Chapter 07

1037 Words
"Om, anaknya nih suka banget ngomong jorok." Adu Dewa pada Rafa yang kebetulan lewat sambil menggendong Agatha. "Halah, nanti kalo udah punya anak istri tobat sendiri, gak kayak gitu lagi." Al tertawa keras mendengar ucapan ayahnya dan juga ekspresi melongo teman-temannya. Rafa pergi bersama Agatha keluar dari rumah. "Tante, tante cantik." Aya menoleh seraya memakai tas. "Iya kenapa Dewa?" "Al suka banget lho ngomong kotor, gimana nih tan?" "Ya ampun Abang, jangan suka ngomong kotor ah gak baik. Mulutnya juga ikutan kotor, Mami gak suka. Abang di rumah aja ya Mami Papi sama Agatha mau pergi, jangan lupa ntar pintunya di kunci." "Siap Mami ku!" Seru Al. Al menatap satu persatu teman-temannya seraya menaik-turunkan alis. "Siapa yang marahin gue? Gak ada kan," Al tertawa geli. "Kalo gue panci pink udah melayang," kata Yoyo dibalas anggukan oleh Dewa. "Btw kemaren lo bolos sama siapa njir pake nelfon gue bilang gue guru lo," "Sama Oliv," "Tipe gue tuh bukan yang kayak dia, ekheem!" Al menatap Dewa yang sedang pura-pura berdehem. "Emang bukan ya, gue sama dia cuma bolos gak lebih." "Lo berdua gak makan?" Tanya Rian. "Ya, makan." Yoyo terbatuk-batuk dengan dibuat-buat hingga badannya membungkuk sementara yang lain menyeringai. "Ah rese lo semua!" Al beranjak pergi meninggalkan temannya. (()) "Apaan?" "Bayar utang," "Gak usah," "Bagus lah." Oliv menyimpan kembali uangnya ke saku seragamnya dan berbalik untuk pergi dari meja dimana Al sedang makan. Oliv berjalan menuju meja nya dengan langkah yang lambat seraya menoleh ke kanan dan kiri dimana orang-orang yang ada di dalam kantin khususnya murid perempuan sedang memperhatikan, menatapnya dengan beragam ekspresi. "Kenapa malah ngeliatin gue sih, Tik?" Tanya Oliv pada teman sebangkunya. "Kapan?" "Haa, kapan apanya?" "Sejak kapan lo deket sama kak Al?" Kening Oliv berkerut. "Semua orang pasti punya pertanyaan sama kayak gue, sejak kapan lo deket sama kak Al?" "Gue gak deket sama dia," "Tadi lo ngapain?" "Gue cuma mau bayar utang, Tika." "Utang apa?" Oliv kembali menatap orang-orang yang masih memperhatikannya. "Intinya gue cuma mau bayar utang dan gak lebih dari itu, kalo lo gak percaya tanya aja sama dia. Yang paling penting, gue sama sekali gak deket sama idola lo, idola satu sekolah, tapi yang perlu di garisbawahi dia bukan idola gue." Oliv bangkit berdiri untuk keluar dari kantin. "Apa lo semua ngeliatin gue?" Tanya Oliv sambil berjalan pada orang-orang yang tengah memperhatikannya. (()) "Kamu itu masih tergolong anak baru tapi catatan tentang perilaku kamu di sekolah ini sudah cukup banyak, dan bisa-bisanya kemarin kamu bolos." "Bolos sama dia lagi," guru BK menunjuk Al. "Atau jangan-jangan kalian ini pacaran makanya bisa bolos bareng?" Al dan Oliv langsung menggeleng. "Enggak pak," kata Oliv. "Kenapa kalian bisa bolos bareng?" Oliv melirik Al berharap Al mau berbicara. "Bapak kan tau saya paling anti sangat anti kalo udah di suruh bersihin toilet sama cabutin rumput sekolah, terus kemaren saya dapet hukuman cabutin rumput di belakang sekolah mumpung gak ada yang ngawas ya saya bolos aja dong." "Terus kamu?" "Saya diajak bolos pak sama dia," "Jadi kenapa kamu mau?" Al menutup mulutnya merasa pertanyaan yang diajukan untuk Oliv cukup menohok membuat Oliv tidak bisa berkata-kata. "Lepas itu gelang nya, dilarang memakai gelang di sekolah." Oliv melepas gelang bertali yang ia pakai dan menyimpannya di saku seragam. "Taruh di meja bukan di simpan," Oliv terpaksa mengeluarkan gelangnya dan menaruhnya di meja. "Penuh laci saya sama gelang-gelang kamu, sudah dibilang jangan pakai gelang tetap di pakai." "Dijual aja pak kan lumayan dapet duit," Oliv menatap tajam Al. "Percuma gelang lo gak bisa balik," bisik Al saat melihat tatapan tajam Oliv. "Kalian tanda tangan di situ," "Ini apa pak?" Tanya Al seraya mengambil selembar kertas yang baru saja diberikan. "Perjanjian kita. Kamu Alvaro, kalau kamu bolos lagi saya pastikan kamu tidak bisa ikut ujian dan kamu Olivia, mau tidak mau kami terpaksa mengeluarkan kamu dari sekolah ini." Al menatap Oliv yang terlihat biasa saja tanpa ada raut wajah sedih yang menghiasi wajah cantiknya. (()) "Aya naon?" Oliv menatap Al yang baru saja bertanya sambil berjalan melewatinya. Oliv lebih memilih mengabaikan Al dan fokus pada rantai sepedanya yang lepas. "Yaah, yaah. Kok makin gak beres sih,", gerutu Oliv karena rantai sepedanya bukan lagi lepas melainkan putus. "Perlu di bantu gak?" Tanya Al dari dalam mobil, mobilnya pun juga sudah keluar dari parkiran. "Gak," dusta Oliv. Ia sangat membutuhkan bantuan sebenarnya. "Yakin?" "Menurut lo?" Al keluar dari mobil menghampiri Oliv. "Udah sana eneg gue diliatin sama fans-fans lo," Al menoleh ke belakang dan benar saja jika beberapa pasang mata tengah tertuju ke arah mereka. "Mumpung gue lagi baik, gue anter lagi deh lo." "Kesambet apa?" Tanya Oliv sambil bangkit berdiri setelah lelah berjongkok. "Udah gue bilang mumpung gue lagi baik," "Baik sebelom besok lo gangguin gue lagi kan?" "Astaghfirullah," Al mengelus-elus d**a. Oliv memperhatikan tangannya yang sedikit kotor sehabis memegang rantai sepedanya. "Dih bersihin dulu gih," Al terlihat risih melihat tangan Oliv kotor. "Woy ah!" Seru Al karena Oliv mengelapkan tangannya ke jaketnya. "Biar tangan gue bersih jadi ngelap nya di sini," kata Oliv sambil terus mengelapkan tangannya ke jaket Al membuat Al semakin berseru. "Yah jangan di injek anjir sepatu mahal," Oliv berhenti mengelapkan tangannya menatap ujung sepatu Al yang sedikit kotor karena ia tidak sengaja menginjaknya. "Semahal apa sih?" Oliv semakin menjadi-jadi dengan menginjak berkali-kali sepatu Al. "Minyak tanah!!!!" Oliv tertawa geli melihat Al mulai marah, belum merasa puas Oliv menaruh kedua tangannya di bahu Al lalu menginjak kedua sepatu Al dengan kedua kaki sekaligus. "Bodo amat, bodo amat, bodo amat!" Oliv melompat-lompat di atas sepatu Al seraya tangannya mencengkram erat bahu Al agar tidak terjatuh. "Turun, turun lo!!!" "Gak, gak ma... Eh-eh!" Oliv dan Al kehilangan keseimbangan, lebih tepatnya Al yang kehilangan keseimbangan membuat tubuh laki-laki itu menabrak badan mobilnya dengan Oliv masih menginjak sepatu serta tangannya masih berada di bahu Al. Al dan Oliv sama-sama terdiam dengan kedua mata mereka saling beradu. Oliv benar-benar menempel di tubuh Al karena memang posisi tubuh Al agak sedikit miring. Tanpa kedua orang itu sadari beberapa dari mereka yang belum pulang karena penasaran dengan Al dan Oliv perlahan-lahan mengarahkan kamera ponsel mereka mengabadikan apa yang terjadi pada Al dan Oliv. Tangan Al yang berada di sisi pinggang Oliv mulai merambat sedikit ke bagian belakang tanpa melepaskan tatapan mereka. "Cantik juga," Plak! "Aaakhh!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD