Bab 5: Jatuh Cinta?

1733 Words
“Kamu benar-benar mau baca novel itu?” tanya Barra untuk ke sekian kali. “Kamu akan terus bertanya seperti itu?” “Tapi ini aneh, Khaf. Sejak kapan kamu baca novel? Aku cuma khawatir kalau ada yang salah sama kamu.” Barra memperhatikan Khafi yang tengah membaca novel di tangannya. “Kamu tidak salah minum obat, kan?” Merasa terus diganggu, Khafi melayangkan tatapan legendarisnya. Barra yang memahami situasi, memilih untuk bersandar di sofa nyaman. Dia tidak mau memperpanjang masalah dengan orang semacam Khafi. Bukannya untung, dia bisa mengalami kerugian besar. Khafi cukup pendendam dan tukang perhitungan. Jadi, dia tidak berniat untuk main-main. Meski mengenal Khafi sejak kecil, Barra tetap tidak mengerti mengapa Khafi sulit sekali didekati. Bahkan oleh dirinya yang sudah sangat lama dikenal. Barra nyaris sudah tahu semua rahasia Khafi. Tetap saja, Khafi masih belum bisa menerima Barra dengan tangan terbuka. Didikan yang telah diterima oleh Khafi sepertinya sangat memengaruhi. Barra tidak begitu yakin bagaimana detail pendidikan sang ayah. Yang Barra tahu, ayah Khafi sangat disiplin dan menuntut hasil terbaik. Karena itu, Khafi tidak pernah mentolerir kesalahan sekecil apa pun. Khafi yang seperti itu akankah berubah seiring berjalannya waktu? Barra tidak berani memastikan. Dia merasa kasihan pada orang yang nantinya akan menjadi pasangan sang sahabat. Apa ada yang bisa menerima sikap kaku Khafi itu? Kalau ada, maka dia pasti wanita yang sangat hebat. Bukan bermaksud menyumpahi Khafi, tetapi Barra merasa perlu mengubah sikap Khafi yang terlalu membosankan itu. Tujuannya, tentu saja, agar pasangannya kelak tidak terlalu perhitungan. Dengan sikap Khafi yang monoton, Barra rasa, dia membutuhkan gadis yang aktif. Itu baru cocok. Kalau Khafi bertemu dengan gadis yang sama pendiamnya atau kaku, itu bisa jadi bencana. Jadi, dia harus memastikan kalau Khafi bisa memperoleh pasangan yang tepat. Masalahnya dia belum menemukan gadis yang sesuai. Yang lebih sering terjadi adalah para gadis itu menyerah begitu tahu sikap asli Khafi. Yang dibutuhkan Barra adalah gadis yang tidak kenal lelah meski Khafi terus bersikap kaku. Gadis seperti itu akan lebih mungkin mengubah tabiat buruk Khafi selama ini. Dia harus segera menemukannya sebelum Hilya menjodohkan Khafi. Atau dia lihat dulu bagaimana calon yang Hilya bawa? Meski sudah berumur, Hilya memiliki selera yang sangat baik. Semua wanita yang pernah ingin dipertemukan dengan Khafi berasal dari keluarga baik-baik. Tidak semuanya kaya, tetapi mereka beretika. Sayang, Khafi selalu menolak rencana yang telah disusun oleh Hilya. Kali ini, Barra mendapat informasi kalau Khafi setuju menemui gadis yang Hilya kenalkan. Entah gadis itu beruntung atau malah buntung. Barra tidak bisa menjamin. Pikiran Khafi sungguh sulit ditebak. Dia mungkin mengenal Khafi sejak lama, tetapi bukan berarti dia bisa memahami semua perbuatan sahabatnya. Seperti pemandangan yang kini ada di hadapannya. Khafi membaca novel dengan serius sambil mencoret-coret kertas. Barra tersenyum sinis saat melihat isi catatan Khafi. Memangnya ada orang yang membaca novel sambil menulis poin-poin penting seperti itu? Khafi benar-benar luar biasa. Kalau Zaina sampai tahu hal ini, dia akan langsung mengambil gambar sang kakak, lalu mengunggahnya di semua akun. Peristiwa bersejarah harus diabadikan. Begitu kira-kira yang selalu Zaina katakan. Meski dulu dia sempat menderita karena Khafi, dia sudah memaafkan. Sekarang, dia malah lebih suka mengganggu kakaknya. Mengganggu dalam versi Zaina adalah benar-benar mengganggu. Meski Khafi berulang kali menolak kehadiran Zaina, gadis belia itu tidak pantang menyerah. Dia akan terus mengekor sang kakak sampai Khafi mengusirnya. Barra sudah terbiasa dengan kebiasaan aneh Zaina itu. Sudah tahu Khafi orang yang menyukai ketenangan, Zaina malah sengaja membuat keributan untuk mencari perhatian kakaknya. Terkadang, Barra merasa iba pada Zaina, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak. Zaina masih terlalu muda untuk memahami apa yang Khafi rasakan. Jadi, dia hanya membiarkan Zaina, seperti perintah Khafi padanya. Menyimpan rahasia penting membuat Barra sangat tertekan. Dia bukan orang yang suka menyembunyikan apa pun dari orang lain. Jika suka, dia katakan. Jika tidak, dia tinggalkan. Hidupnya memang sesimpel itu. Dia tidak pernah memandang kesulitan dengan serius. Semua masalah punya penyelesaiannya sendiri. Begitu katanya. Demi mewakili Zaina agar tidak melewatkan momen berharga ini, Barra mengeluarkan telepon seluler dan bersiap mengambil gambar Khafi. Dia melakukan dengan sangat berhati-hati. Kalau Khafi sampai tahu, dia bisa habis dihukum. Senyumnya mengembang saat melihat hasil jepretan. “Hapus foto itu kalau kamu masih mau hidup tenang,” kata Khafi tajam, bahkan tanpa beralih dari buku yang dibaca. Barra bergidik, lalu menghapus gambar Khafi. “Zaina akan kecewa karena melewatkan momen bersejarah ini. Bolehkah aku mengirimkan satu foto padanya?” “Dan membiarkan dia memajang gambarku di seluruh media sosialnya?” Kali ini, Barra tidak membuka mulut lagi. Kalau Khafi sudah membalas pertanyaan kita dengan pertanyaan lain, itu artinya dia sudah diambang kesabaran. Kalau Barra salah melangkah, dia bisa jatuh ke dalam jurang penderitaan. Bukan hal yang dia inginkan saat ini. Namun, sepertinya mulut pria itu masih terlalu gatal. “Aku kasihan pada orang yang akan menjadi pendampingmu nanti, Khaf.” “Tidak perlu memikirkan tentang pendampingku. Pikirkan saja nasib percintaanmu sendiri. Aku sudah cukup dewasa untuk memutuskan jalan hidupku.” “Oh, iya. Aku sampai lupa. Kamu sepertinya sudah pernah membahas mengenai orang yang kamu sukai. Kamu sudah bertemu dengannya lagi?” Barra bersorak dalam hati saat Khafi terdiam. “Kamu bertemu dengannya hari ini?” “Berhentilah selagi kamu bisa. Aku tidak akan terpancing.” “Kalau kamu memang sudah menyukai seseorang, bukankah seharusnya kamu memberi tahu Nenek. Jadi, Nenek tidak perlu repot-repot mengenalkanmu pada gadis lain. Iya, kan?” “Aku hanya ingin menghibur Nenek sesekali. Tidak masalah, bukan?” “Terserah apa katamu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga siapa pun orang yang kamu sukai, dia akan balik menyukaimu.” “Tentu saja dia menyukaiku,” gumam Khafi tak jelas. Baru saja Barra ingin bertanya, Khafi sudah beranjak dari tempat duduk dan melangkah ke ruang kerja. Barra menghela napas. Dia kehilangan kesempatan lagi. Namun, senyumnya mengembang saat melihat layar telepon seluler. Ada foto Khafi sedang membaca novel di sana. Mana mungkin dia bisa menghapus semua gambar itu? Sayang sekali, kan? *** “Maksud kamu ... Aku menyukai Khafi? Menyukai dalam arti suka pada lawan jenis?” “Tepat sekali. Memangnya apa lagi. Kamu terus memikirkannya meskipun sudah berusaha menghindar. Itu sudah pasti rasa suka.” “Bagaimana ini, Fa? Apa aku bisa ketahuan semudah itu? Apa Ayah akan memarahiku?” tanya Arisha beruntun. “Tenang dulu, Sha. Kamu bisa mengatakan hal ini pelan-pelan pada orang tuamu, kan? Siapa tahu mereka malah akan menyetujui.” “Kamu tahu kalau orang tuaku enggak akan melakukan itu.” “Ya ... Mana tahu mereka akhirnya sadar kalau kamu sudah cukup dewasa buat menikah. Iya, kan? Mereka enggak mungkin sekejam itu.” “Mereka memang selalu begitu. Kamu paham betul.” “Ya ... Siapa yang tahu, kan?” Sebuah pikiran menggelitik Nadhifa. “Kamu enggak dijodohkan, kan, Sha?” “Orang tuaku enggak sekolot itu. Mereka masih menghargai pendapatku. Enggak mungkin mereka menjodohkanku.” Meski sangat ketat dalam hal pertemanan dengan lawan jenis, Arisha yakin itu hanya karena orang tuanya sangat khawatir. Pergaulan anak-anak jaman sekarang sangat mengkhawatirkan. Sudah seharusnya setiap orang tua berhati-hati. Jadi, wajar sekali kalau ayah dan ibu Arisha khawatir. Rasanya tidak mungkin, bahkan mustahil, kalau orang tua Arisha sudah menetapkan jodoh untuknya. Mereka sangat terbuka. Semua masalah di dalam keluarga selalu dibahas bersama. Meski setahun belakangan Arisha memutuskan tinggal dengan Nadhifa, dia selalu menjaga komunikasi dengan orang tuanya. Tidak ada hal-hal yang menunjukkan kalau orang tua Arisha memiliki rencana perjodohan. Kalau ada, tentu dia sudah bertemu dengan calon yang telah ditetapkan. Umurnya sudah lebih dari cukup untuk menikah. Jadi, untuk apa mereka menunda acara pernikahan kalau memang ada. Selama ini, Arisha juga tidak pernah mendengar orang tuanya membicarakan pria asing. Itu bisa menjadi salah satu bukti kalau dia tidak dijodohkan, bukan? Lagi pula, dia tidak semenderita itu sampai harus dipilihkan pasangan hidup. Dia masih bisa membedakan pria baik dan buruk. Benarkah? Mungkin Arisha cukup pintar menilai seseorang, tetapi dia bahkan tidak tahu apa tanda-tanda menyukai orang lain. Lalu, bagaimana dia bisa mencari orang yang tepat untuk pasangan hidup? Perlukah dia menyampaikan kekhawatirannya pada Nadhifa saat ini? Untuk masalah percintaan, Nadhifa memang lebih berpengalaman. Gadis berambut pendek itu sudah beberapa kali menjalin hubungan asmara. Meski tidak semua berakhir indah, tetapi dia tentu memiliki pelajaran-pelajaran berharga selama menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis. Memang tidak sama kehidupan pacaran dengan kehidupan pernikahan. Namun, intinya kurang lebih mirip. Ada dua orang berlainan jenis yang berkomitmen untuk berhubungan bersama. Bukankah begitu? Atau Arisha terlalu menyederhanakan persoalan ini? Apa pernikahan lebih rumit? Nyatanya, sampai sekarang Nadhifa belum memutuskan untuk menikah. Padahal mantan pacarnya sudah cukup banyak. Apa yang dicari oleh gadis itu? Arisha sendiri tidak bisa menjawab. Setiap putus, Nadhifa selalu bilang kalau mereka berpisah karena sudah tidak sejalan. Apa hubungan memang bisa diputuskan semudah itu? Seharusnya sebuah pernikahan tidak begitu. Menurut kaca mata Arisha, menikah adalah momen yang sangat berharga dan hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Dia tidak bisa tiba-tiba meninggalkan pasangan yang telah dipilih hanya karena tidak sejalan lagi. Ikatan suci harus dipertahankan dengan berbagai cara, bukan? Entahlah. Arisha juga tidak terlalu yakin. Konsep pernikahan yang dia pahami adalah sebuah ikatan yang harus dijaga seumur hidup. Kalau begitu, bukankah semestinya kita tidak boleh main-main? Menikah seharusnya dipikirkan dengan hati-hati. Bukan hanya terjadi karena dijodohkan. Iya, kan? Lagi-lagi Arisha tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Setiap orang memiliki jalan takdir yang berbeda. Bagaimana seseorang bisa menemukan jodohnya juga merupakan misteri. Jadi, tidak akan ada yang menyangka garis hidup yang telah ditetapkan oleh Allah. “Kenapa diam? Kamu benar-benar enggak dijodohkan, kan?” “Nadhifa yang baik. Aku sudah bilang kalau itu enggak mungkin.” “Apa orang tuamu pernah membahas mengenai pernikahan?” “Untuk yang serius belum pernah. Mereka hanya membahas sepintas lalu. Kenapa?” “Bukankah itu aneh. Orang tuaku bahkan sudah mendesakku untuk menikah saat aku masih kuliah. Menyebalkan! Menyuruhku menikah tapi selalu mengganggu saat aku berpacaran. Menurutmu siapa yang salah?” “Aku enggak berani komentar. Kamu kenapa mudah sekali memutuskan buat pisah sama pacar-pacar kamu?” “Enggak tahu. Aku cuma merasa mereka enggak cocok sama aku?” “Bahkan sama Aditya yang berpacaran hampir tiga tahun?” “Kamu akan terus ungkit itu? Jangan bicarakan dia. Kita sedang membahas soal Khafi. Jadi, apa lagi yang kamu tahu soal Khafi?” “Aku sudah bilang kalau aku enggak tahu apa-apa.” “Sepertinya aku harus turun tangan.” “Jangan macam-macam!” ucap Arisha setengah mengancam, tetapi begitu melihat senyum Nadhifa, dia tahu kalau sudah terlambat memberi ancaman itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD