Bab 15: Hai, Kakak Ipar!

1864 Words
“Enggak bisa gini. Aku harus ngobrol sama kakak iparku.” Zaina tiba-tiba berhenti dan membuat Barra hampir menabraknya. “Bisakah kamu berjalan dengan benar? Apa kamu melamun?” tanya Barra dengan penuh penekanan di setiap katanya. Bukannya takut, Zaina justru berjalan melewati pria itu. “Kamu mau ke mana?” Barra meraih lengan Zaina dan menahan sang gadis agar tidak melanjutkan langkah. Zaina mendelik. “Kalau Kakak enggak ngelepasin aku sekarang, aku bakal teriak.” Demi keselamatan, Barra melepaskan Zaina. Dia hafal betul tabiat gadis di hadapannya itu. Kalau sudah memutuskan, Zaina sulit untuk dicegah. Jika hari ini dilarang melakukan sesuatu, hari berikutnya dia akan memikirkan berbagai cara agar bisa mencapai keinginan. Bertemu dengan Arisha juga bukan masalah besar, bukan? Seharusnya Barra tidak mengizinkan Zaina ikut. Dia berencana menemui Arisha, sekadar untuk berkenalan. Tentu saja bukan dengan mengganggu acara makan siang gadis itu. Awalnya dia ingin menghubungi Arisha dan membuat janji. Sayang, rencananya diketahui Zaina. Jadilah dia berada di sini dengan adik sahabatnya. Setelah menghela napas dan menenangkan diri, Barra mengikuti langkah cepat Zaina. Lebih baik dia mengikutinya atau gadis berambuat pendek akan membuat masalah besar. Semoga saja Arisha tidak menceritakan hal ini pada Khafi. Kalau sampai sang sahabat tahu, dia juga bisa kena batunya. Kenapa menuruti Zaina selalu memiliki risiko? “Kak Arisha!” Lagi-lagi, Zaina berteriak. Barra memejamkan mata sambil mengembuskan napas. Mengikuti Zaina hanya akan membuatnya malu. Meski begitu, dia tetap berjalan di belakang gadis itu. Dia bisa melihat Arisha yang terpaku di tempat. Mungkin tidak menyangka jika Zaina kembali. Untuk mengurangi sedikit rasa malu, dia menangkupkan kedua tangan di d**a dan tersenyum pada Arisha. Lega sekali saat Arisha mengangguk. “Kamu kembali?” tanya Arisha pada Zaina yang kini sudah duduk di sampingnya “Aku harus ngobrol sama Kakak dulu, kan?” Zaina meraih lengan Arisha dan mulai merapat pada wanita berjilbab. Kedua mata Arisha melebar, tetapi dia membiarkan hal itu. “Saya harap kamu tidak keberatan untuk mengobrol sebentar dengan kami,” ujar Barra. “Enggak keberatan sama sekali. Duduk saja.” Bukan Arisha yang menjawab, melainkan Nadhifa. Dia menunjuk sebuah kusri kosong di sampingnya. Barra tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu duduk. “Mau pesan sesuatu?”tawar Nadhifa bersemangat. “Tidak perlu. Kami tidak akan lama.” Barra menoleh pada Zaina. “Sebaiknya segera selesaikan urusanmu, lalu pergi. Aku masih ada urusan di kantor,” katanya mengingatkan. “Sok sibuk banget. Kakak tinggalin saja aku di sini. Aku bisa, kok, pulang sendiri,” ucap Zaina. Dia membalas tatapan tajam Barra padanya. “Aku peringatkan Zaina, jangan melewati batasku atau kamu akan menyesal.” “Iya, iya. Kakak enggak asyik.” Zaina mengerucutkan bibir. “Maaf, ya, dia memang agak kekanakan.” “Siapa yang Kakak bilang kekanakan?” “Apa ada yang ingin kamu katakan?” sela Arisha. Sepertinya Barra benar-benar sibuk. Jika dia membiarkannya teralu lama di sini, itu akan merugikan pria itu. Adik Khafi, Zaina, mungkin mendengar informasi berlebihan mengenai dirinya. Statusnya dengan Khafi bahkan belum jelas, tetapi Zaina sudah memanggil kakak ipar. Panggilan itu terasa sangat asing di telinganya. Melihat tingkah Zaina yang kekanakan, Arisha tidak bisa meralat panggian untuknya. Dia khawatir Zaina akan merasa mau. Jadi, dia diam saja. Meski baru mengamati, dia tahu pasti jika Zaina gadis yang keras kepala. Kalau tidak dituruti, Zaina bisa saja kecewa. Atau yang lebih parah, dia mungkin bisa melakukan hal-hal tidak terduga, seperti mendadak menangis agar mendapatkan perhatian dari orang lain. Mata Arisha mengamati Zaina yang terlihat sangat cantik. Tidak heran. Hilya jga terlihat sangat cantik. Seluruh keluarga Khafi tampaknya memiliki gen berparas indah. Wajah Zaina tidak dirias dengan tebal. Arisha malah mengira kalau gadis itu justru asal-asalan berdandan. Entah karena terbur-buru atau tidak suka bersolek. “Jadi, kapan Kakak berencana menikah dengan Kak Khafi?” Arisha terbatuk. Dia melepas tangan Zaina, lalu menjauh sambil meringis. Pertanyaan itu terlalu mengerikan.” Sebenarnya apa yang telah didengar oleh Zaina sehingga dia menanyakan hal seperti itu. Arisha melirik Barra yang juga terpana. Tampaknya Zaina memang berbakat membuat orang terkena serangan jantung. Arisha jadi kasihan pada Khafi yang harus menghadapi Zaina setiap hari. Dia bertanya-tanya, apa adik Khafi yang satu lagi juga kekanakan begitu. “Jangan mencampuri urusan orang dewasa, Zai. Kalau kakakmu tahu, dia tidak akan melepaskanmu. Jadi, berhentilah selagi bisa.” Zaina memberengut. Barra menggelengkan kepala berkali-kali. “Tidak usah menjawab pertanyaan Zaina yang tidak masuk akal itu.” “Aku ....” “Aku tanya karena sangat penasaran. Aku cukup heran saat tahu kak Khafi menyetujui rencana Nenek. Bukankah biasanya kak Khafi tidak menyukai hal-hal seperti ini?” “Apa sebelum ini kakakmu pernah dikenalkan dengan wanita lain?” sela Nadhifa. Dia mengangkat bahu tak acuh saat Arisha melayangkan tatapan tajam. “Tentu saja. Tapi aku tidak ingat berapa jumlah pastinya. Nenek sampai takut kalau kak Khafi tidak akan pernah menikah. Padahal dia sudah cukup tua.” Arisha dan Nadhifa tersenyum mendengar gaya bicara Zaina yang tanpa beban. “Wah! Sepertinya kamu benar-benar spesial, Sha. Selamat.” Arisha melebarkan mata. Dia ingin sekali menutup mulut Nadhifa yang tidak bisa mengontrol itu. “Aku senang sekali Kakak bisa buat Kak Khafi membuka hati. Meskipun terlihat dingin, kakakku sangat perhatian. Aku berharap Kakak bisa menerima kakakku,” ucap Zaina dengan wajah semringah. Arisha tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya diam. “Apa Kak Arisha menyukai kakakku?” “Tentu saja. Bukankah mereka saling menyukai?” “Nadhifa!” Kali ini, Arisha tidak mau tinggal diam. Bisa-bisanya Nadhifa mengatakan hal yang bersifat pribadi seperti itu. Lihatlah ekspresi Zaina yang sangat bahagia. Dia pasti mengira kalau hubungan Arisha dan Khafi sudah sangat dalam sampai memiliki harapan seperti itu. Padahal kenyataannya mereka belum sedekat itu. Arisha bahkan masih ragu untuk mengungkapkan perasaan. Bagaimana bisa Nadhifa menyebarkan rahasianya dengan begitu mudah. “Aku senang banget dengar ini. Kak Arisha tenang saja. Kakak adalah wanita pertama yang disukai Kak Khafi. Aku bisa menjamin kalau kakakku pria yang setia. Jadi, Kakak enggak perlu khawatir. Aku ada di pihak Kakak.” “Hebat sekali. Kamu sudah dapat dua dukungan. Tinggal berkenalan dengan adik Mas Khafi yang satu lagi,” ujar Nadhifa. Dia terkikik setelah mengatakan itu. “Kak Arisha enggak perlu ketemu sama Kak Dzaky. Pendapatnya enggak penting. Lagian kalau Kak Khafi sudah buat keputusan, enggak akan bisa ditentang.” “Jadi, kakakmu benar-benar sudah memutuskan untuk menikahi Arisha?” Bola mata Arisha nyaris keluar mendengar pertanyaan Nadhifa. “Aku enggak bakal berani manggil Kak Arisha dengan sebutan kakak ipar kalau kakakku belum mutusin hal itu.” Ucapan Zaina kali ini lebih mengejutkan. Dia tahu kalau Khafi berniat menikahinya, tetapi tidak menyangka kalau pria itu sudah membahas dengan keluarga. Jika sudah begitu, bukankah artinya Khafi memang serius. Ada sesuatu yang meletup-letup dalam hatinya. Meski begitu, dia berusaha menyembunyikan. Pemandangan ini sangat sayang untuk dilewatkan, jadi Barra mengambil telepon selulernya dan membidik Arisha yang tengah tersenyum. Meski sempat menutupi, dia tahu kalau gadis itu tadi menarik kedua ujung bibir ke atas. Akhirnya dia bisa mendapatkan foto untuk memeras Khafi. Beruntung Arisha sibuk dengan Zaina dan Nadhifa, jadi Barra tidak ketahuan. Dia mengamati ketiga gadis di hadapannya. Mereka saling mendekat dan berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Suara bising di dalam kafe membuat Barra mengembuskan napas. Kenapa harus memilih tempat seperti ini untuk makan? “Kak Barra sudah menikah?” Barra tertegun mendapat pertanyaan tak terduga dari Nadhifa. Dia menoleh pada Zaina yang memutar bola mata. “Belum. Masih menikmati kesendirian.” “Menikmati kesendirian atau menunggu seseorang?” “Kakak benaran nunggu seseorang?” tanya Zaina ikut penasaran. “Anak kecil tidak usah ikut campur urusan orang dewasa.” “Kalau Kakak berencana mengejar pria tua itu, lebih baik urungkan niatnya sekarang juga. Dia cuma suka menggoda, tapi enggak mau berkomitmen,” kata Zaina pada Nadhifa. Dia mencibir saat mendapat tatapan peringatan dari Barra. “Sepertinya dia tidak sejahat itu,” ujar Nadhifa. Dia memperhatikan Barra yang sekarang bersandar di kursi sambil memainkan telepon seluler. “Dia selalu seperti itu sama semua cewek. Kakak enggak sendiri. Kelihatannya Kakak enggak cukup menarik buat digoda sama dia.” Meski terdengar menyakitkan dan terlalu jujur, apa yang dikatakan Zaina memang benar. Barra duduk tepat di depan Nadhifa, tetapi tidak bermaksud untuk memulai pembicaraan, bukankah sudah sangat jelas. Jika seseorang tertarik, bukankah setidaknya dia mengajak mengobrol. Sekadar berbasa-basi untuk mencari perhatian. Lain dengan apa yang dilakukan oleh Barra. Pria itu hanya sibuk di dunianya sendiri. Padahal ada banyak kesempatan untuk berbicara. Nadhifa mengerucutkan bibir, lalu menoleh pada Zaina yang masih tertawa. Dia harus menyerah sebelum mempermalukan diri lebih jauh. “Dia sungguh tidak pernah berpacaran?” tanya Nadhifa memastikan. Zaina menggeleng yakin. “Sekali pun?” Zaina menggeleng lagi. “Dia dan kakakku sama saja. Mereka tidak pernah benar-benar dekat dengan wanita. Bukankah mereka adalah pasangan yang sangat serasi?” “Aku tidak menyangka kalau masih ada pria yang seperti itu di dunia ini. Bagaimana dengan kamu dan kakakmu, Dzaky? Kalian tidak seperti mereka, kan? Setidaknya kalian pernah pacaran walaupun cuma sekali, kan?” “Tidak ada yang boleh berpacaran sebelum lulus kuliah.” Bukan Zaina yang menjawab. Barra sudah berdiri entah sejak kapan. “Kita pulang.” Awalnya Zaina masih ingin berdebat dengan Barra, tetapi begitu melihat tatapan pria itu, dia menurut. Kalau wajah Barra sudah lempeng, artinya dia harus menyerah. Kalau dia nekat, Barra mungkin akan menggendong atau menyeretnya keluar kafe. Tentu saja dia tidak mau membuat dirinya malu. Zaina memandangi Arisha sambil menggembungkan pipi. Dia masih ingin membicarakan banyak hal. Sesampainya di tempat tujuan, dia akan membuat perhitungan dengan Barra karena mengganggu. Sekarang, sebaiknya dia pergi sebelum kemarahan Barra muncul ke permukaan. “Aku boleh menelepon Kakak?” tanya Zaina. “Tentu saja. Aku akan memberikan kartu namaku biar ....” “Aku sudah tahu nomor Kakak. Aku pergi dulu.” Arisha membalas senyum manis Zaina. Begitu juga saat Zaina melambaikan tangan. Dia memang bisa melihat jejak kekanak-kanakan dalam diri Zaina. Namun, itu merupakan gaya tariknya. Sikapnya membuat sang gadis terlihat imut dan membuat semua orang ingin melindungi. Sosok Zaina bisa dijadikan penghibur saat lelah. Kehadirannya pasti membawa kebahagiaan tersendiri untuk keluarga. Betapa bagusnya memiliki satu anggota keluarga yang bisa membuat semua orang tertawa. Tingkah polos dan konyolnya benar-benar membuat orang lain geleng-geleng kepala. “Dia gadis yang baik, kan?” Arisha masih memperhatikan Zaina yang berjalan menjauh. Dia tersenyum saat gadis itu menggandeng lengan Barra. “Apa menurutmu mereka adalah pasangan?” “Apa kamu merasa begitu?” Meski tidak mau mengakui, Nadhifa tetap mengangguk. “Tapi sepertinya mereka sama-sama tidak tahu perasaan mereka.” “Atau sama-sama ingin bersembunyi?” Nadhifa menghadap Arisha, kemudian bertepuk tangan. Kelakuan itu membuat mereka menjadi pusat perhatian. “Kenapa kamu tepuk tangan? Mau cari perhatian?” “Aku bangga kamu bisa berkembang sejauh ini, Sha.” “Maksud kamu? Jangan berputar-putar. Langsung bilang padaku apa intinya.” “Kalimatmu benar-benar bagus. Sudah berapa banyak novel romantis yang kamu baca? Perkembanganmu sangat menakjubkan.” “Cukup banyak sampai aku rasanya mau muntah. Apa novel romantis harus menampilkan adegan yang membuat orang merinding?” “Bukankah yang penting pembaca kita mengerti apa yang mau kita sampaikan? Membuat mereka berdebar dan penasaran menjadi tugasmu sebagai penulis.” “Siap, Bu editor. Aku akan bekerja keras.” “Bagus sekali. Semangat!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD