bc

You

book_age18+
133
FOLLOW
1K
READ
one-night stand
family
pregnant
mate
arrogant
dominant
comedy
sweet
bxg
another world
like
intro-logo
Blurb

Ada beberapa alasan yang membuat Max Deandre Holmes tidak ingin meneruskan keturunan keluarga Holmes, namun sebagai seorang pria dewasa, tentu saja kebutuhan biologisnya harus terpenuhi, namun sebuah kebodohan telah dia lakukan, dan sepuluh tahun berlalu, ia menyalahkan seorang wanita bernama Evelyn, sebab gara-gara wanita itu, ia tiba-tiba menjadi impoten! Max harus menuntut pertanggung jawaban wanita itu!

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, Evelyn William tidak ingin berurusan dengan Max D. Holmes, pria dengan segala kekuasan, namun ketiga anak-anaknya tentu saja tidak akan pernah hadir. Waktu begitu cepat, tiba-tiba Max kembali hadir dalam hidupnya, meminta sebuah pertanggung jawaban kepadanya, seharusnya Evelyn yang meminta pertanggung jawaban ke pria itu.

chap-preview
Free preview
Chapter 1
"Plak!" Suara tamparan itu mengema, Evelyn, gadis itu menatap benci pria yang ada di hapannya. "Apa yang kau lakukan?" Eve tersenyum mengejek, mereka berdua menjadi pusat perhatian di Mall milik pria itu. "Aku menamparmu, pria m***m! kau sangat tidak beradab, meremas b****g perempuan asing!" ucap Evelyn berapi-api, kerumunan orang-orang, saling melemparkan bisikan, bahkan terang-terangan mengecam perbuatan pria itu, wajah Evelyn memerah, dengan cepat ia bergegas pergi meninggalkan pria itu yang menatapnya nyalang. "Akan ku balas kau!" Evelyn tidak menggubris, ia memilih mempercepat langkahnya, meniggalkan kerumunan, ia bersumpah ini pertama dan terakhir kalinya ia menjadi pusat perhatian. "Jim! Cari tahu tetang gadis itu!" Pria itu meninggalkan Mall, dengan marah. Max D Holmes, CEO yang hampir berumur kepala tiga, hidup dalam kemewahan sejak kecil, membuatnya menjadi pria yang arogan dan sombong. Insident penamparan yang dilakukan seorang gadis, membuatnya murka, dengan segala kekuasaannya ia akan menghancurkan gadis itu. ... seminggu berselang "Evelyn!" Evelyn menatap pria di hadapannya bingung. "Anda siapa?" Pria itu tersenyum. "Aku hanya orang suruhan, tuanku ingin menemuimu." Eve menaikan sebelah alisnya. "Aku tidak mengenal tuanmu, ataupun semacamnya." Lalu Evelyn meninggalkan pria asing itu, Tuan? seberapa kaya orang itu, memang dirinya siapa, sampai-sampai berurusan dengan orang kaya. "Tunggu Evelyn! Tolong aku, dia akan memecatku, kalau aku tidak berhasil mengajakmu," ucap pria itu namun Eve tidak peduli. "Itu bukan urusanku!" teriak Evelyn. "Tolong ini demi Ibu ku!" langkah Kaki Evelyn terhenti, ia membalikan badannya, lalu menatap pria asing itu, "Please, pengobatan ibuku akan terhenti, jika kau tidak ikut bersama ku." Evelyn terdiam, ingatan masa lalu kembali lagi, di mana saat itu pengobatan ibunya harus terhenti karena kendala biaya, hingga akhirnya ibunya tidak bisa bertahan lagi. "Dimana tuan mu itu?" Pria itu tersenyum, ia mengajak Evelyn masuk ke dalam mobilnya. "Kita akan kemana?" tanya Evelyn lagi, Pria itu tidak menjawab, ia fokus pada pandanganya kedepan. Evelyn memilih tidur, hari yang melelahkan, pekerjaan di toko roti hari ini cukup berat. Insident di Mall Minggu lalu masih sedikit membuat pikirannya bercabang, ia tidak tahu yang ia tampar adalah pemilik Mal itu. Tapi apa boleh buat, pria itu memukul pantatnya, mengira Eve adalah wanita panggilannya. Eve yang refleks langsung menamparnya, lalu meninggalkan pria itu yang mengancamnya. "Nona, kita sudah sampai." Tubuh Eve menggeliat. "Kita ada di mana?" "Nona ikut saja." Lalu pria itu keluar dari mobil SUV putih itu. "Udara sangat segar," ucap Eve,saat ia keluar dari mobil itu. Kawasan pegunungan, yang udaranya masih bersih. Pemandangan hutan taiga menyambut Evelyn. "Ayo Nona." Evelyn mengikuti arah pria itu. "Tunggu di sini Nona, tuan ku akan datang sebentar lagi." Evelyn hanya menganggukan kepalanya, gadis itu masih terlihat mengagumi isi rumah yang baru ia masuki. Rumah gaya minimalis di tengah hutan taiga? Ini adalah hal yang menarik baginya, dengan rasa penasaran yang membuncah Evelyn menaiki tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua. "Ini sangat indah!" Ucapnya dengan riang, pemandangan hutan taiga yang terlihat sangat menabjukkan dari atas balkon. "Sudah selesai?" Evelyn membuka matanya, ia membalikan tubuhnya. "Kau! Apa yang kau lakukan disini?" Pria itu berjalan ke arah Evelyn. "Berhenti! Atau aku akan...." "Akan apa?" pria mengeluarkan smirik evilnya. "Loncat?!" terkanya, Pria itu tertawa. "Kau berani, kalau begitu silakan, aku akan menyaksikannya," kata pria itu lagi. Evelyn terdiam, mencoba untuk fokus, pria itu masih tertawa, Evelyn mencoba kabur, dan lari kearah pintu. "Kenapa? Pintunya tidak bisa di buka?" Evelyn berteriak, matanya menatap marah pria itu. "Apa yang kau rencanakan!?" Evelyn mulai waspada, tubuhnya bergetar hebat, buliran keringat dingin membahasi wajahnya, tatapan pria itu seolah dapat membunuhnya. "Aku akan memperkosamu!" "Plak..." satu tamparan mendarat di pipi Max. "Kenapa kau ingin memperkosa ku?" Max tersenyum seraya mengusap pipinya. "Karena kau telah mempermalukanku di depan umum," ucap pria itu. "Itu memang pantas untukumu, pria tua mesu...... hhhmmpphhh" pria itu mencium Evelyn dengan kasar, lalu mendorong tubuh kecil itu ke pintu. "Akhh sakit rintih" Evelyn di sela ciuman itu. "Ayo kita lakukan!" Lalu pria itu menarik tangan Evelyn dengan paksa, membawanya ke sebuah kamar yang berada di sebelah ruangan tadi, dengan sekali tarikan tubuh Evelyn terbanting ke ranjang yang ada di ruangan itu. "Aku mohon...Lepaskan aku." Air mata Evelyn mengalir deras, cengkaraman di rahangnya sangat terasa. "Dalam mimpimu saja!" Max menghempaskan tubuh Evelyn di ranjang. "Lepasakan!" Teriak Evelyn, Max tidak menggubrisnya, dengan kasar ia merobek baju Evelyn, tanpa rasa kasihan. Evelyn hanya bisa menangis, saat Max menciumnya kasar, mencumbu setiap inci tubuhnya, perlawanan yang ia lakukan tidak berarti sama sekali bagi Max. Terikan kesakitan mengambarkan apa yang Evelyn rasakan saat Max mengoyak organ itimnya dengan paksa, memasukan kejantannya sampai menyentuh bagian dalam rahim Eve, cepat dan kasar, bukan rasa nikmat yang Eve rasakan tapi rasa pedih luar biasa. Ia tidak bisa berhenti menangis, semuanya telah hilang, andai ia tahu akan seperti ini jadi,ia tidak akan menampar Max di depan umum, hanya sebuah tamparan yang harus ia bayar dengan rasa sakit seperti ini. "Sialan...Ini sangat nikmat!" Geram Max saat organ kewanita Eve mengcengkaram kuat kejantannya. Pria itu menikmati akivitas yang ia lakukan. "Akkkhh.... Sial!" Teriak Max saat ia menumpahkan semua benihnya tanpa halangan, ia tidak peduli akibat yang di timbulkan. "Tolong lepaskan..." Max mengeluarkan seringai, tanpa diduga Evelyn, Max kembali melesatkan kejantannya, memompanya lebih cepat dan kasar, ia seolah tuli dengan tangisan Evelyn. Entah berapa lama Max memperkosanya, Evelyn hanya bisa memejamkam matanya, ia sangat lelah. Erangan Max terdengar saat pria itu melepas penyatuan dirinya dengan wanita di bawanya, sebuah senyum cemooh ia tampilkan, pria itu menjatuhkan tubuhnya di samping wanita yang telah memberikannya kepusaan tiada tara. Awalnya ia hanya ingin memperkosanya sekali lalu meninggalkannya, tapi kenikmatan yang ia dapat membuatnya memperkosa Evelyn berkali-kali, tanpa Max sadari ia sama sekali tidak memakai pengaman. Menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan wanita di sampingnya, tidur memeluk Evelyn erat, menenggelamkan wajahnya di rambut wanita itu. ... Evelyn menggeliatkan tubuhnya, rasa nyeri menjalar di tubuhnya, sakit di daerah organ itimnya di tambah lagi beban berat menimpa perutnya, saat hendak bangun, sebuah tangan menarik pinggang Evelyn. "Mau kemana kau?" Tanya suara serak yang mampu membuat Evelyn merinding. Ingatannya kembali, semalam ia di perkosa habis-habisan oleh pria yang ia tampar. Max menggeram marah, dengan cepat pria itu menjatuhkan tubuh Eve lalu menindihnya, "Aku menginkanmu lagi." Eve menggelengkan kepalanya. "Tidak! Tolong janga...akhh" Tanpa peduli teriak Evelyn, Max memasuki Evelyn lagi tanpa peduli. Evelyn terus menangis, membuat kepala Max pecah, "Apa yang kau tangisi jalang! Kau juga menikmatinyakan." Teriak Max. Wanita itu menundukan kepala, ia terus menangis "Jangan pernah muncul di hadapanku, lagi!" Teriak Max "Kau itu hanya jalang!" "Plak---" bunyi tamparan menggema beberapa kali "Itu sebanding dengan apa yang kalau lakukan tempo hari." Lalu pria itu merapikan pakaiannya, meninggalkan wanita itu yang hanya menutupi tubuhnya dengan sehelai selimut. Pagi yang kalbu bagi Evelyn, ia menatap punggung Max, pria itu masuk kedalam kamar mandi. Dengan cepat-cepat Evelyn mencari pakiannya, namuan hanya sebuah kemeja pria itu ia dapatkan, meski rasa sakit menyerangnya, ia harus pergi dari tempat ini, tempat terkutuk. Saat hendak keluar Evelyn mendengar bunyi yang berasal dari sebuah ponsel. Mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Evelyn berani mengambil ponsel itu. Ponsel Max, sebuah pesana masuk. Sir pesawat anda sudah siap. Lalu rencana wanita yang bernama Eve itu juga sudah selesai, anda tinggal meninggalkan tempat itu dan setelahanya kami akan membakar rumah serta wanita itu. Jantung Evelyn berhenti berdetak, jadi pria itu ingin membakarnya hidup-hidup? Tidak Evelyn tidak akan mati di tempat ini. Dengan tangan gemetaran Evelyn menaruh ponsel itu, ia hanya ingin pergi dari tempat ini, tapi di manakah ini, yang ia tahu tempat ini berada di dalam hutan Taiga. Sudut mata wanita itu menelusuri ruangan, Eve hanya ingin mencari sesuatu yang berharga, ia harus mempunyai uang dan pergi dari negara ini. Akhirnya ia menemukan sebuah tas, tas kerja. Ia Membongkar isi tas itu, akhirnya Eve menemukan buku Cek, yang untungnya sudah di tanda tangani Max, hanya sisa satu lembar. Hanya tinggal Evelyn tulis jumlah nominalnya. Indra pendengarannya tidak