MJM-06

1733 Words
Seorang wanita terus menggemakan tawa melihat putra kecilnya merajuk. Ia tak menyangka, jika Emmanuel akan terlihat begitu menggemaskan ketika marah. Salahkan saja si kembar yang membuat Eleana terpaksa meninggalkan Emmanuel di dalam kamar mandi seorang diri. "Nuel, mau sampai kapan berdiri di situ, hm?" tanya Eleana sambil bersandar pada daun pintu. Emmanuel tak menjawab. Anak itu masih setia dengan melipat kedua tangan di depan d**a dan menatap tajam ke arah sang mommy. "Hahaha... Ya ampun, anak gue gemesin banget, sih." Eleana menyeka buliran bening di sudut matanya. Kemudian menggendong Emmanuel dan mendudukkannya di atas kasur. "Nuel marah sama Mommy," ucapnya seraya memalingkan wajah ke arah lain. Eleana mengangguk pelan. Tangannya terulur meraih pakaian milik Emmanuel yang sudah disiapkan sebelumnya. "Yakin marah sama Mommy? Kalo gitu, biar Mbak Ega aja ya, yang pakein Nuel baju." "Tidak! Tidak mau. Mommy saja, Nuel tidak jadi marah!" serunya berlari menghampiri sang mommy. "Oke," sahut Eleana menahan tawa. Setelah selesai, mereka pun beranjak ke ruang makan. Edzard dan yang lainnya sudah menunggu. Mereka terkesiap ketika mendapati ciuman pagi dari Eleana. Berbeda dengan Emmanuel yang justru membalas ciuman tersebut, dengan mencium kedua pipinya. "Ezra, kalo masih sakit, nggak usah dipaksa berangkat, ya?" ucapnya sambil mengelus kepala Ezra yang menatapnya linglung. Sampai saat ini, Eleana masih belum mengetahui penyebab Ezra berkelahi. Ia tak akan memojokkan putranya atau bertanya kepada putranya yang lain. Ia harap, salah satu dari mereka akan menceritakan hal tersebut. "Kalian sarapan dulu, ya. Mommy mau ke toilet sebentar. " Eleana mengibrit ke dalam kamar mandi. Sesampainya, ia langsung memuntahkan isi perut. Lagi dan lagi, Eleana merasa tersiksa jika terus-terusan muntah di setiap pagi. "Mereka yang enak buatnya, dan gue yang kebagian nggak enaknya." Eleana menatap pantulan wajahnya di cermin. Sejenak, ia terhanyut mengagumi keindahan sosok di depannya. Eira memiliki paras yang sempurna. Pantas saja, Erland selalu bersemangat menghamilinya. "Makan buah belimbing kayaknya enak deh," celetuknya yang seketika terbayang buah asam menyegarkan itu. Bi Ela dan Ega merasa jika para tuan muda tak bersemangat pergi ke sekolah. Mereka baru saja selesai sarapan, tetapi enggan bangkit dari kursi. Seolah menunggu kedatangan Eleana yang belum kembali. "Aden, ayo kita berangkat sekolah," ajak Ega yang tak mau jika anak-anak terlambat. "Mommy, Elan tidak mau sekolah. Elan mau di rumah saja bersama Mommy!!" teriak Elan saat wanita yang sejak tadi ditunggu, memunculkan batang hidungnya. "Hari ini, kalian sekolah. Mommy janji, besok kalian libur sekolahnya. Nanti Mbak Ega yang izin sama guru di sekolah, ya," bujuk Eleana membuat segurat senyuman terbit di wajah anak-anaknya. "Beneran, Mom?!" seru Eidlan bersemangat. "Iya, Sayang-sayangnya Mommy." Mereka berpelukan membuat siapa saja yang melihatnya ikut merasa bahagia. Kemudian Eleana mengantar anak-anak hingga depan rumah. Setelah mobil berwarna putih itu meninggalkan pekarangan rumah, ia pun melangkah menuju gerbang. Namun, dihentikan oleh pria berbaju hitam dan berbadan kekar. Eksa berdiri tepat di depan sang nyonya. Lalu menginterupsi satpam rumah untuk segera menutup pintu gerbang. "Nyonya mau pergi kemana?" "Pak, buka dong pintu gerbangnya!" pinta Eleana yang hanya dianggap angin lalu oleh satpam tersebut. "Lebih baik, Nyonya masuk ke dalam." Eksa mempersilakan sang nyonya untuk kembali masuk ke dalam rumah. "Nggak. Saya mau keluar. Cepat buka pintunya, atau saya akan manjat?!" Eleana terpaksa mengancam mereka. Ia tidak peduli. Karena tujuannya saat ini adalah buah belimbing. Wanita itu ingin memetik sendiri buah berbentuk bintang dari pohonnya secara langsung. "Nyonya... Menurut saja. Nyonya tidak mau, 'kan jika Tuan Erland marah?" ucap Eksa lembut. Eleana melayangkan tatapan tajam ke arah orang-orang yang ditugaskan Erland untuk menjaganya. "Saya nggak peduli. Kalo kalian tetep nggak mau bukain, saya bakal beneran manjat gerbang ini." Masih tak ada pergerakan dari Eksa atau pekerja lainnya yang hanya menonton. Eleana pun, menatap gerbang yang menjulang tinggi. Semasa sekolah, ia terbiasa memanjat karena sering terlambat. Jadi, gerbang tersebut bukanlah masalah yang besar, bukan? Sebelum memanjat, Eleana memandang ke arah mereka semua. Kemudian melangkah dan bersiap mengangkat kakinya, namun Eksa lebih dulu menarik tubuh lemahnya. Mereka tak percaya, jika sang nyonya berani melakukan hal yang nekat. "Kenapa kamu menghalangi saya, hah? Kamu sendiri 'kan yang nggak ngizinin saya keluar?!" pekik Eleana meronta. Seberapa keras ia berusaha melepaskan diri, itu tak akan berhasil. Eksa telah memanggil kawan-kawannya yang langsung membopong tubuh Eleana tanpa izin. Mereka semua seperti tak terganggu dengan berbagai teriakan dan u*****n yang keluar dari mulut sang nyonya. Seolah yang terjadi adalah hal yang biasa terjadi. "Kunci semua pintu dan jendela," interupsi Eksa pada semua pekerja wanita yang ditugaskan di dalam rumah. "Baik, Tuan," jawab Bi Ela menganggukkan kepalanya. Pintu ditutup keras oleh Eksa. Semua pekerja bergegas melakukan tugas untuk menutup semua jendela dan pintu. Meninggalkan Eleana yang berdiri seorang diri di ruang tengah. Seumur hidupnya, Eleana tak pernah diperlakukan seperti ini. Kedua orangtuanya selalu membebaskan dirinya, selagi masih berada di pergaulan yang baik. Namun di dunia ini, ia diperlakukan layaknya seorang tahanan. Pantas saja, Erland begitu murka ketika dirinya kabur dari rumah. "Gue 'kan cuma kepengen belimbing doang, kenapa malah berakhir dikurung kek gini sih? Hiks... Mama... Papa... Elea mau pulang aja... Kak Elin, Elea kangen. Elea janji bakal mau jagain Elia asal kakak bawa aku pergi dari dunia sialan ini... Ellen, tolongin gue..." racau Eleana merasa tak betah berada di dunia yang baginya tidak nyata ini. Mendengar tangisan seseorang, mereka pun langsung menuju sumber suara. Betapa terkejutnya, mereka semua melihat sang nyonya yang menangis sambil memeluk lututnya sendiri. Selama bertahun-tahun, Eira tak pernah menunjukkan air matanya pada semua orang dan sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Eleana telah menunjukkan sisi rapuh seorang Eira. "Gue mau pulang, hiks..." lirihnya disela isak tangis. "Nyonya," panggil Bi Ela ikut mendudukkan dirinya di lantai—bersebelahan dengan sang nyonya. Eleana mendongakkan kepalanya. Wajah wanita itu merah padam akibat menangis. Melihat wajah Bi Ela yang mengingatkannya pada sang mama, membuat tangis Eleana semakin pecah. *** Sebelum anak dan istrinya bangun, Erland sudah meninggalkan rumah. Pria itu tak langsung menuju kantor, melainkan mengunjungi rumah sahabatnya. Elang dan Erren. Mereka adalah sepasang suami-istri yang dulunya bersahabat baik. Hanya Erland yang memilih menikah dengan gadis asing, ketimbang sahabatnya sendiri. "Lang! Erren! Cepat buka pintunya!!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu. Pintu terbuka, menampilkan sesosok pria berkacamata. Pria tersebut mengembuskan napas gusar, melihat tamu yang tak diinginkan kehadirannya. Erland akan mengunjungi dirinya dan istrinya ketika ada masalah. Itulah yang membuat Elang merasa kesal. Elang menatapnya sinis. "Apa? Masih pagi, dan kau sudah bertamu saja." "Ck, minggir. Aku mau berbicara dengan Erren." Erland mendorong tubuhnya agar menyingkir, lalu mencari keberadaan sahabat perempuannya. Jika Elang tak menerima kedatangannya, maka ada Erren yang selalu mendengar keluh kesahnya. Senyum Erland terpatri kala melihat seorang wanita yang tengah memasak di dapur. Sejenak, ia merindukan sahabatnya yang lain. Sahabat yang sering memasakkan makanan untuknya setiap hari. Sebelum ia menikahi Eira. "Ren, aku mau curhat. Tapi sebelum itu, saya numpang makan, ya!" ujar Erland menatap penuh permohonan ke arah sahabatnya. Elang menggeram kesal. Rasanya, ia ingin membuang pria yang sudah duduk manis di kursi meja makan sembari memperhatikan istrinya memasak. Dulu, Erland adalah dambaan setiap gadis di sekolah mereka. Termasuk Erren dan Eyla. Sayangnya, Erren dijodohkan dengan Elang oleh kedua orangtua dan Eyla harus merelakan pria yang dicintainya menikah dengan gadis lain. Gadis yang lebih muda dari mereka semua. "Tidak, tidak ada numpang makan segala!" tolaknya yang tak mau kehilangan momen bersama istri tercinta. Karena kedua anaknya tengah menginap di rumah sang kakek. "Masih lama aku masaknya, Land. Mending langsung to the point saja. Kau mau tentang apa?" Erren memang sangat mengerti. Elang berjanji akan mengabulkan keinginan istrinya, khusus hari ini. "Tidak asik kalian berdua," dumelnya. Tersadar, kedatangannya sangat tidak diinginkan di rumah ini, Erland pun langsung menceritakan apa yang terjadi pada istrinya setelah terbangun dari koma. Elang dan Erren tampak mendengarkan dengan seksama. Karena mereka sangat tahu tentang kehidupan dan tujuan Erland menikahi Eira hingga memiliki banyak anak. "Mungkin itu karma dari Tuhan," ceplos Elang yang langsung mendapat tatapan tajam darinya. "Lang, saya serius. Perubahan Eira membuat saya tidak tidur semalaman!!" seru Erland merasa tersiksa atas perubahan sikap istrinya. Erren meletakkan piring berisikan tempe goreng di meja makan, lalu menatap dalam sahabat tersayangnya. "Kau yang sabar, keadaan Eira 'kan belum sepenuhnya pulih." "Kau belum tahu saja, Sayang. Kalau sebenarnya Erland ditipu. Bukan Eira pelakunya," ucap Elang membuat istrinya tertegun. "ERLAND!" Mata wanita itu berkaca-kaca. Baginya, Erland sudah keterlaluan. Jika dirinya yang menjadi Eira, mungkin akan mengakhiri hidup sejak lama. Namun, Eira berbeda. Demi keluarganya, Eira rela bertahan di dalam rumah megah yang baginya adalah sebuah penjara. "KAU TEGA, ERLAND!! BAGAIMANA PERASAAN EIRA KALAU DIA TAHU APA YANG TERJADI SEBENARNYA?!" Erren terisak. Meski hanya sekali bertemu dengan Eira, ia bisa merasakan betapa menderitanya wanita itu. Erland memejamkan matanya sesaat. Kemudian, mengembuskan napas panjang. "Eira amnesia." "Kau masih selamat, Land. Eira melupakan peristiwa kelam di dalam hidupnya. Jika tidak, mungkin dia tidak akan sudi melihat wajahmu lagi. Ditambah dengan kau yang menyebabkan dia koma karena luka di kepalanya." Elang menatap lekat manik mata sahabatnya. "Aku tahu, aku salah. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Tapi Eira seperti tak membiarkan aku mendekatinya." Erland bersungguh-sungguh. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan. Kecelakaan yang dialami oleh Eira yang disebabkan olehnya, memiliki hikmah tersendiri. Erland harap, istrinya tak akan mendapat ingatannya kembali. "Sebentar," ucapnya seraya mengambil ponsel dari saku celana. Mata Erland membulat ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh asistennya di rumah. |Tuan, Nyonya Eira memaksa keluar rumah dan ingin mencari buah belimbing. Kami berhasil mencegahnya, tetapi Nyonya Eira terus menangis. "Ada apa?" tanya Erren melihat raut wajahnya yang berubah dingin. "Eira mengidam." Erland mengangkat kaki dari rumah sahabatnya. Elang dan Erren saling berpandangan. "HAMIL LAGI?!" Tiba di rumah, Erland disambut oleh tangisan yang begitu mengiris hatinya. Ia mempercepat langkah ketika tangisan wanita tercintanya semakin menjadi. Semua asisten rumah tangga mengundurkan diri ketika melihat Tuan mereka muncul. "Eira? Ada apa?" tanyanya penuh cemas. "Pergi lo! Gue tau, lo 'kan yang suruh mereka semua kurung gue di dalem rumah ini?" pekik Eleana menepis kasar tangan Erland yang akan menyentuh bahunya. "Lo jahat! Gue benci lo!" Dada Erland terasa sesak. Seharusnya, ia tidak merasa sesakit ini. Memilih untuk tidak terhanyut dengan perasaannya, ia pun segera mengalihkan topik pembicaraan saat teringat istrinya mengidamkan sesuatu. "Kau menginginkan belimbing 'kan, Ei? Ayo, kita cari bersama, atau kau menginginkan yang lain?" Eleana memicingkan matanya. Mengapa Erland terlihat begitu tulus untuk mengajaknya mencari buah berbentuk bintang tersebut? Akan tetapi, bukan hanya itu keinginan Eleana. Ia menginginkan hal lain yang dapat membebaskannya dari sangkar emas ini. "Gue pengen cerai!" tukasnya berhasil membuat jantung Erland seakan berhenti berdetak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD