Khafi memperhatikan restoran yang dipilih oleh Hilya. Dia tidak tahu sejak kapan sang nenek menyukai makanan Jawa. Beberapa pelayan berjajar di depan lauk yang disediakan. Pelayanan dengan metode prasmanan cukup menarik perhatiannya. Ini pengalaman pertama pria itu harus memilih menu yang langsung tersaji di depan mata.
Kalau mau jujur, Khafi sedikit tidak nyaman dengan antrean para pengunjung yang lumayan panjang. Dia melirik Hilya yang terlihat sebaliknya. Wanita sepuh itu sudah memenuhi piring dengan berbagai lauk. Ada tempe goreng, sambal teri, dan sebuah bungkusan daun pisang, entah apa isinya.
Untuk ke sekian kali, Khafi menghela napas. Kalau hanya ingin makan hidangan seperti itu, kenapa Hilya tidak menyuruh asisten rumah tangga mereka saja. Mereka punya cukup banyak asisten yang mampu memasakkan berbagai menu di hadapan mereka sekarang. Kenapa jauh-jauh ke restoran ini?
Ketika merasa ada yang menepuk pundaknya, Khafi sedikit tersentak. Hilya memerintahkan pada sang cucu untuk mengambil apa pun secepatnya. Dia menunjuk orang-orang di belakang Khafi dengan dagu. Dengan sedikit kesal, dia mengambil apa saja yang terlihat oleh matanya.
Sepertinya restoran ini cukup terkenal. Banyak sekali orang yang berkunjung. Hampir semua tempat sudah berpenghuni. Lampu-lampu tergantung di atap dan menampilkan cahaya yang terang. Beberapa lukisan bertema wayang dipajang di hampir setiap sudut.
Beberapa pramusaji membawa nampan berisi aneka hidangan. Mereka tersenyum sepanjang jalan sambil bertanya mengenai pesanan para pengunjung. Semua kursi dan meja terbuat dari kayu yang penuh ukiran. Meski begitu, kesan mewah masih bisa dilihat dari semua ukiran yang ditampilkan.
Langkah Khafi melambat saat Hilya berhenti di depan salah satu pintu. Seorang pelayan laki-laki membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk. Khafi memandang takjub pada semua hidangan yang sudah disajikan di meja. Kalau di sini sudah ada begitu banyak makanan, kenapa Hilya harus mengajaknya antre di prasmanan tadi?
Melihat sang cucu yang berwajah masam, Hilya tertawa dalam hati. Dia sengaja mengajak Khafi mengantre untuk memastikan apa cucunya itu masih mau patuh. Juga ingin tahu apa Khafi cukup sabar untuk menunggu giliran mengambil menu. Sebagai orang yang tidak suka membuang waktu, Khafi pasti sangat kesal dengan kejadian tadi, tetapi Hilya sangat menikmati ekspresi wajah cucu pertamanya itu.
“Apa maksud semua ini, Nek?” tanya Khafi tak sabar ketika mereka sudah duduk.
“Tentu saja makan malam. Apa lagi?”
“Bukankah kita hanya berdua? Siapa yang akan memakan hidangan sebanyak ini.” Khafi mendongak saat menyadari sesuatu. “Nenek mengundang seseorang?”
“Ini yang nenek suka dari kamu, Khaf. Kamu sangat pintar. Sayangnya, dalam hal wanita, nilai kamu nol besar.”
“Nenek mengundang wanita itu?”
“Kecerdasanmu memang tidak ada duanya. Nenek memang mengundang dia dan orang tuanya. Kejutan untukmu.”
Dan Khafi benar-benar terkejut. Meski ekspresi wajahnya tidak berubah, dia tetap saja tidak terima dengan kejutan yang disiapkan oleh Hilya ini. Untung saja dia masih menggunakan setelan jas yang rapi. Dia juga sempat mandi di kantor sebelum menjemput Hilya di rumah.
Secara keseluruhan, penampilan Khafi cukup baik. Dia memang belum tentu menerima perjodohan ini, tetapi dia tetap harus terlihat sempurna. Keluarga wanita itu pasti sudah diberi tahu mengenai dirinya. Yang mengkhawatirkan, dia bahkan tidak tahu nama orang-orang yang akan dia temui.
Hal ini di luar perkiraan Khafi. Dia tidak pernah tahu kalau Hilya bisa selicik ini. Sebelum bertemu, setidaknya Hilya bisa memberi tahu keluarga mana yang akan menjadi pilihan. Tentu saja semua protes hanya dia pendam dalam hati. Melihat bagaimana cara Hilya tersenyum, dia mengerti kalau sang nenek memang sudah merencanakan dengan matang.
Untuk menghargai Hilya, Khafi memilih diam. Tidak ada ruginya bertemu dengan keluarga wanita itu. Anggap saja dia sedang menemui salah satu klien atau kolega. Jadi, dia bisa merasa tenang seperti biasa. Dengan begitu, dia tidak akan pernah dikalahkan oleh neneknya.
Saat pintu terbuka, Khafi langsung mendongak. Tekatnya untuk tetap tenang terusik. Dia bisa merasakan jantungnya mulai berdetak kencang. Matanya bahkan tidak berkedip begitu melihat salah satu orang yang memasuki tempat yang kini dia duduki bersama Hilya. Tidak mungkin kalau dia salah mengenali seseorang.
Ingatan Khafi terlalu bagus untuk bisa melupakan setiap orang yang pernah muncul di hadapannya. Terutama orang yang meninggalkan kesan mendalam bagi pria itu. Kini, dia hanya bisa terpaku pada wanita cantik yang sudah duduk di jarak kurang dari satu meter darinya. Terutama karena dia tengah tersenyum.
Dunia menjadi begitu sempit bagi Khafi. Demi menjaga harga diri dan prinsip yang telah lama dipegang, dia cepat-cepat menguasai diri. Teknik ini sudah dari dulu dia kuasai. Hanya saja, jika di hadapan gadis berparas ayu itu, kenapa kerja otaknya bisa melambat sampai ke titik terendah? Sungguh membuat tidak nyaman.
Sebagai orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, Khafi juga sangat ahli mengontrol ekspresi. Dia tidak suka ada orang yang membaca pikirannya. Apa lagi jika sudah masuk ke arah kehidupan pribadi. Namun, di hadapan gadis yang kini tengah menunduk itu, dia menjadi pribadi berbeda.
“Kami harap Bu Hilya tidak menunggu terlalu lama,” ujar Yumna setelah menyalami wanita sepuh itu bersama Arisha. Hilya tersenyum.
“Kami juga baru memesan. Kami harap kalian menyukai menu pilihannya. Kalau ada yang ingin ditambahkan, silakan saja.”
“Tidak perlu, Bu. Ini sudah sangat lengkap,” kata Farzan. Dia menoleh pada Khafi. “Lama tidak terlihat. Sepertinya belakangan ini sangat sibuk.”
“Iya, Om. Sedang ada kerja sama baru, jadi lumayan sibuk.”
Sudut mata Arisha melirik Khafi. Dia mengerutkan kening saat melihat interaksi antara pria itu dan sang ayah. Pasti ini bukan pertemuan pertama mereka. Tentu saja. Farzan pasti sudah mengenal Khafi dengan cukup baik sampai tergoda untuk mengenalkan pada dirinya. Mungkinkah Khafi sudah mengetahui mengenai rencana para tetua?
Ekspresi datar Khafi tidak pernah berubah. Arisha tidak bisa membedakan apa Khafi senang atau justru tertekan. Kapan Khafi tahu masalah pertemuan resmi mereka? Pada perjumpaan mereka sebelum ini, Khafi terlihat jelas tidak mengenalnya. Jadi, kemungkinan besar, Khafi juga menjadi korban dadakan Hilya.
Sekarang Arisha mengerti jika Yumna sangat menjunjung tinggi Khafi. Secara penampilan, pria itu sama sekali tidak memiliki celah. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki sangat rapi. Arisha percaya jika Khafi tipe orang yang menyukai kerapian dan kebersihan. Sifat yang bertolak belakang dengan dirinya.
“Ah, benar. Sebelum makan, tidak ada salahnya jika mereka saling berkenalan dulu, kan?” usul Hilya dan sukses membuat Arisha tersentak. Dia mendadak beku saat Khafi menoleh padanya dan mengangguk sopan sambil tersenyum.
“Selamat malam. Nama saya Khafi. Senang berkenalan dengan kamu,” ucap Khafi sangat lancar. Arisha menelan ludah. Kenapa jadi seperti ini?
“Nama saya Arisha. Salam kenal kembali,” balas Arisha singkat.
“Arisha ini penulis novel terkenal, lho,” ujar Hilya mulai memuji.
“Penulis?” ulang Khafi. Dalam hati, dia tersenyum senang entah untuk alasan apa.
“Iya. Nanti saja dilanjutkan obrolannya. Sekarang makan dulu sebelum semua menjadi dingin,” ucap Hilya, lantas mengambil piring.
Suasana menjadi sangat tenang selama semua orang makan. Tidak ada yang bersuara. Arisha tidak bisa menelan makanan itu saat menyadari tatapan Khafi sedang mengarah padanya. Dia ingin memperingatkan, tetapi tidak tahu dengan cara apa. Kenapa Khafi terus melihat? Apa dia tidak tahu betapa bahaya perbuatannya?
Akan ada banyak masalah jika Khafi tidak segera mengalihkan mata. Arisha melirik Farzan dan Yumna yang tengah sibuk makan. Sepertinya Khafi bisa sangat mengerti situasi. Benar juga, bukankah dia seorang pemimpin perusahaan, wajar jika bisa membaca keadaan. Arisha jadi penasaran sebanyak apa karyawan yang dipekerjakan olehnya.
Karena sepertinya Khafi akan melihat dalam waktu lama, Arisha memilih memandang piring yang terisi nasi. Lebih baik dia menghindari tatapan tajam Khafi sebelum terlambat. Jantung siapa yang tidak berdebar-debar jika ditatap begitu. Dengan mata setajam itu, Khafi bisa melelehkan semua wanita. Kenapa tidak memilih salah satu dari mereka?
Kepala Arisha menggeleng. Untuk apa dia memikirkan masalah Khafi? Memang kenapa kalau sampai sekarang Khafi masih sendiri? Bukankah suatu keberuntungan bertemu dengan pria yang berbakti seperti Khafi? Kenapa dia malah sibuk dengan kehidupan Khafi, padahal hidupnya sedang dipertaruhkan di sini.
“Nenek harap makanannya cukup enak,” ujar Hilya sambil menatap Arisha yang kebetulan juga tengah melihat ke arahnya. Gadis itu tersenyum.
“Enak sekali, Nek. Saya termasuk orang yang tidak pilih-pilih makanan.”
“Bagus kalau begitu. Tidak seperti cucu nenek yang sangat pemilih ini,” kata Hilya sambil melirik Khafi yang menyeka mulut dengan lap.
“Hanya memilih makanan yang higienis. Nenek berlebihan,” timpal Khafi. “Menu baru apa yang ada di restoran Om Farzan?”
“Masih sama saja. Mampirlah kapan-kapan. Kita bisa mengobrolkan bisnis lagi.”
“Insya Allah, Om.”
Jujur saja, jika berbicara dengan Farzan, Khafi jadi sedikit alim. Dia sering mengatakan istilah-istilah islami yang jarang digunakan pada orang lain. Mungkin karena sering mendengar Farzan mengucapkan saat mereka mengobrol. Jadi, tanpa sadar dia mengikuti. Bukan masalah. Lagi pula, itu kalimat yang baik.
Sementara Arisha tercengang. Dia tidak menyangka kalau Khafi mengucapkan kalimat “Insya Allah” dengan sangat lihai. Bukan. Dia bukan merendahkan pria itu atau merasa tinggi. Hanya saja, dia tidak menduga jika Khafi ternyata cukup familier dengan kalimat seperti itu. Poin untuk Khafi bertambah satu.
“Kamu pasti sangat sibuk sampai jarang berkunjung ke restoran orang tuamu,” ucap Hilya pada Arisha, membuat gadis berjilbab meringis.
“Sebenarnya bukan karena sibuk. Ibu biasanya sudah menyiapkan makanan di rumah, jadi saya memilih makan di rumah.” Hilya mengangguk-angguk.
“Oh, iya. Sudah berapa lama menulis novel?”
“Itu ... sebenarnya sudah sejak SMA saya suka menulis. Saya bahkan mengambil jurusan sastra agar bisa mewujudkan impian saya untuk bisa menjadi penulis. Tapi, saya baru merasakan perubahan besar sejak dua tahun terakhir ini.”
“Wah! Sepertinya cerita kamu cukup menarik. Lain kali ceritakan lebih banyak mengenai kamu. Sekarang bukankah seharusnya kamu mengobrol dengan Khafi?” Hilya menyenggol lengan Khafi yang hanya diam sejak tadi.
“Nenek, kita bisa mengobrol bersama, bukan?”
“Apa yang dikatakan nenek kamu betul, Khafi. Bukankah tujuan kita malam ini untuk memperkenalkan kalian berdua,” ujar Yumna.
“Benar. Nenek kamu bahkan sudah menyiapkan tempat khusus.”
Kalimat Farzan sungguh mengejutkan. Sejak kapan dia membiarkan Arisha berbicara berdua dengan pria asing. Kemudian Arisha menyadari sesuatu saat mengikuti arah pandang sang ayah. Dia menghela napas. Sudah cukup lama berada di ruangan ini dan dia bahkan tidak menyadari kalau ada sebuah meja kecil di bagian lain ruangan itu.
Bukankah ini sedikit berlebihan? Bagaimana bisa Arisha berbicara dengan Khafi saat ada yang memperhatikan? Ini benar-benar pertemuan yang tidak biasa. Meski begitu, dia tetap berjalan menuju tempat yang dimaksud setelah melihat Khafi ke sana terlebih dulu. Lebih baik tidak banyak bertanya atau protes.
Begitu duduk di hadapan Khafi, Arisha merasakan keringat dingin mulai membasahi kening. Perasaan panas tiba-tiba menjalari seluruh wajah dan tubuhnya. Dia memperhatikan pendingin ruangan. Ternyata sudah diatur dengan benar. Lalu, apa yang membuatnya kepanasan. Gadis itu bahkan mulai meremas kedua tangannya yang berada di bawah meja.
“Santai saja. Bukankah kamu melakukan ini demi orang tua kamu?” Arisha mendongak. Kemudian dia kembali menunduk saat matanya bertemu pandang dengan Khafi.
“Dan kamu melakukannya demi nenek kamu?”
“Tentu saja. Memang apa lagi alasannya?” Kedua sudut bibir Khafi sedikit terangkat saat melihat tingkah Arisha. Dia bisa melihat kedua pipi gadis itu merona. Malu?
“Sepertinya kita akan berada di sini cukup lama,” kata Arisha tanpa memandang Khafi.
“Sepertinya begitu. Bagaimana kalau kita bekerja sama?”
“Bekerja sama bagaimana?”
“Kita berdua sama-sama dewasa. Meskipun Nenek tidak mengatakan apa-apa, tapi kita tahu tujuan akhir mereka.”
Arisha terus memikirkan hal itu setelah Farzan membicarakan mengenai pertemuan malam ini. Dia mungkin tidak berpengalaman, tetapi cukup sadar situasi. Jadi, tentu saja dia sudah menduga tujuan orang tuanya sejak awal.
“Bagaimana kalau kita coba? Apa kamu menyukai saya?”