sini ada muntahan?" Emmanuel mengangguk pelan. "Jadi, tunggu Bibi bersihin semuanya, baru boleh ke sini, ya!"
Untuk pertama kalinya, Eleana berbicara lembut. Sekarang, ia sudah menerima takdirnya yang terdampar di dunia antah-berantah ini.
"Bang, itu benaran Mommy?" tanya Elan berbisik membuat Eleana ingin tertawa. Karena suara anak laki-laki itu mampu didengar dalam satu ruangan ini.
"Aden, Bibi mau mengganti pakaian Nyonya Eira," ucap Bi Ela kepada kelima tuan mudanya.
Setelah kepergian mereka, Bi Ela pun membantu sang nyonya bergantian pakaian. Seumur hidupnya, Eleana tak pernah membiarkan siapa pun untuk membantunya berpakaian. Namun, karena kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk berganti pakaian sendiri. Tubuhnya terasa sangat lemas tak bertenaga. Bahkan, untuk bangkit dari berbaring saja tidak mampu.
"Bi, sebenernya saya ini siapa?" tanya Eleana ragu.
Terlihat raut sedih di wajahnya yang keriput. Eleana harap, pertanyaannya tak memberati Bi Ela. "Nyonya adalah Nyonya Eira Eleanor. Nyonya memiliki lima anak laki-laki dan sekarang, Nyonya sedang mengandung anak yang keenam."
"Me-Mengandung? Maksudnya saya hamil?!!" Bi Ela menganggukkan kepalanya. Membuat Eleana sangat tak percaya. Pertama, ia berada di dunia novel online dan menjadi tokoh utama wanita. Memiliki lima anak laki-laki dan sekarang, ia tengah mengandung? Sungguh, jalan takdir yang tak pernah terpikir olehnya sama sekali. Namun, apakah yang terjadi padanya karena ia sangat menyukai novel bergenre time travel dan sejenisnya?
'Gue kira itu cuma ada di novel-novel doang, tapi sekarang, gue ngerasain sendiri!' benaknya merasa tak percaya.
"Sudah selesai Nyonya. Bibi akan menyiapkan makan siang." Bi Ela mengundurkan diri. Meninggalkan Eleana seorang diri di dalam ruang rawat.
Dengan menahan tangis, Eleana menyibak pakaiannya. Ia mengelus perutnya yang rata. Bagaimana bisa, ia hamil? Lalu, siapa pria yang menghamilinya? Erland. Satu nama yang terlintas di pikiran Eleana. Eleana adalah gadis yang memiliki daya ingat yang kuat. Bahkan, ia masih mengingat setiap ucapan Ellen saat mereview novel tersebut. Sayangnya, Eleana tak mengingat jelas judul novel sialan ini.
"Gue hamil? Tapi bukan hamil anak haram, kan?" Eleana menggigit bibir bawahnya, lalu menatap langit-langit ruangan.
"ERLAND SIALAN!!" teriaknya mengacak rambut frustasi.
Di luar ruangan, Eidlan, Elan, dan Ezra langsung menutup telinga rapat-rapat. Mereka terbiasa mendengar u*****n yang keluar dari mulutnya dan tertuju pada sang daddy.
"Lan, apa kita tetep di sini? Aku takut mommy mengamuk." Eidlan menoleh ke arah kembarannya.
Elan menggeleng pelan. "Tunggu, bukannya mommy hilang ingatan? Tapi mengapa mommy mengingat nama daddy?"
"Sudahlah, lebih baik kita cari bang Edzard dan Nuel." Ezra bangkit dari duduknya dan melangkah pergi—mencari Edzard yang tengah membujuk Emmanuel agar tidak terus merengek meminta bersama dengan mommy mereka.
Selama setengah jam, Eleana merenung. Ia terus memikirkan nasib kelima anak Eira yang tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu dan ayahnya. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan hidup menjadi mereka yang sering mendapat siksaan dan hukuman. Pantas saja, mereka ketakutan ketika melihatnya. Hanya si kecil, Emmanuel yang berani mendekatinya. Karena anak itu sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari sesosok ibu.
Dengan susah payah, Eleana berusaha bangkit. Ia tertatih-tatih menuju kamar mandi untuk membuang air kecil. Ia harap, setelah berlama-lama di kamar mandi, dirinya bisa kembali ke dunianya. Sayangnya, nihil. Ia masih berada di tempat yang sama.
"Sumpah! Gimana bisa gue ada di dunia halu kek gini, ya, Tuhan!! Manalagi gue punya banyak anak! Aarrgghhh!! Jaga ponakan aja gue ogah, lah ini, gue harus ngurus anak dan semuanya laki-laki?!! Belum lagi, gue lagi ngisi!! Hiks... Ellen.... Tolongin gue..."