“Kalau kamu terus tersenyum kayak gitu, aku akan membuat video dan menyuruh Zaina untuk menyebarkan ke semua sosial media. Judulnya, pria jatuh cinta jadi gila. Bagaimana menurut kamu? Aku cukup kreatif, kan?”
Barra akhirnya mengatakan semua itu setelah menahan diri dari tadi. Sejak melihat Khafi kembali dari misi bertemu calon mertua, sahabatnya itu tersenyum tidak jelas. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Siapa yang tidak takut menyaksikan orang yang biasa serius dan jarang mengumbar senyum, tiba-tiba bersikap begitu.
Efek jatuh cinta yang diberikan oleh Arisha tampaknya sangat kuat. Barra tidak tahu kalau Khafi juga bisa bertemu dengan hari ini. Dia pikir sang sahabat akan tetap jomlo seumur hidup. Mengingat bagaimana sikap Khafi yang terus menginginkan kesempurnaan dalam berbagai hal.
Kalau Khafi menginginkan wanita sempurna, itu sangat gawat. Secara di dunia ini tidak ada yang namanya kesempurnaan. Barra bersyukur ada seseorang yang bisa menaklukkan tembok seperti Khafi. Membuat Khafi tersenyum begitu membutuhkan usaha yang sangat keras. Bukankah wanita yang disukai Khafi hebat sekali?
“Kalau kamu kurang kerjaan, aku bisa memberi setumpuk pekerjaan lain. Atau kamu bisa menemani Zaina jalan-jalan.”
“Kamu sadar tidak kalau dari tadi kamu senyum-senyum tidak jelas? Kalau ada yang lihat, mereka juga akan ketakutan. Jangan-jangan ada setan yang menempel di tubuh kamu. Khafi yang dingin sekarang suka tersenyum sendiri.”
“Kamu tidak akan diam?”
“Setidaknya kasih tahu aku apa yang sudah terjadi. Apa bertemu calon mertua bisa membuat seseorang menjadi gila seperti kamu?”
“Aku hanya sedang bahagia. Apa aku tidak boleh tersenyum? Bukankah kamu selalu menyuruhku untuk tersenyum? Kenapa sekarang malah protes?”
“Baiklah. Kali ini, aku juga salah. Jadi, bagaimana? Apa kamu sudah berhasil melamar Arisha?” tanya Barra sambil menyilangkan tangan di d**a.
“Aku sudah melamarnya, tapi ... dia belum memberi jawaban.”
“Tenang saja. Dia tidak mungkin menolak seorang Khafi Alfarezi yang gila sempurna.”
“Tidak usah menyindir. Kalau kamu cukup longgar, pergilah melihat desain baru yang akan dikeluarkan bulan depan.”
“Aku sudah melihatnya dan tidak ada masalah. Kamu pikir aku di sini hanya untuk bersantai-santai. Aku lebih sibuk dari pada kamu.”
“Tentu saja. Bagaimana dengan restoran milikmu?”
“Berkembang dengan baik. Kenapa? Kamu mau menawarkan kerja sama dengan restoran calon mertuamu? Benar-benar menantu idaman.”
“Tidak juga. Lagian, restoran milik Om Farzan cukup ramai. Mereka sudah memiliki banyak pelanggan. Jadi, aku rasa, aku tidak perlu membantu.”
Masalah kerja sama seperti ini sudah pernah Khafi bahas dengan Farzan. Bahkan jauh sebelum dia mengenal Arisha. Farzan tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Dia hanya ingin memiliki usaha keluarga yang sederhana. Memiliki restoran di berbagai tempat akan membuatnya repot. Dan dia tidak menyukainya.
Lagi pula, Farzan bilang, dia sudah sangat puas dengan usahanya sendiri. Apa yang dia miliki sekarang sudah lebih dari cukup. Dia memiliki rumah, tabungan, dan kendaraan yang memadai. Usianya juga tidak muda lagi, jadi untuk apa membebani dirinya. Dia juga tidak mempunyai seseorang yang akan meneruskan usahanya.
Pola pikir setiap orang berbeda-beda. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain saat melihat masalahnya dengan sudut pandang kita. Khafi yakin, Farzan punya alasan sendiri kenapa tidak pernah mau membuka cabang di tempat lain. Jadi, Khafi akan menghormati keinginan pria sepuh itu.
“Kita lupakan masalah kerja sama itu. Sekarang ceritakan padaku bagaimana cara kamu melamar Arisha? Apa kamu membawakan hadiah? Cincin seperti apa yang kamu pilih untuk dia? Apa kamu juga membawa bunga?”
“Aku ....”
“Kenapa? Kamu melakukan semua itu, kan? Kamu pasti mempersiapkan banyak hal sebelum melamar Arisha hari ini. Ayo, bagi pengalamanmu.”
“Aku tidak membawa apa-apa.”
“Benarkah? Kamu tidak ....” Senyum di wajah Barra lenyap. Dia menatap Khafi tak percaya. Seolah kalimat Khafi yang terakhir adalah sebuah kesalahan. “Kamu bilang apa barusan? Aku tidak salah dengar? Kamu tidak bawa apa-apa.”
Perasaan Khafi sudah tidak nyaman saat menyadari kedatangannya ke restoran Farzan. Bagaimana bisa dia berkunjung tanpa membawa apa pun. Padahal statusnya bukan sebagai cucu Hilya. Melainkan calon suami Arisha. Calon menantu Farzan. Lalu, di mana etikanya sampai dia berani muncul dengan tangan kosong.
Pandangan Khafi beralih pada layar laptop yang menghitam. Dia menghela napas dengan berat. Semoga saja kesalahan kecilnya itu tidak mengurangi nilai Arisha. Dia bukannya sengaja tidak membawa apa-apa. Dia juga tidak menyangka akan bertemu Arisha di sana dan tiba-tiba melamar. Sekarang, siapa yang patut disalahkan?
Wajah yang diperlihatkan oleh Khafi sudah menjawab rasa penasaran Barra. Melamar tanpa memberi apa-apa? Terlebih Khafi melakukan pada wanita yang dijodohkan dengannya. Katakanlah Khafi tidak memedulikan dirinya. Bukankah seharusnya Khafi memikirkan Hilya saat hendak melakukan semua itu?
Jika Hilya sampai tahu tentang hal ini, Khafi mungkin akan terkena masalah. Kenapa dia tidak berpikir panjang? Kenapa membuat dirinya sendiri berada dalam posisi ini? Barra tidak tahu harus bagaimana menyelamatkan Khafi dari situasi yang ada. Meski begitu, dia tetap ingin mengingatkan sang sahabat.
“Aku tidak menyangka akan bertemu Arisha di sana. Lalu, ketika kami sedang mengobrol, tiba-tiba saja aku sudah melamarnya.”
“Tiba-tiba?” ulang Barra. Dia mengembuskan napas, lalu menyisir rambut dengan tangan. “Apa maksud kamu dengan tiba-tiba? Kamu tidak bermaksud untuk mengatakan kalau sebelumnya kamu tidak pernah merencanakan ini, kan?”
“Aku ....” Khafi tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kejadian tadi pada Barra. Dia sendiri masih belum memahami situasinya. Lamaran yang dia lakukan memang terdengar tidak pantas. Rasanya malu untuk mengakui.
“Kenapa kamu jadi gagap begitu? Kamu benar-benar tidak merencanakan lamaran untuk Arisha? Kamu hanya tiba-tiba melamar? Begitu?”
“Situasinya terlalu sulit dijelaskan. Begitu melihat wajah Arisha, aku mendadak ingin segera memilikinya. Jadi ....”
“Jadi, tanpa pikir panjang kamu langsung melamar dia?” Khafi terdiam cukup lama sebelum mengangguk pelan. Barra membuka mulut untuk beberapa saat, tidak percaya dengan ucapan Khafi yang tidak masuk akal.
Tidak pernah sekali pun Barra melihat kebodohan Khafi sampai hari ini. Lamaran, bagi sebagian gadis merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu. Bagaimana bisa Khafi melakukan hal itu secara sembarangan. Apa lagi di zaman yang serba modern ini. Sikap Khafi bisa saja dianggap tidak memedulikan perasaan wanita yang dilamar.
Jika Barra menjadi Arisha, mungkin dia akan marah. Kecuali kalau Arisha memang sudah memiliki perasaan spesial untuk Khafi. Masalahnya, Khafi sendiri bahkan belum yakin mengenai hal itu. Bagaimana bisa Khafi berbuat sembrono begitu? Apa dia tidak memahami akibat dari perbuatannya pada Arisha?
Sungguh! Barra tidak memahami jalan pikiran Khafi kali ini. Seharusnya dia menyiapkan lamaran yang pantas bagi wanita yang disukai. Terutama ini adalah pengalaman pertamanya dekat dengan seseorang. Sepertinya Barra terlalu berharap pada Khafi. Dia pikir, Khafi bisa mengambil langkah tepat. Siapa sangka kalau Khafi justru merusak momen yang berharga bagi setiap wanita di dunia.
“Apa kesalahan ini masih bisa diperbaiki?”
“Menurut kamu?”
Mana mungkin Khafi mengetahui jawabannya. Ini akan menjadi kesalahan besar pertama yang dia lakukan selama bertahun-tahun hidup. Selama ini, dia selalu melakukan hal dengan sangat baik. Dia belum pernah melakukan kesalahan sebesar ini. Jadi, dia cukup bingung dengan cara menyelesaikannya.
“Apa Arisha akan menjauhiku karena hal ini?”
“Aku juga tidak yakin. Apa kamu sudah mengetahui perasaan Arisha padamu?”
“Bagaimana aku bisa tahu kalau dia selalu menunduk saat kami mengobrol. Tapi, aku sering melihatnya tersipu saat kami berbicara. Dia juga bilang kalau berdekatan denganku membuatnya merasa gugup.”
“Baguslah kalau begitu. Setidaknya dia masih memiliki kemungkinan untuk menyukaimu. Jadi, kamu tidak perlu terlalu khawatir.”
“Bagaimana kalau aku mengirim seseorang untuk mengawasinya?”
“Aku sudah melakukannya?”
“Apa? Sejak kapan? Kenapa kamu melakukan itu tanpa memberitahuku?”
“Karena kamu terlalu sibuk melamun. Padahal masih banyak cara untuk membuatnya terkesan. Lagi pula, aku baru mengutus mereka kemarin.”
“Jangan membuatnya takut,” ujar Khafi mengingatkan. Barra mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya sambil berkedip.
“Kak Khafi!”
Barra dan Khafi melihat ke arah pintu yang terbuka. Khafi mendengkus, lalu berpura-pura sibuk dengan komputernya. Dia mendelik pada Barra, lalu menunjuk gadis yang mendekati mejanya dengan dagu. Barra memutar bola mata. Meski begitu, dia berjalan cepat dan menarik si gadis berambut pendek itu.
“Kak Barra mau ngapain?” tanya gadis itu kesal.
“Zaina cantik, kenapa kamu bisa ada di sini?” Barra mencoba menahan Zaina.
“Aku cuma mau ngucapin selamat buat kakakku. Aku dengar Kakak menyukai wanita yang dikenalin sama Nenek. Benaran?”
“Bukankah Kakak sudah bilang, jangan pergi ke kantor. Apa membuat ribut di luar sana masih belum cukup, sampai kamus mengacau di sini?”
“Kak Barra, sepertinya aku perlu cek, deh. Aku enggak percaya kalau Kak Khafi itu kakak kandungku. Kami enggak mirip sama sekali.”
“Lalu, memangnya kamu lebih mirip dengan Dzaky?” tanya Khafi serius.
“Enggak mungkin. Dia lebih mengerikan dari pada Kakak.”
“Kamu tidak akan mengatakan kalau kamu mirip Barra, bukan?” Zaina melirik Barra.
“Siapa juga yang mau mirip sama Kak Barra? Lagian, aku enggak mau jadi adiknya.”
“Bukankah selama ini kamu memang menganggap Barra sebagai kakak?”
“Siapa yang bilang? Aku dan Kak Barra lebih cocok jadi teman. Iya, kan?”
“Teman?” Barra mencibir. Zaina menyipit mata. Dia mengerucutkan bibir. “Siapa yang mau berteman dengan gadis kekanakan seperti kamu.”
“Kak Barra!”
Dengan sigap, baik Barra maupun Khafi menutup telinga dengan tangan. Teriakan Zaina memenuhi ruangan Khafi. Dia bahkan menambah irama dengan mengentak-entakkan sepatu. Barra mendekatinya, lalu mengajak gadis itu duduk di sofa.
Dari tempat duduknya, Khafi memperhatikan perlakuan Barra pada Zaina. Dia selalu takjub dengan sikap sabar Barra saat menghadapi adiknya. Seakan Barra memiliki stok kesabaran setinggi langit sehingga bisa mengatasi Zaina yang suka kekanak-kanakan. Entah bagaimana cara Barra menaklukkan sang adik.
Zaina meraih gelas berisi air putih yang diberikan oleh Barra. Meski begitu, matanya masih memberikan tatapan tajam. Bukan pada Khafi, melainkan pada Barra yang kini duduk di sampingnya. Dia memukul lengan Barra kuat-kuat dan membuat pria itu mengaduh. Perilaku Zaina benar-benar tidak bisa ditebak.
“Kenapa kamu menyerangku? Bukankah sasaran kamu itu Khafi.”
“Tapi Kakak yang ngalangi kesenanganku.”
“Aku menghalangi kesenanganmu? Memangnya apa yang mau kamu lakukan?”
“Aku dengar Kak Khafi sudah mau nikah. Jadi, aku datang buat mastiin. Apa itu benar?” Zaina melongok sang kakak yang masih pura-pura fokus bekerja.
“Kenapa kamu ikut campur urusan orang. Belajar saja dengan baik. Sebentar lagi kamu akan ujian, bukan?” Khafi akhirnya bersuara. Zaina membereskan.
“Kak Barra ke rumah malam ini?”
“Kenapa dia harus ke rumah setiap hari?”
“Karena aku butuh perhatian. Tapi, kakakku malah sibuk di luar dan enggak pernah peduli sama adiknya di rumah. Kapan Kakak bakal pulang?” Khafi mematung di tempat. Kalau sudah membahas mengenai pulang, dia tidak akan bisa menjawab. Barra menghela napas. Kenapa dia harus ada di sana? Berada di antara masalah keluarga Khafi terkadang membuatnya cukup lelah.