"Apa salah Al ya Allah," Al memperhatikan pipinya yang sedikit merah melalui kamera ponsel. Beberapa jam yang lalu Al ditampar oleh Oliv hanya karena memuji gadis itu dan hebatnya rasa perih akibat tamparan Oliv masih terasa sampai sekarang.
"Abang makan!"
Al menoleh menatap adiknya yang baru masuk ke kamar sambil memeluk boneka kelinci nya.
"Males," Al kembali memperhatikan pipinya.
"Makan!"
"Gak mau,"
"Makan!"
"Dibilang enggak ya enggak,"
"Ih makan gak?!" Agatha berlari kemudian berdiri di depan Al dengan tangannya yang terangkat siap untuk memukul Al.
"Bodo, males."
"Nanti cakit!"
"Bodo amat,"
"Tendang ya bulung nya,"
Al melemparkan ponselnya ke tempat tidur lalu bangkit berdiri karena sang adik sudah mengambil ancang-ancang untuk menendang aset berharga nya.
"Jangan suka ngancem kayak gitu,"
"Ngancem apa?"
"Tendang burung Abang lah,"
"Emang kenapa?"
"Atha masih kecil jangan!"
"Olang Papi kok yang ajalin Atha,"
"Papi di dengerin,"
Al menutup pintu kamarnya setelah dirinya dan Agatha keluar.
"Papi kan olang tua wajib di dengel dong,"
"Iya Tha terserah!" Al berlari menuju lift meninggalkan adiknya yang sedang berteriak tidak ingin ditinggal.
"Dadaaaah!" Al melambaikan tangan ketika sudah masuk ke dalam lift sembari tertawa jahat melihat Agatha berlari ke arahnya.
"Lho Abang, adiknya mana?" Tanya Aya karena Al datang ke ruang makan hanya sendirian tidak bersama Agatha.
"ABANG!!!"
Al terkekeh geli melihat Agatha sudah turun dari lantai atas dengan juga menggunakan lift, di dalam lift ada kursi kecil untuk pijakan Agatha agar anak itu tidak kesulitan saat memencet tombol.
"Papi Abang tinggalin Atha," adu Agatha pada Rafa yang sedang makan.
"Tendang burungnya,"
"Kalo ngajarin anak yang bener dikit dong, gimana sih kamu." Sahut Aya mendudukkan Agatha di kursi bayi nya.
(())
Al menguap lebar seraya merenggangkan otot-ototnya memperhatikan seorang perempuan yang sedang berdiri dengan tangannya menunjuk tulisan huruf ataupun angka yang ada di papan tulis.
Kepala Al menggeleng untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyerangnya membuka mata selebar-lebarnya.
"Bosen gue,"
Al menoleh pada Dewa yang sedang menjatuhkan kepalanya di atas tas menatap kosong ke arah dinding kelas.
"Bucan!" Al mengangkat tangannya.
"Saya bikin satu contoh soal ya biar kalian semakin mengerti supaya dipertemuan selanjutnya kita bisa ulangan,"
Dewa menutup mulut tertawa tertahan karena Al tidak ditanggapi, ditatap pun tidak.
"Biasa, cewek cantik tuh emang gitu sok jual mahal gak mau noleh." Kata Al.
"Biar apa tuh?"
"Biar ada harga dirinya,"
Dewa tertawa diantara keheningan kelas.
"Eh, ketawa gak bagi-bagi." Sahut Yoyo tanpa memelankan suaranya.
"Ya sini makanya,"
Tak.
Pandangan murid yang tadinya tertuju ke arah buku beralih menatap guru muda yang baru saja meletakkan spidol dengan cukup kuat.
"Emang kalian itu udah kayak petasan, giliran yang satu ngoceh yang lain langsung ikutan." Katanya sambil menatap Al.
"Ibu bilangnya kalian tapi kenapa cuma ngeliatin saya?" Al menunjuk dirinya.
"Kamu biang keroknya emang,"
Al tersenyum menggoda, "masa sih?"
"Diam sebelum sepatu saya melayang," guru muda itu menunjuk sepatu nya dengan satu tangan berada di pinggang.
"Lempar aja buk lempar pasti saya tangkep kok, sepatu ibu aja saya tangkep apalagi hati ibuk." kata Al seraya menaikkan alisnya sementara teman-teman Al sudah tertawa.
Guru muda itu terlihat menggelengkan kepala kemudian mengambil spidol untuk kembali menulis soal di papan tulis.
"Buk saya mau permisi,"
"Keluar aja sana,"
Al langsung berdiri sambil menepuk bahu Dewa, "kuy."
"Kuy lah!" Dewa ikut bangkit berdiri.
"Gue gak diajak?" Tanya Yoyo karena Al hanya mengajak Dewa.
"Udah di sana aja anak kecil gak boleh ikutan," kata Dewa.
"Spidol nya mau diisi dulu gak buk?" Al menunjuk beberapa spidol yang ada di meja.
"Gak usah keluar sana!"
Al tertawa kemudian keluar dari kelas pergi menuju kantin.
(())
Duduk dengan tenang sambil memperhatikan motornya, itulah yang Al lakukan sekarang di pukul 07.00 pagi dimana seharusnya ia sudah sampai di sekolah dan nyatanya Al malah sampai di tempat bengkel. Ban motornya bocor.
"Lama lagi bang?"
"Masih buka ban lu udah nanya kayak gitu,"
"Ya siapa tau lo punya kekuatan super,"
"Bukan Thanos gua,"
Al tertawa.
Bengkel tersebut tidak jauh dari jalanan yang sedang padat-padatnya, Al yang kebetulan menoleh ke arah jalanan menyipitkan mata saat melihat orang yang ia kenal sedang berhenti di sebuah simpang untuk menyebrang.
"Gue titip motor ya bang, ini uang nya." Al meletakkan uang seratus ribu di kursi yang ia duduki kemudian pergi.
Al berdiri di pinggir jalan sembari memperhatikan Oliv yang tengah bersiap-siap untuk menyebrang jalan.
"Stop!" Al menghadang Oliv membawa Oliv menepi agar tidak menciptakan kemacetan.
"Ck, apaan sih? Udah telat nih gue,"
"Turun,"
"Mau ngapain? Udah-udah awas gue mau cabut,"
"Turun yaelah,"
Oliv terpaksa turun dari sepedanya dan terbelalak melihat Al duduk menggantikan posisinya.
"Lo..."
"Motor gue lagi di bengkel terus gue lagi hemat ongkos jadi gue numpang,"
"Gak!"
"Sekali-sekali, minyak tanah."
"Terus gue duduk di mana?"
Al menepuk-nepuk batang sepeda yang ada di dekat stang.
"Apaan sih gak mau," Oliv menarik Al untuk segera turun.
"Ribet amat sih tinggal duduk lagian gue yang bawa sepeda, bawa lo, bawa dosa-dosa lo. Duduk anteng udah," gantian Al yang menarik Oliv mendudukkan gadis itu di depannya.
"Sakit tau gak duduk di sini!"
"Gak mungkin kan lo duduk di stang? Lu juga beli sepeda tuh yang khusus untuk perempuan biar ada tempat duduknya di belakang, ini malah sepeda lakik."
Oliv diam dengan kedua tangan terlipat di bagian tengah stang.
"Buset rambut lu," Al meremas rambut Oliv yang dicepol asal karena mengenai mulut serta hidungnya.
"Bodo lah," Oliv tidak menoleh juga tidak membenarkan ikatan rambutnya.
"Lu cewek rapih dikit napa sih, rambut diiket yang bagus jangan semrawut kek gini."
Oliv berdecak lalu menurunkan cepolan rambutnya membuat ikatan rambut tersebut mengendur seperti ingin lepas dari rambut Oliv.
Al sudah menjalankan sepeda Oliv tanpa terdengar suara dari keduanya fokus memperhatikan jalanan.
Oliv memegang erat stang sepeda ketika melihat polisi tidur namun Al tidak juga menurunkan kecepatan sepeda.
"Pelan-pelan tai,"
Al terus mengayuh sepeda dengan kencang, tiba saat menabrak polisi tidur Al sengaja menjauhkan bokongnya dari tempat duduk agar tidak terasa sakitnya sementara Oliv harus rela merasakan sakit yang luar biasa apalagi ia duduk di batang sepeda yang sangat keras.
Setelah melewati polisi tidur barulah Al kembali duduk seraya tertawa mendengar ocehan Oliv.
"Sakit! Sakit! Sakit!" Oliv memukul-mukul punggung tangan Al dengan kuat, hanya punggung tangan Al saja yang bisa ia jamah untuk sekarang.
"Pelan-pelan monyet!"
Sambil mengayuh sepeda Al mendekatkan bibirnya ke kuping Oliv.
"Gue gak suka pelan-pelan," bisik Al dan langsung menjauhkan wajah saat satu tangan Oliv hendak memukul wajahnya.
"Apa? Lo mau nabok gue? Mana bisa!" Al tertawa jahat mengendarai sepeda dengan kencang.
"Sumpah p****t gue sakit mampus!!!"
"Tangan gue siap nge..." Al terdiam karena tiba-tiba saja tangan Oliv melayang ke bibirnya, bukan memukulnya melainkan menutup mulutnya.
Sepanjang jalan tidak henti-hentinya Oliv mengoceh, awalnya Oliv memang diam namun lama-kelamaan tidak bisa ketika menyadari Al membawa sepeda seperti orang kesetanan.
Sudah entah berapa kali Oliv memaki Al dan dibalas tawa yang keras dari Al sendiri.
"Tuh kan, tuh kan, gerbangnya udah ditutup setengah!" Seru Oliv saat melihat gerbang sekolah sudah ditutup dengan setengah oleh satpam.
"Tenang ada pembalap handal,"
"BAPAK JANGAN DI TUTUP!"
Satpam yang sedang menarik pintu gerbang terkejut dan menoleh ke asal suara lalu terbengong melihat sebuah sepeda melaju dengan kencang ke arah gerbang yang sudah tertutup kurang dari setengah.
Pada akhirnya Al dan Oliv berhasil masuk melewati gerbang dengan diiringi suara tawa keduanya.
Oliv langsung turun dari sepeda ketika Al sudah memarkirkan sepedanya.
"Yeeeey!" Oliv dan Al saling bertos ria dengan wajah sumringah mereka.
Ketika menyadari sesuatu Al dan Oliv terdiam, senyum lebar yang tercetak di bibir hilang seketika dengan tangan mereka saling menggenggam.
Oliv lebih dulu menarik tangannya dari tangan Al dan langsung mengelapkan tangan di rok sekolahnya.
"Haaah, haaah!" Al meniup-niup telapak tangannya melalui napas yang ia keluarkan dari mulut lalu mengelapkan tangannya ke celana.
"Masih sakit p****t lo?"
"Masih lah!"
"Ya udah ntar dateng ke gudang sekolah biar gue el..." Al berhenti berbicara sambil menutupi wajahnya saat tangan Oliv terangkat ke udara.
Al tertawa, "gak kena."
"Adoooh!" Seru Al karena ternyata perutnya lah yang mendapat cubitan maut dari Oliv.