Nayaka menatap pesan yang diterimanya dari kontak nama Alinka. “Memangnya mereka naik motor, sampai Alinka nggak bisa angkat telepon?” gerutunya seraya meletakkan ponselnya ke atas meja. Padahal kemarin seharian Nayaka sudah bersama dengan Alinka, seharusnya Nayaka sudah sangat puas menghabiskan hari Minggu dengan pacar pura-puranya itu. Namun, pagi ini, mendadak saja Nayaka memiliki dorongan untuk kembali bertemu dengan Alinka. Dan tentu saja hal ini cukup membuat Nayaka bingung. Pintu ruangan Nayaka diketuk yang membuat Nayaka menoleh ke arah pintu itu. “Masuk,” kata Nayaka. Pintu itu terbuka lalu masuk lah Farhan yang sudah membawa beberapa dokumen di tangannya. “Selamat pagi, Pak,” sapa sekretaris Nayaka itu. “Ini dokumen yang kemarin sempat Bapak minta,” tambahnya. “Ah, iya.

