3

1885 Words
”KYAAAA!!!!!” Teriakan itu langsung terdengar di seluruh penjuru sekolah begitu sebuah mereka menyadari siapa pemilik mobil yang baru saja menginvasi sekolah mereka. seluruh siswi The One gempar saat Rha datang ke sekolah mereka. Dengan sok kerennya_walaupun dia memang keren_Rha turun dari mobil sport hitam metalik miliknya, lalu membuka kacamata hitam yang dipakainya. Rha berjalan dengan santai memasuki bangunan sekolah. Gak sedikit siswi ataupun guru yang sibuk ingin bersalaman dengannya. Dan dengan ramah, Rha melayani semua siswi dan guru itu sambil terus mencari dimana Carina. Walaupun begitu kedatangan Rha tidak sampai menimbulkan keributan yang lebih parah, semua penggemarnya menghormati Rha dan tahu sampai dimana mereka bisa bersikap seenaknya. Saat sibuk menjawab pertanyaan dari beberapa siswi, mata Rha menangkap sosok Carina melintas di depannya. Senyum puas tersungging di wajah tampannya dan langsung membuat beberapa siswi merona. ”Carina!”panggil Rha kuat sampai membuat semua siswi di sekelilingnya langsung mencari orang yang dipanggil oleh Rha. Carina menghentikan langkahnya, mencari asal suara yang memanggil namanya sampai pada akhirnya matanya menangkap sosok Rha. Sesaat Carina terkejut melihat Rha ada disana, namun langsung ditutupi dengan kendali diri yang selama ini dibangunnya setiap kali melihat Kirito. ”Yang barusan manggil aku, kamu?”tanya Carina memastikan. Carina bahkan tidak sadar kalau sejak tadi ada seseorang di sebelahnya yang sudah nyaris pingsan mendengar Rha memanggil nama Carina. ”Rha manggil kamu? Oh my God! Lo kejatuhan bintang apa sih, Rin?”tanya Lena yang memang lagi di sebelah Carina sejak tadi. ”Aku aja gak tau.”sahut Carina saat melihat Rha berjalan ke arahnya. Apa lagi ini?pikir Carina bingung saat melihat Rha bukan saja berjalan ke arahnya, tapi pria itu memang menghampirinya. ”Hai... Ternyata kamu sekolah disini. Ini teman kamu?”tanya Rha sambil melirik Lena dan bersikap seolah mereka tidak sengaja bertemu. Aku memang sengaja datang kesini untuk bertemu denganmu, Cantik. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya.bisik hati kecil Rha. ”Mau apa kamu kesini?”tanya Carina tanpa memperdulikan pertanyaan Rha. Carina jelas berusaha mengakhiri pembicaraan mereka begitu menyadari tatapan menusuk penuh tanya dari beberapa siswi sekolahnya. ”Nanti sepulang sekolah kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan siang.”ujar Rha to the point sama sekali tidak sadar dengan situasi sekitarnya yang terjadi saat ini. Carina mengutuk kebodohan Rha dan langsung menarik Rha ke tempat yang agak sepi, dan Lena mengikuti mereka, “Maaf, tapi aku gak pernah punya waktu setelah pulang sekolah. Dan berani-beraninya kamu mencariku ke sekolah!”jawab Carina cepat dan tajam. Carina tahu kalau ini bukan hanya kebetulan semata. Tidak. Tidak ada alasan kenapa Rha bisa tiba-tiba muncul di sekolahnya selain untuk mencarinya. Anggap saja aku terlalu percaya diri.gumam Carina dalam hati. “Malam?”tanya Rha lagi. “Sama, gak ada waktu juga.”sahut Carina. ”Lho? Malam kamu kan punya banyak waktu, Carina.”tukas Lena tiba-tiba dan yang pasti Lena langsung dapat tatapan sinis dari Carina. Apa-apaan sih, Lena? Kenapa dia mendadak jadi tukang sambar seperti ini?kutuk Carina dalam hati. Rha langsung tersenyum mendengar ucapan Lena, ”Nah... Kamu punya waktu kan kalau malam? Bagaimana kalau kita makan malam di luar?”tanya Rha semangat. ”Maaf, tapi kita sama sekali gak kenal. Aku gak bisa keluar dengan orang asing.”tolak Carina sesopan mungkin. ”Siapa bilang kita gak kenal? Kamu tau siapa aku, aku juga tau siapa kamu. Lagian bukannya kamu tinggal sendiri? Gak ada yang marah kan?”tanya Rha cepat. ”Darimana kamu tau kalau aku tinggal sendiri?”tanya Carina cemas, dia takut kalau ada yang tau masalah pernikahannya. Rha tersenyum,”Gak hanya itu, aku juga tau yang lain kok. Kalau kamu mau tau aku tau dari mana, nanti malam kita makan malam di luar.”bisik Rha begitu pelan di telinga Carina. Carina tetap berusaha tenang walau hatinya memintanya untuk menceramahi Rha tentang keegoisan pria itu. ”Baiklah. Dimana?”tanya Carina pasrah. ”Aku jemput aja. Gimana?”ujar Rha menawarkan. ”Gak usah, kita ketemu diluar aja.”tolak Carina. Rha terlihat berpikir sebentar. Dia ingin sekali menjemput Carina dan mungkin saja bisa melakukan lebih dari itu. Tapi Rha sadar kalau Carina adalah gadis yang berbeda. Butuh cara berbeda untuk mendekatinya. ”Baiklah. Kita ketemu di depan G-store jam tujuh.”ujar Rha senang. “Oke.”sahut Carina lalu meninggalkan Rha bersama para fans-nya yang sudah sampai di tempat mereka bicara. Carina sama sekali tidak perlu menoleh untuk mengetahui kalau saat ini Rha sudah dikerubungi fans-nya kembali. ”Kamu kenal dimana sama dia?”tanya Lena penasaran. ”Di restoran. Udahlah jangan dibahas. Yang pasti kehidupan aku di sekolah gak bisa setenang hari kemarin gara-gara kedatangan dia hari ini.”rutuk Carina kesal. ”Lo beruntung banget, Rin. Ya ampun. Artis terkenal kayak Rha yang udah go internasional mau nyari lo ke sekolah. Rha itu sebeken Kirito lho!”ujar Lena kagum dengan keberuntungan sahabatnya. ”Buat aku ini bukan suatu keberuntungan, tapi sebuah kesialan yang akan berakibat panjang.”ujar Carina malas. Mendengar ucapan temannya, Lena hanya bisa menggeleng pasrah. Lena sudah lama mengenal Carina sehingga dia cukup merasa aneh dengan Carina. Bagaimana bisa ada wanita yang tidak tertarik dengan artis bahkan dengan wajah malaikat seperti Kirito dan Rha?tanya Lena dalam hati. Dan sampai saat inipun Lena tidak bisa menemukan jawabannya selain fakta itu memang ada. Carina tidak pernah terlihat tertarik dengan artis manapun. Tepat saat Carina selesai bicara, segerombolan siswi mengelilingi meja Carina. ”Heh, ngomong apa aja lo sama Rha tadi?”tanya seorang cewek tinggi yang tergolong cantik, anak tunggal pemilih perusahaan terkenal. Carina menatap satu persatu tamu tak diundangnya. ”Gak ada hal penting kok.”sahut Carina jujur. ”Darimana lo bisa kenal Rha kayak gitu sampai dia mau nemuin lo ke sekolah?”tanya cewek itu lagi. ”Aku juga gak tau. Aku cuma tau kalau dia itu Rha Dhamantys. Gak lebih.”jawab Carina mulai kesal. Dia sudah menjawab jujur, namun sepertinya jawaban itu tidak bisa memuaskan tamunya. ”Gw gak percaya! Lo pasti menghalalkan segala cara kan untuk kenalan dengan dia?”tanya cewek itu ngotot. ”Eh dengar ya... Kalau boleh milih, aku sama sekali gak mau kenal sama artis! Dan kalau kalian memang gak suka dia ngomong sama aku, kenapa gak kalian bilang aja tadi langsung ke orangnya? Kenapa sekarang malah marah sama aku? Gak usah pura-pura baiklah...”tanya Carina emosi. ”Karena kami percaya kalau lo pasti melakukan sesuatu pada Rha sampai dia mau mencari lo kesini!”tukas gadis itu sambil mencondongkan tubuhnya untuk mengintimidasi Carina. ”Apa-apa’an ini? Kenapa kalian menghakimi Carina seperti itu?”tanya sebuah suara yang ternyata adalah milik Nico. Kehadiran Nico disana memberi efek khusus pada tamu-tamu Carina. ”Nico?”ucap Carina dan Lena gak percaya saat mendapati Nico sudah berdiri di sisi lain Carina. ”Ngapain lo bela dia!? Udah jelas dia nolak lo! Lo mau cari perhatian ya?”tanya cewek itu sinis. “Jangan ngomong macam-macam, Patricia. Gw bisa bawa masalah ini ke rapat OSIS kalau gw mau. Lo udah terlalu sering mengancam siswi-siswi lain. Jadi sebelum niat itu terlaksana, lebih baik lo pergi dari sini.”ujar Nico sinis. Cewek yang dipanggil Patricia itu menatap Nico dengan pandangan gak senang dan sesaat kemudian dia melemparkan pandangan benci pada Carina. ”Dasar cewek murahan!”maki cewek itu lalu meninggalkan kelas Carina diikuti oleh teman-temannya. Nico menyentuh bahu Carina lembut, ”Are you okay?”tanya Nico cemas. ”Aku gak tau kenapa kamu bisa sampai kesini, tapi... Kamu kan masih kelas 2, Nico. Apa gak apa-apa cari masalah sama anak kelas 3?”tegur Carina pelan. Nico tersenyum, ”Gak masalah koq. Kan kelas kita dekat. Kalau kamu gak pa-pa, aku kembali ke kelas dulu yah. Kalau Kirana ganggu kamu, bilang aja sama aku, oke??”tanya Nico ramah lalu segera pergi dari kelas Carina. Carina menghela nafas berat, masih bingung dengan jawaban Nico. Kelas dekat? Apa hubungannya?bathin Carina kemudian. ”Kamu liatkan? Gak ada untungnya. Yang ada malah, orang-orang yang selama ini gak pernah menganggapku ada, sekarang menyadari keberadaanku tapi dengan image yang amat sangat buruk.”ujar Carina pada Lena yang dari tadi hanya bisa diam, dia mengerti apa maksud ucapan Carina kalau bertemu dengan Rha adalah suatu kesialan. ”Mereka bukan gak pernah menyadari kehadiran kamu, Carina. Kamu kira saat cowok-cowok sekolah ini ’nembak’ kamu mereka gak tau? Mereka tau, hanya saja mereka gak berani menganggumu karena cowok-cowok itu sudah menegaskan kalau terjadi apa-apa padamu, mereka akan membuat perhitungan dengan cewek-cewek genit itu. Seperti tadi... Tapi sepertinya kali ini kamu memang memancing reaksi yang negatif dari cewek-cewek genit itu dengan datangnya seorang Rha Dhamantys hanya untuk mencarimu, yang notabene bukan anak siapa-siapa di sekolah ini.”gumam Lena tanpa bisa didengar oleh Carina. *** Sementara itu Rha sedang bergembira di dalam mobilnya. Dia langsung menelpon Vio untuk memberitahukan keberhasilannya. Nada puas dan riang di suara Rha tidak bisa membuat Vio lebih terkejut lagi. ”Ha? Sumpah, gw bener-bener gak nyangka... Soalnya menurut gw tuw cewek bukan type yang selama ini bisa lo ajak keluar gitu aja. Dia berbeda...”ujar Vio dari seberang. ”Ya, awalnya juga dia gak mau, tapi akhirnya ya... Gitu deh. Gw harus ngelakuin segala cara untuk kenal dengan dia.” ”Terus, koq bisa dia setuju keluar sama lo buat makan malam?” ”Karena gw bilang kalau gw tau lebih banyak tentang dia daripada yang bisa diperkirakannya.”bisik Rha dengan nada bercampur antara rasa puas dan rasa bersalah. ”Oh... Ya udah deh, good luck aja yah. Gw cuma bisa bantu doa.”ujar Vio lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Ada hal yang gw sembunyikan dari lo, Rha… Alamat Carina yang gw kasih ke lo itu alamat dia yang lama. Dia udah gak tinggal disitu lagi. Tempat tinggal dia yang sekarang... Lo mungkin bisa jantungan kalau tau. Walaupun alasan dia tinggal disana hanya karena dia kerja sebagai pengurus rumah tangga disana. Tapi gw berharap kalau suatu saat lo tau kebenarannya dari dia sendiri,bathin Vio lalu kembali tertidur. Sementara itu di tempat lain, Kirito sedang menelpon seseorang dari kantornya. Seseorang yang saat itu berstatus sebagai wanita yang dicintainya. Dan pastinya wanita itu bukan gadis yang menjadi istrinya. ”Iya, nanti malam kita dinner di luar ya. Ah, Carina? Tenang saja. Dia masih kerja kok kalau jam segitu. Lagian kami kan udah buat perjanjian gak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing. Jadi kalaupun dia tau, dia gak bakalan marah kok. Iya... Di tempat biasa. Jam tujuh. Aku jemput, oke? Bye...”ujar Kirito mengakhiri pembicaraannya. Kirito meletakkan ponselnya namun tidak jadi dilakukannya. Mau tidak mau dia memikirkan Carina karena pertanyaan Vela. Tapi apa aku gak terlalu sering keluar bersama Vela, ya? Bagaimana kalau nanti ada wartawan? Ah biar aja, kan tinggal bilang kalau Vela itu designer yang selama ini membuat baju untukku... Gak akan terjadi masalah. Dan masalah Carina... Kasihan juga dia. Apa nanti aku membelikannya sesuatu aja ya sebagai hadiah? Apa dia punya seseorang yang memperhatikannya ya? Kalau enggak... Kasihan banget.bathin Kirito sambil memutar-mutar handphone di tangannya. Kirito menelpon seseorang lagi, dan kali ini yang di telpon-nya adalah Ricky. ”Ky... Lo bisa pesankan gelang tangan gak? Ha? Oh, bukan buat Vela, tenang aja. Buat Carina... Iya, ya itung-itung ngasi dia hadiah pernikahan. Oke... Thanks ya.”ujar Kirito lalu mematikan ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD