4

2789 Words
Carina datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Carina sama sekali gak pulang ke rumah sebelumnya, dia pulang ke rumah Lena, dan meminjam baju Lena. Carina bingung harus bilang apa kalau dia pulang ke rumah Kirito. Kirito mungkin tidak mempermasalahkan Carina pergi bersama siapa. Hanya saja Carina sangat menyayangi Ishtar dan tidak ingin pria itu tahu kalau pernikahan putranya dan Carinya hanyalah kontrak semata. Malam itu Carina tetap terlihat manis walaupun hanya mengenakan pullover putih polos dengan bawahan stripe skirt hitam putih lengkap dengan flat shoes. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai hingga di punggung, membuat Carina terlihat semakin muda. Tidak lama kemudian sebuah mobil sport kuning berhenti di depannya. ”Ayo naik!!”panggil si pengemudi yang ternyata adalah Rha. Tanpa banyak bicara, Carina naik ke mobil Rha. Dan Rha pun langsung mengemudikan mobilnya ke Heaven’s Restaurant. Awalnya Carina sama sekali tidak mau turun dan minta tukar restoran, karena Carina sangat tahu kalau Heaven’s Restaurant bukan restoran biasa. Itu restoran yang biasa di datangi para selebritis dan kalangan atas lainnya, yang kalau mau makan disitu, artinya harus pesan tempat terlebih dahulu. Tapi akhirnya setelah dibujuk Rha dengan berbagai macam alasan, akhirnya Carina turun dari mobil. ”Silahkan duduk, Cantik.”ujar Rha sambil menarikkan Carina sebuah kursi. Carina duduk dengan anggun, ”Aku langsung aja, karena aku gak pernah menginginkan makan malam ini. Kenapa kamu mengajakku makan di luar? Dan kenapa artis setenar kamu mau mencariku ke sekolah umum sampai harus membuat kamu melayani para fans-mu? Dan darimana kamu dapat data tentang aku?”tanya Carina cepat tanpa basa basi sedikitpun. Rha tersenyum, ”Bisa gak kita bicarakan hal ini setelah makan? Sumpah, aku lapar banget.”bujuk Rha. Carina menghela nafas pendek, sistem dalam dirinya yang paling lemah melihat orang kelaparan aktif, ”Ya udah... Kita makan dulu.”ucap Carina pasrah. Tepat pada saat itu Kirito masuk ke restoran bersama Vela, seorang perempuan yang sangat stylish dan cantik, melihat Kirito dan Vela berjalan berdua, seperti melihat pasangan kerajaan yang begitu mewah hanya dari aura mereka. Hanya Carina yang menyadari kehadiran Kirito, sedangkan Kirito belum menyadari bahwa istrinya ada disana. Tiba-tiba Carina merasa ketakutan walau dia tidak melakukan kesalahan. ”Rha... Bisakah kita pindah restoran? Aku gak bisa makan disini...”ucap Carina pelan dan cepat saat Kirito masih menunggu pelayan yang akan mengantarkan dia ke tempat yang sudah di pesannya. ”Kenapa?”tanya Rha bingung karena dia baru aja memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka. ”Aku mohon... Aku janji kita akan makan siang bersama besok, tapi saat ini aku benar-benar gak ingin makan disini.”ucap Carina buru-buru. Rha tersenyum senang mendengar janji yang diucapkan gadis itu bahkan tanpa Rha harus memaksanya. ”Baiklah... Ingat, besok kita makan siang bersama, oke?”ujar Rha menegaskan. ”Iya.”sahut Carina cepat. Tanpa diminta dua kali, Rha langsung bangkit dari tempat duduknya dan siap-siap pergi saat sebuah suara memanggil namanya. ”Rha? Itu lo kan?”panggil si pemilik suara yang ternyata adalah Kirito. Carina benar-benar cemas. Memang gak masalah dia mau jalan sama siapa, tapi tetap aja dia paling malas berurusan dengan Kirito. Bahkan saat di rumah sekalipun dia berusaha keras menghindari pria itu. ”Oh, Kirito? Tumben... Tapi lo udah nikah? Kok masih jalan sama Vela?”tanya Rha ramah pada Kirito yang dulu pernah syuting bersamanya. Dan ‘dulu’ itu adalah dimana Kirito masih seorang model dan artis sepertinya. Rha dan Kirito adalah dua laki-laki yang sangat terkenal dalam dunia artis. Mereka berdua adalah top star dunia selebritis. Apapun kejadian dalam hidup mereka adalah bahan yang akan menarik para wartawan. Bukan hanya gara-gara wajah mereka yang begitu perfect, tapi juga karier mereka yang sangat mulus di dunia entertain. Jadi wajar kalau mereka berdua saling mengenal, bahkan hubungan mereka sangat baik. Nyaris bersahabat. ”Masa’ gw gak boleh jalan sama designer gw. Gak adil donk. Gw kenal dia kan udah dari SMA. Lo sendiri sama siapa? Pacar baru ya?”tanya Kirito. Rha tersenyum lebar, ”Gak, ini temen gw. Lo tau sendiri kalau gw udah lama berhenti main cewek. Males gw pacaran. Mereka mau enaknya aja.”ujar Rha sambil melirik Carina yang masih memunggungi Kirito. Sialan ni anak. Ngajak ngobrol lagi! Makin lama disini makin besar kemungkinan aku harus bertemu Kirito.. Gak ada jalan lain...bathin Carina. Carina melemaskan tubuhnya hingga menabrak bahu Rha, pura-pura sakit. Walaupun jarang melakukannya, tapi Carina tahu kalau bakat aktingnya patut diacungi jempol. Seperti saat ini. ”Lho? Kamu kenapa?”tanya Rha cemas sambil memegang kedua lengan atas Carina. ”Mungkin dia sakit, Rha. Lebih baik kamu antar dia pulang.”ujar sebuah suara merdu yang ternyata milik perempuan bernama Vela. ”Kayaknya iya. Gw pamit dulu ya?”pamit Rha lalu menggandeng Carina keluar dari resto dan membimbingnya masuk ke mobil. Rha benar-benar berharap kalau Carina tidak sakit. ”Kamu kenapa? Sakit? Kok gak bilang?”tanya Rha saat mereka sudah melaju stabil di jalan dan sesekali Rha melirik ke arah Carina. ”Gak. Cuma akting aja, biar kamu cepat ngobrolnya.”jawab Carina jujur. Bukannya marah, Rha malah tertawa keras. Bagaimana mungkin Rha yang seorang artis bisa tertipu mentah-mentah oleh akting amatiran? Rasa geli mewarnai suaranya saat dia bicara, ”Sumpah, baru kali ini aku ketemu cewek seunik kamu. Baru kamu cewek yang buru-buru pergi saat bertemu dengan orang seperti Kirito. Kamu tau dia kan?”tanya Rha geli. ”Ya taulah. Aku kan gak kuper-kuper banget. Lagian, buat aku bukan suatu keberuntungan bertemu artis kayak kalian. Yang ada malah kesialan. Dan itu yang membuat aku antipati sama artis.”sahut Carina jujur. ”Wah wah... Tapi aku jadi makin suka sama kamu. Setidaknya kamu gak memandang statusku sebagai selebritis. By the way, kita mau kemana?”tanya Rha saat menyadari mereka hampir kembali ke resto tadi. ”Yang pasti gak mungkin ngajak kamu makan di pinggir jalan. Jadi kita ke restoran tempat aku kerja aja.”ujar Carina datar. ”Oke bos!”sahut Rha lalu mengemudikan mobilnya menuju resto tempat Carina bekerja. Setelah selesai makan, Rha menjawab semua pertanyaan yang diajukan Carina. Tanpa terasa mereka malah semakin akrab mengobrol. Carina pun gak terlalu ketus menjawab pertanyaan Rha. Menurut Carina, Rha adalah artis dari golongan minoritas yang mau berteman dengan masyarakat umum, bahkan Rha juga meninggalkan atribut keartisannya. Saat bersama Carina, Rha adalah penduduk sipil, tanpa embel-embel keartisan. Entah kenapa Carina merasa nyaman bersama Rha. Setelah puas mengobrol, Rha mengantar Carina kembali ke rumah Lena. ”Ini bukan rumah kamu kan?”tanya Rha bingung saat sampai di alamat yang diberikan Carina. ”Iya. Aku nginap disini.”sahut Carina sambil membuka pintu mobil Rha. ”Terus kalau aku mau ngajak kamu keluar, aku mesti jemput kemana?”tanya Rha cepat. ”Telpon aja dulu sebelum kamu datang. Kamu pasti punya nomor telpon aku kan?”ujar Carina balik bertanya. ”Oke. Besok aku jemput di sekolah.”ujar Rha agak kuat karena Carina sudah keluar dari mobilnya. ”Jangan di sekolah, kita ketemu di restoran aja. Aku gak enak kalau kamu harus terlibat dengan anak sekolahku. Dan aku yakin keributan seperti hari ini akan terulang lagi. Aku gak mau direpotkan lagi oleh fans-mu yang bertanya ini itu.” ”Baiklah nona. Selamat malam.”ujar Rha lembut. ”Malam. Dan makasih buat semuanya.”ujar Carina sambil melambaikan tangannya. Rha tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Carina,”Kamu percaya love at the first sight gak?”tanya Rha tiba-tiba. “Ha?” Rha langsung melepas tangan Carina, ”Ah gak pa-pa kok. Sorry... Aku pulang yah?”pamit Rha lalu kali ini benar-benar meninggalkan Carina. Carina menatap kepergian Rha dalam diam. Kata-kata pria itu mengusik sesuatu dalam hatinya. ”Aku percaya kok kalau cinta pada pandangan pertama itu ada. Karena aku juga merasakannya.”gumam Carina lalu berjalan menjauhi rumah Lena. *** Carina baru sampai di rumah saat jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Carina langsung berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Betapa kagetnya Carina saat melihat Kirito duduk di sofa dekat tempat tidurnya. ”Ngapain kamu disitu, Tuan muda?”tanya Carina cepat. Kirito berdiri, ”Darimana aja kamu sampai jam segini baru pulang?”tanya Kirito. ”Bukan urusanmu. Dan tolong jangan seenaknya masuk ke kamarku.”tegas Carina sambil menaruh tas selempangnya di meja belajar. ”Kamarmu? Padahal beberapa hari yang lalu ini masih kamarku.”ledek Kirito,”Sudahlah... Aku menunggumu disini bukan untuk bertengkar denganmu. Aku ingin memberikan ini.”lanjut Kirito sambil menyerahkan sebuah kotak berpita pada Carina. ”Apa ini?”tanya Carina curiga. ”Hadiah pernikahan. Aku belum pernah memberikanmu apa-apa.”ucap Kirito lalu keluar dari kamar Carina. Dia baik juga. Ah... Cantik banget. Selera dia bagus juga...bathin Carina saat membuka kotak pemberian Kirito. Didalam kotak itu ada gelang tangan platinum yang memiliki bandul-bandul kecil berupa huruf-huruf yang merupakan ejaan nama Carina. Carina menyimpan kotak itu di dalam lemari pakaiannya. Lalu pergi membersihkan diri dan segera tidur. ***   Seminggu berlalu sejak Kirito memberikan hadiah pada Carina. Hubungan Carina dengan Rha pun semakin dekat. Hampir di setiap waktu luangnya Rha menyempatkan diri untuk bertemu dengan Carina. Bahkan Rha pernah menyamar menjadi guru di sekolah Carina hanya untuk membawa Carina kabur di dua jam pelajaran terakhir. Yang untungnya berhasil dengan sukses. Begitu pula dengan Kirito yang selalu menyempatkan diri untuk menemui Vela di sela-sela kesibukannya di kantor. Kirito sedang sibuk menandatangani semua berkas-berkas penting di kantornya saat ada handphone-nya berdering. ”Disini Kirito... Ha? Pa masuk rumah sakit? Oke, aku kesana sekarang juga. Telpon Carina! Suruh dia ke rumah sakit. APA!? Sialan. Nanti biar aku yang menelponnya lagi.”ujar Kirito cepat lalu bergegas keluar dari ruangannya dan langsung memasuki ruangan yang terdapat tepat disebelah ruangannya sendiri. ”Ky! Aku harus ke rumah sakit sekarang. Pa masuk rumah sakit. Kamu tangani apa aja yang bisa kamu urus saat ini. Aku gak yakin kalau aku bisa kembali kesini lagi sampai nanti sore.”ujar Kirito cepat. Ricky langsung berdiri di balik mejanya, ”Ya, udah. Cepat pergi sana! Masalah yang ada disini biar aku yang urus.”ujar Ricky gak kalah cepat. Kirito mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang gila-gila’an. Walaupun begitu, Kirito masih sempat mencoba menelpon ke ponsel Carina melalui headset yang kini terpasang di salah satu telinganya. “Hallo? Carina? Ini aku Kirito. Aku minta dimanapun kamu sekarang, cepat pergi ke rumah sakit, Pa masuk rumah sakit. Iya, aku sekarang lagi di jalan. Oke, cepat ya!”ujar Kirito cepat. Sementara itu di tempat lain... ”Kamu mau kemana?”tanya Rha heran melihat Carina yang begitu terburu-buru berdiri padahal mereka sedang makan siang. ”Aku harus ke rumah sakit!”ucap Carina singkat sambil mulai melangkah menjauhi meja. ”Kenapa? Siapa yang masuk RS?”tanya Rha semakin bingung. Walaupun begitu Rha sempat mengeluarkan beberapa lembar uang dan meninggalkannya dimeja. ”Keluargaku masuk RS. Aku minta maaf karena acara makan siang kita terganggu. Aku benar-benar harus ke RS sekarang juga.”ucap Carina yang sudah keluar dari restoran. ”Aku antar.”ujar Rha menawarkan. ”Thanks.”sahut Carina tulus. Rha juga tidak kalah laju saat mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Sedangkan Carina sama sekali gak sempat berpikir kalau ada kemungkinan Rha akan bertemu dengan Kirito. Dan bisa jadi Rha akan tau kalau Carina istri Kirito yang selama ini jadi bahan pembicaraan di seluruh media massa. Yang ada di pikiran Carina hanya dia harus secepatnya sampai di RS. Rha juga tidak kalah serius berpikir. Dari data yang di dapatnya, Rha tau kalau kedua orang tua Carina sudah meninggal, dan Carina gak memiliki keluarga yang lain. Lalu siapa lagi yang saat ini dipanggilnya keluarga? Tapi Rha sama sekali gak bertanya, dia tahu kalau Carina sedang cemas. Karena itu, Rha memilih untuk memendam rasa ingin tahunya sampai suasana hati Carina kembali membaik. Sesampainya di rumah sakit, Carina langsung berlari menuju ruang IGD. Disana sudah menunggu Wilda, pria yang menjaga pintu kamar Ishtar, dan Kirito. Ya, Kirito duluan sampai daripada Carina. Untungnya Carina berjalan lebih dulu dari Rha. Jadi sama sekali gak terlihat kalau mereka datang bersama. Carina dengan cepat melewati Kirito yang termenung dan menghampiri Wilda. ”Kirito?”ucap Rha gak percaya dengan apa yang dilihatnya. ”Rha?”ujar Kirito gak kalah kaget, ”Lo kok bisa ada disini? Lo gak syuting?”tanya Kirito setelah berhasil mengatasi kekagetannya. ”Lo sendiri? Bukannya kalau gw gak salah ini masih jam kantor lo?”ujar Rha balik bertanya. Kirito menghampiri Rha, ”Ayah gw masuk IGD, wajar kalau gw kesini. Nah lo?” ”Gw ngantar temen kesini. Tapi gw gak bisa ngobrol lama-lama nih, gw udah janji sama Vio balik ke studio jam 2, sekarang udah mau jam 3. Bisa di bunuh gw. Gw pergi dulu yah.”pamit Rha sambil melambaikan tangannya pada Carina yang berdiri tepat di belakang Kirito, dan Kirito menganggap kalau lambaian itu untuk dia sehingga Kirito hanya tersenyum menanggapi lambaian itu. ”Gimana ceritanya Pa kok bisa kayak gini, Wil?”tanya Carina saat Rha sudah pergi. ”Aku juga kurang jelas, Rin. Yang pasti setelah makan siang, Tuan aku beri obat, dan saat dia istirahat, tiba-tiba dia kejang-kejang. Aku langsung menelpon ambulance dan Tuan muda.”jelas Wilda. ”Kenapa aku gak langsung di telpon juga?”tanya Carina bingung. ”Aku juga udah nyoba nelpon kamu, tapi gak bisa. Makanya aku minta tolong sama Tuan muda untuk menghubungi kamu.”ujar Wilda menjelaskan. ”Ya udah deh...”ucap Carina pelan. Carina lalu duduk di kursi tunggu yang ada disana sementara Kirito sibuk menelpon orang-orang kantornya. Carina mengamati Kirito dengan seksama. Pria itu terlihat lelah dan cemas. Lalu entah kenapa tiba-tiba Carina bangkit dan pergi meninggalkan IGD. Carina pergi ke kafetaria Rumah Sakit untuk mencari makanan dan minuman buat Kirito. Feeling-nya mengatakan kalau Kirito belum makan siang sampai saat itu. Carina membeli beberapa roti isi dan minuman kaleng dingin. Setelah itu Carina kembali ke IGD. Carina melihat Kirito duduk di tempat yang sama dengan yang di tempati Carina tadi. Carina menghampiri Kirito dan membungkuk di depannya sambil menempelkan kaleng minuman ke pipi Kirito. ”Ap...?! Carina?”ucap Kirito benar-benar kaget. ”Kamu belum makan siang, kan? Nih aku belikan roti, setidaknya bisa untuk mengganjal perutmu sementara waktu. Daripada nanti kamu sakit gara-gara telat makan.”ujar Carina sambil menyodorkan bungkusan berisi roti dan minuman kaleng pada Kirito. Apa tadi aku bilang kalau aku gak sempat makan siang gara-gara rapat ya? Tapi kayaknya gak mungkin deh, soalnya aku sama sekali belum ada bicara dengan dia. Terus, dia tau darimana?Apa aku benar-benar terlihat kelaparan? Gak mungkin... Saat aku masih jadi artis, aku jauh lebih sibuk dan gak pernah punya waktu khusus untuk makan...bathin Kirito sambil mengamati Carina. ”Kenapa? Ada yang aneh?”tanya Carina yang sadar kalau sedang diperhatikan oleh Kirito. Kirito menggeleng pelan, lalu memakan roti yang dibelikan oleh Carina. Keduanya memilih untuk diam karena mereka memang jarang mengobrol berdua. Setiap kali mereka bicara, pasti selalu ada Ishtar bersama mereka. Kirito gak benci sama Carina, begitu juga sebaliknya. Mereka hanya gak dekat dan tidak punya waktu untuk mendekatkan diri. Walaupun sudah hampir 3 tahun Carina bekerja di rumah Kirito, tapi selama Kirito menjadi artis, dia tidak pernah tinggal di rumah. Paling-paling hanya beberapa kali dalam seminggu dia pulang untuk melihat keadaan Ishtar. Hal ini lebih dikarenakan Kirito tidak ingin pers tau dimana rumah keluarganya, makanya Kirito lebih memilih untuk tinggal di mansion, di tempat yang sama dengan Rha. Padahal, selain sebagai pengurus rumah tangga disana, pekerjaan Carina adalah mengurus keperluan Kirito. Jadi baru 3 bulan Carina mengenal Kirito, itupun gak terlalu dekat, karena Kirito langsung sibuk dengan urusan kantornya, teman-temannya kalangan selebritis dan teman spesialnya yang bernama Vela. ”Kalau udah selesai makan, lebih baik kamu kembali ke kantor.”ujar Carina tiba-tiba. Kirito langsung berhenti minum saat mendengar ucapan Carina. ”Aku tau kalau aku gak berhak menyuruhmu untuk melakukan apapun. Karena aku bukan istrimu yang sesungguhnya.”ujar Carina pelan dan segera melanjutkan ucapannya saat melihat Kirito menatapnya bingung, “Kau tau maksudnya. Tapi, aku yakin saat kamu tadi kesini, kamu pasti langsung meninggalkan pekerjaanmu begitu aja, kan? Lebih baik kamu kembali ke kantor dan bereskan semua masalah yang belum selesai, jadi kalau besok kamu memutuskan untuk gak kerja, gak akan ada masalah.”ujar Carina datar, ”Itu juga kalau kamu mau mendengarkan saranku.” Kirito terdiam. Ucapan Carina tepat sasaran. Dia memang harus kembali ke kantor saat ini. Namun tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya dan sesaat kemudian dia tersenyum, ”Baiklah istriku.”ucapnya lembut lalu mencium dahi Carina, ”Kamu memang cocok jadi seorang istri.”lanjutnya lalu pergi dari ruang IGD. Cowok b******k! Udah dua kali dia nyium aku seenaknya! Dia pikir buat apa aku membuat perjanjian itu!?maki Carina kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD