Berkat ingatan Nayaka tentang ciumannya dengan Alinka ketika dirinya mabuk, Nayaka tidak lagi memikirkan Rosalia malam ini. Di kepalanya, ingatan tentang perasaan hangat dan mendamba ketika menatap mata Alinka pagi buta itu cukup membuat Nayaka kebingungan. Nayaka tidak pernah mengira akan merasakan perasaan seperti itu terhadaap Alinka. Pintu kamar Nayaka tiba-tiba saja terbuka. Adiknya, Nayana, berjalan memasuki kamar lalu berpose di depan tempat tidur Nayaka. “Tadaaa,” kata Nayana mengangkat kedua tangannya ke udara. “Bagus nggak?” tanyanya kepada Nataka. Nayana yang sedang dalam posisi duduk bersandar pada kepala tempat tidur sontak saja mengernyit bingung menatap adik perempuannya itu. “Apanya yang bagus?” tanyanya tidak mengerti apa yang sebenarnya Nayana tanyakan. “Piyama gue,

