Bab 14: Terima Saja

1745 Words
“Jadi, apa yang kamu rencanakan?” “Maksud kamu?” tanya Arisha tidak mengerti. Setelah menceritakan semua pembicaraan dengan Khafi, Arisha berharap Nadhifa bisa membantu mencarikan jalan keluar. Dengan pengalaman bersama beberapa pria, Nadhifa tentu lebih bisa diandalkan. Masalah seperti ini, tidak mungkin dia membicarakannya dengan orang tua. Yumna sudah tahu mengenai lamaran Khafi. Tinggal menghitung waktu dan sang ayah juga akan mengetahui. Arisha tidak berencana menyembunyikan hal itu dari orang tuanya. Toh, mereka memang menginginkan pernikahannya dan Khafi. Yang membuat dia sedikit ragu justru Khafi. Pria berwajah datar dan berhati dingin seperti Khafi pasti sulit untuk ditaklukkan. Ya, setidaknya begitulah yang dia ketahui dari beberapa novel romantis. Dipaksa Nadhifa untuk membaca genre ini membuat dirinya mengenal berbagai karakter pria. Kebanyakan memiliki kepribadian suram semacam Khafi. Selalu ada alasan di balik sikap seseorang. Arisha jadi penasaran, apa yang membuat Khafi sedingin itu. Membayangkan wajah mendung Khafi membuat hati gadis itu berdesir. Sadar jika yang dilakukan salah, dia segera menghilangkan bayangan Khafi dengan menggeleng berkali-kali. “Apa, sih, yang kamu bayangkan sampai geleng-geleng begitu?” Arisha mendongak. Dia meringis pada Nadhifa yang mengerutkan kening. “Pasti sedang membayangkan Khafi. Iya, kan?” “Bukan. Aku ....” “Enggak mau ngaku? Cuma ada aku. Kenapa harus sungkan?” Arisha menyapu seisi kafe yang terletak tepat di samping kantornya itu. Pada saat jam makan siang begini, suasana pasti sangat ramai. Rasanya membicarakan hal pribadi sedikit tidak nyaman. Dia khawatir kalau-kalau ada yang mendengar pembicaraannya dengan Nadhifa. Padahal dia tidak membicarakan hal buruk. Suara bising memenuhi kafe. Arisha bahkan bisa mendengar beberapa orang yang tertawa di meja seberang. Kalau bukan karena tadi pagi tidak sarapan, dia akan memilih tempat lain. Sayang, dia sudah kelaparan. Jadi, tempat ini menjadi pilihan untuk mengganjal perut. Setidaknya makanan di sini masih lumayan dibanding dengan yang ada di kantin kantor. “Sebenarnya aku mengkhawatirkan diriku sendiri.” “Mengkhawatirkan diri sendiri?” Arisha mengangguk. “Karena kamu sering memikirkan Khafi?” Sedikit ragu, tetapi Arisha tetap mengangguk. “Menurutmu bagaimana? Aku terlalu berlebihan, ya?” “Ini bukan masalah besar, Sha. Kamu cuma lagi jatuh cinta.” “Bukankah itu malah masalah besar? Gimana bisa aku suka sama dia?” “Wajar, kan? Dia pria yang menarik dan kamu gadis normal. Apa salahnya suka sama dia? Memangnya ada larangan yang menyebutkan kalau kamu enggak boleh suka sama dia? Enggak ada, kan? Kenapa kamu khawatir?” “Tapi aku melanggar prinsipku, Fa.” “Kalau begitu, aku punya solusi untuk menyelesaikan masalah ini.” “Kamu memang sahabat yang paling bisa diandalkan. Jadi, apa solusi kamu?” “Terima dia. Nikah sama dia.” Untuk beberapa saat, mulut Arisha terbuka lebar. Dia memandang Nadhifa yang tersenyum lebar. Jelas sekali bahwa dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak sanggup berkata-kata. Dengan banyaknya pengalaman, dia pikir Nadhifa akan memberikan tanggapan lain mengenai permasalahannya ini. “Nikah sama Mas Khafi?” “Tentu saja. Dia yang kamu sukai. Masa mau nikah sama yang lain?” “Tapi, Fa. Aku sudah bilang, kan, kalau aku dan dia .... “Iya. Aku tahu. Tapi, untuk menyelamatkan dirimu hanya ini jalan terbaik. Kalau kalian sudah menikah, bukankah memikirkan dia jadi tidak mengkhawatirkan?” Arisha diam. “Kalian bisa menjadi pasangan sah. Kamu bisa mengejar dia setelah resmi menjadi istrinya,” tambah Nadhifa sambil berbisik. Arisha bergidik. Dia menjauh dari sahabatnya itu. Meski begitu, dia harus mengakui jika pendapat Nadhifa benar. Jika Arisha menikah dengan Khafi, dia tidak perlu segelisah ini. Masalahnya, apa dia bisa mampu merobohkan tembok yang membentengi diri Khafi? Ini pertama kali dia menyukai seseorang, apa dia bisa berhasil? Mengingat pengalaman dalam cinta nihil, kemungkinan dia menang kecil sekali. “Apa lagi yang kamu ragukan? Atau kamu mau aku memastikan dulu mengenai perasaannya padamu? Aku lumayan bisa diandalkannya dalam hal-hal seperti ini.” “Dia itu enggak punya ekspresi, Fa. Percaya sama aku. Dia enggak bisa dibaca.” “Wah! Aku semakin penasaran.” Arisha memutar bola mata. Sementara Nadhifa tertawa pelan. “Enggak usah khawatir begitu. Dia sudah melamar kamu, bukankah artinya dia bersedia menikah denganmu kapan saja? Kamu cuma perlu mengiyakan. Aku yakin, dia akan segera datang melamar. Gimana? Mau bertaruh?” “Enggak perlu. Jujur saja, keberaniannya untuk melamarku juga mengkhawatirkan.” “Kenapa kamu mengkhawatirkan banyak hal?” Arisha mengangkat bahu. “Mungkin karena ini pengalaman pertamaku. Aku jadi banyak berpikir.” “Jangan terlalu dipikirkan.” Nadhifa menepuk-nepuk punggung Arisha. “Tapi aku serius, Sha. Dari cerita kamu mengenai sosok Khafi, aku rasa dia bukan pria jahat. Bukankah kalian sangat cocok?” “Cocok? Dari mana kamu bisa menilai kalau kamu cocok?” “Dia sibuk mengurus keluarga sampai enggak pernah mengenal wanita. Sementara kamu menurut pada ayahmu dan enggak punya teman dekat pria. Walau dengan alasan berbeda, kalian sama-sama enggak kenal lawan jenis.” “Aku punya, kok, teman laki-laki,” ujar Arisha. “Iya. Tapi enggak ada yang dekat, kan?” Arisha menghela napas. Dia menengadahkan kepala, lalu menggeleng lemah. “Intinya kalian bisa saling mengisi kekosongan. Siapa tahu setelah menikah, dia enggak sedingin itu, kan?” “Mungkin. Apa ada kemungkinan kalau dia bakal suka juga sama aku?” “Kamu meragukan kemampuanku? Ayo, kita buat janji temu dengan pria bernama Khafi itu. Aku juga penasaran sekali seperti apa dia.” “Tapi dia sangat sibuk. Aku enggak mau ganggu dia” Nadhifa memandang sang sahabat seolah Arisha sudah melakukan kesalahan besar padanya. Arisha sampai menggeser tempat duduk ketika Nadhifa melayangkan tatapan tajam. Dia mengatakan yang sebenarnya. Khafi seorang bos di sebuah perusahaan. Pasti dia memiliki kegiatan yang padat, bukan? Belum lagi harus memperhatikan kedua adik yang masih kuliah. Arisha tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya Khafi mengurus semua itu seorang diri. Tiba-tiba dia ingin lebih mengenal Khafi dan semua anggota keluarganya. Terutama kedua adiknya. Apa mereka cukup mandiri atau justru merepotkan. Gadis berjilbab juga penasaran, apa ada orang yang mendampingi Khafi melewati semua itu. Setidaknya dia membutuhkan seorang sahabat yang selalu menemani, bukan? Orang kaku sepertinya akan lebih menderita saat sendirian. Mungkin dia hanya terlihat keras di luar, tetapi lembut di dalam. “Apa kamu sedang melindungi suami masa depanmu?” “Suami masa depan? Kamu berlebihan. Kami bahkan belum sepakat untuk menikah.” “Tinggal bilang iya dan kalian akan menikah.” “Kamu pikir menikah segampang itu?” “Ya, ampun, Sha. Coba kamu pikirkan. Kalian sudah direstui keluarga. Dia sudah melamar dan kamu juga menyukainya. Jadi, apa lagi yang kamu butuhkan?” “Tapi dia enggak pernah bilang kalau dia suka sama aku, kan?” Senyum Nadhifa mengembang begitu mendengar pertanyaan Arisha. “Jadi, kamu mau ditembak sama dia? Kalau kamu nunggu momen itu, mungkin bakal lama. Tipe pria seperti Khafi paling susah buat ngomong suka. Setahuku begitu.” “Terus, gimana aku bisa tahu kalau dia suka sama aku?” “Sudah aku bilang, serahkan padaku. Sekarang telepon dia dan buat janji temu.” “Menelepon Mas Khafi? Sekarang?” “Kenapa? Enggak berani? Kirim pesan juga boleh.” “Bukan begitu, Fa. Aku ....” “Kalau kamu bingung mau nulis pesan apa, sini, biar aku saja yang ketik.” Nadhifa mencoba meraih telepon genggam Arisha yang ada di atas meja. Dengan gerakan secepat kilat, Arisha mengambil benda pipih itu. “Aku saja yang mengirimkan pesan. Kapan kamu bisa bertemu?” “Sesuaikan saja dengan jadwalnya. Aku bisa menyesuaikan.” Arisha mengangguk-angguk mengerti. Dia membuka kunci dan mulai menuliskan pesan untuk Khafi. Meski tidak begitu yakin jika pertemuan ini akan memberikan hasil yang diinginkan, dia tetap harus mengenalkan Khafi pada sahabatnya, bukan? Kalau dia tidak bergerak cepat, Nadhifa mungkin akan mendatangi kantor Khafi. Itu bukan hal yang tidak mungkin. Selama ini, Nadhifa diam karena masih menunggu cerita dari Arisha. Setelah tahu keadaannya, dia pasti akan memastikan seperti apa pria yang akan dinikahi sang sahabat. Biar bagaimana, mereka sudah sangat lama bersahabat, dia begitu mengenal Nadhifa. “Kak Arisha!” Belum juga selesai mengetik di layar telepon genggam, seseorang memanggil. Arisha mendongak dan mendapati seorang gadis berambut pendek yang melambai padanya. Jarak mereka hanya tiga atau empat langkah. Keningnya berkerut, merasa tidak mengenal gadis berbaju biru tua itu. “Kak Arisha, kan?” tanya si gadis memastikan. Setelah Arisha mengangguk, dia duduk di sampingnya tanpa meminta izin. Arisha tersenyum kaku saat gadis itu memperhatikannya sambil bertopang dagu. “Kamu ... siapa?” “Oh, halo, Kak Arisha. Perkenalkan, aku Zaina. Adik perempuan satu-satunya Kak Khafi.” Zaina mengulurkan tangan sambil tersenyum. Meski belum begitu memahami situasi sekarang, Arisha tetap menyambut uluran tangan itu. “Kamu ke sini dengan ....” “Tenang saja. Kak Khafi terlalu sibuk buat nemanin aku. Jadi, aku bawa sahabatnya.” Seorang pria tinggi besar mendekati meja Arisha. Dia terlihat lebih menarik karena mengenakan setelan jas biru tua. Jelas sekali dia tidak menyukai sikap Zaina yang kini duduk tanpa beban. Namun, dia tetap tersenyum ramah pada Arisha dan Nadhifa. Sebelum pria itu memperkenalkan diri, Arisha dikejutkan dengan suara derit kursi. Untuk memastikan pendengarannya tidak salah, Arisha menoleh. Nadhifa sudah berdiri dengan senyum menghias bibir. Wajahnya bersinar. Dia menatap pria yang berdiri di depan mereka dengan semringah. Ini bukan pertanda baik. Apa lagi, saat Nadhifa mengulurkan tangan pada sang pria. “Halo, aku Nadhifa. Jadi ... kamu teman Mas Khafi?” Sang pria tertawa kecil saat Nadhifa memanggil Khafi dengan embel-embel mas. Dia langsung berdeham saat menyadari wajah Nadhifa yang memerah. Untuk menebus kesalahannya, dia menyambut uluran tangan Nadhifa sambil tersenyum. “Halo, saya Barra. Teman sekaligus rekan kerja Khafi.” “Kak Barra bakal salaman sampai kapan?” tanya Zaina dengan nada tajam. Membuat Barra mendelik dan melepas tangan Nadhifa. “Maaf karena sudah mengganggu makan siang kalian. Zaina hanya penasaran dengan kamu,” ujar Barra sambil menatap Arisha. “Salam kenal, Arisha. Saya Barra.” “Halo, Kak Barra atau Mas Barra?” “Bukankah sedikit menggelikan memanggilnya Mas Barra?” sela Zaina. Arisha menoleh pada gadis belia itu, lalu tersenyum. “Bicara yang sopan, Zai. Dia calon kakak iparmu.” Arisha ingin meralat perkataan Barra, tetapi pria itu sudah berbicara lagi. “Dia memang sedikit menyebalkan. Abaikan saja dia. Aku akan membawa dia pergi sekarang.” “Tapi aku masih mau ngobrol sama Kak Arisha.” “Jangan macam-macam. Kita pulang sekarang.” Barra meraih tangan Zaina dan memintanya berdiri. “Kami pamit dulu.” Arisha tersenyum saat melihat Zaina yang berusaha melepaskan diri dari Barra. Sepertinya akan ada jalan lain untuk mendekati Khafi. Dia memperhatikan Zaina yang terus mengomel sepanjang jalan. Siapa sangka kalau Khafi memiliki adik seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD