Chapter 18

1055 Words
Ini kenapa lagi sih, Abang. Ya ampun," Aya menyentuh dengan hati-hati luka yang ada di sudut bibir Al. "Abang belantem telus helan deh Atha," celetuk Agatha yang tengah berdiri di dekat Al. "Assalamualaikum," Agatha langsung menoleh, "Papi!" Pekik Agatha berlari kencang ke arah Rafa yang baru saja pulang dari kantor. Rafa membungkukkan badan dengan kedua tangan terbuka lebar. Agatha tertawa geli saat mendapatkan ciuman di seluruh wajahnya. "Ini Abang luka, Papi." Agatha menyentuh sudut bibir Rafa. Tanpa bertanya pada Agatha Rafa langsung menghampiri Al yang sedang diobati oleh Aya. "Akkhh!" Ringis Al karena kedua pipinya ditarik paksa untuk menatap Rafa. "Ih pelan!" Aya menjauhkan tangan Rafa dari pipi Al. "Mami sakit," adu Al seraya mendekati Aya. "Besok Papi di suruh ke sekolah?" "Di suruh dateng ke rumah sakit?" "Apa di suruh ganti rugi?" "Dewa yang mukul," kata Al dengan nada kesal. "Oh baguslah," Rafa mengangguk seraya duduk meletakkan Agatha di pangkuannya. "Kenapa Abang bisa di pukul sama Dewa?" Tanya Aya. "Cuma main-main doang kok," Al beranjak dan pergi ke lantai atas. "Abang tunggu!" Agatha cepat-cepat turun dari pangkuan Rafa berlari mengejar Al. Sesampainya di depan pintu kamar Al dimana Al sudah masuk terlebih dahulu Agatha berjinjit untuk meraih kenop pintu. Saat pintu sudah terbuka Agatha mendapati Al tengah berbaring di tempat tidur dengan masih memakai seragam sekolah. "Abang," "Abang mau bobok Tha," Al mengambil guling untuk menutupi kuping serta wajahnya. Agatha naik lalu duduk di atas tempat tidur, dengan perlahan-lahan tangan mungil Agatha mulai mengangkat guling untuk melihat wajah abangnya. "Main sendiri sana kalo emang mau main," Al merubah posisinya menjadi terlungkup mengalihkan wajahnya ke arah pintu. Agatha sedikit lebih mendekat, dengan gerakan lembut Agatha mengelus rambut abangnya. "Abang lagi sedih ya?" Al menoleh menatap Agatha. "Abang lagi sedih?" Al mengangguk. "Gak boleh sedih," "Abang manusia, wajar kalo sedih." "Abang bilang sama Atha, pelempuan cantik gak boleh sedih. Belalti Abang juga gak boleh sedih, kan Abang ganteng." Al tertawa mendengar ucapan polos adiknya. Agatha merendahkan tubuhnya, "jangan sedih ya." Al tersenyum, "cium dulu dong." Dengan cepat Agatha langsung mencium Al dengan waktu yang lama. (()) Setibanya di rumah Oliv langsung mencampakkan tas nya di tempat tidur lalu berjalan ke arah meja belajar yang lebih sering Oliv gunakan untuk makan. Oliv membuka laci meja belajarnya mengambil sesuatu dari dalam sana dan meletakkannya di meja, setelah itu Oliv mengambil boneka beruang yang tengah duduk bersandar pada Kaws toys miliknya. Oliv berdiri di depan meja belajarnya sambil memandangi dua lembar photo booth yang diambil beberapa waktu yang lalu. Srek! Oliv merobek dua lembar foto dirinya bersama Al dalam sekali tarikan dan membuangnya ke dalam plastik hitam beserta boneka beruang pemberian Al. "Apa itu non?" Oliv yang baru saja keluar dari kamar menoleh ke asal suara. "Buang," Wanita berdaster itu terlihat kebingungan saat Oliv memberikan plastik hitam yang tidak ia ketahui isinya. "Buang yang jauh," Oliv masuk ke dalam kamar karena plastik hitamnya sudah berada di tangan asisten rumahnya. Karena penasaran, wanita itu pun membuka plastik hitam yang ia pegang untuk melihat apa isinya. Tangannya bergerak mengambil potongan foto memperhatikan wajah Al kemudian menatap pintu kamar Oliv. Merasa sudah cukup ia pun memasukkan potongan foto Al ke dalam plastik dan berjalan ke arah pintu kamar Oliv. "Non, hari ini bapak pulang. Mau makan ma..." "Gak!" "Ibu juga belum bisa pulang karena gak bisa ninggalin non Sandra," "Udah tau!!!" Wanita itu terdiam, rasa iba nya kepada Oliv selalu saja timbul sebab sudah dari kecil Oliv berada dalam kesepian. Tangannya pun bergerak mengelus pintu kamar Oliv kemudian pergi ke lantai bawah. (()) " Futsal?" Al menggeleng. "Lu kenapa sih apa-apa gak mau, ini itu gak mau, mau lo apa sekarang?" Dewa mengangkat wajahnya seolah menantang Al. Al berhenti berjalan lalu menatap Dewa yang sedang cengengesan. Dewa melirik bahu nya yang di pegang oleh Al. "Lo yang paling takut sama gue tapi lo juga yang paling berani lawan gue," Dewa tersenyum. Al menoleh ke samping seraya menunjuk luka di sudut bibirnya. "Lo pukul gue kemaren, baru lo yang berani mukul gue." "Itu..." Dewa menjauhkan tangan Al dari bahunya ketika merasakan remasan yang cukup kuat. "Cara satu-satunya biar lo sadar," Dewa tertawa. "Gitu?" Dewa langsung mengangguk. "Gimana kalo gue bales mukul lo?" "Gue kan gak ikut-ikutan cuma ya... Sekedar mukul lo hehehe." Al diam menatap Dewa tanpa ekspresi. "TAPI LO TAU TAIK SOAL TARUHANNYA!" Dewa memejamkan mata dengan kedua tangan menutupi telinga nya. "Yoyo juga tau!" Seru Dewa tidak terima hanya dirinya yang disalahkan. "Iya pokoknya lu semua anjing," "Punya bukti kalo gue anjing?" Dewa mengacungkan telunjuknya. "Arrrgg!" Dewa lompat-lompat dengan satu kaki nya saat tulang keringnya ditendang oleh Al. "Jadi bener lo ada rasa sama Oliv," Al menoleh ke belakang, melihat siapa yang berdiri di belakangnya rahang Al mengeras. "Lo ada rasa sama Oliv makanya lo mukulin gue kemaren, gitu?" Dengan langkah yang terpincang-pincang Dewa mendekati Al untuk berjaga-jaga siapa tau Al kembali kalap. Al beralih menatap Chiko dan Yoyo yang baru datang dan berdiri di sebelah Rian. Dewa langsung melakukan kontak mata pada Yoyo seraya berkomat-kamit menunjuk-nunjuk sisi kiri Al yang kosong. Yoyo menatap Rian dan Chiko, dengan langkah yanh pelan namun pasti Yoyo berjalan mendekati Al dan Dewa. "Cari aman g****k," bisik Dewa saat Yoyo melewatinya. "Tau nyet," balas Yoyo kemudian berdiri di sebelah kiri Al. Al menoleh menatap tajam Yoyo dimana langsung dibalas seulas senyum manis. "Lo menang soal taruhannya? Dapet apa lo?" Tanya Al pada Rian. "Pulang aja ayo sekolah udah sepi gantian penghuni sekolah mau belajar," Al berdecak seraya mendorong Dewa. "Masih mau nyangkal kalo lo udah jilat ludah sendiri?" "Yang gue tanya..." "Mobil," Al tertawa kecil, "segitu miskin nya lo?" "Oliv mau dinner sama gue tanpa ada acara sok jual mahal yang artinya Oliv punya something ke gue," Rian menatap tangan Al yang mulai terkepal. "Kenapa lo harus marah sih? Oliv kan bukan siapa-siapa lo gak perlu pake mukul temen sendiri lah," Rian tertawa. "Selama Oliv bukan punya lo, bukan punya siapapun gue masih bebas ngelakuin apapun. Jadi lo gak perlu marah, kecuali..." "Iya gue suka sama Oliv!" Rian tersenyum seraya tertawa kecil. Mulut Dewa terbuka lebar sambil memperhatikan Al dari samping. Sedangkan tanpa mereka sadari pembicaraan mereka di dengar dengan jelas oleh gadis yang masih berada di dalam kelasnya dengan pintu yang tertutup rapat. Oliv dapat mendengar semuanya karena lima orang laki-laki itu berada tepat di depan kelasnya, termasuk Oliv mendengar ucapan terakhir Al. Menyukainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD