“Bisa bicara sebentar dengan Nenek?”
Hilya yang sedang sibuk mengeluarkan brownies dari dalam oven mendongak. Dia tersenyum melihat cucu sulungnya yang jarang muncul di rumah. Bersikap ramah, dia berjalan mendekat dan berniat memeluk Khafi, tetapi pria itu malah mundur dua langkah. Wanita sepuh tertawa. Dia meminta seorang asisten rumah tangga untuk meneruskan pekerjannya membuat kue.
“Nenek membuat kue lagi?”
“Adikmu suka sekali dengan brownies, jadi Nenek buatkan untuk dia.”
“Nenek terlalu memanjakan Zaina. Kalau Nenek dan Barra terus begitu, kapan Zaina akan tumbuh dewasa. Dia sudah hampir dua puluh tahun, Nek.”
“Nenek membuat brownies untuk menghilangkan bosan. Satu-satunya orang yang bisa menghibur Nenek hanya Zaina. Walaupun sering menimbulkan masalah, tapi dia lebih banyak di rumah menemani wanita tua ini.”
“Bukankah dia lebih sering keluar dengan Barra?”
“Setidaknya dia ingat kalau ini rumahnya. Tidak seperti dua cucu laki-laki Nenek yang mungkin sudah lupa kalau mereka masih mempunyai Nenek.”
“Nenek tahu betul apa alasanku enggan tinggal di sini,” ujar Khafi. Dia menuntun Hilya dan mendudukkan sang nenek di sofa.
Sejak mengalami berbagai kejadian tidak menyenangkan di rumah ini, Khafi memilih untuk hidup mandiri di sebuah rumah. Sebenarnya jarak antara rumahnya dan rumah Hilya tidak begitu jauh. Hanya saja, karena pekerjaan kantor sangat banyak, Khafi jarang sekali mengunjungi sang nenek yang tinggal bersama kedua adiknya.
Ini juga alasan mengapa Barra lebih dekat dengan keluarga Khafi dibandingkan dengan dirinya sendiri. Khafi menitipkan nenek dan kedua adiknya pada sang sahabat. Saat itu, dia benar-benar tidak memiliki pilihan selain menjauhkan diri dari keluarganya. Terlalu banyak yang terjadi dan dia tidak mau menambah beban Hilya.
Jadi, Barra yang memang sudah sejak lama mengenal keluarga Khafi menyetujui permintaan sahabatnya itu. Lagi pula, dia banyak berutang budi pada keluarga Hilya. Mana mungkin dia bisa menolak keinginan Khafi. Terutama saat dia merasa kalau apa yang diminta oleh Khafi bukanlah hal sulit. Dia sanggup melakukannya.
“Bagaimana kabar Nenek belakangan ini? Aku harap Nenek tidak terlalu stres karena kami.”
“Mana mungkin Nenek tidak stres. Kalian bertiga, bisakah lebih rukun dan sering mengunjungi Nenek bersama? Kenapa kalian begitu sibuk? Adikmu Dzaky itu, kapan dia ingat kalau dia punya rumah. Kenapa dia lebih suka menyewa rumah dan tinggal sendiri.”
“Lebih dekat dengan kampus, Nek.”
Hilya memandangi Khafi yang langsung pura-pura sibuk melihat layar telepon genggam. Sikap sang cucu sedikit berbeda hari ini. Biasanya, Khafi hanya datang jika ada acara di rumah. Dia jadi penasaran apa yang membuat Khafi melangkahkan kaki ke sini. Wajahnya mendadak semringah saat sebuah kemungkinan muncul di kepala.
Meski begitu, Hilya membiarkan Khafi menyampaikannya sendiri. Dia ingin tahu apakah yang direncanakan oleh sang cucu. Pria yang selalu mencari alasan saat diminta pulang, kini datang dengan suka rela. Bukankah sudah sepantasnya diterima dengan sangat baik? Terutama saat melihat Khafi menjadi lebih pendiam.
Sudah hampir sepuluh menit Khafi menatap layar telepon. Hilya bahkan bisa melihat jika cucunya hanya memperhatikan halaman yang sama sejak tadi. Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Khafi? Kenapa suka sekali membiarkan Hilya menunggu lama. Padahal Khafi yang ingin berbicara. Kenapa Hilya yang berdebar.
“Sekarang kamu bahkan membela Dzaky? Baiklah. Sampai di mana dia bertahan kali ini. Aku sangat penasaran.”
“Biar bagaimana pun, Dzaky tetap adikku. Aku harus mengawasi dan membatasi pergaulannya. Ini juga demi kebaikannya.”
“Nenek mengerti. Jadi, untuk apa kamu datang?”
“Aku datang untuk meminta bantuan Nenek.” Hilya mengerutkan kening.
“Tumben sekali. Katakan apa yang bisa Nenek lakukan untukmu.”
“Aku ingin melamar Arisha secara resmi,” kata Khafi dengan wajah serius. Hilya tersenyum. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang cucu setuju untuk menikahi seseorang.
Andai mengetahui jika Arisha bisa mengetuk pintu hati Khafi, sudah sejak lama Hilya memperkenalkan mereka. Hilya mengenal orang tua Arisha cukup lama. Dia juga sempat melihat Arisha beberapa kali. Mengapa saat itu tidak terpikirkan untuk mempertemukan mereka? Padahal sudah sejak dulu dia ingin Khafi segera menikah.
Seperti itulah jodoh. Tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan bagaimana kita akan bertemu. Bisa jadi belahan hati yang kita nantikan berada sangat dekat, tetapi kita tidak pernah menyadarinya sampai hal itu terjadi. Atau orang yang akan menemani kita sampai tua memang seseorang yang baru kita kenal. Semua sudah direncanakan oleh Yang Maha Esa
Ketentuan antara Khafi dan Arisha memang tertulis sekarang, bukan setahun atau dua tahun yang lalu. Karena itu, meski jalan yang ada sudah lama terbentuk, mereka baru bertemu saat ini. Allah sudah menentukan beginiah kisah yang mereka lalui. Sebagai manusia, tidak mungkin bisa menebak ketentuan-Nya.
“Kamu serius? Kamu benar-benar menyukai Arisha?”
“Aku benar-benar menginginan Arisha, Nek. Aku ingin dia yang menemaniku setiap hari.”
“Kamu hanya menginginkan dia? Kamu tidak menyukai dia?”
“Bukan begitu, Nek. Yang aku maksud ....”
“Ini pernikahan yang akan kamu jalani seumur hidup, Khafi. Kamu harus tahu betapa pentingnya hubungan ini. Arisha juga gadis yang baik. Dia bukan barang yang tidak memiliki perasaan. Nenek tidak mau kamu menyakiti dia.”
“Aku juga tidak ingin menyakiti dia, Nek.”
“Lalu, apa yang kamu maksud dengan menginginkan dia?”
“Maksudku ... aku tertarik pada Arisha. Meski belum memahami cinta itu bagaimana, tapi aku memang ingin terus melihat dia. Kapan pun dan di mana pun.”
Mendengar kata-kata Khafi, Hilya tersenyum. Dia tidak bisa menyalahkan sang cucu yang tidak mengalami pengalaman dalam hal percintaan. Khafi bahkan tidak bisa memastikan perasaannya sendiri. Meski begitu, dia bisa melihat binar bahagia setiap kali Khafi menyebutkan nama Arisha. Ini merupakan awal yang baik.
Ketika memperhatikan interaksi Khafi dan Arisha pada acara malam itu, Hilya sudah cukup yakin jika cucunya merasa tertarik pada gadis itu. Dia belum pernah melihat Khafi begitu antusias saat berbicara dengan orang yang dijodohkan dengannya. Dari kejadian tersebut, dia mulai berharap mereka akan bersatu. Siapa sangka keinginananya terkabul secepat ini.
Untuk menambah ketenangan hati, Hilya harus menanyakan beberapa hal dulu kepada Khafi. Dia tidak mau membiarkan ada yang tersakiti dalam hubungan ini. Apa lagi dia sudah mengenal orang tua Arisha cukup lama. Jadi, dia harus memastikan kalau Arisha merasa aman di dekat Khafi.
“Boleh Nenek tanya sesuatu?”
“Tentu saja. Apa yang ingin Nenek ketahui? Aku akan menjawabnya.”
“Sebelum kamu dan Arisha bertemu malam itu, apa kalian sudah mengenal?” Khafi terdiam sebentar. Dia sedikit bingung bagaimana cara menjelaskan pertemuannya dengan Arisha. Apa Hilya akan menertawainya jika dia menceritakan yang sebenarnya. “Katakan.”
“Tidak bisa dikatakan sudah mengenal, Nek. Kami hanya bertemu dua kali dan itupun secara tidak sengaja. Saat pertemuan pertama, aku sudah merasa tertarik padanya.”
“Lalu, kenapa tidak mengejarnya saat itu? Kenapa malah setuju dengan Nenek? Untung saja wanita yang dijodohkan denganmu itu Arisha, jadi Nenek tidak perlu kecewa lagi.”
“Maaf, aku sudah banyak mengecewakan Nenek.”
“Nenek maafkan karena kamu hanya mengecewakan dalam satu hal. Lagi pula kamu sudah menebus kekecewaan itu dengan kebahagiaan.”
“Terima kasih, Nenek.”
Rasanya tidak bisa digambarkan bagaimana gembiranya Khafi saat ini. Melihat senyum Hilya yang tidak pernah lenyap membuatnya sangat bahagia. Dia belum pernah melihat sang nenek tersenyum dalam waktu lama. Sejak memutuskanpergi dari rumah, dia seakan mengasingkan diri dari keluarganya sendiri. Yang dia berikan hanya luka dan kekecewaan.
Bisa membuat Hilya tersenyum merupakan kebahagiaan tak terhingga bagi Khafi. Semua ini tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Bahkan dengan kesepatakan yang memberikan banyak keuntungan untuk perusahaan tidak menimbulkan perasaan semacam ini. Tiba-tiba dia merindukan suasana hangat dalam rumah.
“Zaina sedang kuliah?”
“Bukankah dia pergi dengan Barra untuk menemui Arisha?”
“Apa? Kenapa Nenek membiarkan Zaina pergi? Dia pasti akan menimbulkan masalah.”
“Kamu tenang saja. Ada Barra yang menemani. Dia tidak akan bertindak berlebihan di depan calon istrimu. Apa kamu tidak percaya pada adikmu sendiri.”
Khafi mengusap tengkuk saat mendengar sebutan “Calon istri” dari Hilya. Jantungnya mendadak berdebar-debar. Tanpa sadar, dia tersenyum. Hanya sesaat karena sesudah itu dia kembali berdikap dingin. Dia belum terbiasa dengan perasaan baru yang menghampirinya ini. Rasanya dia selalu sesak setiap kali mengingat Arisha.
Tingkah Khafi tertangkap oleh Hilya. Wanita itu tersenyum saat menyadari jika sang cucu memang menyukai Arisha. Jarang sekali dia melihat Khafi tersenyum. Nyaris tidak pernah. Bukankah itu menandakan jika Arisha memiliki kedudukan istimewa dalam hatinya? Apa lagi alasan yang lebih sesuai dari pada ini.
“Tunggu dulu, bagaimana Zaina mengetahui masalah Arisha?”
“Ada Barra yang bisa dia tanya. Lahi pula, Nenek sempat berkata kalau kamu sudah memutuskan untuk menikahi Zaina. Jadi, dia penasaran setengah mati dengan sosok Arisha.”
“Nenek. Bagaimana bisa Nenek berkata seperti itu? Bagaimana kalau dia mengatakan hal ini pada Arisha? Bagaimana kalau dia mengacau?”
“Nenek yakin kalau dia bisa mengontrol diri selama ada Barra.”
“Dia sudah besar, kenapa masih suka mereporkan Barra. Kalau dia terus menempel, bagaimana Barra akan menemukan calon istri?” Hilya menghela napas.
“Nenek pernah membahas masalah ini dengan Barra. Dia bilang, dia malah bersyukur bisa menemani Zaina. Kalau dia menjauh, dunianya akan terasa sepi. Mungkin karena tinggal sendiri. Dia selalu ingin menjaga Zaina sejak kecil, kan?”
“Zaina beruntung sekali bisa diperhatikan oleh orang sebaik Barra.”
“Nenek jadi memikirkan sesuatu,” ujar Hilya dengan senyum licik. Khafi menatap sang nenek tak mengerti. Apa yang sedang dipikirkan oleh Hilya. “Bagaimana kalau Nenek menjodohkan Zaina dan Barra?”
“Nenek, kasihanilah Barra. Dia sudah lama menjaga Zaina yang manjanya terkadang tidak bisa diterima. Apa Nenek tega membiarkan Barra menghabiskan sisa hidupnya untuk mengurusi gadis kekanakan seperti Zaina? Biarkan dia menemukan wanita yang dicintainya.”
“Nenek mengerti. Nenek hanya asal bicara.lagi pula, mereka sering ke mana-mana berdua. Apa menurutmu mereka tidak menyembunyikan sesuatu dari kita?”
“Jangan menodai citra Barra, Nek. Kita berdua tahu pasti kenapa Barra selalu menjaga Zaina,” kata Khafi mengingatkan. Hilya menghela napas. Tentu saja dia tahu.
Semua perhatian yang Barra lakukan pada Zaina hanya karena ingin membalas budi. Sikap lemah lembut Barra membuat gadis itu merasa nyaman. Sepertinya Hilya memang berharap banyak. Dia tahu kalau selalu ada wanita yang mengelilingi Barra. Meski begitu, tak pernah sekali pun Barra membawa seseorang ke rumah.
Sudah berulang kali Hilya berkata agar tidak terbebani dengan Zaina. Dia selalu berpesan bahwa tidak ada utang budi di antara keluarganya dan Barra. Tetap saja, Barra masih ingin menjaga Zaina. Dia ingat betul apa yang Barra katakan saat meminta pria itu lebih memikirkan masa depannya.
“Nenek dan ketiga cucu nenek adalah masa depanku. Jadi, kenapa aku harus merasa terbebani? Lagi pula, bukankah aku ini termasuk cucu nenek?”
Apa lagi yang bisa Hilya katakan jika Barra berpikir begitu. Barra tulus kepada keluarganya. Lalu, mengapa dia harus mendorong Barra pergi. Jika suatu saat Barra memutuskan untuk menikah dan meninggalkan semua ini, dia tidak akan protes. Barra sudah banyak berkorban. Dia akan selalu menghargai hal itu sampai kapan pun.
“Benar juga. Nenek hanya berharap dia bisa segera menemukan wanita yang cocok. Bukankah dia juga tidak muda lagi?”
“Sebaiknya Nenek jangan mendesak Barra. Dia tahu apa yang dia lakukan, Nek. Dia pasti punya rencananya sendiri.” Hilya mengangguk. “Dzaky masih jarang pulang?”
“Begitulah. Dia lebih suka menghabiskan waktu di rumah sewanya ketimbang pulang.”
“Biarkan saja, Nek. Akan ada waktunya dia kembali ke rumah.”
“Nenek juga berharap begitu. Mau makan siang di sini? Nenek masak banyak hari ini.”
“Setuju. Aku harus menyenangkan Nenek agar mau menuruti keinginanku, bukan?”
“Dasar cucu nakal!”