Bab 4: Pria Memesona

1793 Words
“Siapa itu tadi?” tanya Nadhifa begitu berhasil kabur dari Khafi. “Enggak kenal. Cuma kebetulan ketemu.” “Kebetulan ketemu? Kamu pikir aku percaya?” “Memangnya kenapa kamu enggak percaya?” “Dia lihat kamu terus, Sha. Mana mungkin kalian ‘cuma kebetulan ketemu'. Jujur saja. Siapa dia sebenarnya?” “Bukan siapa-siapa. Aku benar-benar enggak kenal pria itu.” “Enggak kenal dia? Dia panggil kamu gadis keripik. Itu bukan kebetulan, kan?” Panggilan itu mengingatkan Arisha tentang kejadian di taman tempo hari. Dia tidak bisa melupakan pertemuannya dengan Khafi untuk beberapa waktu. Tentu saja itu bukan hal yang normal. Selama ini, banyak pria yang muncul di hadapannya, tetapi semua terlupakan begitu saja. Lain dengan Khafi. Bayangan pria itu sempat membuat Arisha khawatir. Untuk pertama kali, dia merasakan desiran aneh dalam hati. Dia juga kesulitan bernapas saat melihat wajah tampan Khafi. Jantungnya bahkan melengkapi penderitaan dengan berdetak sangat cepat. Setelah Khafi berlalu kala itu pun, Arisha masih merasakan udara di sekitarnya mendadak lenyap. Dia meringkas semua barangnya dan pergi secepat yang dia bisa. Melihat Khafi hanya akan memberi pengaruh buruk pada kesehatan. Khafi membuatnya jantungan dan kesulitan bergerak. Menurutnya itu bukan pertanda baik. Bertemu orang asing yang membuat Arisha mengalami banyak hal aneh sungguh sangat mengkhawatirkan. Dia sampai harus menenangkan diri dengan berbagai kegiatan. Mulai dari bersih-bersih, masak, sampai mencuci baju yang ada di dalam lemari. Beruntung dia bisa lebih tenang setelah melakukan semua itu. Akan tetapi, apa yang telah dilakukan dulu tampak tidak berguna. Gejala-gejala itu kembali menjangkiti Arisha saat Khafi kembali muncul. Dia merasakan sesak lagi, bahkan lebih parah. Tatapan Khafi mengandung sebuah magnet mengerikan. Dia selalu ingin menatap pria itu. Padahal dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Untuk berbagi cerita dengan Nadhifa juga merasa ragu. Arisha takut kalau sahabatnya itu tahu mengenai sakit yang dia derita. Dia tidak mau membuat Nadhifa mengkhawatirkan dirinya. Jadi, dia cukup memendam hal ini dan sebisa mungkin menjauhi Khafi. Semudah itu. Benar, kan? Lagi pula, Khafi adalah orang asing. Arisha tidak akan sering bertemu dengannya. Lalu, bagaimana kalau nanti mereka bertemu lagi? Apa dia akan mengalami gejala ini terus-menerus? Ini sangat menyiksa. Dia sampai takut kalau jantungnya akan memasak karena berdetak sangat cepat. Melihat senyum yang menghiasi bibir Nadhifa, Arisha sebenarnya merasa bingung. Nadhifa mungkin tidak menyadari betapa berbahayanya Khafi. Apa hanya dia yang mengalami gejala ini? Apa Nadhifa tidak merasakannya? Apa maksud dari gejala ini? Dia sungguh tidak bisa memahami dirinya sendiri. Selama dua puluh lima tahun ini, Arisha belum pernah merasakan gejala yang serupa. Ini pertama kalinya. Lalu, apa yang sebaiknya dia lakukan? Dia tidak bisa memberi tahu orang tuanya karena takut khawatir. Mungkin hanya Nadhifa yang bisa membantu. Nadhifa, entah bagaimana, bisa mengerti hal-hal yang kurang dia pahami. “Aku mau tanya sesuatu boleh?” tanya Arisha sedikit ragu. “Mau tanya apa?” Nadhifa menghela napas. “Tumben sekali kamu sungkan begini. Memangnya kapan aku enggak jawab pertanyaanmu yang kadang aneh itu. Jadi, apa yang mau kamu tahu sekarang?” “Sebenarnya aku enggak terlalu suka kalau ketemu dengan pria itu. Apa menurutmu itu normal?” Arisha mengerutkan kening. Mengapa pertanyaannya terdengar tidak masuk akal. Dia melirik Nadhifa yang terdiam. “Kamu enggak suka bertemu dengan dia? Yang benar saja. Jelas-jelas kamu tadi terus memperhatikan dia. Kamu pikir aku bisa ditipu?” “Kamu menyadari itu?” Arisha menggigit bibir. “Apa menurutmu itu juga aneh?” “Arisha Dilruba. Kamulah yang aneh,” ucap Nadhifa tegas. “Aku yang aneh? Maksud kamu apa? Bukannya pria itu yang aneh? Dia buat aku ....” “Kamu merasa sesak napas saat dia menatapmu?” Arisha mengangguk. “Jantungmu berdetak cepat saat bertemu dengannya?” Arisha mengangguk lagi. “Tapi sebenarnya kamu ingin terus memperhatikannya?” Meski tidak yakin bagaimana Nadhifa bisa mengetahui gejala yang dia rasakan, Arisha tetap mengangguk. Dia menatap takjub sang sahabat. Mungkinkah Nadhifa pernah merasakan apa yang dia rasakan? Jika begitu, apa sebenarnya Nadhifa juga sakit seperti dia sekarang? Kedua tangan Arisha meremas pundak Nadhifa sambil menggeleng beberapa kali. Kedua mata gadis itu berkaca-kaca. Dia tidak tahu kalau Nadhifa pernah mengalami penderitaan. Atau jangan-jangan, sekarang Nadhifa masih merasakannya. Perlukah dia menyarankan Nadhifa berobat ke rumah sakit. Rasanya, Arisha juga butuh seorang dokter untuk menyembuhkan sakitnya. Dia bisa mengajak Nadhifa sekalian agar mereka bisa mendapatkan pertolongan dengan cepat. Kalau ditunda lebih lama, dia takut penyakit ini akan memengaruhi pekerjaannya. Dia sudah cukup tertekan dengan tuntutan atasan. Dia tidak ingin konsentrasinya juga terganggu. Cukup atasan saja yang membuat tertekan. Arisha tidak mau dibebani oleh masalah baru yang berwujud pria tampan bernama Khafi. Saat pergi ke taman waktu itu, dia ingin menenangkan diri dan mencari inspirasi. Bukan menambah penderitaan dengan bertemu orang seperti Khafi. Pikiran Arisha mendadak kosong saat menghadap laptop. Setiap dia akan merangkai kata, bayangan Khafi terus muncul dan mengganggu. Hasilnya dia tidak bisa mengetik apa pun setelah bertemu pria itu. Baru saja dia bisa menormalkan hati, sekarang malah bertemu lagi dengan Khafi. Dia jadi takut apakah dia masih bisa menulis cerita. “Kamu sungguh merasakan semua itu?” tanya Nadhifa memastikan. “Apa kamu juga pernah merasakan hal itu? Apa memang sangat mengganggu?” “Apa kamu merasa terganggu?” “Tentu saja. Dia selalu muncul dalam pikiranku dan membuatku enggak bisa melakukan apa-apa. Itu sangat mengganggu. Aku bahkan enggak bisa menulis gara-gara dia.” “Tapi kamu tetap mau bertemu dengannya, kan?” Arisha diam. “Dia membuatmu penasaran? Iya, kan? Kamu ingin tahu lebih banyak mengenai pria itu, kan?” “Kamu ... Bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan? Apa ini?” Melihat Nadhifa mengulurkan tangan membuat kening Arisha mengerut. Dia tidak mengerti mengapa Nadhifa malah tersenyum lebar seperti itu. Apa penyakit Nadhifa sudah sangat parah sampai dia melakukan hal tidak masuk akal? Apa dia sudah terlambat untuk menyelamatkan sang sahabat? Karena tidak mendapat respons, Nadhifa mengambil tangan Arisha dan menjabatnya dengan sangat erat. Lipatan di kening Arisha bertambah banyak. Dia menyentak tangannya dengan cepat. Nadhifa malah tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu. Arisha terlalu polos untuk mengetahui apa yang dia rasakan. Kalau Nadhifa tidak segera menenangkan Arisha, dia yakin sahabatnya itu akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Jadi, sebelum Arisha melakukan hal yang tidak masuk akal, Nadhifa akan berbaik hati menjelaskan apa yang tengah dialami sang sahabat. Dia harus pelan-pelan agar Arisha memahami penjelasannya. Memiliki sahabat sepolos Arisha memang merupakan tantangan. Beruntung ada Nadhifa yang cukup telaten menjelaskan apa saja. Pada saat seperti ini pun, dia harus turun tangan untuk meluruskan sang sahabat. Kalau tidak, Arisha bisa terus salah menilai dirinya berpenyakitan. “Aku ucapkan selamat, Sha. Akhirnya hari ini datang juga.” “Aku benar-benar enggak mengerti apa maksud perkataanmu itu. Apa kamu enggak memahami apa yang aku katakan tadi. Aku mungkin saja sakit, Fa. Kamu mungkin juga punya penyakit seperti aku. Jadi ....” “Jadi, kamu mau ke rumah sakit?” Arisha diam. “Kamu enggak sakit, Sha. Enggak perlu ke rumah sakit. Kamu hanya sedang menyukai seseorang.” “Apa katamu? Aku menyukai seseorang? Maksudmu aku menyukai pria bernama Khafi itu?” “Jadi, namanya Khafi? Dia terlihat keren. Berapa umurnya? Apa pekerjaannya?” “Mana aku tahu. Bukankah dia terlihat cukup tua?” “Cukup tua? Kamu serius? Kamu ... Enggak panggil dia dengan sebutan bapak, kan?” Nadhifa menepuk kening saat melihat Arisha menggigit bibir. “Parah kamu, Sha. Dari mana coba dia kelihatan tua. Dia pasti cuma orang yang suka berpenampilan rapi. Lagi pula, di sini banyak orang yang berpakaian seperti dia, kan?” “Iya, sih.” Arisha meringis. “Apa menurutmu dia tersinggung dengan panggilan bapak?” tanyanya sambil melirik ke kanan kiri, mencari sosok Khafi. “Apa aku perlu meminta maaf karena menganggapnya tua?” “Menurutmu dia akan menerima permintaan maafmu? Yang ada dia tambah sebal. Lupakan saja. Jadi, apa rencanamu?” “Rencanaku? Tentu saja memborong banyak buku, lalu pulang dan membaca.” “Ya, Allah!” Nadhifa kembali menepuk kening. Dia menarik napas, lalu meremas kedua tangan di depan wajah Arisha. “Kamu kenapa?” Arisha memandang Nadhifa yang memejamkan mata rapat-rapat. “Kamu benar-benar enggak tertolong, Sha. Sungguh.” Tatapan polos Arisha sungguh membuat Nadhifa geram sendiri. Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada sahabatnya itu. Dia bahkan sudah mengatakan kalau gejala yang dirasakan oleh Arisha adalah tanda-tanda menyukai seseorang. Mengapa Arisha tidak merespons ucapannya? Perlukah Nadhifa terang-terangan mengatakan kalau Arisha sedang menyukai pria yang bernama Khafi? Dia tidak merasa kalau kata-katanya mengandung arti lain. Pengalamannya sebagai seorang editor tidak mungkin salah. Atau Arisha memang tidak mengerti apa yang dia sampaikan? Sepolos apa pun seseorang, harusnya dia memahami ucapan Nadhifa barusan. Orang tua Arisha sangat tahu cara menjaga anak mereka. Arisha bahkan tidak tahu apa tanda-tanda yang akan timbul saat dia menyukai lawan jenis. Kalau begitu, Khafi cukup beruntung karena menjadi orang pertama yang membuat Arisha berdebar. Omong-omong soal Khafi, Nadhifa tidak mengenal pria itu. Namun, sekali pandang, dia tahu kalau Khafi orang yang sangat dingin. Di antara begitu banyak orang yang ada di acara, dia hanya melihat Arisha. Dia tidak memedulikan wanita-wanita yang terus melirik dan membicarakannya. Dengan pesona luar biasa seperti itu, rasanya tidak mungkin kalau Khafi tidak menyadari. Mungkin dia sudah terbiasa dengan perlakuan begitu. Ini sangat buruk bagi Arisha. Pertama kali menyukai seseorang, dia malah memilih orang yang sempurna seperti Khafi. Sungguh tidak terduga. Setelah lama tidak merasakan suka pada lawan jenis dan tiba-tiba menyukai pria sempurna sekelas Khafi. Pantas saja Arisha tidak pernah tertarik dengan pria yang mendekatinya. Ternyata level yang ditentukan setinggi itu. Pria seperti Khafi tentu tidak banyak dijumpai di dunia ini. Pertanyaan pentingnya apa Khafi sudah memiliki pasangan? Nadhifa berani bertaruh kalau Khafi tertarik pada Arisha. Namun, bukan berarti dia masih sendiri, bukan? Dengan penampilan sempurna begitu, minimal dia sudah memiliki pacar. Lalu, kenapa dia memperhatikan Arisha di antara semua wanita di sini? Mungkinkah pemikiran Nadhifa salah? Mungkinkah Khafi sebenarnya juga masih sendiri? Ini memang terdengar aneh. Di mana kalian bisa menemukan pria sempurna di umur yang matang? Pemikiran ini sedikit mengganggu Nadhifa. Dia tidak akan membiarkan temannya berada dalam masalah. Untuk berjaga-jaga, Nadhifa akan menyelidiki pria bernama Khafi itu. Dengan begitu, dia bisa memutuskan untuk membantu Arisha mendekat atau menjauh. Arisha memang belum menyetujui, tetapi tidak masalah bukan kalau dia ingin sahabatnya bahagia? Arisha menyuka Khafi. Itu yang pasti. Sebagai teman yang baik, Nadhifa harus membimbing sahabatnya untuk menemukan kebahagiaan hidup. Dia akan mengatakan rencana ini pelan-pelan agar tidak mengejutkan Arisha. Gadis itu punya banyak waktu memahami apa yang kini tengah dia rasakan pada Khafi. Yang terpenting sekarang adalah menjelaskan dulu apa itu rasa suka pada lawan jenis. Sebelum Arisha menyia-nyiakan uangnya untuk berkonsultasi dengan dokter, dia harus membuat Arisha paham. Jadi, dia menyeret Arisha keluar tanpa memedulikan protes sang sahabat. Mereka perlu bicara di suatu tempat yang tenang. Jadi, Arisha bisa mendengarkan dengan baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD