Chapter 17

823 Words
"Keluar lo semua," Mereka yang sedang asyik dengan kegiatan masing-masing langsung menoleh ke arah Al. Al berdiri di depan papan tulis dengan tas yang menggelantung di bahu kanannya, dilihat dari ekspresi Al sepertinya akan terjadi keributan sebentar lagi. Seharusnya keributan yang akan terjadi berlangsung pada kemarin malam namun Al terpaksa mengalahkan rasa emosi nya demi adik nya yang terus menelepon dan mengerek menyuruhnya untuk segera pulang. Al menghela napas maju selangkah lalu menyentuh meja bagian paling depan dengan telunjuk dan jempolnya, tubuh Al sedikit berbungkuk menatap lurus murid perempuan yang sedang memandangnya dengan takut-takut. "Keluar," ulang Al dengan nada rendah. Al mengalihkan mata ke arah bangku paling belakang, "kecuali lo bertiga." Rian, Chiko dan Yoyo duduk diam di kursi sembari memperhatikan teman-teman sekelas mereka yang mulai beranjak keluar satu persatu dari kelas. "Tutup kain jendelanya," kata Al pada teman sekelasnya yang duduk di dekat jendela. "Lo," Laki-laki yang hendak keluar dari kelas menoleh. "Tutup, jangan biarin ada yang masuk." Al menatap tiga temannya setelah pintu kelas tertutup rapat. Kedua kaki Al mulai melangkah mendekati teman-temannya. Dengan menggunakan satu tangan Al menyingkirkan meja yang menghalangi langkahnya dan dengan kuat Al melemparkan tas nya pada Rian. "Lo..." BUGH! Satu pukulan keras mendarat di wajah Rian, terlalu kuat hingga Rian tersungkur ke belakang. "Al, udah woi!" Yoyo dan Chiko berusaha menahan Al agar berhenti memukuli Rian yang sudah tersudut di dinding kelas tanpa bisa melakukan perlawanan. Al memukul Rian sudah seperti orang kesetanan, memukuli temannya tanpa ampun dan tanpa memberi jeda sedikitpun. Sementara di luar kelas, banyak dari mereka yang sudah mati penasaran dengan apa yang terjadi di dalam kelas. Mendengar seruan Yoyo ataupun Chiko membuat rasa penasaran mereka kian bertambah. Pandangan mereka tertuju pada Dewa yang baru saja datang. "Napa lu semua di luar? Kelas lagi di renovasi apa gimana?" "GILA, UDAH AL!" Sebagian dari murid perempuan terkejut mendengar teriakan dari dalam kelas. "Siapa di dalem?" Tanya Dewa dengan nada serius. "Rian, Yoyo, Chiko sama Al." "Tapi lu gak boleh masuk," laki-laki yang ditugaskan untuk menjaga pintu menahan Dewa. "Gue temen nya anjing, minggir!" "Wa, kata Al siapapun gak boleh masuk." Sahut perempuan dengan rambut pendek seleher. "Lu diem ya Dora, lu juga." Dewa masuk dengan paksa dan langsung membanting pintu menutupnya dengan rapat. Dewa berlari ke arah Al yang masih memukuli Rian dan dengan sekuat tenaga ia menahan kedua tangan Al mengunci tangannya di belakang tubuh. Kedua tangannya sudah di kunci pun Al masih bisa memainkan kaki nya menendang Rian seperti lupa bahwa orang yang terkapar di sudut dinding adalah temannya. Dewa menarik Al membawa jauh temannya yang sedang tersulut emosi dari Rian. "LEPAS g****k!!" "ITU RIAN, RIAN! TEMEN LO! TEMEN KITA!" Dewa ikut mengeraskan suaranya sembari menarik Al menjauh dari Rian. "Lepas anjing lepas!" Dewa mendorong Al hingga tubuh Al menabrak papan tulis. Al terlihat diam dengan kepala yang tertunduk, secara perlahan ia mengangkat wajahnya dengan tatapan tajam. Al menarik Dewa untuk menyingkir dari hadapannya, Al tidak kembali menghampiri Rian. Dengan tubuh yang bersandar pada papan tulis Al mulai membuka suara. "Lo, bangsat." Al menunjuk Rian yang sekarang sudah duduk bersandar di dinding ditemani oleh Chiko dan Yoyo. "Lo jadiin Oliv barang taruhan, siapa lagi yang terlibat selain lo?" Al menjauhkan tubuhnya dari papan tulis dan maju beberapa langkah diikuti oleh Dewa untuk berjaga-jaga agar ia dapat menahan Al jika ingin kembali menerjang Rian. "SIAPA?!" "Gue," "Gue, gue sama Rian." Lanjut Chiko. Dewa menarik Al karena ia sudah sempat membaca gerak-gerik temannya itu dimana Al siap untuk menghabisi Chiko. "LEPAS DEWA!!!" Sebenarnya Dewa sudah tidak kuat lagi menahan Al membuat ia ikut emosi sendiri. "BIARIN GUE..." Bugh! Al terduduk di lantai setelah mendapatkan pukulan keras dari Dewa membuat sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah. (()) "Liv," "Jangan ikutin gue!" Oliv mengacungkan jari telunjuknya kemudian berbalik. "Gue sama sekali gak tau apa-apa," Oliv terus berjalan tanpa memperdulikan Al. "Gue gak tau kalo dua temen gue udah nyakitin lo," Oliv langsung berbalik seraya tertawa. "Gak tau?" Oliv mendekati Al, "bullshit!" lanjut Oliv seraya mendorong tubuh Al. Al berjalan mengikuti Oliv dari belakang, mereka berdua berjalan di koridor yang sepi. "Liv," "Oliv," Oliv tidak juga mengentikan langkahnya berjalan dengan cepat menuju parkiran. "Apa gue harus hajar Rian sama Chiko di depan lo biar lo percaya sama gue, Olivia Zelina Valeria?" Oliv berhenti melangkah dan berbalik seraya memperhatikan Al. "Iya gue temen dua sialan itu, tapi sumpah gue gak tau soal taruhan yang dua orang itu buat." Kata Al sambil berjalan mendekati Oliv. "Gue siap mukulin Rian sama Chiko di depan lo kalo emang itu bisa buat lo percaya," "Kenapa?" Tanya Oliv dengan mata yang merah. Al malah bungkam. "Kenapa lo mau mukul temen-temen lo di depan gue?" "Kenapa lo hajar Rian sampe babak belur kayak gitu? Buat siapa? Demi siapa?" "Karena apa?" "Lo peduli sama gue?" Al belum juga membuka suara. Oliv menghela napas kasar sembari memalingkan wajah. "Lo aja gak jelas gini gimana gue mau percaya," Oliv tertawa kecil kemudian pergi tanpa ditahan lagi oleh Al.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD