5

2912 Words
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat itu. Carina masih menunggu dokter keluar dari IGD, dan Carina juga sama sekali tidak pulang untuk ganti baju, dia masih memakai baju seragam sekolahnya. Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari IGD. ”Gimana keadaan Papa, Dok?”tanya Carina cepat langsung menghampiri dokter itu. Pria berjas putih itu menatap Carina sejenak sebelum bicara. ”Saya tidak bisa memberikan kabar baik. Jadwal operasi Pak Ishtar di L.A harus dimajukan. Paling lambat dalam bulan ini.”ujar dokter yang bernama Ivan itu. ”Kenapa Dokter Ivan? Bukannya selama 5 bulan ini Pa harus menyiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin sebelum operasi itu? Kenapa harus dimajukan menjadi secepat ini?”tanya Carina cemas. ”Pak Ishtar sudah tidak mungkin mengkonsumsi obat-obatan saja. Tubuhnya sudah terlalu kebal, dosis yang saya berikan juga sudah tinggi, saya tidak berani menambah dosisnya. Kita akan melakukan tindakan pencegahan dulu disini supaya Pak Ishtar bisa diberangkatkan ke L.A.”ucap dokter yang bernama Ivan itu. ”Baiklah, Dok. Untuk sementara ini lakukan yang terbaik untuk Pa, Dok. Saya akan membicarakan hal ini dengan Kirito.”ujar Carina serius. ”Kalau begitu saya permisi dulu, selamat sore.”pamit dokter Ivan. ”Wil... Kamu sama Andhika disini aja. Aku mau nelpon Kirito dulu.”ujar Carina lalu pergi menjauh dari ruang IGD. ”Hallo, Kirito?” ”Gimana keadaan Pa, Carina?” “Dokter Ivan bilang operasi Papa gak bisa nunggu 5 bulan lagi. Paling lambat masih bulan ini. Aku gak tau harus gimana.”ujar Carina pelan tanpa bisa menghilangkan nada cemas dalam suaranya. Kirito dapat dengan jelas mendengar kecemasan dalam suara Carina. ”Kamu gak usah ngapa-ngapain. Tunggu aku disana, bentar lagi aku kesana. Jam kantor juga udah selesai. Jangan cemas, Carina.”ujar Kirito berusaha menenangkan gadis itu. ”Baiklah.” Tuuut tuuuuuut tuuuuuuuut Baru saja Carina mematikan ponselnya, kini ponsel itu kembali bergetar. Carina langsung menjawab panggilan itu tanpa melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya. ”Hallo?” ”Hai, gimana keadaan keluarga kamu?” Selama beberapa detik Carina berusaha menebak siapa yang menelponnya. Dan saat dia ingat suara itu, entah kenapa Carina didesak perasaan ingin jujur pada Rha. ”Buruk, Rha...” ”Kamu yang sabar aja. Apa aku perlu kesana?”tanya Rha perhatian. Carian kembali terdiam, dia baru sadar kalau tadi Rha sempat bicara dengan Kirito, dan kalau Rha ke RS lagi, maka Rha akan bertemu Kirito lagi. Kalau itu sampai terjadi, bukan gak mungkin rahasia pernikahan mereka akan terbongkar. ”Gak usah lah. Aku gak pa-pa kok.”sahut Carina. ”Oke kalau kamu bilang kayak gitu. Nanti malam aku jemput di RS ya, kita makan malam di luar, soalnya aku gak yakin kalau kamu ingat untuk makan dalam keadaan kayak gini.” ”Iya. Makasih. Bye...”ujar Carina mengakhiri pembicaraannya di telpon dengan Rha. Carina kembali duduk di ruang tunggu IGD ditemani dengan Wilda dan Andhika. Ketiga orang itu sibuk berdoa untuk kesehatan Ishtar. Bagi Carina, Ishtar sudah seperti ayahnya sendiri. Ishtar memberikan perhatiannya saat Carina kehilangan ibunya. Ishtar memberikannya tempat tinggal saat Carina tidak lagi punya tempat berteduh. Ishtar memberikan penghiburan dan kasih sayang saat Carina merindukan orangtuanya. Menikah dengan Kirito hanyalah balas budi kecil atas apa yang pernah Ishtar berikan untuknya. Bagi Wilda, Ishtar adalah pasien yang paling penurut dan gak macam-macam, dia juga menyayangi Ishtar seperti keluarganya. Baru sekali ini Wilda menemukan pasien yang sangat baik seperti Ishtar. Dan Andhika, dia sudah menjadi pengawal Ishtar sejak dia tamat SMA, Ishtar gak pernah memperlakukan Andhika seperti pengawal. Ishtar gak pernah menganggap ada orang yang kedudukannya di bawahnya. Terlebih lagi bagi Andhika, Ishtar adalah sosok yang sangat berjasa setelah membawanya keluar dari Indonesia. Karena itu banyak yang menyayangi sekaligus menghormati Ishtar. Dan beberapa saat kemudian, Kirito datang bergabung dengan mereka. ”Kirito!”ucap Carina lega saat Kirito menghampirinya. ”Gimana keadaan Pa yang sebenarnya?”tanya Kirito cemas. Carina menelan air mata yang tiba-tiba mengancam keluar. ”Dokter Ivan kalau Pa udah gak mungkin di beri obat-obatan lagi. Jalan terakhir adalah dengan melakukan operasi secepatnya.”jelas Carina. ”Operasi?”ulang Kirito. ”Ya...” ”Dimana dokter Ivan?”tanya Kirito lagi. ”Di ruangannya.” ”Aku pergi bicara sama dia dulu.” ”Aku ikut!!”ujar Carina cepat sambil menyamakan langkahnya dengan Kirito. Mereka berdua pergi ke ruangan dokter Ivan untuk membicarakan masalah operasi itu. Cukup lama pembicaraan yang mereka lakukan sebelum akhirnya Kirito setuju untuk berangkat ke L.A dua minggu lagi begitu kondisi Ishtar memungkinkan. ”Bagus, kalau begitu saya harus menelpon UCLA Medical Center untuk mempersiapkan segalanya.”ujar dokter Ivan. ”Terima kasih untuk semuanya, Dok.”ujar Kirito tulus. ”Bukan masalah.” Carina dan Kirito langsung kembali ke IGD setelah bicara dengan dokter Ivan. Mereka memilih untuk menunggu Ishtar sampai Ishtar dipindahkan ke ruang perawatan khusus. ”Carin... Lebih baik kalian berdua pulang dulu untuk mandi dan makan malam. Biar kami yang menunggu Tuan Besar.”ujar Wilda pelan. ”Tapi, Wil...” ”Udah gak pa-pa. Kalian gak mungkin terus menunggu dengan baju seperti itu kan? Apalagi kamu, Rin. Masa masih pakai seragam sampai malam.”tegas Wilda. Kirito mengamati Carina. Gadis itu masih mengenakan pakaian sekolahnya sejak tadi. Sejujurnya, Kirito menyukai Carina. Gadis itu sudah menjadi putri yang selama ini ayahnya inginkan. Terlebih lagi selama ini Kirito sadar kalau Carina tidak menginginkan apapun dari keluarga Oberon. ”Wilda benar, Carina. Biar mereka aja yang jaga Papa, kita pulang dulu.”ucap Kirito. ”Tapi...”protes Carina. ”Untuk pertama kalinya, tolong dengar ucapan suamimu ini, Carina.”ucap Kirito yang sama sekali gak bisa dibantah Carina. Berani banget dia pakai alasan ’suami’. Sejak kapan dia jadi suami aku beneran? Tapi... Bener juga apa yang Wilda bilang. Aku gak mungkin menunggu dengan pakaian seperti ini sampai pagi. Dan besok aku juga masih harus sekolah...bathin Carina. Carina dan Kirito pergi meninggalkan RS. Ini pertama kalinya Carina naik mobil bersama dengan Kirito, hanya berdua. Saat di perjalanan, Carina ingat kalau dia janji makan malam dengan Rha. ”Apa setelah dari rumah kita langsung makan malam?”tanya Carina pelan. ”Kenapa?”tanya Kirito bingung dengan pertanyaan Carina. ”Aku ada janji dengan teman mau makan malam di luar.” ”Apa gak bisa kamu batalkan? Kita belum pernah lho makan malam berdua di luar. Jarang-jarang kita punya kesempatan seperti ini, kan?” ”Aku gak mungkin membatalkannya. Tadi siang acara kami juga batal. Aku merasa tidak enak kalau harus membatalkannya lagi.” Kirito menatap Carina lekat-lekat, Kirito merasa kalau yang dibilang Carina teman itu sebenarnya lebih dari teman. Dan tiba-tiba saja Kirito merasakan desakan aneh untuk memastikan sosok teman Carina itu laki-laki atau perempuan. ”Apa teman kamu itu laki-laki?”tanya Kirito. ”Ya.” Baguslah kalau dia juga punya seseorang yang spesial. Setidaknya kalau diketahui public, bukan hanya aku yang selingkuh. Tapi... Kenapa aku agak gak rela kalau dia punya teman lelaki, ya? Rasanya aku seperti jadi suami yang ditinggal selingkuh oleh istrinya...bathin Kirito. ”Baiklah. Dari rumah nanti kita langsung ke RS.”putus Kirito. ”Makasih.”ucap Carina tulus. ”Ada hal yang udah lama ini ingin aku tanyakan padamu.”ujar Kirito tiba-tiba. ”Apa?” ”Kenapa kamu menjaga jarak denganku selama ini? Kamu membenciku?” Carina menggeleng pelan. ”Ah itu... Aku hanya antipati sama yang namanya selebritis. Bagiku, dunia selebritis itu dunia yang harus kujauhi.” ”Memang apa salahnya dunia selebritis?”tanya Kirito masih bingung. ”Aku hanya masyarakat biasa. Kalau aku dekat dengan selebritis, siapapun itu... Aku yang akan di rugikan.” ”Maksudnya?”tanya Kirito lagi. Dia benar-benar bingung dengan penjelasan Carina saat ini. ”Aku pasti akan ditanya ini itu oleh orang-orang disekitarku. Itu baru orang-orang di sekitarku. Lain lagi ceritanya kalau wartawan sampai tau. Gak ada lagi kehidupan tenang yang selama ini aku jalani. Berita yang enggak-enggak pasti akan muncul menghiasi media massa.” ”Tapi aku bukan artis atau selebritis lagi, Carina... Dan kamu masih tetap bersikap seperti itu. Apalagi yang jadi alasanmu??” ”Karena bagiku, kamu tetap artis, Kirito. Ketenaran yang kamu bawa yang membuatku seperti itu. Aku selalu merasa sial kalau berdekatan dengan artis manapun. Walaupun hanya pada saat aku kerja sambilan. Kamu tetap menjadi perhatian pers walaupun kamu udah gak berada di dunia entertain. Dan lagi, kita baru ketemu tiga bulan lalu, walaupun aku udah kerja di rumah kamu selama hampir 3 tahun. Selama 3 bulan itu pun kita juga jarang bertemu, sekalinya bertemu seharian itu adalah hari pernikahan kita, dan itu baru terjadi seminggu yang lalu. Bisa berharap apa dari hubungan instan ini?” ”Tapi aku gak ingin kita terus seperti ini. Setidaknya kita bisa berteman kan? Aku gak pernah ingin ada jarak diantara kita. Hal ini begitu merepotkan kalau saat seperti ini datang. Kita terlalu dingin walaupun hanya sebagai suami istri pura-pura.”ujar Kirito serius. Carina terdiam sejenak. Kirito ingin dekat dengannya sebagai teman. Tapi Carina tidak berani mempertaruhkan perasaannya. Akan lebih baik kalau mereka tetap menjaga jarak seperti ini. Namun melihat wajah Kirito dan kesungguhan di mata pria itu, Carina tahu kalau dia akan mengorbankan apapun hanya untuk dekat dengan Kirito. ”Aku juga gak ingin ada jarak. Akan aku coba untuk lebih memahami dirimu. Karena aku gak ingin terus berpura-pura akrab di depan Pa.” ”Bagus.”   Sesampainya di rumah, baik Carina maupun Kirito langsung menuju kamar masing-masing untuk mandi dan segera bersiap. Tidak butuh waktu lama bagi Kirito karena dia sudah selesai mandi dan berpakaian setengah jam kemudian saat terdengar teriakan dari kamar Carina. Kirito langsung berlari ke kamar Carina yang memang hanya berada di sebelah kamarnya. ”Carina? Kamu dimana?”panggil Kirito terdengar cemas. Karena selain teriakan Carina, Kirito juga mendengar bunyi berdebam dari arah kamar gadis itu. ”Aku dikamar mandi...”jawab Carina lirih dan semakin membuat Kirito bertambah cemas. ”Kamu gak pa-pa?”tanya Kirito dari balik pintu kamar mandi. ”Kayaknya kakiku terkilir. Sakit banget rasanya...”sahut Carina lirih, ”Jangan kesini... Aku gak pakai apa-apa.”sambung Carina sesaat kemudian saat menyadari Kirito bisa saja masuk ke dalam kamar mandi yang tidak dikuncinya.. Tapi Kirito sama sekali tidak memperdulikan ucapan Carina. Dia menerobos masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk di lemari Carina. ”Nih pakai! Aku gak akan liat apa-apa.”ujar Kirito memalingkan wajahnya sambil menyodorkan handuk pada Carina. Untung Carina masih bisa menggapai handuk itu lalu mengenakannya secepat yang dia bisa. ”Udah belum?”tanya Kirito gak sabar. “Udah…”sahut Carina pelan. Kirito langsung berbalik menghadap Carina lalu mengangkatnya ke luar dari kamar mandi dan meletakkannya dalam keadaan duduk di tempat tidur. Setelah itu Kirito berlutut di kaki Carina memeriksa kaki Carina dengan cermat. “Yang mana yang sakit?”tanya Kirito sambil mengamati kedua kaki Carina dari batas handuk di paha hingga ke ujung kaki. ”Tutup mata, dan jangan coba ngintip! Cepat berdiri!”tegas Carina yang sadar kemana arah pandangan Kirito. ”Ngapain malu? Lagian yang bisa diliat cuma sampai bagian ini.”gumam Kirito sambil menyentuh paha Carina yang polos dengan ujung jemarinya. BLETAK!! ”Aduh! Apa-apa’an sih? Sakit tau!”tanya Kirito tidak terima kepalanya dijitak Carina. Apalagi usia gadis itu lebih muda 6 tahun darinya. ”Kamu yang apa-apa’an! Keluar sana!”ujar Carina kesal. Bukannya keluar, Kirito malah berjalan ke arah lemari baju Carina dan membuka pintunya. ”Mau ngapain?” ”Ngambilin baju buat kamu.” ”Gak usah! Tutup lemarinya sekarang juga dan keluar dari kamarku sekarang juga!” Tanpa berbalik Kirito bicara, ”Kenapa? Mau ambil baju sendiri? Emang udah kuat jalan?”tanya Kirito tajam dan nada suaranya langsung berubah saat melihat tumpukan pakaian dalam milik Carina. “Wah wah wah... Kok gak ada yang seksi sih pakaian dalamnya?”tanya Kirito sambil menunjukkan underwear Carina. ”Buat apa beli yang seksi? Aku gak punya orang spesial yang mau ngeliatnya kok.”sahut Carina asal. ”Apa kamu kira aku gak mau liatnya? Mungkin kalau kau menawarkan, aku bersedia melihatnya.”jawab Kirito cepat, ”Nih pakai. Dan jangan lama-lama pakai bajunya. Walaupun sebenarnya dengan handuk itu juga bagus, jadi lebih banyak yang bisa dilihat.”lanjut Kirito sambil meletakkan baju Carina di tepi tempat tidur. Carina berusaha berdiri untuk mengitari tempat tidur mengambil bajunya saat Kirito dengan tiba-tiba lewat di depannya lalu menarik handuk Carina hingga terlepas dan terjatuh di lantai, tanpa berhenti sejenak pun Kirito keluar dari kamar Carina dengan tawa kemenangan. ”Cowok b******k! Om-om m***m! Laki-laki gak tau diri!! Pria mata keranjang!”teriak Carina histeris yang semakin membuat tawa Kirito semakin besar. Setengah jam kemudian Kirito kembali ke kamar Carina. Kirito sudah mengenakan pakaian lengkap. Kaos biru dengan tulisan ’Blue Sky’ plus celana jeans. Tapi kali ini dia hanya menunggu di depan pintu kamar Carina. ”Udah siap belum?”teriaknya sambil bersandar di dinding, ”Mau dibantuin gak?”lanjutnya lagi. ”Jangan harap, cowok m***m!”sahut Carina yang ternyata baru saja menutup pintu di belakangnya. Carina mengenakan tanktop putih cotton and silk-organza dengan bawahan jeans pudar pendek setengah paha. Carina juga mengenakan jaket biru navy dengan ornamen simpel di beberapa bagian. Alih-alih mengenakan sneakers seperti biasanya, Carina memilih menggunakan sandal hitam Jimmy Choo hadiah ulang tahun dari Ishtar karena nyeri di kakinya. ”Ha ha ha... Bagus. Ngomong-ngomong, kamu mau aku gendong turun atau jalan sendiri?”tanya Kirito sambil melirik anak tangga di depannya. ”Sendiri aja!”sahut Carina cepat. “Oke.” Kirito berjalan lebih dulu dan menuruni anak tangga seorang diri. Sementara itu Carina sempat terdiam sebelum akhirnya berpegang erat pada pegangan tangga dan menuruni anak tangga satu demi satu sambil menahan nyeri yang semakin menyengat di kakinya. Setelah beberapa anak tangga terlewati, tiba-tiba tangan Carina terlepas dari pegangan tangga karena keringat. Carina sama sekali tidak sempat memegang apapun saat tubuhnya mulai oleng dan tiba-tiba melayang. ”Makanya... Jangan sok kuat Nona. Sekali-kali boleh kok minta tolong.”ujar Kirito yang ternyata dengan sigap menggendong Carina menuruni anak tangga. ”Berisik!”tegas Carina saat Kirito menggendongnya terus hingga menuju mobil. Kirito langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Di perjalanan Kirito mulai buka suara. ”Aku bukannya mau ganggu acara makan malam kamu. Tapi, kamu gak mungkin kan pergi makan malam dengan kondisi kaki yang kayak gini? Mending kamu batalin aja dulu. Terus lain kali baru pergi.”ujar Kirito sedikit menasehati. ”Ah thanks udah ngingatin...”ucap Carina tulus lalu merogoh semua sakunya untuk mencari hp-nya. ”Kenapa?? Gak bawa hp ya??”ledek Kirito dengan seringai aneh di wajahnya,”Ya udah... Pakai punya aku aja...”lajut Kirito sambil menyerahkan hp-nya pada Carina. ”Nomornya??” ”Tenang aja... Privat number koq...” ”Thank’s sebelumnya...”ucap Carina tulus lalu mengambil hp dari tangan Kirito. ”Hallo... Ini aku Carina... Maaf... Sepertinya makan malam kita terpaksa batal... Sorry banget... Ha?? Alasan?? Gak bisa aku ceritain lewat telpon... Oke, thank’s ya...”ujar Carina mengakhiri pembicaraannya di telpon lalu menghapus panggilan keluar yang ada disana. ”Kalau gitu kita aja yang makan malam berdua sebelum balik ke Rumah Sakit... Gimana??”tanya Kirito. ”Terserahlah...”sahut Carina malas. Mereka berdua sama sekali gak ada bicara lagi. Saat tiba di perempatan jalan, mereka terjebak lampu merah. Dan tiba-tiba tempat di sisi kanan Kirito yang tadinya kosong, kini di tempati oleh sebuah sedan sport kuning yang begitu familiar untuk mereka berdua. Carina langsung memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dengan mobil itu, sedangkan Kirito malah membuka kaca jendela dan memanggil si pengemudi. ”Rha!!”panggil Kirito. ”Hey... Lo mau kemana??”tanya Rha cepat saat menyadari siapa yang memanggilnya. ”Mau makan malam nih... Lo sendiri??”tanya Kirito. ”Seharusnya gw juga mau makan malam, tapi gak jadi... Gak ada temen...”sahut Rha. ”Wah... Coba gw lagi sendiri, gw bakalan ngajak lo...”sahut Kirito asal. ”Iya tau... Gw salut sama lo, masih sempatnya jalan sama cewek lain sementara lo udah punya istri, mana Om Ishtar lagi di rumah sakit... Apa istri lo gak ngamuk liat lo jalan sama cewek lain??”tanya Rha yang membuat Carina benar-benar berharap kalau dirinya dapat menghilang dari sana saat itu juga. ”Ha ha ha... Enggaklah... Istri gw gak bakalan ngamuk koq... Soalnya dia sekarang di sebelah gw...” Sialan ni om mesum... Harus gitu dia bilang-bilang sama orang... Kayaknya mulut dia perlu di lem juga nih, biar gak asal ngoceh...bathin Carina kesal. ”Itu istri lo??”ulang Rha gak percaya. ”Iya...” ”Pemalu banget...”ujar Rha berkomentar. ”Ha ha ha... Gak juga, dia cuma antipati aja sama artis...” ”Antipati??”ulang Rha aneh,”Kayak temen gw aja... Oh ya, kalau dia antipati sama artis, koq bisa dia nikah sama lo?? Lo kan artis juga... Terkenal banget lagi...” ”Ha ha ha... Itu rahasia perusahaan...”sahut Kirito sambil tertawa. ”Kirito ayo jalan... Lampunya udah hijau...”ujar Carina pelan. Kirito melihat lampu lalu lintas,”Oh iya, gw pergi dulu yah!!”pamit Kirito. Bersamaan dengan Kirito menginjak gas, Carina pun menghadapkan lagi wajahnya ke depan. Rha yang sempat melihatnya langsung tertegun sampai dia disadarkan oleh pengemudi lain yang mengantri di belakangnya. ”Itu Carina... Aku yakin kalau cewek yang disebelah Kirito itu Carina...”gumamnya sambil menginjak gas dan memilih untuk memastikan semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD