Bab 17: Siap?

1890 Words
“Kamu mau mengatakan apa, Sha?” tanya Yumna. Farzan yang duduk di sampingnya menatap lurus sang putri yang menunduk. “Katakan saja. Apa ini ada hubungannya dengan Khafi? Ibumu bilang kalau Khafi melamarmu. Apa benar begitu?” Arisha mengangguk. “Jadi ... apa kamu sudah membuat keputusan mengenai hal ini?” Arisha meremas ujung jilbab. Dia mengingat perkataan semua orang. Kalimat lamaran Khafi. persetujuan Nadhifa dan juga dukungan dari Zaina. Sejujurnya, tanpa diyakinkan, dia juga sudah tertarik pada sosok Khafi. Gadis itu mengangkat kepala dan menatap kedua orang tuanya tanpa mengurangi kesopanan. Sejak dulu, Arisha selalu menerima apa pun yang diinginkan oleh Farzan dan Yumna. Semua hal yang mereka pilihkan selalu terlihat bagus dalam pandangannya. Begitu juga mengenai Khafi. Sekali dia ingin mempercayakan masa depannya kepada mereka. Dia yakin jika mereka akan mendukung hubungan pernikahannya dan Khafi. “Bolehkah Arisha menerima lamaran Mas Khafi?” “Ini masa depanmu, Sha. Kalau kamu setuju, kami akan mendukung. Ayah sudah pernah bilang, kami hanya mengenalkan Khafi kepadamu. Kami tidak akan memaksakan kehendak. Kami mengatur ini karena kami pikir Khafi pemuda yang baik.” “Yang ayahmu katakan benar. Semua tergantung padamu. Apa kamu sudah siap menerima lamaran Khafi dan menjadi istrinya?” “Insya Allah siap, Bu,” jawab Arisha tegas. Kalimat yang diucapkan Arisha membuat Yumna terharu. Dia meraih tubuh sang putri dan merengkuhnya dalam pelukan. Hanya dianugerahi satu anak membuat wanita itu sangat menyayangi Arisha. Sedari kecil dia selalu memilihkan yang terbaik untuk buah hatinya. Rasa-rasanya baru kemarin dia mengantar Arisha sekolah. Sekarang gadisnya sudah dewasa dan akan menempuh kehidupan baru. Perasaan senang dan haru bercampur menjadi satu dalam hati Yumna. Sebagai ibu, dia tentu menginginkan kebahagiaan untuk Arisha. Tumbuh menjadi gadis penurut dan baik, Arisha banyak membanggakan kedua orang tua. Sekarang sudah waktunya melepas putrinya tersebut demi mendapatkan kasih sayang dari seorang suami. Jika mengingat pembicaraan mengenai Khafi, Yumna sempat tidak menyetujui rencana sang suami. Sikap Khafi yang dianggap terlalu kaku menjadi pertimbangannya. Namun, setelah mengenal lebih jauh, ternyata Khafi merupakan sosok yang hangat. Hanya saja pria itu sedikit kesulitan untuk mengekspresikannya. Kemudian, Farzan meyakinkan jika Khafi memiliki sisi istimewa. Lagi pula, dia sudah melihat bagaimana cara Khafi memandang Arisha malam itu. Ada cinta dalam pandangan Khafi. Ditambah setelah Arisha menyampaikan lamaran Khafi. Dia semakin percaya kalau Khafi bisa menjaga sang putri. “Jika kamu sudah siap, kami hanya bisa mendoakan kebahagianmu,” kata Yumna setelah melepas pelukan. Dia mengusap jilbab ungu yang dikenakan putrinya. “Terima kasih, Bu. Arisha sayang Ibu.” Arisha memberikan kecupan di pipi kanan Yumna, lalu menoleh pada Farzan. “Arisha juga sayang Ayah.” Setetes air membasahi pipi Arisha. Dia ingin menahan dengan menghapusnya, tetapi tetesan lain mulai mengalir. Meski begitu, dia berusaha tersenyum. Yumna sampai harus membantu sang anak untuk menghilangkan jejak air mata itu. “Ini kabar gembira, kenapa kalian berdua malah menangis?” sindir Farzan. Dia menghela napas, lantas beranjak dan meninggalkan kedua wanita yang kembali berpelukan. Tidak ada yang tahu jika Farzan juga menyeka bulir bening yang sempat menetes. Dia kembali menghela napas. Keputusan ini dia yang mendorong Arisha untuk membuatnya. Namun, entah kenapa dia merasakan sesak di d**a. Mungkin karena sebentar lagi dia akan melepas putri semata wayangnya menuju pelaminan. Dengan mata yang masih sembab, Farzan masuk ke kamar tidur. Dia menatap foto yang terpajang tepat di atas tempat tidurnya. Gambar itu baru diambil setahun lalu saat Arisha merayakan ulang tahunnya. Farzan kembai menyeka air mata yang menetes. Padahal Arisha masih belum dilamar atau dinikahkan, tetapi dia sudah merasa bersedih. Pernikahan memang tidak mengubah status anak terhadap orang tua mereka. Sampai kapan pun anak tetaplah anak. Tidak ada istilah mantan anak atau mantan orang tua. Hanya saja, setelah anak berkeluarga, pasti akan ada yang berubah. Terutama jika sang anak mengikuti pasangannya. Rumah yang dulunya ramai menjadi sepi. Membayangkan Arisha akan pergi dari rumah membuat Farzan menghela napas. Setiap orang tua akan merasakan hal ini. Setelah merawat anaknya bertahun-tahun, tentu akan ada rasa kehilangan saat dia pergi. Farzan tidak menampik itu. Apa lagi Arisha anak satu-satunya. Meski begitu, dia meyakinkan diri bahwa ini demi kebaikan Arisha. “Semoga Allah selalu memberika kebahagiaan kepadamu. Di mana pun dan dengan siapa pun kamu. Ayah akan terus mendoakanmu dengan setulus hati,” ucap Farzan sambil memandangi gambar Arisha yang tersenyum.  *** “Om Farzan ada waktu malam ini? Saya berencana datang.” “Dengan nenekmu?” Khafi mengangguk sambil tersenyum tipis. Begitu sang nenek setuju, Khafi langsung menemui Farzan. Niat baik ini tidak boleh ditunda terlalu lama. Lagi pula, dia sudah membicarakannya dengan Arisha. Tipe wanita seperti Arisha lebih suka langsung dilamar dari pada diajak pacaran, bukan? Dari yang dia tahu, sejak dulu Farzan sangat ketat dalam memantau pergaulan sang putri. Khafi bersyukur karena Arisha dijaga dengan begitu baik oleh orang tuanya. Dia jadi memiliki kesempatan untuk mengisi hati Arisha sebagai pria pertama. Rasanya tenang mengetahui kenyataan jika Arisha belum pernah dekat dengan pria mana pun. Dekat di sini dalam artian menyukai. Informan yang dikirim Barra selalu teliti. Khafi harus berterima kasih mempunyai sahabat yang bisa diandalkan seperti Barra. Bukan bermaksud memata-matai atau menguntit. Khafi hanya ingin tahu bagaimana sosok Arisha yang sebenarnya. Dia mencoba memahami gadis yang akan dinikahinya. Itu sesuatu yang wajar, bukan? Lagi pula, dia tidak merugikan siapa-siapa di sini. Sebagai imbalan, dia memberikan informasi detail mengenai dirinya kepada Arisha. Adil, bukan? “Om rasa kamu dan Arisha memiliki kontak batin yang cukup baik.” “Maksud Om?” tanya Khafi dengan kening berkerut. “Dia baru saja membicarakan hal ini dengan kami semalam.” “Benarkah? Arisha setuju menerima lamaran saya?” Farzan tertawa. “Datanglah malam ini jika kamu mau mengetahui jawabannya,” kata Farzan. Dia tersenyum. “Saya memang berencana datang malam ini, Om.” “Khafi, Om tidak akan basa-basi. Kamu tahu kalau Arisha itu anak Om satu-satunya, kan?” Khafi mengangguk. “Om titipkan dia padamu. Jaga dia dengan sepenuh hati. Dia memang terlihat kuat dan keras kepala. Padahal sebenarnya dia juga penakut. Kalau dia sulit memutuskan sesuatu, kamu harus bantu dia. Karena sejak kecil lebih suka mendengarkan kami, dia menjadi gadis yang sangat penurut. Bahkan terlalu penurut.” “Dia suka memendam semua hal seorang diri. Terutama jika itu bisa melukai orang lain. Dia selalu berpikir untuk melindungi orang lain dulu sebelum dirinya. Ini salah satu kebaikan sekaligus keburukannya. Om harap kamu bisa mengerti dia,” tambah Farzan. “Om tenang saja. Saat memutuskan untuk melamar Arisha, saya sudah bertekat untuk menjaganya. Saya juga memiliki banyak kekurangan. Jika Om suatu hari melihat kesalahan dalam diri saya, tegur saja. Saya akan sangat berterima kasih.” “Tentu saja. Apa lagi jika itu berkaitan dengan Arisha. Om pastikan kamu mendapat teguran keras. Bagaimana? Siap untuk ditegur?” “Siap, Om.” Khafi menjawab dengan sangat tegas. “Siap untuk apa?” Suara Yumna membuat Khafi menoleh. Dia tersenyum sopan ada wanita itu, lalu menarikkan kursi untuknya. Yumna membalas senyum Khafi dan mengucapkan terima ksih setelah duduk. Khafi berdeham, lantas meminum jus jeruk yang dipesannya. “Apa yang Tante lewatkan?” “Kamu melewatkan sikap Khafi yang keren saat bertanya apakah Arisha mau menerima lamarannya,” ujar Farzan dengan wajah berbinar. “Benarkah? Sepertinya kamu harus mengulang lagi sekarang.” “Apa?” Khafi membuka mulut sebentar, lalu menelan ludah. Dia sudah nyaris berbicara ketika Yumna tiba-tiba menutup mulut untuk menahan tawa. “Kamu harus banyak berbaur agar bisa bercanda,” kata Yumna. Khafi tersenyum kaku. Sejak kecil, Khafi lebih menyukai suasana tenang dan sepi. Dia merasa damai saat menemukan tempat untuk menyendiri. Satu-satunya teman yang dia miliki hanya Barra. Dia juga cukup takjub dengan sika gigih Barra yang mau tetap berada di sisinya meski selalu menerima perlakuan dingin. Dalam hal ini, Khafi harus sangat berterima kasih pada Barra. Bukan hanya karena bersedia menjadi sahabatnya. Akan tetapi juga telah mendampingi dirinya saat dia terpuruk. Bahkan membantu sang sahabat untuk menjaga keluarganya. Seolah belum cukup, Barra pun mendukung perusahaannya yang nyaris bangkrut. Seberapa banyak Khafi mengucapkan terima kasih pada Barra, itu tidak akan cukup. Jika Barra tidak menemaninya, entah apa yang akan terjadi pada bisnis dan keluarganya. Kalau ada yang pantas disebut sebagai pria matang dan tanggap, tentu Barra adalah orangnya. Hal semacam ini tentu tidak pernah Khafi sampaikan. Dia selalu ingin membalas kebaikan Barra. Namun, Barra terus saja menolak. Sebagai gantinya, Barra meminta Khafi untuk menjadikan pria itu bagian dari keluarga. Bukan sekadar teman, melainkan saudara. Syarat yang sangat mudah bagi Khafi, jadi dia langsung setuju. “Saya akan berusaha, Tante,” ucap Khafi pelan. “Tante tidak memiliki maksud lain. Tante hanya ingin kamu lebih terbuka pada dunia ini.” “Saya mengerti. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya.” Pembicaraan ini semestinya tidak terdengar di hari bahagia. Yumna jadi merasa sangat bersalah. Wanita itu menyenggol lengan suaminya saat melihat senyum tipis Khafi. Kenapa juga dia harus mengatakan hal sensitif begitu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Khafi akan langsung terdiam seperti itu. Wajah Khafi memang tidak memperlihatkan perubahan berarti. Namun, justru itu yang membuat Yumna semakin khawatir. Menebak-nebak pikiran orang lain merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Dia juga bukan ahli di bidang ini. Jadi, dia hanya perlu merestui dan mendukung di balik layar. “Apa Tante perlu memanggil Arisha ke sini?” tawar Yumna. “Tidak perlu, Tante. Dia pasti sedang sibuk.” “Kamu benar. Ini masih jam kerja. Mana bisa seorang karyawan berkeliaran seenak hati.” Khafi menanggapi ucapan Yumna dengan anggukan. Bersama dengan orang tua Arisha membuatnya merasa sangat bahagia. Suasana ini sudah cukup lama tidak dia rasakan. Sejak memutuskan pergi dari rumah, dia praktis hidup seorang diri. Tidak ada yang menemani atau mengajaknya mengobrol. Mungkin hanya Barra yang sesekali berkunjung dan mengganggu ketenangannya. Rasa rindu pada sosok ibu yang lembut tiba-tiba membuat Khafi terharu. Dia menengadahkan kepala begitu merasakan ada desakan dari sudut matanya. Untuk mengalihkan perhatian, dia mengedarkan pandang ke seluruh restoran. Para pengunjung menikmati pesanan mereka dengan tenang. Tidak ada suara bising. Hanya ada beberapa obrolan yang terdengar. Itu pun dengan tingkat suara yang sedang, cenderung ringan. “Om, Tante, saya izin undur diri. Siang ini masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” ucap Khafi. Dia memandang Yumna dan Farzan bergantian. “Sudah mau pergi? Padahal Tante masih ingin mengobrol.” “Kita bisa melanjutkannya nanti malam saat dia berkunjung ke rumah,” timpal Farzan. Khafi tersenyum, lalu berdiri. Dia menundukkan kepala sedikit sebelum melangkah pergi. Perasaannya masih belum bisa dikendalikan. Sepanjang jalan dia hanya membayangkan wjah cantik sang ibu. Betapa sempurnanya jika ibunya masih ada di dunia ini. dia terlalu cepat kehilangan sosok wanita yang melahirkannya itu. Dia benar-benar merinduannya. Entah sudah berapa orang yang bersenggolan lengan dengan Khafi setelah dia keluar dari restoran. Pikirannya sedikit kacau sampai tidak memperhatikan jalan dengan baik. Dia masih terus berjalan. Bahkan saat melewati seorang gadis berjilbab, dia tetap melanjutkan langkah. “Mas Khafi baik-baik saja?” Suara lembut itu membuat Khafi berhenti. Dia menghela napas, lalu membalikkan tubuh perlahan. Arisha berdiri tak jauh darinya. Hari ini gadis itu mendominasi penampilan dengan warna lavender. Khafi memperhatikan wajah yang menunduk di hadapannya. Mendadak dia merasakan ketenangan. “Kalau kamu mencemaskanku, bukankah lebih baik kamu menemaniku,” ujar Khafi. Dia tersenyum penuh kemenangan saat Arisha terdiam di tempat. “Apa maksud Mas?”  “Aku tidak serius,” kata Khafi santai. “Tunggu aku malam ini. Aku menyiapkan kejutan khusus untukmu.” Usai berkata begitu, Khafi meninggalkan Arisha dengan pertanyaan besar lainnya. Ada apa?   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD