Sudah puluhan kali Erland mendengar permintaan cerai dari istrinya, tetapi ia tak akan mengabulkan. Jika dulu dirinya akan menyiksa Eira dengan mengurungnya seharian di kamar, kini tak lagi dilakukannya. Ia harus merubah sikap untuk mendapatkan hati wanita yang sudah bertahun-tahun hidup tersiksa bersamanya. "Oke. Tapi sekarang, kau istirahat. Kita bahas lagi nanti." Erland menatap wajah istrinya yang memerah. Eleana menghentikan isak tangis. Wanita itu melotot kala Erland menggendong tubuhnya secara tiba-tiba dan membawanya ke kamar. Pikiran Eleana diliputi rasa kalut. Erland tak mungkin memberi hukuman padanya, bukan? Sungguh, jika Erland memaksanya bermain di pagi seperti ini, ia pasti memberontak. Bagaimana tidak, Eleana masih perawan dan tidak memiliki pengalaman dalam hal itu.

