Alinka menoleh ke segala penjuru, mencari sosok Nayaka. Tadi Nayaka menghubungi Alinka dan mengatakan akan menjemputnya di kampus sekalian mengajak Alinka makan siang bersama. Alinka yang juga memang ingin membicarakan sesuatu dengan Nayaka tentu saja tidak menolak ajakan pacar pura-puranya itu. “Itu dia,” gumam Alinka melihat sosok Nayaka yang tengah duduk di salah satu bangku taman dengan ponsel tertempel di telinganya. Alinka tersenyum kecil melihat sosok Nayaka yang tampak tidak sadar jika saat ini dirinya sudah menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya—terutama kaum hawa. Beberapa mahasiswi tampak tengah diam-diam melirik ke arah Nayaka sambil tersenyum suka. Nayaka memang setampan itu. Mungkin jika pertemuan pertama Alinka dengan Nayaka tidak sebrutal dulu, bisa jadi Alinka