lagi mendengar gemericik air, membuat Evelyn cepat-cepat lari. Sampai di depan rumah, langkah Evelyn terhenti.'Aku harus kemana?' Batinnya bertanya, ia tidak mungkin lari ke arah jalan raya, ia tidak akan keluar dari hutan ini. Tapi jika tidak ia akan mati di sini. Evelyn menggelengkan kepalanya, di tengah ke gundahannya, sudut matanya menangkap sebuah Mobil Range Rover yang terpakir apik. Evelyn berjalan ke arah mobil itu, mode siaga ia aktifkan, setelah tidak melihat ada sopir Max. Ia masuk ke dalam mobil untungnya tidak di kunci. "Selamat," batinnya, nah sekarang apa yang harus di lakukannya, tidak mungkin ia duduk manis di kursi penumpang bukan? Ia melirik ke arah belakang, ia tersenyum. Untung tubuh kecilnya bisa ia sembunyikan di jok belakang, dengan sedikit membungkuk. ... Max keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya berbalut sehelai handuk. dengan cepat ia memakai pakaiannya, hari ini ia harus berangkat ke Dubai, perusahaannya di sana sedang bermasalah. Ia mengambil ponsel dan tas kerjanya, ia melirik ke arah ranjang. Ia tidak melihat wanita itu, ia tidak peduli, setidaknya rumah hutan ini tidak jadi ia bakar. Max sangat yakin,wanita itu tidak akan bisa keluar dari hutan ini. "Kita berangkan sekarang sir?" Max menganggukan kepalanya. Ia masuk kedalam mobilnya, mendudukan tubuhnya, mengambil ponselnya, mengirim pesan kepada anak buahnya untuk tidak membakar rumah hutannya ini Selama di perjalanan, tidak henti ia melihat ke arah luar, ia masih penasaran kemanakah wanita itu pergi, ia ingin mengalihkan pikirannya, tapi tidak bisa. Mobilnya berheti di depan Bandara, Max keluar dengan buru-buru. Setelah tuannya keluar, Sopir Max membawa mobil itu ke sebuah rumah judi, dalam beberapa hari kedepan ia akan menjadi orang kaya dadakan, ini lah yang di sukai pria itu. Saat tuannya bekerja keluar Negeri, ia bisa memakai mobil mewah bosnya kemanapun. Evelyn menyembulkan kepalanya, ia melihat keadaan, ia menghela napas lega, sopir itu sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Dengan cepat Evey keluar, ia berlarian sangat kencang, saat menyadari sopir itu mengejarnya. Ia bersembunyi di balik bak sampah, ia mendengar teriakan kekesalan pria itu. Setelah sopir itu pergi Evelyn keluar dari tempat persembunyiannya. Ia kembali ke flatnya, ia mengambil apa saja yang ia perlukan untuk kabur, Evelyn menatap cek yang ada di tangannya, dengan ragu-ragu ia menulis nominal yang akan ia cairkan. Awalnya sepuluh juta dollar, tapi dengan menutup matanya ia menuliskan lagi sebuah angkan nol, seratus juta dollar, Evelyn yakin ini akan membantunya hidup di tempat yang baru, ia tidak peduli dengan Max, pria itu adalah orang kaya ia tidak akan menyadari uangnya hilang kurang 000,000000001% hartanya. Evelyn tersenyum ia akan memulai hidup baru, ia tidak membenci ataupun dendam tehadap Max, ia tidak ingin hidup dalam pembalasan dendam, ia hanya ingin hidup damai. TBC...

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
203.5K
bc

Siap, Mas Bos!

read
11.4K
bc

Tentang Cinta Kita

read
188.6K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

My Secret Little Wife

read
93.2K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.3K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
14.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook