Arisha melirik kedua orang tuanya penuh rasa ingin tahu. Dia punya firasat aneh mengenai apa yang akan disampaikan oleh mereka. Sudah lama sekali sang ayah, Farzan, mengajak dirinya berbicara formal begini. Apa lagi ibunya, Yumna, selalu berbisik pada Farzan. Pasti ada yang tidak beres.
Entah mengapa ucapan Nadhifa terngiang di telinga. Tidak mungkin Arisha akan dijodohkan, bukan? Seketat apa pun Farzan membatasi hubungannya dengan lawan jenis, sang ayah tidak mungkin memilihkan jodoh, bukan? Kepala gadis itu mendadak pusing memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.
“Ayah hanya akan berbicara sekali, Sha. Jadi, dengarkan baik-baik.”
“Iya, Yah.” Jantung Arisha seakan berhenti berdetak. Dia tidak bisa bernapas dengan benar saat menantikan kata-kata yang akan keluar dari mulut sang ayah.
“Ayah dan Ibu ingin mengenalkan kamu dengan seorang pria.”
Akhirnya kalimat yang ditakutkan Arisha meluncur dengan mulus dari Farzan. Dalam mimpi pun, dia tidak pernah menyangka akan mengalami hal ini. Farzan dan Yumna tentu sangat memahami karakternya yang selalu menurut. Dan dia memang tidak bisa menolak keinginan Farzan yang baru saja diucapkan.
Hanya mengenalkan, bukan? Farzan tidak pernah menggunakan kata yang salah saat membicarakan sesuatu. Dia selalu memikirkan dengan matang apa pun yang akan dibicarakan. Jadi, maksud sebenarnya memang hanya benar-benar berkenalan. Tidak ada yang perlu Arisha khawatirkan.
Sejak kecil, Arisha sudah biasa diberi pilihan oleh orang tuanya. Mereka tidak pernah sekali pun memaksakan kehendak. Meski begitu, dia harus bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat. Sama seperti saat dia memutuskan untuk menjadi penulis sebagai tujuan hidup. Farzan tidak keberatan sama sekali.
“Arisha kenal dengan pria itu?” tanya Arisha ingin tahu.
“Tidak, Nak. Dia cucu dari salah satu pelanggan di rumah makan kami sejak beberapa tahun belakangan. Kami sering bertukar cerita dan menjadi dekat. Ayah sangat mengenalnya. Insya Allah neneknya baik. Cucunya juga baik.”
“Benar, Sha. Cucunya memang sedikit pendiam, tapi sangat baik dan sopan. Kami sudah bertemu dengannya beberapa kali dan kami suka. Kami harap kamu juga akan menyukai dia. Mana tahu kalian memang jodoh,” tambah Yumna.
“Masih terlalu dini untuk membahas tentang itu, Bu. Biarkan Arisha berkenalan dengan pria itu dulu. Baru kita putuskan nanti.” Farzan menoleh pada sang anak. “Kami tidak akan memaksa jika kamu tidak setuju, Sha. Katakan saja kalau kamu tidak menyukainya. Atau kamu bisa memberi waktu jika belum siap menikah.”
“Arisha mengerti, Yah. Kalau hanya berkenalan, Arisha rasa tidak masalah. Lagi pula, Ayah dan Ibu akan menemani Arisha, kan?”
“Tentu saja. Mana mungkin Ayah membiarkan kami bertemu dengan dia seorang diri.”
“Jadi, kapan kita akan bertemu dengan pria itu?”
“Malam ini,” jawab Farzan santai. Dia lantas menyeruput kopi. Arisha membelalak.
“Malam ini, Yah?” Arisha masih ingin memastikan.
“Iya. Malam ini. Kamu tidak perlu mempersiapkan apa pun, kan?”
Senyum Arisha yang kaku tidak menunjukkan jika pertanyaan sang ayah tepat. Ini bukan masalah ada yang harus dipersiapkan atau tidak. Dia memang tidak perlu persiapan tertentu, tetapi setidaknya dia harus mempersiapkan mental, bukan? Pertemuan malam ini bukan pertemuan biasa.
Mana bisa Arisha pergi dengan kegelisahan di hati. Haruskan dia meminta orang tuanya untuk mengubah janji. Tidak. Dari apa yang dikatakan Farzan, para tetua pasti sudah menentukan waktu. Tidak ada pilihan lain. Dia hanya bisa menerima keputusan yang dibuat oleh Farzan. Toh, dia tidak sendirian.
“Tunggu, Yah. Arisha mau memastikan lagi. Tadi Ayah bilang dia adalah cucu dari pelanggan di restoran? Benar? Bukan anaknya?”
“Benar, Sha. Dia yatim piatu. Dia mengurus nenek dan kedua adiknya.”
“Dia ... anak sulung?”
“Iya. Kamu tenang saja. Adik-adiknya sudah cukup dewasa. Keduanya sekarang masih kuliah. Lagi pula, Khafi memiliki perusahaan yang cukup berkembang.”
“Khafi?” ulang Arisha dengan mata membesar.
Dunia tidak sesempit itu, bukan? Khafi yang sedang dibicarakan oleh sang ayah bukan Khafi itu, bukan? Mana mungkin ada kejadian yang sangat kebetulan begini. Seakan nama Khafi sedang meneror. Kenapa dia harus berkenalan dengan seseorang yang juga bernama Khafi?
“Kamu kenal dengan Khafi?” tanya Yumna. Arisha menggeleng.
“Hanya saja, namanya terdengar familier,” kata Arisha setengah menerawang.
“Anaknya tampan sekali, lho, Sha.” Yumna mulai melancarkan aksi promosi.
“Tentu saja. Dia itu laki-laki, Bu. Mana mungkin dia cantik.”
“Ibu serius, Sha. Dia punya segala hal yang diimpikan oleh semua wanita “
“Nah, itu malah semakin menakutkan. Dia bukan om-om, kan?”
“Sembarangan! Dia masih cukup muda. Hanya berbeda lima atau enam tahun sama kamu. Cocoklah kalau untuk menjadi pasangan hidup.”
Senyum Arisha melebar. Kalau Yumna sudah seperti itu, berarti si Khafi memang sangat tampan. Apa kata ibunya tadi? Punya segala hal yang diimpikan oleh semua wanita? Kalau memang Khafi begitu baik, kenapa dia masih melajang di umurnya yang sudah lumayan tua. Karena menjaga keluarga?
Farzan bilang Khafi yatim piatu yang merawat nenek dan dua adik yang masih kuliah. Mungkin Khafi memang lebih berkonsentrasi pada keluarga ketimbang mencari jodoh untuk dirinya. Kalau begitu, dia termasuk pria yang unik dan menarik. Zaman sekarang, ada berapa orang yang bisa mengorbankan perasaan demi keluarga mereka. Tampaknya Khafi memang pria yang cukup baik.
Meski begitu, Arisha tidak bisa menerima pria itu dengan mudah. Dia harus benar-benar mengenal Khafi jika ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius. Ini berkaitan dengan masa depan dan kehidupan yang akan dia jalani seumur hidup. Tentu saja dia harus berhati-hati dalam menentukan imam.
“Ibu punya fotonya?” Arisha sangat berharap kalau Yumna akan menunjukkan foto Khafi yang sangat dibanggakan itu. Namun, Yumna malah menggeleng.
“Kami tidak sempat bertukar gambar. Kenapa? Kamu penasaran, ya?”
“Arisha hanya ingin tahu bagaimana wajah pria yang Ibu banggakan itu.”
“Kamu juga akan mengakui penilaian Ibu saat bertemu dengan dia.”
“Baiklah. Arisha percaya pada Ibu. Penilaian Ibu selalu benar, kan?”
“Kamu sangat memahami Ibu.”
***
Di sinilah Arisha berada. Di depan sebuah restoran yang cukup mentereng di jantung kota. Dia memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang masuk dan keluar tempat makan itu lewat kaca mobil. Jelas sekali jika pria yang akan dia temui termasuk kalangan atas. Orang tuanya sudah bilang kalau yang menentukan tempat pertemuan adalah pihak pria.
Ingin rasanya Arisha terbangun dari mimpi ini. Itu pun jika dia memang bermimpi. Dia masih sempat mencubit lengannya dan merasakan sakit. Ternyata dia benar-benar akan diperkenalkan pada seorang pria. Bagaimana ini? Apa dia sungguh tidak punya kesempatan untuk kabur? Kenapa dia tiba-tiba gemetar padahal tadi sudah setuju untuk bertemu.
Mungkin karena ini pertama kalinya Arisha diperkenalkan dengan seorang pria. Dia yang belum pernah berpikran untuk menjalin hubungan serius harus menerima kenyataan. Dalam hati dia mulai berdoa agar tidak melakukan kesalahan. Bagaimana jika dia mempermalukan orang tuanya? Apa dia bisa mengimbangi pembicaraan dengan pria itu?
“Wajahnya, kok, tegang gitu. Santai saja, Sha. Anggap saja kamu akan bertemu dengan teman lama atau editor baru untuk tulisan kamu.”
“Bu, Arisha tidak pernah gemetaran saat bertemu dengan siapa pun.”
“Jadi, kenapa sekarang kamu nervous gitu?” tanya Yumna sambil menunjuk sang putri dari atas ke bawah. Arisha memberengut. Apa ibunya harus memperjelas begitu?
“Arisha itu lagi gugup. Bukannya menghibur malah menambah pikiran.”
“Apa yang perlu kamu gugupkan? Bukankah kamu orang yang sangat percaya diri?” Farzan ikut bicara. Sejak membahas mengenai pria yang akan dikenalkan padanya, Arisha selalu gelisah. Padahal mereka hanya perlu bertemu.
Arisha bahkan ditemani oleh orang tuanya. Apa yang perlu dia takutkan? Jika dia merasa bingung untuk memulai pembicaraan, diam saja. Memang ada yang memaksa dia untuk berbicara. Meski begitu, Farzan tahu betul bagaimana kondisi sang putri saat ini. Jadi, dia tidak akan memojokkan. Dia hanya ingin memastikan Arisha tidak terlalu malu.
Ketika memutuskan untuk menyetujui usul pelanggannya memperkenalkan sang cucu, Farzan sudah tahu status sosial mereka. Tentu saja dia tidak menerima Khafi karena kekayaannya. Dia sudah beberapa kali mengobrol dan memperhatikan. Khafi hanyalah sosok pria yang kesepian dan butuh teman untuk berbagi.
Melihat pribadi putrinya yang ceria, Farzan merasa kalau mereka bisa saling melengkapi. Benar sekali. Dia berharap hubungan ini akan berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Meski begitu, dia tidak mau memaksakan kehendak andai keduanya keberatan. Ikatan suci hanya bisa bahagia saat ada ketulusan dari kedua belah pihak.
“Kelihatan sekali, ya, Yah?” tanya Arisha dengan wajah ditekuk.
“Sudahlah. Kamu hanya berkenalan. Bukannya dinikahkan malam ini juga.” Farzan tersenyum. “Atau kamu mau dinikahkan sekalian?”
“Ayah!” Farzan dan Yumna tertawa. Sementara Arisha mengerucutkan bibir.
“Ya, sudah. Ayo, turun agar kamu bisa segera melihat pria yang membuatmu gugup itu.”
“Kenapa Ibu ikut-ikutan?”
“Ibu hanya mengatakan yang sebenarnya. Jujur saja, kamu penasaran pada pria itu, kan?”
Pertanyaan itu membuat Arisha menghela napas. Memang salah kalau dia bertanya-tanya mengenai bagaimana penampilan pria yang akan dikenalkan padanya? Ayah ibunya bahkan tidak memberikan foto atau informasi yang jelas. Entah karena benar-benar tidak tahu atau sengaja membuat dia mengenal pria itu sendiri.
Berdasarkan sikap Farzan yang tegas, tidak mungkin sang ayah mengabaikan informasi penting mengenai pria itu. Lagi pula, ini pertama kalinya dia memperkenalkanseorang pria pada Arisha. Mustahil jika dia tidak mengenalnya dengan baik. Intinya, di sini hanya Arisha yang tidak begitu memahami sosok si pria.
“Kita turun saja sekarang,” ujar Arisha. Dia membuka pintu mobil dan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Terpaan udara malam membuat Arisha menggosokkan kedua tangan. Dia merapikan jilbabnya yang dipermainkan angin. Malam ini dia memilih memakai long dress ungu polos dengan aksen tali di pinggang. Di bagian atas kanan dress itu terdapat layer yang mempermanis sosok Arisha. Sepasang flat shoes hitam melengkapi penampilannya.
Begitu melihat pintu restoran mewah itu, hati Arisha berdesir. Ketika tengah memperhatikan para pengunjung, tanpa sengaja dia menemukan pria yang mengganggu pikirannya belakangan ini, Khafi. Begitu mengingat namanya, dia mulai berharap kalau Khafi yang akan diperkenalkan oleh Farzan adalah Khafi yang sama.
Entah mengapa kegembiraan yang belum tentu kebenarannya itu menimpulkan percikan aneh di d**a Arisha. Khafi yang dia kenal tidak mungkin hanya kebetulan muncul. Jika mereka orang yang berbeda, kenapa dia harus bertemu lagi dengan pria yang menyita perhatiannya di sini. Ini benar-benar kebetulan yang tidak sanggup dia terima.
“Kamu tidak berubah pikiran dan minta pulang, kan?” tanya Yumna saat Arisha mematung. Putrinya itu bahkan belum menutup pintu mobil. Dia hanya memandangi pintu masuk restoran yang cukup ramai.
“Memangnya Arisha bisa melakukan itu?”
“Kamu mau melarikan diri?” Farzan mendadak muncul dari arah belakang Arisha dan membuat gadis itu memegang d**a sambil beristigfar.
“Jangan mengagetkan orang begini, Yah. Arisha sudah deg-degan, lho.”
“Maaf. Ayah tidak bermaksud mengejutkanmu. Ayo, masuk.”
“Tunggu, Yah. Biar Arisha atur napas dulu.”
Arisha menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Dia melakukan gerakan itu beberapa kali. Setelahnya, dia lumayan tenang. Sekarang, dia sudah siap menghadapi pria yang bernama Khafi. Siapa pun sosok yang nantiya akan dilihat, dia sudah sangat siap. Dia hanya berkenalan. Dia hanya berkenalan. Kalimat itu terus berputar di kepala sampai dia mengikuti orang tuanya memasuki restoran.
Langkah Arisha melambat saat sudah masuk ke dalam restoran. Dia berhenti saat melihat kerumunan yang tengah mengantre makanan. Ternyata ada penyajian dengan sistem prasmanan. Cukup menarik. Begitu sadar kalau tertinggal, dia langsung menyusul ayah ibunya. Dia tidak pernah tahu kalau kisah cintanya akan segera dimulai malam ini.