"Bos, mau kemana sih?"
Al terus berjalan menghiraukan Dewa yang sejak tadi terus mengoceh.
Dewa mengikuti Al dari belakang, melihat Al berhenti melangkah Dewa juga ikut menghentikan langkahnya kemudian berdiri di sebelah Al.
Dewa mengurungkan niat untuk bertanya saat mata nya lebih memilih untuk memperhatikan dua orang yang sedang duduk seraya bercanda dan tertawa.
"Dicariin..."
Dewa menoleh mendapati Chiko, Rian dan Yoyo datang menghampiri mereka. Ketika laki-laki itu juga ikut memperhatikan dua orang yang belum sadar akan kehadiran mereka.
"Perasaan gue kantin gak di sini,"
"Lho Al, kamu kok..."
"Kita putus,"
"Tapi aku..."
Al mengangkat satu tangannya tidak ingin mendengar ucapan Nichole.
"Katanya lu udah putusin dia, bullshit juga." Celetuk Yoyo seraya melirik laki-laki yang masih duduk dengan santainya.
"Dimanfaatin mau aja, cih."
"Lu baru keluar dari rumah sakit sabar," bisik Dewa sambil mengelus d**a Al.
Rahang Al mengeras melihat ekspresi laki-laki yang juga merupakan kekasih Nichole terlihat seperti meremehkannya.
"Nyata kan Nichole gak bisa lepas dari gue? Mending lo aja gih yang ngelepas dia,"
Al bukanlah orang yang penyabar dan semakin tidak sabar setelah mendengar kalimat barusan. Tidak peduli jika Nichole adalah seorang perempuan Al langsung menyingkirkan gadis itu yang menghalanginya untuk segera menerjang orang yang sudah membuatnya panas.
(())
"Mami, Mami."
Aya menoleh sekilas untuk menatap Agatha yang baru saja memanggilnya.
"Kok manggil nya kayak bisik-bisik gitu?" Aya tertawa seraya menyusun sendok di laci dapur.
"Abang malah-malah,"
"Marah-marah sama siapa?"
Agatha menggeleng, "Atha gak tau. Di kamal Abang malah-malah."
"Kok Atha bisa tau Abang lagi marah-marah?"
"Tadi Atha mau macuk kamal Abang tapi gak jadi kalna Abang lagi malah,"
Selesai menyusun sendok Aya menggendong Agatha.
"Yang penting kan Abang marah-marahnya bukan sama Atha,"
"Iya tapi Atha takut,"
"Gak papa Abang marah-marahnya cuma sebentar," Aya tahu jika suasana hati Al sedang tidak enak ketika anak sulungnya itu pulang dari sekolah dan Aya tidak tahu apa penyebabnya.
(())
Tidak sedikitpun Oliv bergerak dari posisinya seraya memandangi sepeda dengan kepala yang tengah berpikir keras.
Sekolah sudah sangat sepi hanya tinggal dirinya saja yang tengah diam seperti patung di parkiran.
Pandangan Oliv beralih pada Al yang baru saja keluar dari gedung sekolah tanpa bersama antek-anteknya, Al sendirian. Oliv terus memandangi Al sampai laki-laki itu pergi melewatinya tanpa mengganggu seperti biasanya.
"Eh," Oliv memanggil Al namun Al tidak menoleh, berhenti melangkah pun tidak.
Oliv berlari dengan sedikit kesusahan menghampiri dan kembali memanggil Al yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Eh liat gue dong,"
Tubuh Al yang sudah berbungkuk untuk masuk ke dalam mobil kembali tegak seraya menatap Oliv.
"Nama gue bukan eh,"
"Ya, kan gue gak tau siapa nama lo."
Al mengacungkan telunjuknya, "busuk mulut lo kalo ternyata lo tau nama gue?"
Oliv terdiam.
"Gue cuma tau nama lo Al,"
"Eh jangan masuk dong," Oliv yang tadinya berdiri di seberang Al berpindah posisi menjadi di sebelah Al dimana laki-laki itu sudah masuk ke mobil dan duduk di balik kemudi.
"Apa sih, gantian lo yang mau ganggu gue?"
Jika diperhatikan raut wajah Al terlihat sangat tidak enak, walaupun memang selalu tidak enak dilihat tapi kali ini wajah Al sangat berbeda dari biasanya.
"Gue boleh minta tolong gak?"
Al menatap lama Oliv.
"Boleh gak?" Tanya Oliv lagi.
"Males, waktu itu gue suruh lo minta maaf gak minta maaf juga kan lo?"
"Ya udah gue minta maaf,"
"Basi!"
Oliv meremas sendiri tangannya untuk menahan emosi yang sudah bergejolak di d**a.
"Lo juga gak ada sopan-sopan nya sama abangan kelas,"
"Makanya tolongin dulu gue abis itu gue sopan sama lo,"
"Udah telanjur sakit ati gue,"
Jika tidak benar-benar membutuhkan pertolongan mungkin tangan Oliv sudah melayang ke wajah Al.
"Tolongin gue dong,"
"Bodo amat,"
Oliv berdecak dan tanpa sengaja mata nya tertuju ke arah jok mobil penumpang.
"Gue pinjem jaket lo deh,"
Al keluar dari mobil.
"Lo kenapa sih?"
Oliv mengalihkan wajah ke arah gedung sekolah.
"Gak ngomong gak gue bantu,"
Oliv langsung menatap Al.
"Gue... Gue lagi..."
"Lagi pengen?"
Oliv memicingkan mata.
"Gue lagi dapet,"
Sejenak Al terdiam kemudian tertawa.
"Ppfftt, laki-laki bisa dapet merah-merah juga?"
Oliv menatap sinis Al yang masih tertawa sambil meledeknya.
"Oke, jadi lo mau minta tolong apa?"
"Gue dapet terus, bocor."
"Mana coba liat,"
Oliv refleks memukul Al.
"Enak aja!"
"Heh, yang gue liat rok lo bukan p****t lo!"
"Ya tapi kan pas-pasan di p****t gue!"
"p****t lo tepos gak napsu gue, jelas?"
"Intinya gue lagi dapet terus bocor jadi gue mau minta tolong sama lo, tolong anterin gue pulang."
"Buset, gak sadar diri udah berapa kali tangan lo landing di muka gue."
"Lo gak inget apa siapa yang udah nolong lo, hah?"
"Iya tau elo, tapi yang namanya nolong orang yang harus ikhlas gak berharap dapet imbalan apapun."
"Gue gak minta imbalan anjir, gue cuma minta tolong doang."
Al tersenyum.
"Mau muntah gue gak usah senyum-senyum,"
Al kian melebarkan senyumnya menatap Oliv dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
Oliv membuang muka.
"Gak ikhlas lahir batin kalo merah-merah lo sampe nembus ke kursi mobil gue,"
"Keliatan amat cicilan mobil belom lunas,"
"Eh-eh, orang kayak gak mungkin nyicil."
"OKB lo ya?"
Al tertawa keras.
"Jangan mancing gue lah untuk nyeritain kekayaan keluarga gue dari mulai kakek buyut, kakek sampe om-om sama tante gue. Belom lagi gue nyeritain tentang bokap gue, intinya gue tuh OKL."
"Orang kaya lama mana mungkin ngaku-ngaku kaya,"
Rasanya Al ingin sekali meremas mulut Oliv, dengan tangan.
"Kenapa gak langsung pulang aja sih pake sepeda lo kenapa harus numpang sama gue?"
"Gue risih sumpah risih,"
"Bilang aja lo malu pas nungging-nungging mau goes sepeda lo nanti,"
"Susah ya minta tolong sama lo,"
"Harus ada imbalannya dulu dong," kata Al seraya memainkan kunci mobil.
"Iya!"
"Apa dulu nih?"
"Lo anter gue pulang besok gue kasih imbalannya, Yeontan."
"Oke, gue pegang bacotan lo."
Oliv langsung masuk ke dalam mobil Al meninggalkan sepeda nya di sekolah tanpa perlu khawatir sepeda hilang diambil orang.
(())
"Bisa manjat kagak?"
"Bisa lah,"
"Oh iya lu kan cewek rasa cowok,"
Oliv menaikkan rok nya, belum sampai setengah Al sudah berbicara.
"Di kamar aja Liv jangan di sini,"
"Tunggu gue sampe atas ya,"
Al terkekeh seraya memperhatikan Oliv yang sedang berusaha naik ke atas pagar sedangkan Al sudah duduk dengan posisi tubuh menghadap ke arah luar pagar siap untuk segera turun.
Dengan bermodalkan kursi Oliv naik ke atas pagar dengan sedikit kesusahan karena ia memakai rok sekolah, mungkin jika memakai celana, dalam hitungan detik Oliv bisa memanjat pagar dengan mudah.
Sekitar 2 menit lamanya barulah Oliv sampai ke atas pagar sementara Al sudah berdiri di bawah menunggunya.
"Perlu gue tangkep?"
"Tangkep aja ludah gue," Oliv menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada orang terutama guru yang memperhatikannya.
"Lompat eek gue capek nunggu nya,"
"Ck sabar!"
Oliv sedang mengukur ketinggian dari atas pagar tempat ia duduk dengan tanah, jika dilihat-lihat jaraknya cukup tinggi.
"Hei kamu!"
Secepat kilat Oliv langsung turun tanpa mengambil ancang-ancang terlebih dahulu.
Bruk.
Dan akhirnya Oliv terjatuh dengan posisi terlungkup, Oliv masih ingat dan hafal bagaimana tekstur tanah. Namun kali ini ia merasa ada yang sedikit berbeda, tanah tersebut terasa sedikit empuk.
Oliv membuka kedua mata nya yang terpejam dan dengan perlahan mengangkat kepala.
"Enak jatoh di atas gue?"
Oliv terdiam sambil memandangi wajah Al. Bukan hanya wajah, mata, hidung, dan yang terakhir bibir laki-laki itu Oliv perhatikan dengan seksama.
"Iya tau gue ganteng,"
Plak!
Oliv langsung bangkit berdiri seraya membersihkan siku nya yang sedikit kotor.
Al juga ikut bangkit berdiri seraya mengelus pipinya yang terasa sedikit panas.
"Emang gak ada manis-manisnya lo ya,"
"Bodo,"
"Bersihin!" Al membelakangi Oliv sambil menunjuk punggungnya yang kotor karena tanah.
Entah mengapa hari ini Oliv menurut saja dengan apa yang Al katakan. Seperti pagi ini, mereka sama-sama datang terlambat secara tidak sengaja dan dikenakan hukuman membersihkan rumput yang ada di belakang sekolah. Bagi Al dihukum seperti membersihkan toilet ataupun mencabut rumput adalah hal yang menurutnya tidak pantas untuk ia lakukan sehingga Al lebih memilih untuk mengambil resiko seperti bolos sekolah.
Tidak ingin bolos sendirian Al pun mengajak Oliv, ia pikir Oliv akan langsung menolak ajakan tak terpuji nya. Namun di luar dugaan Oliv malah mengiyakan ajakannya tanpa perlu gadis itu berpikir panjang lagi.
(())
"Bukannya pulang sekolah masih lama ya? Kenapa kalian malah ke sini?"
Al dan Oliv terpaksa ditahan di pintu masuk oleh seorang petugas.
"Gini mbak, emang pulang sekolah masih lama tapi kita ini bukan pelajar asal sini."
Oliv menoleh memperhatikan Al yang mulai mencari alasan.
"Jadi kalian pelajar asal mana?"
"Kita pelajar asal Bandung tapi karena nanti ada olimpiade di salah satu sekolah yang ada di Jakarta kita sebagai peserta lagi survei lokasi,"
"Jadi kenapa kalian malah ke sini?"
"Sekedar refreshing sebelum olimpiade kami di mulai mbak," imbuh Oliv membantu Al mencari alasan.
Petugas tersebut diam seraya memperhatikan Al dan Oliv, kedua orang itu tidak lagi memakai seragam sekolah hanya mengenakan kaus dalaman, untuk dibagian bawah mereka tetap menggunakan celana dan rok sekolah.
"Bisa saya telfon salah satu guru kalian?"
Al dan Oliv saling tatap.
Tak ingin membuat petugas curiga Al pun mengeluarkan ponselnya mengotak-atik sebentar kemudian memberikannya pada petugas.
"Liat mbak ini nama guru saya,"
Wanita dengan perawakan yang tegas melihat sejenak nama yang tertera di layar ponsel Al lalu mendekatkan ponsel tersebut ke kupingnya.
"Halo, apa benar ini dengan pak Dewa guru dari..."
"Siapa nama kalian?"
"Al,"
"Livia,"
"Guru dari dua anak murid yang bernama Al dan Livia?"
Al dan Oliv memandangi petugas tersebut dengan sedikit gelisah pasalnya Al menghubungi Dewa tanpa melakukan koordinasi terlebih dahulu.
"Ya sudah masuk,"
Al menahan tawanya sembari menerima ponsel yang diberikan kepadanya.
"Makasih mbak," kata Oliv berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam pusat perbelanjaan.
"Pake ngibul lagi nama Livia," kata Al saat mereka sudah masuk ke dalam.
"Emang di rumah gue di panggil layak gitu,"
"Gue mau makan laper abis nunggu ni mall buka, lo bebas mau kemana aja." Al melangkahkan kakinya ke arah food court.
"Gila ya, yang ngajak ke sini siapa?"
"Iya gue, gue ngajak maksudnya nemenin gue ke mall bukan nemenin makan sama beli baju."
"Pantes sih lo di sebut anjing,"
Al menyunggingkan senyum di sudut bibir.
Oliv berhenti melangkah saat mereka sudah dekat dengan food court, sebenarnya bisa saja Oliv ikut masuk dan makan dengan menggunakan uang nya sendiri tapi sialnya Oliv tidak membawa uang sepeserpun meninggalkan semua uang nya di dalam tas sedangkan tas nya masih berada di sekolah.
"Gue anggep lo ngutang,"
Oliv terkejut saat tangannya ditarik oleh Al membawa dirinya masuk ke dalam food court.